Archive for the ‘edisi 163’ Category

h1

H. Atang Sugiyono, Obsesi Mencetak Pebulutangkis Nasional

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Drs. H. Atang Sugiono, M.Si., Ketua Umum terpilih Pengurus Cabang PBSI  (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) Kabupaten Kuningan terobsesi untuk melahirkan pebulutangkis nasional.

Hal itu diungkapkan saat penutupan Musyawarah Cabang Pengcab PBSI Kab. Kuningan di Aula SMPN 1 Kuningan, Minggu (22/5). Pada Muscab itu, Atang Sugiono yang merupakan pejabat di Kementerian Perindustrian RI dipilih secara aklamasi oleh peserta untuk memimpin PBSI Kab. Kuningan periode 2011 – 2015.

Menurut Atang, bulutangkis merupakan cabang olah raga yang digemari oleh sebagian besar masyarakat Kuningan. Hal itu nampak bahwa berdasarkan data saat ini terdapat 136 klub yang tersebar di tujuh wilayah. Bahkan dari klub itu diantaranya telah menorehkan prestasi yang membanggakan.

Namun Ia mengakui adanya beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya kesulitan pendanaan dalam pembinaan atlet, banyaknya pemain andal yang hengkang, dan belum memiliki gedung khusus PBSI.

“Ke depan kita ingin pebulutangkis Kuningan bisa bicara di level nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan itu tentu harus memenuhi empat faktor yakni dukungan sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, organisasi yang profesional dan dukungan finansial (dana) yang memadai,” ucap H. Atang.

Untuk SDM, berdasarkan data kependudukan Kab. Kuningan, yang berusia antara 6 – 24 tahun sekira 189.000 jiwa. “Bila dari jumlah itu 10 persen saja menyukai bulutangkis, maka kita akan memiliki calon pebulutangkis 18.000 orang,” terangnya.

H. Mulyana Nurhakim, S.Sos, M,Si yang telah memimpin PBSI Kuningan selama tiga periode menginginkan penerusnya bisa membuat terobosan baru dan mengatasi kendala yang selama ini dihadapi.

Ketua Umum Pengda PBSI Jabar, Ir. Lufti Hamid melalui Ketua Bidang Pembinaan Daerah, H. Aan Suganda, S.Pd mengharapkan Musda menghasilkan solidaritas dan kebersamaan tritunggal antara pengurus, pelatih dan atlet.

Untuk itu, katanya, perlu pembinaan potensi atlet yunior secara berkesinambungan. Dalam hal ini, Pengda PBSI memiliki kewajiban mengadakan kompetisi antar klub secara teratur. Selain itu, mengadakan kejuaraan tingkat cabang kelompok umur, dan registrasi klub-klub yang dikukuhkan oleh Pengcab.

Pembinaan dan pengembangan atlet dimaksud harus selaras mulai dari klub, cabang, provinsi dan pusat. “Mari kita tingkatkan koordinasi dalam merencanakan dan melaksanakan pertandingan, baik wilayah Cirebon, Jabar maupun nasional guna kesinambungan kaderisasi dan prestasi bulutangkis nasional,” ucap Aan.

Sebagai gambaran, Aan Suganda menyebutkan beberapa atlet dan pelatih asal Kuningan yang telah bicara pada level provinsi dan nasional. Mereka diantaranya Djodjo Suhardjo, atlet  potensial Jabar 1960-an dan Yani Hirawan juara I putra yunior Jabar 1980-an, tercatat sebagi siswa SMA Ragunan Jakarta dan rangking IV nasional.

Selanjutnya, Yaf Cuk Ming juara ganda putra nasional bersama klub Bimantara Tangkas Jakarta, Nanan Setiana juara ganda putra nasional, dan Erwin Wihardi juara ganda putra nasional. Kemudian, Dodi Setiadi juara tunggal putra yunior Jabar bersama Ardath Bandung, dan Beng Santoso juara I yunior Jabar bersama klub Mutiara Bandung.

Sedangkan jajaran pelatih yang telah punya nama yakni Dodi Setiadi, melatih di Kerajaan Brunei Darussalam dan Asep Suharno, Pelatih Tim Nasional Vietnam. Sebelumnya Asep melatih Tim Nasional Singapura, Pelita Jaya Jakarta dan Jaya Raya Jakarta. (tan)

Iklan
h1

Tukang Parkir Keluhkan Oknum Minta Jatah

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Juhro (45), seorang tukang parkir di Terminal Pasar Kepuh, mengeluh karena banyak oknum pegawai Kantor Unit Pasar yang minta uang jatah. “Akhir-akhir ini saya sering diminta jatah uang parkir, tetapi saya selalu menolak,” ujarnya.

Penolakan itu, kata Juhro, cukup beralasan. Sebab, para pegawai Kantor Unit Pasar baik yang PNS ataupun belum dipastikan sudah menerima honor bulanan. Sedangkan dirinya hanya seorang buruh lepas yang harus memenuhi target setoran ke Dinas Perhubungan Kuningan.

“Jumlah setoran yang harus dibayarkan ke Dishub sebesar Rp. 750.000 untuk waktu pagi sampai sore hari. Sedangkan malam sampai pagi, setornya ke Kantor Unit Pasar dengan nominal sebesar Rp. 600.000,” jelasnya.

Sementara, lanjut Juhro, pendapatan dirinya dari parkir tidak menentu. Jika sedang bagus, dia hanya menerima paling besar Rp. 20.000 sehari. Jika sepi, terkadang hanya cukup untuk setor saja dan adakalanya harus nombok.

Enggak kaya dulu Pak, sekarang mah aturan teh semakin kacau, setoran parkir saja tumpang tindih. Eh, gotrok pun harus bayar retribusi Rp. 1000, apalagi di pasar ada kurang lebih 300 gotrok. Pemerintah Kuningan sekarang mah kacau, pabaliut teu puguh,” kata dia kepada IB.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Kuningan, Nana Sugiana, SE, M.Si saat dikonfirmasi Rabu (18/5), mengaku belum mengetahui sepenuhnya masalah perparkiran di Pasar Kepuh. “Insya allah nanti akan saya bahas didalam rapat koordinasi. Untuk masalah gotrok yang dikenakan retribusi Rp. 1000 saya juga tidak setuju, karena sama saja dengan membebani masyarakat kecil,” tegas Nana. (Rda)

h1

Kemenag Luncurkan GM3

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Kementerian Agama (Kemenag) RI meluncurkan program GM3 (Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji). Kasubag TU Kantor Kemenag Kab. Kuningan, H. Yusron Kholid, S.Ag, M.Si akan mengimplemen-tasikan GM3 di Kuningan.

“Ide GM3 berasal dari Kementerian Agama RI. Kita di Kuningan akan mengadakan launching, namun dalam pelaksaannya akan berkoordinasi dengan Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda,” ucapnya di ruang kerjanya, Rabu (11/5).

Ide itu sejalan dengan pemikiran Bupati Aang. “Dulu beliau (Aang, red) pada periode pertama pernah bicara kepada saya. Beliau ingin menghidupkan kembali tradisi yang baik agar masyarakat membaca Al Qur’an bila magrib di setiap rumah,” tutur H. Yusron.

“Beliau sangat tergugah ketika masa kecilnya di tiap rumah khususnya di palemburan (perkampungan), gaung irama kalam terdengar. Meski saat itu cuma pakai cempor,” tambahnya.

Terkait dengan keinginan Bupati Aang itu, Menteri Agama RI, Surya Darma Ali pada 2011 menggulirkan GM3, lauchingnya dilaksanakan di Bandung. Hal itu diadakan agar ummat Islam lebih taat dalam beribadah dan amaliahnya.

Kemenag Kab. Kuningan, kata H. Yusron, akan merespon program dimaksud dan telah merancang serta melakukan koordinasi dengan komponen di daerah. “Menurut  saya, program ini patut mendapat sambutan dengan seksama dan utuh dari seluruh stakeholders daerah, khususnya ulama. Karena, secara tidak langsung kita sebagai ummat Islam merupakan bagian yang tak terpisakan dari penerus kerosulan,” ujarnya.

Menurutnya, sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat bagi orang lain, dan secara vertikal beribadah kepada Allah swt.  Ikhlas beramal dalam konteks ini tidak salah menjadi motto Kementerian Agama.

Dikatakannya, sasaran GM3 adalah seluruh pribadi muslim. Dengan program ini diharapkan kegiatan keagamaan semakin meningkat, minimal dari magrib sampai isya fokus untuk beribadah, dan sebaiknya mematikan TV.

“Semoga dengan kegiatan ini keberkahan akan senantiasa menyertai kita. Terlebih mempersiapkan anak dan cucu kita menjadi pribadi yang tertumpu dan memiliki sifat-sifat asmaul khusna dalam hidup dan kehidupan,” harap H. Yusron.

Kepala Kemenag Kab. Kuningan, Drs. H. Agus Abdul Kholik, MM menambahkan, GM3 dalam pelaksanaannya harus disinkronkan dengan pemerintah daerah. Subtansi dari program ini, pemerintah menginginkan kehidupan masyarakat pada umumnya, yang dulu setiap magrib diisi dengan kegiatan sholat dan mengaji dapat kembali membudaya.

“Saat ini ada kecenderungan pelaksanaan ibadah menurun. Sehingga harus kembali digugah agar dapat lebih baik lagi,” ucapnya. (tan)

h1

Selajambe dan Cimahi Tercepat Lunas PBB 2011

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Kecamatan Selajambe dan Cimahi merupakan dua kecamatan di Kabupaten Kuningan yang telah lunas PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 2011. Kecamatan Selajambe mampu melunasi target PBB dengan kategori sampai Rp. 200 juta dan Kecamatan Cimahi Rp. 250 juta – 300 juta.

Menyusul enam kecamatan lainnya lunas PBB. Ke enam kecamatan itu meliputi Kecamatan Pancalang, Subang, Cibeureum, Japara, Cilebak dan Sindangagung. Adapun desa yang telah melunasi PBB 2011 sejumlah 117 desa dari 376 desa/kelurahan di 32 kecamatan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kab. Kuningan, Drs. Asep Taufik Rohman, M.Si. “Hingga hari sekarang, sebanyak delapan kecamatan telah lunas PBB tahun 2011 dari berbagai kategori,” ucap Taufik di kantornya, Rabu (18/5).

Menurut  Taufik, Kabupaten Kuningan harus berbangga karena tingginya partisipasi masyarakat dalam percepatan pelunasan PBB. Dari target SKB (Surat Kesepakatan Bersama), target PBB Kab. Kuningan sebesar Rp. 9.537.875.758 telah tercapai 87%. “Kita telah mencapai delapan puluh tujuh persen dari target SKB, mudah-mudahan akhir Juni ini akan lunas sepenuhnya,” jelasnya.

Capaian taget itu diperoleh dari PBB kategori perdesaan dan perkotaan. Sedangkan target rencana penerimaan (renpen) PBB sebesar Rp. 12.290. 622.880 harus bisa tercapai pada akhir Desember 2011.

Pihaknya, kata Taufik, selalu memantau perkembangan pelunasan PBB melalui Bank Jabar Banten (BJB) dan BRI. Hal itu untuk memantau perkembangan desa yang telah lunas, termasuk bila ada desa yang mengalami kendala dalam penagihan. “Bila perlu kami terjun langsung ke desa,” ucapnya.

Ia pun menyebutkan bahwa PBB pada 2014 nanti akan menjadi pajak daerah, sehingga pihaknya harus menyiapkan langsung formulir isian pajak bumi dan bangunan itu.

Selama ini, lanjut Taufik, memang ada kendala apabila ada koreksi, karena database ada di Kantor Pelayanan Pajak. Ke depan kemungkinan PBB bisa lebih besar sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD), dan akan lebih cepat dalam pelayanan. “Disini nanti kita akan sediakan ruangan khusus untuk pelayanan PBB, dan menempatkan petugas dari BJB dan BRI,” pungkasnya. (tan)

h1

Pedagang di Pasar Baru Mulai Resah

24 Juni 2011

Kuningan , IB

Para pedagang penghuni kios di Pasar Baru Kuningan mulai resah dengan adanya pengukuran lahan pasar.

 “Adanya pengukuran lahan pasar, otomatis membuat kami yang sudah sekian lama menghuni kios ini menjadi resah. Padahal, masa kontrak kios masih panjang,” kata Hamid (54), salah seorang penghuni kios kepada IB, pekan lalu.

Menurut Hamid, dirinya berkeinginan agar masa kontrak kios yang sampai tahun 2012 itu bisa diperpanjang, mengingat usaha di pasar makin kesini makin sepi saja. “Jika diberi kesempatan untuk diperpanjang mungkin kami dapat mempersiapkan bekal untuk membeli kios yang baru,” ucap dia.

Akan tetapi, tambah Hamid, aspirasinya tergantung kesepakatan dalam musyawarah  antara Lembaga Swadaya Masyarakat Persatuan Pedagang Pasar Kuningan (LSM-P3K) dengan Pemkab Kuningan.

Terpisah, salah seorang pengurus LSM-P3K yang enggan disebut namanya mengatakan, keberadaan Pasar Baru yang semrawut sudah selayaknya ditata ulang, begitu pula bangunan kios yang sudah rusak termakan usia.

“Saya menyarankan kepada pemerintah daerah agar segera  mendata ulang  para penghuni kios baru, termasuk diantaranya para pedagang kaki lima yang ada di komplek Pasar Baru. Hal ini penting karena menyangkut rasa keadilan, sebab semua pedagang  sudah memberikan  kontribusi  pada PAD,” tegasnya.

Pendataan ulang dimaksud, lanjutnya, lebih diupayakan pada kepentingan relokasi penghuni kios, karena para pedagang lainnya bisa ikut pindah dengan sendirinya ke lokasi yang baru. “Semua bisa diatur, sepanjang ada koordinasi  antara pemerintah daerah, investor dengan LSM-P3K yang mewakili aspirasi pedagang,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kuningan, Nana Sugiana, SE, M.Si, di ruang kerjanya Rabu (18/5), mengatakan bahwa pembangunan Pasar Baru masih ada waktu, kontraknya kurang lebih tahun 2013. Untuk itu, dia meminta agar para pedagang tidak usah resah.

“Adanya pengukuran bukan berarti pasar lantas akan dibangun. Mungkin saja yang mengukur itu dari Dinas Cipta Karya atau dari pihak lain, sebab kami juga tidak tahu menahu. Begitu juga kalau ada percepatan waktu karena alasan politis, pasti nantinya akan disosialisasikan dulu kepada para pedagang,” jelas kepala dinas yang belum lama dilantik ini. (Rda)

h1

Kuningan Blind Ride Metode Baru Promosi Pariwisata

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kabupaten Kuningan melakukan metode baru promosi pariwisata. Cara itu dengan mengadakan Kuningan Blind Ride (mengendarai sepeda motor dengan mata tertutup) yang dilakukan oleh Teguh Tri Laksono, SH.

Teguh Laksono pernah menciptakan rekor MURI pada 2003 lalu. Ia mampu mengendarai kendaraan roda empat dari Istana Bogor menuju Balaikota Jakarta (Kantor Gubernur) DKI Jakarta, dengan menutup mata.

Kepiwaian orang yang mendalami beladiri Merpati Putih ini dibuktikan lagi dengan mengendarai sepeda motor dari Pendopo Bupati menuju Obyek Wisata Paniis.

Rute yang dilalui, setelah dilepas oleh Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, Minggu (15/5), Ia bersama puluhan pengendara sepeda motor lainnya menyusuri jalan Siliwangi ke Cilimus. Diteruskan ke Caracas, Mandirancan dan Pasawahan untuk finish di Obyek wisata Paniis.

Direktur Utama PDAU Kuningan, Rafian Jhoni, MM menjelaskan, Kuningan Blind Ride diisi simulasi deteksi bom oleh Teguh Tri Laksano. Teguh mencari titik penyimpanan replika bom dengan penutup mata.

Kabupaten Kuningan, kata Rafian, memiliki potensi obyek wisata potensial yang perlu terus ditata dan dikelola dengan baik. “Saat ini PDAU telah mengelola sembilan obyek wisata. Kami akan terus berupaya menarik simpati agar turis lokal dan mancanegera bisa berdatangan ke Kuningan. Sebab selama ini banyak orang yang terkesan oleh pariwisata Kuningan,” ucapnya.

Ia menyebutkan, acara lainnya menampilkan pencak silat dari Perguruan Silat Bima Suci dan membaca dengan menutup mata. Penampilan Muhammad Guntur Mulia, 12 tahun, siswa SD Islam Terpadu Al Mutajam Jalaksana yang mampu membaca tulisan dengan mata tertutup mempesona pengunjung.

Ketika pemandu acara menanyakan apakah Guntur punya indra ke enam walau membaca dengan mata tertutup,  warga serta para undangan yang hadir berdecak kagum melihat kemampuan yang dimilikinya. “Saya sering berlatih untuk bisa membaca dengan mata tertutup, dan mengasah kemampuan yang telah Saya miliki sejak lahir,” ujar bocah berusia 12 tahun ini dengan polos.

Bupati Kuningan, H. Aang memberikan apresiasi terhadap upaya melestarikan budaya seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari PS Bima Suci. “Kembangkan terus, dan hindari hal-hal negatif yang bisa menyeret kawula muda ke jurang kenistaan,” ucapnya.

Menurut Aang, PDAU meski baru satu tahun, tapi sudah menunjukkan kemajuan. Bahkan ke depannya akan menjadi salah satu sumber APBD bagi Kuningan.

Acara dihadiri pula oleh Kapolres Kuningan AKBP Hj. Yoyoh Indayah, M.Si, Dandim Baru Letkol Kav. Sugeng Waskito Aji,  Dewan Pengawas PDAU Drs. H. Jamaludin Noer, MM dan Drs. H. Nunung Sanuhri, M.Pd, Direktur RSUD 45 Kunigan, H Afif Kosasih, M.Kes serta para pengunjung. (tan)

h1

Radio Bewara dan Polres Gelar Touring Motor Tiblantas

24 Juni 2011

Kuningan, IB

Radio Bewara SR bekerjasama dengan Polres Kuningan dan Sanbe Farma menggelar Touring Sepeda Motor Santai Pacuan Kuda – Ciawigebang, Minggu (22/5). Touring dibuka Kapolres Kuningan, AKBP Dra. Hj. Yoyoh Indayah didampingi Wakapolres Kompol Asep Pujiono, S.IK, MH di Jalan Lingkar Pramuka Cirendang diikuti 266 driver motor.

Ketua Panitia Touring, Saidun, MM.Pd  mengatakan, touring mengusung tema “Peringatan Hari Kebangkitan Nasional kita jadikan momentum membangun kekeluargaan dan kebersamaan sesama anak bangsa”.

Touring Sepeda Motor Santai, kata Saidun, dengan start dari Pacuan Kuda (Jalan Lingkar Pramuka – Cirendang). Dilanjutkan melalui rute Gunungkeling, Ragawacana, Gandasoli, Pajambon, Manislor, Karangmangu, Cipicung, Ciomas, Ciputat dan finish di Lapang Sepakbola Kadurama.

Kapolres Yoyoh Indayah dalam sambutannya mengatakan bahwa touring sepeda motor diadakan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Juga, untuk menyosialisasikan tertib lalu lintas berkendaraan di wilayah hukum Kabupaten Kuningan.

Peserta sendiri sejak start sudah diingatkan untuk tertib lalu lintas dengan menggunakan helm standar nasional (SNI), termasuk peboncengnya, dan harus menyalakan lampu besar saat mengendarai kendaraan.

“Saat ini masih dalam sosialisasi, sehingga belum ada tilang terhadap sepeda motor dikendarai tidak menyalakan lampu. Namun nanti bila tidak menyalakan lampu saat mengendarai sepeda motor maka akan ditilang,” ucapnya.

Tertib lalu lintas itu, kata Yoyoh, harus dilakukan baik di jalan raya maupun di jalan pedesaan, karena dengan tertib lalu lintas akan menekan angka kecelakaan.

Seusai membuka Touring Sepeda Motor Santai, dilanjutkan membuka Turnamen Futsal Kapolres Cup II di GOR Ewangga. Turnamen Futsal yang dihelat oleh Persatuan Pasundan Isteri itu diadakan dalam rangka ulang tahun ke 81 Pasundan Isteri ke 81, diikuti oleh 76 tim se- Kabupaten Kuningan. (tan)