Archive for the ‘edisi 149’ Category

h1

Gardu Induk PLN Pancalang Terbakar

22 September 2010

Pancalang, IB

Tiga unit trafo kekuatan 500 MVA yang berada di Gardu Induk (GI) PLN Pancalang, di Desa Cibuntu Kecamatan Pancalang Kab. Kuningan, Jumat (27/8), hangus terbakar. Penyebab kebakaran itu karena alat bernama bushing meledak dan terbakar.

Kebakaran tiga trafo di GI Pancalang itu terjadi sejak pukul 10.30 WIB menjelang Jum’atan, sampai sore hari api belum bisa dipadamkan.

Seorang operator di GI Pancalang Mandirancan, Darsono, menyebutkan kepada wartawan, Jumat (27/8), GI Pancalang berada dalam pengawasan Region UPT Cirebon sedangkan asal mula api muncul baru diketahui sekitar pukul 10.30 WIB pada trafo yang berada paling kanan dengan diawali suara ledakan.

Sejumlah karyawan yang berada di kantor GI dan bersiap-siap akan melaksanakan salat Jumat, mengaku dikagetkan dengan suara ledakan itu dan setelah diperiksa ternyata terjadi kepulan asap dan kobaran api di sebuah trafo induk.

Tak lama kemudian, api secara cepat merembet dan membakar trafo yang berada di tengah. Cuaca pada Jumat siang di Pancalang cukup panas, sehingga menyebabkan rembetan api semakin kencang dan dalam hitungan menit api juga menyambar trafo ketiga yang berada di sebelahnya. Semakin lama api terus membesar dan kepulan asap hitam membumbung ke udara hampir setinggi 300 meter sehingga kepulan asap kebakaran dapat dilihat dari jarak jauh.

Tiga puluh menit kemudian, dua unit mobil pemadam kebakaran Pemkab Kuningan yang dipimpin langsung Bambang, menuju lokasi kejadian dan terus berupaya memadamkan api. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan Pemkab Kuningan, tampaknya kewalahan sehingga meminta bantuan dua unit lagi dari Indocement Cirebon.

Api yang membakar tiga buah trafo yang diduga mengandung oli tersebut, ternyata tidak ada tanda-tanda akan mati malah semakin besar sehingga petugas pemadam kebakaran mencoba menggunakan serbuk semen dan cairan ditergen. Selama enam jam sampai pukul 17.00 WIB atau sekitar sembilan unit mobil yang bolak balik mengambil air, api pada sebuah trafo mulai bisa dikuasai dan berhasil dipadamkan, namun nasib dua trafo lagi hingga Jumat petang masih dijilati “si jago merah” itu. “Listrik kepada konsumen kembali nyala setelah mendapat asupan dari GI Cirebon,” kata Darsono.

Tidak ada korban jiwa pada kejadian itu dan loksainya jauh dari pemukiman penduduk. Hanya, menurut Ramelan, seorang pelak sana pemeliharaan pada UPT (Unit Pelayanan Transmisi) Cirebon, tiga trafo yang terbakar itu merupakan satu unit kesatuan dengan kapasitas mencapai 500 MVA. Dari Gardu Induk itu, selain untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Cirebon, juga dipersiapkan untuk keperluan listrik Jawa-Bali. “Kami belum mengetahui penyebabnya dan masih diteliti,” paparnya.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) PT PLN, Dahlan Iskan mengatakan, penyebab kebakaran di Gardu Induk (GI) Pancalang, Kab. Kuningan, (27/8), sudah diketahui.

Dahlan mengungkapkan, penyebab kebakaran itu karena alat bernama bushing meledak dan terbakar. Menurut Dahlan, alat seberat 150 kiogram itu meledak tanpa sebab dan akhirnya menimbulkan kebakaran sehingga menyebabkan terjadinya kebakaran di GI Pancalang.

“Saya mendapat informasi kalau penyebab kebakaran dikarenakan alat bernama bushing itu meledak tanpa sebab. Dan berakibat pada terbakarnya trafo di GI Pancalang. Saat ini masih diteliti lebih lanjut. Perlu waktu untuk melakukan perbaikannya,” kata Dahlan Iskan JPNN.

Dahlan mengatakan, akibat kejadian itu tiga buah yang terbakar harus diganti karena tidak bisa diperbaiki. “Tidak bisa diperbaiki karena rusak. Harus diganti dengan yang baru. Kami upayakan mendatangkan trafo baru untuk dipasang di GI Pancalang,” tutur Dahlan.

Untuk perbaikan GI Pancalang atau pemasangan trafo baru memerlukan waktu sekitar satu bulan. Sehingga meski pasokan listrik cukup untuk siang hari. Namun dari pukul 17.00 sampai 22.00, pasokan listrik agak tersendat karena pengguna meningkat. “Untuk siang hari tidak masalah karena terpenuhi, hanya setelah jam 17.00 sampai 22.00, mungkin ada pemadaman bergilir. Ini karena beban pengguna yang meningkat,” ungkapnya.  (tan/rml/PR/radar)

Iklan
h1

BPPT Mentahkan Tudingan Komisi A DPRD Kuningan

22 September 2010

Kuningan, IB

Tuduhan Komisi A DPRD Kab. Kuningan yang mengatakan BPPT telah lalai dalam memberikan izin mendirikan bangunan (IMB) telah melanggar garis sempadan jalan dan listrik terbantahkan.

Hal itu dilakukan setelah dilakukan peninjauan ke gardu induk (GI) Cijoho oleh jajaran Komisi A DPRD Kuningan, Jum’at (27/8). Berdasarkan pengukuran ulang oleh BPPT disaksikan petugas GI PLN terungkap bahwa jarak antara bangunan sejauh 45,8 8 meter dari travo aktif.

Para wakil rakyat didampingi pejabat pemkab Kuningan diantaranya Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT), Ir H Jajat Sudrajat MSi, Sekretaris BPPT Yudi Nugraha MPd, Kepala Bapeda, Drs H Yosep Setiawan MSi dan Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Drs H Atik Suherman MSi.

Nampak hadir pula Wakil Ketua DPRD H Yudi Budiyana SH serta Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD, Syaiful Bahri SH beserta jajaran BK lainnya.

Petugas Teknis Gardu Induk, Maman Kusmana menjelaskan bahwa travo yang berdekatan dengan tembok Yogya sudah tidak aktif lagi. Sehingga pengukuran jarak antara dilakukan dari travo ke dua yang masih aktif,

Sedangkan jarak yang paling dekat dengan SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) dengan tembok Yogya yang terletak di sebelah utara. Jaraknya sekira 13,7 meter. “Saya sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di sini tetap merasa nyaman dan aman. Sedangkan untuk mengurangi kekhawatiran adanya ledakan, telah dilengkapi alat pendeteksi,” Jelas Maman.

Maman menambahkan, jarak kenyamanan SUTT adalah 1 cm untuk setiap KVA. “Jadi kalau kavasitas disini 70 kva maka tingkat kenyamanan dan keamannya adalah 70 cm. tidak perlu hingga puluhan meter,” terang dia.

Nampak pula Kepala Toko Toserba Griya Kuningan, Markus. Ia menyebutkan bahwa tembok yang dibangun oleh perusahaan nya tahan api dan panas. Ia mengaku perusahaannya sudah cukup jeli untuk menghadapi bahaya yang mengancam.

“Sekarang semua sudah bisa melihat bahwa untuk jarak melebihi ketentuan peraturan yang berlaku, baik itu Permentamben ataupun Permenkes. Ternyata bukan hanya 20 atau 30 meter lagi, jarak antara keduanya terpaut sampai 45,8 meter. Melihat jarak tersebut ditambah keterangan dari PLN, maka keamanan terjamin,” tandas Kepala BPPT, Ir H Jajat Sudrajat MSi.

Ketua Komisi A Maman Wijaya mengatakan, semua anggota Komisi A telah melihat langsung jarak antara keduanya. Namun setelah dikaji kembali dalam rapat internal, pihaknya masih penasaran terhadap travo yang tidak aktif. “Tadi kata petugas gardu induk, travo yang tidak aktif itu bisa diaktifkan kembali. Artinya belum ada kepastian bahwa travo yang dekat dengan dinding Yogya betul-betul tidak aktif sebelum diambil dan dibereskan. Apalagi saya mendengar gardu induk di Pancalang kebakaran, tentu ini menjadi satu bahan pertimbangan lagi bagi sikap kami terhadap polemik Yogya,” tegas Maman Wijaya.

Berkenaan dengan jarak itu, anggota Komisi A, Ir Abrianto Setiawan mengatakan cukup aman. Pasalnya, meski aktif atau tidak aktif, jaraknya sudah melebihi ketentuan minimal 20 meter. (tan)

h1

299 Narapidana Lapas Cijoho Dapat Remisi

22 September 2010

Kuningan, IB

Sejumlah 299 narapidana dari 438 penghuni lembaga pemasya-rakatan (Lapas) kelas II A Kuningan mendapat remisi umum dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Remisi diberikan bersamaan dengan upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan ke-65 RI, di halaman kantor Lapas setempat.

Dari jumlah itu, diantarana 276 napi mendapat remisi tidak langsung bebas. Sedangkan 23 orang napi lainnya diberikan remisi langsung bebas.

Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochman, MM mengatakan, pemberian remisi merupakan salah satu instrumen untuk memotivasi para napi agar berperilaku baik selama menjalani pidana di lapas. “Salah satu persyaratan untuk mendapatkan remisi, narapidana harus berkelakuan baik,” ucap Momon.

Ia menjelaskan, pemberian remisi jangan disalahartikan sebagai bentuk kemudahan bagi warga binaan lapas untuk cepat bebas. Pemberian remisi harus dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri dan motivasi diri, sehingga bisa mendorong narapidana kembali memilih jalan kebenaran.

Menurut Momon, perlu disadari manusia memiliki dua potensi dalam kehidupannya, yakni potensi berbuat baik dan buruk. “Siapapun bisa berbuat khilaf. Tapi tekad dan kesungguhan hati utuk memperbaiki diri niscaya masyarakat akan memberikan apresiasi dan kepercayan untuk bisa kembali berada di tengah-tengah masyarakat,” jelas Momon didampingi Wakil Ketua DPRD Kuningan, H. Yudi Budiana, SH.

Oleh karena itu, pemberian remisi harus dijadikan semangat dan tekad bagi warga binaan untuk mengisi hai-hari menjelang bebas dan memperbanyak karya dan cipta yang bermanfaat  bagi sesama. Sekaligus persiapan diri untuk tidak melanggar hukum lagi. (tan)

h1

DPRD Setujui 11 Raperda Jadi Perda

22 September 2010

Kuningan, IB

Sebelas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD H. Acep Purnama, SH, MH, Rabu (25/8). Dari 11 Raperda tersebut satu diantaranya adalah Raperda inisiatif.

Raperda inisiatif yang disahkan yakni raperda tentang Pembentukan Perda. Satu Raperda lagi yakni tentang Parkir Berlangganan. Sedangkan 9 raperda lainnya yakni tentang Pengelolaan PD BPR Kuningan, Ketentuan Izin Usaha di Bidang Kesehatan, Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Pemeriksaan Laboratorium pada Dinkes.

Selanjutnya Raperda tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, Retribusi Pemeriksaan Alat Damkar, Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, Pengelolaan Barang Daerah, OTK Korpri dan Perubahan Perda No. 5 tahun 2009 tentang RPJPD.

Seluruh Raperda tersebut telah mendapatkan pengkajian dari tiga pansus yang dibentuk. Rabu (25/8) ke 11 Raperda itu telah disahkan menjadi Perda disaksikan kepala SOPD lingkup Pemkab Kuningan, unsur Muspida dan seluruh anggota DPRD Kuningan.

Paripurna itupun sempat diinterupsi oleh dua orang anggota dewan. Mereka adalah Oyo Sukarya, SE politisi Partai Golkar dan Iwan Sonjaya, SPd, FPKS.

“Khusus untuk Perda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), etikanya harus ada penyelarasan waktu karena Perda ini berbasis waktu. Jika draft Masterplan dijadikan lampiran, maka terjadi perbedaan waktu. Masterplan itu sampai 2030 sedangkan RPJPD sampai 2025,” jelas Oyo Sukarya lantang.

Sementara itu kaitan dengan Raperda Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Pemeriksaan Laboratorium pada Dinkes, pansus yang diketuai Ir. Abriyanto Setiawan, M.Si menuliskan catatan dalam laporan pansusnya. Ia mengatakan, peningkatan tarif semata untuk meningkatkan mutu pelayanan khususnya pelayanan di Puskesmas-puskesmas.

“Peningkatan tarif ini untuk menyesuaikan pengajuan klaim, baik kepada pempus maupun pemprov dalam hal pelayanan masyarakat miskin yang memiliki Jamkesmas ataupun Jamkesda,” ungkapnya.

Bagi masyarakat miskin yang belum terakomodir, baik melalui Jamkesmas maupun Jamkesda akan diatur melalui Perbub.(tan)

h1

35 Calhaj Kuningan Belum Lunasi BPIH

22 September 2010

Kuningan, IB

Sejumlah 35 orang dari 870 calon jemaah haji (calhaj) 2010 belum melunasi BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Dari jumlah 35 quota yang masih kosong itu menjadi hak waitinglist (daftar tunggu) calhaj 2011.

Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kab. Kuningan, Drs. H. Agus Abdul Kholik, MA didampingi Kasi Haji dan Umroh, H. Ahmad Fauzi, S.Ag, M.Si menjelaskan, pada tahap pertama pelunasan, 3 – 30 Agustus 2010 sejumlah 835 calhaj telah melunasi BPIH .

Pelunasan didasarkan pada nilai dolar saat itu atau rupiah sesuai dengan kurs jual dolar transaksi BI.  Kementrian Agama telah menetapakan BPIH 2010 sebesar 33.64 $ US atau Rp. 30.228.904, dengan kurs Rp. 8.986 per 3 Agustus 2010, ditambah asuransi sebesar Rp. 100.000. “BPIH tahun ini lebih murah 80 $ US, sebelumnya 34.44 $ US,” terang Ahmad Fauzi, Kamis (26/8)

Apabila hingga 30 Agustus 2010 tidak bisa melunasi, maka akan diberikan kepada calhaj berdasarkan waitinglist 2011.

Berdasarkan aturan, untuk memenuhi quota itu calhaj waitinglist 2011 diberikan kesempatan untuk melunasi selama 7 hari kerja (1 –  6 September). Apabila pada masa perpanjangan tahap I, quota belum terpenuhi juga maka akan diperpanjang selama lima hari lagi. Namun bila kesempatan kedua tidak terpenuhi, quota provinsi akan dialihkan menjadi quota nasional.

Ketika ditanya, apakah paspor sudah beres, Ahmad Fauzi menjelaskan, paspor untuk calon jemaah haji 2010 seluruhnya sudah beres, ketika pendaftaran dulu. Namun bila dari waitinglist sesuai nomor urutnya melunasi, maka diharuskan segera membereskan administrasi termasuk untuk pembuatan foto. (tan)

h1

MDT Kurang Perhatian Pemkab Kuningan

22 September 2010

Kuningan, IB

Pendidikan non formal Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) masih kurang perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kuningan. Padahal eksistensi MDT sudah kuat secara hukum dengan diterbitkannya Perda No. 17 Tahun 2008.

“Hingga kini tercatat lebih dari 370 buah MDT yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan,” terang Ketua FKMDT (Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah) Kab. Kuningan, Didin Aminudin, SPd, M.Pd.I di sela-sela Musker FKMDT di Aula Kantor Kementerian Agama Kab. Kuningan, Selasa (24/8).

Program kerja yang dibuat, tambahnya, mengacu pada visi Kabupaten Kuningan yakni Kabupaten yang religius. Bupati sendi dinilai olehnya telah peduli terhadap pendidikan non formal keagamaan baik RA (Raudathul Anfal) maupun TPA (tempat pengajian anak). Apalagi sudah ada Perdanya.

Pengakuan juga telah dilakukan oleh Pemkab Kuningan, ketika pada 2009 lalu, para guru MDT telah diberikan bantuan stimulan sebesar Rp. 200 juta. Sayangnya bantuan itu tidak cair seluruhnya. “Yang diterima hanya lima puluh persen, sedang sisanya raib entah kemana. Tapi kita sadar bahwa para guru ngaji itu sifatnya mardhotillah (iklas karena Allah), meski tidak digaji tetap melaksanakan tugas,” kata Didin.

Untuk tahun 2010 sendiri dengan dalih anggaran tersedot untuk belanja pegawai, sehingga bantuan untuk MDT tidak ada. “Terhadap masalah ini pihak kami bisa memakluminya,” ucap Didin.

Untuk bisa diakui oleh jenjang pendidikan formal, sebaiknya calon siswa baru SMP dan MTs itu dipersyaratkan memliki ijazah MDT. Bila hal itu dilakukan dirinya merasa optimis MDT akan maju.

Bupati Kunngan, H. Aang Hamid Suganda mengatakan, saat ini tengah dibangun Kuningan Islamic Centre yang berlokasi di Jalan Lingkar Pramuka Cirendang. Kedepan bangunan itu akan menjadi pusat pelatihan bagi generasi muda di bidang keagamaan sehingga generasi-generasi muda Kuningan akan menjadi generasi muda yang pintar, cakap, serta berakhlakul karimah.

Ia menyebutkan, perlu terjalin kerjasama yang baik antara alim ulama, para pengajar dan Pemerintah Daerah. Hal ini mutlak diperlukan untuk dapat menciptakan kondisi SDM Kabupaten Kuningan yang handal dan religius.

MDT sudah berjalan dengan baik, meski para ustadnya tidak mendapat upah. Mereka bekerja secara iklas dan tanpa pamrih. Ia meminta agar MDT dikelola dengan baik. Menanggapi agar calon siswa SMP/MTs diwajibkan memiliki ijazah sebaiknya tidak menyalahi undang-undang. Disinggung masalah bantuan pada 2009 yang tidak tuntas, Ia berjanji akan mengeceknya. (tan)

h1

17 Kepsek Dimutasi, Kepsek SMKN 3 Kuningan Tak Tersentuh

22 September 2010

Kuningan, IB

Sebanyak 17 kepala SMAN dan SMKN di Lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kuningan dimutasi. Namun, mutasi itu tidak menyentuh Kepala SMKN 3 Kuningan, Drs. Asep Muhammad Nuh Rosyid, M.Pd.

Padahal saat ini Asep M. Nuh sedang menjadi pusat pemberitaan sehubungan dengan tingginya biaya pendidikan di sekolah tersebut.

Pelantikan dilakukan oleh Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda pada hari Kamis (20/8) di Aula SMAN 3 Kuningan. Dihadiri Wakil Bupati Kuningan Drs. H. Momon Rochmana,  MM, Sekda Kab. Kuningan Drs. Nandang Sudrajat, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Kuningan Drs. H. Dadang Supardan M.Si serta undangan lainnya.

Bupati Aang menyampaikan ucapan selamat kepada para kepala SMAN dan SMKN yang dilantik. Ia berharap, para kepala sekolah tersebut dapat melaksanakan dan memegang teguh sumpah yang telah diucapkan dengan sebaik-baiknya. “Saya pun meminta kepada para kepala sekolah agar benar-benar memahami tugas pokok dan fungsi baik sebagai manager, administrator maupun supervisor, sehingga terbentuk figure kepala sekolah yang profesional,” kata Aang.

Menurut Aang, sebagai manager para kepala sekolah harus dapat membawa sekolah yang dipimpinnya ke arah yang lebih maju lagi agar mampu bersaing dengan sekolah yang lainnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Aang menuntut para kepala sekolah untuk memiliki kemauan dan usaha yang keras agar dapat memajukan pendidikan.

“Saya juga ingin agar para kepala sekolah yang dilantik dapat menunjukkan keteladanan dan disiplin dalam sikap dan perilaku. Sehingga akan menjadi contoh bagi guru dan siswa si lingkungan sekolah,” kata Aang.

Sebagai seorang administrator, lanjut Aang, para kepala sekolah harus mampu mengendalikan manajemen sekolah khususnya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Hal ini agar lulusan yang dihasilkan dapat berkualitas. Sedangkan sebagai seorang supervisor, para kepala sekolah harus dapat bertindak sebagai pembimbing dan konsultan bagi para guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. “Para kepala sekolah harus dapat memberikan dorongan, bimbingan dan arahan kepada para guru agar dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik sebagai pendidik, pengajar dan pelatih keterampilan peserta didik ,” jelas Aang.

Aang pun mengungkapkan, pada saat ini pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Kuningan secara umum telah mengalami kemajuan, terutama dalam memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan.

“Saya berpesan kepada seluruh kepala sekolah yang dilantik agar menindaklanjuti kepercaan pemerintah dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya, meningkat-kan prestasi setinggi-tingginya agar bidang pendidikan dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pecapaian indeks pembangunan manusia dan menciptakan iklim kerja yang harmonis sehingga terjalin komunikasi yang efektif antara kepala sekolah, guru serta dengan siswa,” terang Aang. (CR/den)