Arsip Kategori: edisi 147

Kontingen Kuningan Gagal Penuhi Target Porda Jabar

BANDUNG, IB

Kontingen Kabupaten Kuningan gagal penuhi target pada  Pekan Olahraga Daerah  (PORDA) XI Jawa Barat di Soreang Kabupaten Bandung. Dari target masuk peringkat 15 malah mental ke peringkat 20.

Posisi ini meleset jauh dari target yang dicanangkan sebelum berangkat yakni membidik 14 emas dan masuk peringkat 15 besar. Bahkan jauh menurun dibandingkan dengan hasil Porda 2008 di Karawang. Saat itu Kuningan mampu menyabet 13 medali emas dan berhasil bercokol d iperingkat ke 16.

Pada PORDA XI  2010 di Soreang Bandung, Kuningan hanya mampu mendulang tujuh medali emas, lihat daftar perolehan medali. Sementara Kontingen Kota Bandung memasti-kan diri menjadi juara umum dengan  meraup 107 medali emas, 93 medali perak, dan 85 medali perunggu.

Menanggapi hal itu, Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda menjelaskan bahwa Kontingen Kuningan tidak sepenuhnya gagal, karena pada beberapa cabang justru terjadi peningkatan yang luar biasa.  “Seperti pada cabang sepakbola, kita bisa berbangga diri diri karena mampu melaju ke grand final,” katanya.

Di final di Stadion Jalak Harupat, Kuningan kalah dari Kota Bandung 2 – 3 (1 – 2). Kekalahan itu sendiri karena buruknya kepemimpinan wasit M. Agus. Sehingga merugikan Tim The Horse yang didukung ribuan Sasatak yang memenuhi tribun barat stadion tersebut.

Kemenangan Kuningan yang sudah di depan mata itupun akhirnya berbalik. Padahal hingga 45 menit babak pertama, sudah unggul 2 – 0, melalui serangan balik yang dibangun secara rapi. Dengan bantuan sang pengadil, Tim Kota Bandung diberikan tendangan penalti, yang dapat dimanfaatkan. Sehingga kedudukan pun berubah menjadi 2 – 1.

Kedudukan 2 – 1 itu menambah motivasi para pemain Kota Bandung. Apalagi mereka mampu memanfaatkan situasi dengan memancing emosi pemain Kuningan. Akibat tak tahan sering ditebas, sehingga naik pitam, dan terjadilah keributan. Bahkan salah seorang pemain melontarkan bogem mentah ke muka pemain lawan.

Tak ayal, wasit yang sudah berat sebelah itupun mengganjar dengan kartu merah. Tak lama berselang gol ke dua Tim Bandung tercipta untuk menyamakan kedudukan. Berkurangnya pemain ditambah kepemimpinan wasit yang kurang fair, pemain Kuningan main alakadarnya. Sehingga pada menit-menit akhir gol Kota Bandung bertambah lagi.

Bupati Aang tetap bangga meski timnya kalah tetapi karena buruknya kepemimpinan wasit. Padahal Kuningan sudah leading dengan skor 2 – 0, sebelum dapat membalas menjadi 2 -1 melalui titik putih pada saat injuri time.

“Kami merasa bangga karena untuk pertama kali Kuningan bisa masuk final sepak bola Porda. Kuningan saat ini telah menjadi barometer sepakbola di wilayah III Cirebon,” ungkap Aang saat peresmian Masjid Ar Riyadoh SMAN 1 Cigugur, Rabu (14/7)

Kekecewaan nampak ditumpahkan oleh ratusan Sasatak Tim The Horse di tribun barat dengan melambaikan tangan sambil memegang uang berbagai pecahan rupiah. Mereka bahkan  meneriakan, ganti wasit, wasit kena sogok dan lain-lain.

Buruknya kepemimpinan M. Agus dalam pertandingan final sepakbola di Pekan Olahraga Daerah XI/2010 antara Kabupaten Kuningan dan Kota Bandung juga diakui oleh Ketua Pengurus Daerah PSSI Jawa Barat, Tony Apriliani.

Wasit sebagai pengadil masih berat sebelah dalam memutus sebuah pelanggaran. “Harusnya dua pemain yang bersitegang ditegur semua, bukan satu diberi sanksi dan yang lain dibiarkan begitu saja,” ujar Tony yang ditemui di pinggir lapangan, Selasa (13/7) seperti dilansir kompas.com.

Tony mengomentari sanksi kartu merah yang diterima kaptem Persik Kuningan Abdul Latif pada babak pertama. Sanksi tersebut adalah buntut pertengkaran antara Abdul dengan Moch Agung Pribadi.

Agung nekat merangsek karena melihat Abdul dengan sengaja menginjak tengkuk Budiawan saat bangun setelah bertabrakan. Namun, Tony juga menyesalkan sikap ofisial Pesik yang malah ikut tersulut emosinya, bukan mendinginkan suasana yang panas.

Yang ada, ofisial malah ikut merangsek ke tengah lapangan. Mengenai hasil kepemimpinan wasit tersebut, Tony berjanji untuk mengadakan evaluasi dan siap memberikan sanksi sesuai bobot kesalahannya. PSSI memiliki program untuk meningkatkan kompetensi wasit sebagai pengadil di tengah lapangan.

Akhirnya Kota Bandung merebut medali emas bergengsi cabang sepak bola Porda Jabar XI/2010, medali perak diraih Kuningan dan medali perunggu direbut Kota Depok.  tan)

H. Kamdan Kembali Pimpin PDAM Tirta Kemuning

Kuningan, IB

H. Kamdan, SE kembali dipercaya memimpin PDAM Tirta Kemuning  Kabupaten Kuningan, untuk empat tahun ke depan. Kepastian itu didapat setelah Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos melantiknya sebagai Direktur PDAM untuk periode 2010 – 2014, di Aula PDAM Kuningan, Jum’at (16/7).

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos mengatakan, berdasarkan Perda No. 16 Tahun 2008 bahwa Direktur PDAM Kuningan dapat diangkat kembali bila mampu meningkatkan kinerjanya.

Selama memimpin PDAM periode pertama 2006 – 2010, H. Kamdan telah mampu meningkatkan pelanggan mencapai 20.000 unit sambungan. Atas dasar kinerjanya itulah Ia dipercaya kembali memimpin selama satu periode lagi, 2010 – 2014.

“Saya berharap agar direktur yang baru  dilantik dapat terus meningkatkan kinerjanya dan lebih maju lagi. Karena kita mencita-citakan memiliki perusahaan daerah yang mumpuni,” kata Bupati Aang.

Saat ini Kabupaten Kuningan telah memiliki tiga perusahaan daerah yakni PDAM, PD BPR dan PDAU (Aneka Usaha).  “Sebagai perusahaan milik daerah para pegawai harus semangat, berjiwa wirausaha dan mengetahui manajemen yang benar. Apalagi nanti pada 2011 ditargetkan pendapatan asli daerah (PAD) meningkat mencapai 20 persen. PAD dimaksud sebagian besar berasal dari rumah sakit,” terang dia.

Ia meminta agar Direktur PDAM kedepan harus mampu meningkatkan manajemen secara optimal, memperkecil kebocoran air, dan cakupan pelanggan lebih banyak. “Ingat, maju dan mundurnya PDAM tergantung kepada pegawai yang profesional, kerja keras, integritas dan memiliki dedikasi terhadap pekerjaan. Dan tingkatkan pelayanan kepada pelanggan,” pinta Aang.

Terpisah, Ketua Badan Pengawas PDAM Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM, enggan menyebutkan secara tegas bahwa H. Kamdan akan ditunjuk kembali. Namun dari ungkapannya sudah tergambar. “Untuk menentukan seseorang menjadi Direktur PDAM merupakan kewenangan usser dalam hal ini Pak Bupati,” terang Wakil Bupati Kuningan saat berkunjung ke Kantor PDAM, Kamis lalu.

Dalam hal ini kewenangan pengawas hanya memotret selama mendapat kepercayaan, sebagai bahan pertimbangan Bupati. Ia hanya menyebutkan, H. Kamdan telah berbuat banyak, terbukti pelanggan hingga April 2010 telah mencapai 20.000, cashflow dan investasi meningkat.

Ia meminta setiap pegawai PDAM harus menerapkan jiwa pengusaha, karena bukan birokrat. Sehingga kinerja harus ditingkatkan dan bertindak lebih fleksibel untuk mendapatkan keuntungan.

Direktur PDAM Tirta Dharma Kuningan, H. Kamdan menjelaskan, saat ini pemerintah sudah meluncurkan program MDGs (Milenium Development Goals). Yang dimaksud pada 2015, Indonesia dapat membangun 10 juta sambungan baru. Kuningan sendiri menargetkan hingga 2015 dapat menambah hingga 15.000 sambungan baru, hingga 2013 diharapkan bisa tercapai 7.000 sambungan.

Untuk mencapai target itu diantaranya dengan meluncurkan program MBR (masyarakat berpenghasilan rendah). “Dalam hal ini kita memberikan kemudahan dengan memberikan harga setiap pelanggan sebesar Rp. 500.000. itupun tanpa dikenakan biaya pendaftaran dan dapat dicicil 10 kali,” katanya.

Sebagai seorang manajer, Ia telah membuat program di PDAM, dan sudah tercover dalam Masterplan 2028. Kemudian diimplementasikan dalam Bisnis Plan Lima Tahunan dan lebih spesifik dalam RKAP (rencana kegiatan anggaran perusahaan).

Ia menargetkan, setidaknya hingga April 2011 setidaknya 2000 – 3000 pelanggan baru dapat terlayani. Sebagai fokusnya yakni di Perumahan Puri Asri, Kecamatan Ciawigebang, Garawangi, Lebakwangi dan Luragung.

“Mereka dapat terlayani karena sudah ada jaringan instalasi, juga kapasitasnya sudah berlebih. Surplus air bersih itu berasal dari sumber air Waduk Darma, Darma Loka, Jambar dan Cibulan,” katanya.

Selanjutnya, peningkatan terhadap pelanggan sudah mencapai 95 persen dibeberapa wilayah. Sedangkan lima persen sambungan bermasalah. Contohnya, sumber air dari Batu Ngajut Palutungan sering terganggu oleh longsor. Ketika masuk musim penghujan, saat petani menggarap lahan, kotorannya sering berimbas pada air PDAM sehingga menjadi keruh. Sumber mata air di Sawah Buah Desa Cibentang, sudah diantisipasi dengan mencari mata air dari Cijalatong daerah Gunungkeling.

“Kemudian kita berupaya menekan kebocoran, menambah pelanggan baru selama empat tahun dan sudah bertambah 4.000 sambungan. Begitu pula income yang semula Rp. 420 juta per bulan meningkat menjadi Rp. 1,1 miliar. Sehingga saat ini PDAM Kuningan sudah BEP (break event point),” jelasnya.

Pihaknya pun berupaya untuk mendongkrak peningkatan pelanggan baru, karena bila dibandingkan dengan membeli dari tempat lain maka air dari PDAM jauh lebih murah dan higyene. Misalnya bila membeli air dari PDAM hanya Rp. 1.850 per meter³, maka hal itu setara lima drum air dengan harga Rp. 50.000. “Ini jelas lebih efektif dan efisien terutama bagi yang sudah ada jaringan intalasi air di daerah perkotaan dan desa-desa tertentu,” terang H. Kamdan.

Sejalan dengan program pemerintah, sebagaimana diamanahkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 Tahun 2005 bahwa 98 persen rumah tangga perlu air bersih. Dalam hal ini Pemerintah wajib menyediakan sarana air minum bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya dikerjasamakan dengan PDAM.

Ia pun mengharapkan agar penyediaan sarana air bersih yang difasilitasi oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dapat dikerjasamakan dengan PDAM. Hal ini agar manfaat dari pembangunan itu dapat dirasakan secara kontinyu (sustainable).

“Selama ini disinyalir banyak pembangunan instalasi air bersih oleh Dinas Cipta Karya ternyata hasilnya tidak memuaskan. Untuk kerjasama ini, kita sebenarnya sudah ekpose, namun hasilnya kurang memuaskan,” ungkap dia didampingi Anggota DPRD Kuningan, Rudi Iskandar, SH.

Salah satu contoh yang sudah dikerjasamakan adalah di Ciniru. Sarana air bersih yang dibangun oleh Dinas TRCK kini dikelola oleh PDAM. Dari wilayah ini berhasil ditarik dana masyarakat sebesar Rp. 14 juta per bulan. (tan)

Pertamina Jamin Gas LPG 3 Kg Aman Digunakan

Kuningan, IB

“PT. Pertamina (Persero) memberikan jaminan bahwa gas elpiji tiga kilogram dinyatakan aman untuk digunakan. Karena itu, kepada Ibu-ibu jangan takut untuk menggunakannya,” kata Kasnadi, Kadiv Lindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LK3) Pertamina Cirebon, saat sosialisasi gas LPG 3 Kg di Pasar Kepuh Kuningan, Minggu (18/7).

Belakangan ini gencar ada pemberitaan meledaknya tabung gas LPG di media cetak dan televisi sehingga masyarakat menjadi resah. Hal itu tentunya banyak mempengaruhi masyarakat. tetapi sebenarnya jika kita teliti dan merawat tabung, regulator dan selang, peristiwa itu takan terjadi.

Selain itu juga perlu diperhatikan beberapa hal ketika kita akan membeli LPG ukuran 3 kg, seperti, teliti tabung sebelum membeli apakah dalam keadaan bocor atau tidak, lalu timbang isi dalam tabung apakah sesuai ukuran.

PT. Puspita Cipta, distributor Elpiji di Kabupaten Kuningan, Minggu (18/7) melakukan sosialisasi pemakaian gas LPG dengan tema “jangan takut pakai elpiji”. Rohmat Ardian, Owner PT. Puspita Cipta Group mengatakan, pihaknya melakukan hal ini dalam rangka mengajak masyarakat agar tidak takut memakai LPG. Pasalnya, gas LPG merupakan bahan bakar yang hemat, efisien dan bersih.

Menanggapi banyaknya kasus tabung 3 kg yang meledak, Ardian menjelaskan, jika elemen-elemen yang digunakan sesuai standar operasional prosedur dan dirawat dengan benar maka tidak akan terjadi ledakan.

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda mengatakan, Pemerintah Daerah merasa perlu melakukan kampanye pemakaian gas elpiji, karena belakangan ini banyak isu yang beredar di masyarakat mengenai pemakaian LPG 3 kg yang tidak aman. “Oleh karena itu kewajiban kami selaku pemerintah untuk merespon hal tersebut dengan melakukan tindakan, langkah-langkah antisipatif dan solutif,” kata Aang.

Bupati juga berharap kepada pihak Pertamina selaku Produsen gas LPG untuk dapat menyosialisasikan kepada masyarakat baik dari aspek manfaat, fungsi dan keamanan dari pemakaian gas LPG.

Selain itu, pihak Pertamina diminta untuk melakukan penggantian komponen-komponen atau aksesoris yang dinyatakan tidak memenuhi standar. Juga melakukan monitoring dan pengawasan terhadap para agen pangkalan dan masyarakat tentang pemakaian LPG secara aman, dan yang terakhir segera ambil langkah-langkah lain penggunaan gas LPG yang dianggap perlu.

“Kami menghimbau kepada masyarakat Kabupaten Kuningan agar jangan takut memakai LPG, dan meminta kepada Pertamina, para distributor, agar melakukan pengawasan yang baik agar masyarakat tenang memakai LPG,” pinta Aaang. (tan)

Wisuda Uniku Didominasi Lulusan FKIP

Kuningan, IB

Alumni Universitas Kuningan (UNIKU) masih didominasi lulusan FKIP. Begitu pula pada wisuda yang dilaksanakan di Gedung Student Centre UNIKU, Kamis (15/7), dari 590 wisudawan, 310 diantaranya merupakan jebolan FKIP. Menyusul, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) 103 orang, Fakultas Ekonomi (FE) 110, dan Fakultas Kehutanan 9 orang.

Ketua Yayasan Sang Adipati, Drs. Uri Syam, SH menjelaskan, untuk ke tujuh kalinya UNIKU menggelar wisuda. Ibarat busur dibentangkan, anak panahnya sejumlah 590 lulusan siap meluncur ke sasaran pengabdian di tengah masyarakat. Mereka merupakan bagian dari  peserta didik, yang hingga 2009 mencapai 4.853 mahasiswa.

Setelah studi di UNIKU, para wisudawan seyogyanya memiliki ketajaman berpikir untuk menganalisa dan memecahkan masalah serta berkemampuan lebih dari jenjang pendidikan sebelumnya. Namun demikian, dalam praktiknya sudah barang tentu terpulang pada para individu wisudawan sendiri untuk memahami realitas di lapangan yang lebih tajam dari perkiraan.

Hasil lulusan secara kualitatif barulah merupakan kinerja output. Masih ada rangkaian indikator kinerja yang perlu dievaluasi. Karena itu, tugas UNIKU untuk melakukan penelitian terhadap kinerjanya.

Dalam hal ini seberapa jauh lulusan S1 maupun pasca sarjana telah memenuhi kebutuhan lapangan kerja. Kemudian asfek benefits-nya, seberapa jauh telah memberi manfaat terhadap dunia kerja dalam meningkatkan produktivitas.

Rektor UNIKU, Iskandar Hasan, MM mengatakan, tahun 2009 – 2010 diantaranya proses akademika mulai dikelola berdasarkan sistem penjaminan mutu. Untuk mencapai pendidikan semakin berkualitas, sedang melakukan E-learning. Melalui sistem pendidikan ini, dosen dan mahsiswa dituntut untuk melakukan komparasi dan benchmarking dengan perguruan tinggi lainnya yang sudah online.

“Kami juga sudah menandatangani MoU (nota kesepahaman) dengan PT. Bukaka Teknik Utama dari Bekasi, dan sedang merintis kerjasama dengan perusahaan lainnya,” terang Iskandar.

Pada tahun ini sebagai pilot project telah melatih 400 mahasiswa dan kelompok-kelompok. Mereka kemudian diberikan modal bergulir dari Bupati Kuningan.

Ia juga menyebutkan, untuk pertama kali seorang alumni diberikan penghargaan UNIKU Award yakni Arohman, S.Pd. Arohman adalah guru teladan dari SMPN 1 Cilebak yang telah mengabdikan dirinya dengan penuh dedikasi.

Koordinator Kopertis Wilayah IV, Prof. DR. H. Abdul Hakim Halim, M.Sc mengatakan, dengan potensi luar biasa, diharapkan UNIKU mampu menunjukkan prestasi yang membanggakan. “Kami meminta untuk meningkatkan kualitas penye-lenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan meningkatkan peran dalam membangun bangsa ini,” ucap Abdul Hakim.

Abdul Hakim Halim berpesan bahwa keberhasilan dalam bekerja ditentukan oleh tiga hal. Pertama, bekerja dengan cara terbaik, yaitu bekerja dengan kesadaran penuh bahwa kualitas kerja merupakan hal paling penting dalam menjalani profesi apapun.

Kedua, untuk bisa bekerja dengan baik dan professional, harus selalu meningkatkan pengetahuan dengan belajar sepanjang masa. Ketiga, para profesional harus menjalankan etika profesi dan berakhlak mulia (akhlakul karimah). Sehingga bisa menjadi teladan bagi anggota masyarakat lainnya.

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda memberikan apresiasi pada Dies Natalis VII dan wisuda Uniku itu. “Hari ini para wisudawan dan wisudawati memasuki  gerbang cendikiawan. Sudah barang tentu memiliki tanggung jawab sosial yang berbeda dengan masa sebelumnya,” kata dia.

Di pundak para sarjanalah kiranya masyarakat menaruh sebuah harapan. Harapan untuk mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan kajian ilmiah dalam memecahkan persoalan-persoalan saat ini.

Ada beberapa isu yang berkembang belakangan ini yakni aksesibilitas dan pelayanan pendidikan. AHM 97,05, RLS 7,97 tahun dan tingkat pendidikan yang ditanamkan masih rendah (SD = 52,70%, SMP = 14,20%, SMA = 10,70%, ademik/PT = 2,83%). Masalahnya, kualitas sarana dan prasarana sekolah belum memadai, terbatasnya jumlah SDM tenaga pendidik terutama guru di pedesaan, serta belum terpenuhinya standar kualifikasi dan kompetensi guru. (tan)

Kadishub Geram, “Izin Trayek Akan Dicabut”

Kunigan, IB

Maraknya demo sopir angkot 03 dan 04 akhir-akhir ini telah membuat geram Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kuningan, Drs. Jaka Chaerul. “Jika terjadi demo lagi izin trayek akan kami cabut,” tegasnya.

Kadishub menegaskan kembali mengenai ulah demo sopir angkot yang tidak memahami aturan, yaitu ingin memaksakan kehendak dengan cara berdemo terus menerus. “Maka  untuk itu kami menegakkan aturan, mengingat apabila terus dibiarkan tanpa ada tindakan akan mengganggu ketertiban umun. Untuk pencabutan izin trayek itu sudah ada aturannya, termasuk diantaranya melanggar ketertiban umum,” jelasnya saat ditemui di ruang rapat, Kamis (15/7).

Dikatakannya, latar belakang demo sopir angkot tersebut, diawali dengan pemberitahuan uji coba perluasan trayek 03 dan o4 sampai dengan Pasar Sadamantra seiring dengan rencana penutupan Terminal Cirendang. “Namun setelah dilaksanakan, ternyata dari jumlah kurang lebih 150 angkot itu, yang benar-benar masuk terminal angkot Sadamantra cuma 27 buah angkot. Yang lainnya banyak yang membelot di Pasar Kerucuk,” katanya.

“Karena masalah tersebut, akhirnya kami mengambil langkah berupa pengaktifan kembali Terminal Cirendang menjadi Sub Terminal Angkot 03, 04 dan Angkot Jurusan Sadamantra-Cilimus. Tapi dari sebagian sopir angkot 03 dan 04 ada yang ngotot ingin tetap melayani penumpang sampai dengan Sadamantra, yang akhirnya berbenturan dengan  keinginan sopir jurusan Sadamantra-Cilimus,” imbuhnya.

Kadishub Harus Tahan Banting

Ketua DPC Partai Demokrat H. Toto Hartono mengatakan, seorang Kepala Dinas Perhubungan harus tahan banting.

Hal tersebut diungkapkannya mungkin berdasarkan pengalamannya sebagai mantan Kadishub Kuningan, yang sewaktu menjalankan tugasnya tidak terlepas dengan permasalahan seperti yang sedang dihadapi Kadishub Jaka Chaerul. Permasalahan itu diantarnya menanggapi persoalan aspirasi para sopir maupun penumpang yang notabene keduanya selalu memaksakan kehendak karena tidak memahami aturan.

Pada prinsipnya Wakil  Ketua DPRD Kuningan ini sependapat dengan statemen Kadishub Kuningan  “Insya Allah, jika kita bekerja dengan berpegang kepada aturan yang sudah menjadi sebuah keputusan dalam bentuk SK Bupati  maupun Peraturan Daerah, kita tidak perlu goyah menghadapai intervensi dari siapapun yang mengatasnamakan pribadi dan atau lembaga,” tandasnya, Jumat (16/7). (Rd. Achadiat)

Desa Jagara Pioner Desa Wisata di Kuningan

Darma, IB

Desa Jagara Kecamatan Darma dicanangkan menjadi pioner Desa Wisata di Kabupaten Kuningan. “Desa Wisata sudah menjadi visi dan misi desa kami,” kata Kepala Desa Jagara, Umar Hidayat.

Sejalan dengan terbitnya Perda 10 Tahun 2009 tentang Perlindungan Satwa Liar dan Ikan, Umar Hidayat telah melakukan penertiban karamba (jaring terapung) di perairan Waduk Darma.

Dalam rangka penertiban jaring terapung dan pelestarian ikan di Waduk Darma, khususnya wilayah Jagara, telah diatur dengan Perdes No.  6 tahun 2009 tentang Penataan Satwa Barung dan Ikan/Budidaya Ikan di Waduk Darma. Diatur lebih lanjut dalam Keputusan Kepala Desa No. 2 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksana Perdes No. 6/2009.

Selanjutnya, untuk monitoring keamanan waduk Darma telah dibentuk Pokmaswas (kelompok masyarakat pengawas) yang secara kebetulan dirinya dipercaya menjadi Ketua Pokmaswas Kab. Kuningan berdasarkan SK Kepala Dinas Pertanian Kab. Kuningan.

Ia berharap agar Pemda Kuningan mengalokasikan biaya operasional Pokmaswas dari APBD demi terciptanya tujuan. Pemprov sendiri telah membantu sarana Kapal Viber (boat). “Kami telah menyusun rencana anggaran untuk biaya operasional sebesar Rp. 25 juta per tahun,” terang Ketua Forum Pokmaswas Prov. Jabar ini kepada IB.

Ia pun mengutarakan, sesuai dengan Perda Provinsi Jabar disebutkan bahwa perairan termasuk bidang garapan Dinas Perhubungan. Untuk itu, dirinya meminta agar di sepanjang jalan wilayah timur Waduk Darma bisa dipasang lima buah lampu mercury untuk penerangan. Juga untuk lalu lalu lintas di perairan Waduk Darma perlu dipasang rambu-rambu agar lebih tertib, mana yang boleh untuk pariwisata, dan budidaya ikan.

Camat Darma, Drs. Sadudin, M.Si merasa tertantang ketika mendengar keluhan masyarakat Desa Jagara yang mengungkapkan keluh kesahnya karena tidak punya lahan pertanian. “Mendengar keluhan itu, Saya langsung terjun ke masyarakat, dan setelah dikaji ternyata Desa Jagara yang dekat dengan Waduk Darma memiliki potensi luar biasa untuk pariwisata dan budidaya ikan. Tinggal bagaimana kita bisa mengoptimal-kannya,” terang Sadudin.

Salah satu langkah yang dilakukannya adalah menertibkan jaring apung di Waduk Darma yang tidak produktif bersama Pokmaswas agar lebih menarik. Di wilayah Jagara saja terdapat sekira 600 karamba (jaring apung) telah tertib, supaya ditiru oleh desa lainnya yang berbatasan dengan waduk Darma.

Bersama Kades Jagara Umar Hidayat, pihaknya telah merencanakan untuk membangun pasar ikan tawar. Di lokasi itu pun alangkah bagusnya kalau dibangun rumah makan ikan bakar, dan sejenisnya. Karena ikan memang sangat mudah dan banyak hasil dari budidaya ikan di Waduk Darma.

“Kedepannya, di Desa Jagara  ini bukan hanya dapat menikmati indahnya panorama Waduk Darma, tetapi bisa sekalian menikmati ikan bakar segar yang langsung ditangkap dari karamba,” kata Sadudin. (tan)

Pendidikan Berkualitas Tidak Harus Mahal

Kuningan, IB

Kepala SMK Negeri 2 Kuningan, Drs. H. C. Sukarsa, M.Pd mengatakan, pendidikan berkualitas tidak harus dengan biaya mahal. Contohnya di sekolah ini, meski termasuk sekolah standar nasional (SSN) tapi biaya bagi siswa baru tidak terlalu besar. Mungkiin juga paling murah diantara SMK Negeri lainnya yang menjadi pavorit calon siswa baru. Meski biaya lebih murah namun kualitas tidak kalah dengan yang lainnya.

“Sebagai buktinya untuk uang tahunan bagi siswa baru tidak jauh dari satu juta setengah rupiah. Begitu pula saat UN (Ujian Nasional) lalu seluruh siswa bisa lulus,” terang Hendi di ruang kerjanya, pekan lalu.

Pada tahun ajaran 2010/2011, sekolah yang dipimpinnya menerima siswa baru 520 orang dari 850 pendaftar yang tergabung dalam 13 rombongan belajar. Jumlah itu menggenapi menjadi 37 rombel. Saat penerimaan itupun didasarkan kepada SKHUN (surat keterangan hasil ujian nasional) dan seleksi internal, dengan tujuan untuk mendapatkan siswa yang berkualitas.

Mereka kemudian didistribusikan di lima program kejuruan yakni Akuntansi, Administrasi Perkantoran (Sekretaris), Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Pemasaran,  dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Adapun prestasi yang pernah diraih pada bidang non akademis diantaranya, tampil sebagai juara pertama Invitasi Bola Volly se Jabar, 29 Juni lalu, dan akan menjadi utusan Jawa Barat paa Invitasi Bola Volly tingkat nasional. Bahkan pada tahun lalu berhasil meraih juara 3 Invitasi Bola Volly tingkat nasional. (tan)

Opid Ropidi Ketua Baru PGRI Kuningan

Kuningan, IB

Opid Ropidi, M.MPd menjadi Ketua baru DPD PGRI Kabupaten Kuningan dalam Konferkab yang dilaksanakan di Pangandaran, Ciamis, Minggu (18/7).

Opid Ropidi akan didampingi oleh Wakil Ketua Drs. H. Maman Suherman, M.Pd dan Drs. Suharso, M.Pd, keduanya mantan pengurus DPD lama, serta Sekretaris Drs. Agus Kosdaya, M.Pd, Ketua Ranting  PGRI Ciwaru.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda mengharapkan agar kepengurusan PGRI ke depan diisi oleh personal yang berkualitas. “Sebaiknya ketua tidak terlalu muda atau terlalu muda, karena PGRI memiliki peran penting dalam pembangunan bidang pendidikan,” pinta  Aang saat membuka Konferkab PGRI Kab. Kuningan di Gedung PGRI Kuningan, Sabtu (17/7).

Bupati Aang meminta agar guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi kinerjanya bisa lebih baik lagi. “Kalau kinerja mereka kurang benar, ya berikan sanksi, dan kalau bagus berikan penghargaan,” tegas Aang.

Ia merespon baik wisuda sarjana UNIKU yang dilaksanakan Kamis (15/7) sebagai upaya mencetak kader bangsa yang berkualitas. Saat itu dirinya mengaku sangat tertarik dengan adanya pemberian Uniku Award kepada Arohman, seorang guru dari SMPN 1 Cilebak yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemajuan pendidikan.

“Arohman telah memberikan teladan yang sangat baik bagi guru lainnya, dengan menerapkan disiplin dan mendedikasikan dirinya untuk kemajuan pendidikan. Ia juga datang lebih awal sebelum anak didik datang,” kata Aang.

Bupati yang digelari “Aang Hotmix” oleh Prof. Surya ini mengungkapkan bahwa Kuningan sekarang telah dilirik oleh daerah lain karena memiliki prestasi luar biasa. Mereka memuji kemajuan pesat terutama pembangunan imprastruktur jalan, meski tidak ditunjang APBD yang besar.

Pengakuan juga mucul dari Dirjen PLB Kemendiknas yang memercayakan even nasional dilaksanakan di Kuningan pada Oktober depan. Informasinya sekira 2.000 peserta anak berkebutuhan khusus akan berlomba di Kuningan. “Selanjut nya, kita juga dipercaya sebagai penyelenggara Pasanggiri Mojang dan Jajaka (Moka) tingkat Provinsi Jawa Barat,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Kuningan, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si berharap agar para guru dapat meningkat-kan profesionalisme dan disiplinnya. Sedangkan berkaitan dengan kepemimpinan PGRI, Ia hanya mengatakan pengurus nanti harus mampu melakukan komunikasi, baik ke atas, ke samping maupun ke bawah.

Ketua PD PGRI Kab. Kuningan, Drs. H. Maman Suherman, M.Pd menjelaskan, agenda Konferkab PGRI meliputi penyampaian LPJ pengurus 2005-2010, penyusunan program kerja lima tahunan, dan pemilihan kepengurusan. Konferkab itu sendiri dilaksanakan selama dua hari, 17 – 18 Juli 2010. Pada 17 Juli di Kuningan, dan 18 Juli di Pangandaran.

Ketika ditanya nama-nama calon yang akan bersaing, Ia menyebutkan sejumlah 75 orang calon pengurus telah diusulkan oleh setiap ranting, dari usulan itu seseorang dapat dipilih menjadi ketua atau pengurus lainnya.

Drs. H. Toto Toharudin, M.Pd, mantan Wakil Ketua DPD PGRI Kab. Kuningan, merespon baik atas terpilihnya Opid Ropidi. “Opid Ropidi telah terpilih melalui proses demokrasi yang berjalan dinamis dan demokratis. Apalagi dalam susunan kepengurusan saat ini lebih merata dengan mengakomodir unsur pendidik SD, SMP dan SMA,” terang Kabid Pora Disdikpora Kab. Kuningan ini.

Harapannya, lanjut Toto Toharudin, kedepan PGRI lebih terbuka, optimal dalam mendorong profesionalisme guru, terutama guru yang telah menerima sertifikasi agar lebih optimal kinerjanya.  Selanjutnya, dia berharap agar pengurus lebih sinergis dengan pemerintah untuk membangun pendidikan lebih maju menuju peningkatan mutu. (tan)

Bupati Kuningan Luncurkan Program Seruling

Cigugur, IB

Keinginan untuk mewujudkan Kabupaten Konservasi benar-benar diseriusi oleh Pemkab Kuningan. Beberapa program berwawasan lingkungan telah diluncurkan, diantaranya membangun Kebun Raya Kuningan di Desa Padabeunghar Kec. Pasawahan, Pengantin Peduli Lingkungan (Pepeling), Car free Days, dan menyusul Seruling (Siswa baru peduli lingkungan).

Program Seruling diluncurkan Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda di SMAN 1 Cigugur. Program Seruling ini dimaksudkan untuk menanamkan kepedulian para siswa-siswi terhadap lingkungan dengan cara penanaman pohon.

Dalam hal ini, selain siswa menuntut ilmu dan teknologi, juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup.  Dalam pelaksanaannya setiap siswa baru diwajibakan menanam dan merawat tanaman langka hingga lulus sekolah.

Program Seruling merupakan satu hal baru yang digagas Dinas Pendidikan Kab. Kuningan sebagai upaya mendukung program pembangunan berwawasan ling-kungan. “Seruling ini merupakan bukti adanya dukungan dari berbagai pihak dalam pembangunan lingkungan. Kita selalu konsen menyangkut rehabilitasi lahan-lahan kritis dan lahan kosong yang tidak produktif,” tegas Aang.

Keseriusan itu, kata Aang, telah nampak saat dirinya bersama Hj. Utje Ch. Suganda meninjau pembangunan insfrastruktur jalan menuju Kebun Raya Kuningan yang terletak di wilayah Desa Padabeunghar Kecamatan Pasawahan.

Pembangunan Kebun Raya ini nantinya sebagai tempat observasi lingkungan, tempat wisata alam dan diharapkan akan menambah pendapatan bagi pemerintah dan berdampak kepada pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat sekitar Kebun Raya ini.

Kepala SMAN 1 Cigugur, Drs. Mardiyanto, M.Si mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung program yang digulirkan pemimpin yang peduli pada pembangunan, khususnya pendidikan. “Dalam rangka penerimaan siswa baru (PSB) kami telah meluncurkan penanaman pohon dengan nama siswa baru peduli lingkungan (Seruling) yang merupakan adiknya Pepeling,” ujarnya.

Di SMAN 1 Cigugur, lanjutnya, juga telah dilaksanakan pembangunan Masjid Ar Riyadoh. Pembangunan ini merupakan mimpi yang direncanakan selesai lima tahun, namun bisa selesai dalam waktu tiga tahun, berkat kerjasama antara para guru dan para siswa.

“Selanjutnya kami akan membangun gedung olahraga (GOR) dengan mengusulkan tiga nama yakni Ki Hajar Dewantara, Nakula-Sadewa, dan Adipati. Selain itu merancang Taman Hutan Sekolah dengan tanaman bantuan Dinas Hutbun, dan Marga Satwa yang untuk sementara sudah ada Kalkun dan Angsa,” katanya. (tan)

KKN FKIP Uniku, Fokus Pada Aplikasi Ilmu Tiap Prodi

Kuningan, IB

Ada yang beda antara prosedur kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Kuningan tahun lalu dengan sekarang. KKN pada tahun ini menjadi kewenangan fakultas masing-masing, termasuk didalamnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Dekan FKIP Uniku, H. Zaenal Abidin, M.Si mengatakan, perbedaan lainnya dari KKN tahun ini adalah kegiatan disesuaikan dengan keahlian tiap program studi (Prodi) yang ada di FKIP. “Pada KKN tahun ini peserta pun dianjurkan untuk tidak menginap, dan penyusunan program dilakukan secara bottom up dan top down,” katanya.

Menurut Zaenal, FKIP khususnya, telah dapat melaksanakan KKN yang ketujuh kalinya. Dari tahun ke tahun, sebutnya, pelaksanaan program ini senantiasa mendapat penyempurnaan, sehingga diharapkan bisa memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi mahasiswa maupun masyarakat. “KKN merupakan salah satu kegiatan lembaga pendidikan tinggi yang berdimensi kompleks. Oleh karena itu, menuntut kesungguhan dan kesatuan pandang bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya,” terangnya.

KKN FKIP Uniku dilaksanakan di 24 desa yang tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Cidahu, Kalimanggis dan Cipicung. Sejumlah 436 mahasiswa yang berasal dari Program Studi Pendidikan Ekonomi (127), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (61), Pendidikan Biologi (75) dan Pendidikan Bahasa Inggris (173) melakukan pengabdian kepada masyarakat selama tiga minggu, 12 – 31 Juli 2010.

Sementara Rektor Uniku, Iskandar Hasan, MM mengatakan, peserta KKN Uniku membawa misi mendampingi dan memberdayakan masyarakat dalam segala lini kehidupan. Menurutnya, masyarakat masih memerlukan sentuhan ilmu pengetahun dan teknologi, sehingga keberadaan mahasiswa diharapkan bisa membawa warna dan pengaruh positif secara signifikan.

Dia berpesan agar mahasiswa yang mengabdikan dirinya kepada masyarakat mempunyai idealisme, sebagai kekuatan dari mahasiswa itu sendiri. “Hendaknya peserta KKN mempunyai idealisme. KKN jangan hanya untuk melaksanakan mata kuliah yang 2 sks saja,” pintanya saat pelepasan peserta KKN, Senin (12/7). (kies)