Archive for the ‘edisi 146’ Category

h1

Empat Juta Remaja Gunakan Narkoba

2 Juli 2010

Kuningan, IB

“Dua persen atau 4,4 juta dari 220 juta penduduk Indonesia menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” kata Yusuf ‘Macan’ Efendi, Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Barat  pada peringatan Hari Narkoba Internasional tingkat Jabar di Pandapa Paramarta Kuningan, Sabtu (19/6).

Dari jumlah itu, kata Wakil Gubernur Jawa  Barat ini, sebagian besar merupakan kawula muda. Sehingga tidak aneh bila 60 persen penghuni penjara saat ini merupakan pelaku atau korban narkoba.

Menurut Dede Yusuf, di Jawa Barat sendiri saat ini penyalahgunaan narkoba sudah mencapai angka 800.000 atau 4 persen dari 42 juta penduduk. “Ini sudah pada tahap sangat membahayakan,” tegas Dede Yusuf.

Melihat data tersebut, tambah Dede Yusuf, penanggulangan narkoba bukan saja menjadi kewenangan Pemerintah, Polisi dan BNK, melainkan harus melibatkan seluruh komponen masyarakat. Ke depannya, nanti BNK tidak dibawah Pemda lagi melainkan bertanggungjawab kepada BNN.

Pada sisi lain, upaya pencegahan dan penanggulangan kasus narkoba mengalami peningkatan. Pada 2008 berhasil diungkap 2.012 kasus, dan 2009 meningkat menjadi 5.600 kasus . Hal itu terjadi berkat partisipasi masyarakat, termasuk keluarganya.

Ada beberapa jenis narkoba saat ini seperti pil, serbuk, ganja, hingga permen karet dan permen hisap. Para pengguna narkoba dapat dilihat dari ciri-cirinya diantaranya tiba-tiba menjadi pendiam dan kurang bergaul, serta punya keinginan untuk mendapatkan uang mudah, seperti mencuri untuk membeli narkoba.

Ia juga menyambut baik rencana dibangunnya panti rehabilitasi korban narkoba di Cigugur. Panti ini merupakan penampungan korban narkoba se-wilayah Cirebon.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos mengakui kasus peredaran gelap serta penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan. Jutaan orang telah terjerumus ke lembah hitam narkoba, ribuan nyawa telah melayang dan banyak keluarga hancur dan tidak sedikit generasi muda harus kehilangan masa depanya karena terperangkap narkoba.

Untuk itu, bertepatan dengan peringatan hari anti narkoba internasional, Ia mengajak komponen masyarakat Kuningan khususnya untuk bertekad seiya dalam upaya melawan segala bentuk penyalahgunaan narkoba. “Katakan tidak pada narkoba, satukan hati, rapatkan barisan, narkoba adalah musuh bersama,” kata Aang.

Dengan tidak terjerat dalam penyalahgunaan narkoba, berarti kita semua dapat meneruskan semangat dan cita-cita leluhur Kuningan yang terkenal religius, heroik, dinamis dan kontruktif dilandasi semangat untuk menegakkan keadilan serta melenyapkan kebathilan.

Dia mengucapkan terima kasih kepada Wakil Bupati selaku ketua BNK atas berbagai kegiatan penanggulangan narkoba. BNK dalam upayanya mengantar generasi sehat tanpa narkoba, telah membentuk siswa bebas narkoba (SI-BENAR) di seluruh SMP dan SMA se Kab. Kuningan. Begitu juga atas peran serta pers yang telah turut serta mengkampanyekan anti narkoba sehingga menggema di seluruh Kab. Kuningan.

Hadir pada kesempatan itu,  unsur Muspida Kuningan, pengurus BNP, ketua BNK Kab. Cirebon Ason Sukarsa, Sm.Hk,  kalangan profesi, ormas dan OKP. Juga, organisasi pemberdayaan perempuan, perguruan pencak silat Bima Suci, guru dan ratusan pelajar, pramuka, dan DPC Granat.

Ketua Panitia, Drs. H. Yosep Setiawan, M.Si mengatakan, dunia internasional  telah menetapkan 26 Juni sebagai hari anti narkoba internasional. Sebagai momentum untuk mereview dan menumbuhkan kembali komitmen bersama dalam melawan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba.

Berbagai kegiatan kampanye anti narkoba telah dilaksanakan dalam memperingati HANI di wilayah Kuningan. Diantaranya pelatihan kader anti narkoba, sosialisasi pembentukan siswa bebas narkoba SMP dan SMA, failitasi rencana pembangunan panti rehabilitsai narkoba di Kab. Kuningan. Talk show anti narkoba melalui media radio, lomba karya tulis dan lomba poster anti narkoba tingkat pelajar SMP dan SMA se Kab Kuningan, operasi terbuka dengan melibatkan Polres Kuningan, BNK dan DPC Granat Kuningan. Malam harinya diadakan hiburan dengan menyuguhkan grup Band papa atas Kuburan.

Adapun tujuan meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat melali gebyar kampanye anti narkoba serta membangun komitmen bersama penanggulangan narkoba. (tan)

Iklan
h1

BPD Bankul Desak Kades Berhenti, Kades Ultimatum Bubarkan BPD

2 Juli 2010

Cilimus, IB

Buntut kisruh di Desa Bandorasakulon (Bankul) Kecamatan Cilimus, berujung pada usulan BPD dengan mengusulkan kepada Bupati Kuningan untuk memberhentikan Kepala Desa (Kades)dari jabatannya. Sebaliknya, Kades Bankul Edi Kusnadinata tak mau kalah, Ia dengan sebagian tokoh dan masyarakat mengultimatum untuk membubarkan BPD.

Berdasarkan informasi yang diterima, ADD (alokasi dana desa) Desa Bankul ini telat cair. Pencairan ADD baru terlaksana, Jum’at (25/6). Hal itu diakui Kades Edi Kusnadinata, Sabtu (28/6).

Sekretaris Desa Bankul, Muhammad Nurdin mengaku pencairan ADD 2010 memang telat. Namun Ia tidak menjelaskan apa penyebab keterlambatan itu. “Saya tidak diberikan wewenang untuk menjelaskan alasan keterlambatan pencairan ADD karena tidak ada izin kepala desa. Untuk jelasnya silahkan tanya ke Pak Camat Cilimus atau langsung ke Kades,” terang dia didampingi Kaur Ekbang Djodjo Irtidja di ruang kerjanya, Senin (21/6).

Sekilas Djodjo Irtidja menyebutkan, belum cairnya ADD karena di desanya kurang kondusif, sehingga pelaksanaan pembangunan menjadi terhambat.

Terpisah, Ketua BPD Bankul, Didi Sudira, S.Sos menjelaskan, pihaknya telah mengajukan pemendingan pencairan dana ADD 2010. Alasannya, karena ADD 2009 LKPJ-nya ditolak sehubungan adanya dugaan penyimpangan keuangan dan kebijakan kepala desa.

Penyimpangan keuangan itu sendiri berkenaan penggunaan dana ADD sebesar Rp. 18, 6 juta. Diantaranya sebesar Rp. 14 juta tidak jelas rimbanya, sehingga ada dugaan digunakan untuk kepentingan pribadi Kades. Pelanggaran lainnya, pada program Padat Karya tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Begitu pula mengenai sewa tanah Titisara seluas 5 h.a tanpa melalui musyawarah dengan BPD dan hasilnya tidak jelas digunakan untuk apa. Ditambah hasil dari sewa eks bengkok Sekdes seluas 3 h.a pasca pengangkatan Sekdes menjadi PNS juga tidak jelas.

“Bahkan selama Edi menjabat Kades 2009 lalu, BPD dan lembaga desa lainnya tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah di desa. Kecuali saat evaluasi program 100 hari Kades,” terang Didi Sudira didampingi anggota BPD, Endang Lesmana, Sarja, Moh. Ali, dan Chaerudin Safari di rumah Endang Lesmana, Sabtu (28/6).

Mereka juga mengeluhkan dan merasa aneh, berkenaan dengan pencairan ADD 2010. Padahal sesuai dengan mekanisme untuk pencairan ADD harus didasari dengan adanya APBDes. “Saya bersama kawan-kawan belum pernah dilibatkan dalam penyusunan APBDes 2010, tapi kok tiba-tiba ADD bisa cair. Padahal sebelumnya Pak Camat Cilimus sudah menyatakan akan memending dulu hingga permasalahan selesai,” kata dia.

Akibanya, ketua dan anggota BPD Bankul mengusulkan kepada Bupati Kuningan untuk memberhentikan Edi  dari jabatannya sebagai kepala desa, 12 April 2010 lalu. Tetapi hingga kini belum ada realisasinya. Padahal surat BPD itu sendiri didukung oleh sekira 187 orang warga yang menandatangani sebagai dasar usulan.

Menanggapi adanya surat desakan mundur, malah Kades Edi Kusnadinata bersama tokoh dan sebagian masyarakatnya mengultimatum untuk membubarkan BPD. “Saya merasa gerah dan tidak bisa bekerja optimal mengurus desa karena selalu diganggu oleh BPD, sehingga bila memungkinkan akan membubarkan BPD,” terang dia di rumahnya, Sabtu (28/6).

Menyikapi tuntutan BPD, Ia menjelaskan bahwa apa yang diungkapkan oleh BPD itu tidak benar. Seperti tentang penggunaan dana ADD 2010 sebesar Rp. 18,6 juta itu digunakan untuk membayar utang pembangunan bale desa. Untuk diketahui bahwa utang untuk bale desa mencapai Rp. 22 juta yang akan dibayar selama tiga tahun anggaran.

Begitu pula hasil sewa tanah Titisara sepenuhnya digunakan untuk untuk menutupi hutang dimaksud. Meski dalam menjawabnya, tidak menjelaskan berapa besar uang yang diperolehnya.

Sama halnya untuk bantuan dana talangan dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kab. Kuningan sebesar Rp. 5 juta dan dua dus indo mie. Memang benar dana yang diberikan itu hanya digunakan sebesar Rp. 3 juta, namun selebihnya Rp. 2 juta digunakan untuk membangun jalan di sebelah selatan.

Untuk eks bengkok Sekdes sendiri sebelum diserahkan, sebelumnya telah dijual (disewakan, red) selama dua tahun, sehingga belum ada pemasukan untuk desa.

Ia justruk menyerang balik berkenaan konvensasi dana SUTETT (Sambungan Utama Tegangan Elektronik Tegangan Tinggi) sebesar Rp. 48 juta, BPD sendiri menikmati sebesar Rp. 5 juta dan sisanya oleh perangkat desa. “Padahal itu bukan hak mereka. Tetapi mereka menikmatinya. Saya sendiri saat itu belum menjadi kepala desa,” tegas dia.

Ia sendiri menginginkan bila permasalahan sudah selesai, maka akan menginventarisir asset desa, termasuk adanya dugaan hilangnya asset tanah desa seluas 250 bata.

Camat Cilimus Deni Hamdani, S.Sos, M.Si saat bertemu IB di pendopo Bupati menjelaskan bahwa permasalahan Desa Bankul sudah selesai. Dan untuk pencairan ADD akan dilakukan secepatnya.

Sedangkan Kasubid Pemberdayan Perangkat Desa BPMD Kuningan, Ahmad Faruk ketika ditanya apakah boleh berkenaan dengan cairnya dana ADD Desa Bankul tanpa ada APBDes. “Pencairan itu tidak dibenarkan, namun tergantung fasilitasi dari Camat setempat,” kata dia. (tan)

h1

Oknum Guru Cabuli Murid

2 Juli 2010

Kuningan, IB

Satuan Polres Kuningan akhirnya menjemput dan mengamankan oknum guru sebuah SMP di Kecamatan Ciniru Kab. Kuningan. Be (36), diduga telah melakukan pencabulan dengan anak muridnya sendiri, bahkan dilakukannya lebih dari tiga kali. Korban, sebut saja Melati (15) menunjukkan tingkah yang berbeda sehingga membuat curiga kedua orangtuanya.

Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan, Jumat (25/6), oknum guru berinsial Be itu ditangkap polisi karena diduga telah melakukan pencabulan atas muridnya sendiri, Melati (nama samaran), sebanyak empat kali berturut-turut di beberapa kesempatan berbeda-beda.

Bahkan, diduga oknum guru salah satu pelajaran yang mengajar di sebuah SMP di Ciniru tersebut sudah melakukan hubungan layaknya pasangan suami-istri dengan korban hingga hamil 2 bulan.

Akibat perbuatan tersebut, tersangka Be terpaksa harus meringkuk di ruang tahanan Mapolres Kuningan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hingga Jumat petang, ia masih menjalani pemeriksaan secara intensif penyidik dari Satreskrim Polres Kuningan.

Dari keterangan sementara, awalnya oknum guru tadi sengaja meminta korban untuk datang ke rumahnya dengan alasan untuk memberi les mata pelajaran yang diajarkannya di sekolah agar korban menjadi lebih cerdas dan lebih unggul dari murid lainnya.

Korban yang setuju datang ke rumah gurunya tidak menyangka akan terjadi hal-hal yang merugikan dirinya. Rupanya, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be untuk merayu korban agar bersedia malayani nafsu bejatnya.

Semua perbuatan tersangka dilakukan di rumahnya sendiri saat kondisi rumah oknum guru tadi sedang sepi. Diduga korban termakan rayuan gombal oknum guru tersebut sehingga Melati rela menyerahkan kehormatannya kepada tersangka, sampai lebih dari tiga kali. Perbuatan kedua insan itu, akhirnya tercium termasuk oleh kedua orang tuanya yang mencurigai ada hal aneh dalam diri korban.

Melati sendiri akhirnya berterus terang setelah didesak orangtuanya dan mengaku telah dicabuli gurunya sendiri. Kontan keluarga korban kaget, sehingga saat itu juga langsung melaporkan kasus yang menimpa anaknya kepada aparat kepolisian.

Kasatreskrim Polres Kuningan Ajun Komisaris Sukirman, SH, membenarkan ia tengah memeriksa dan menahan seorang oknum guru dari Kec.Ciniru yang diduga telah melakukan perbuatan asusila atas muridnya sendiri. “Tersangka Be diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dengan Pasal 82 UU No. 23 Th 2002 tentang perlindungan anak,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kuningan, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si saat dihubungi via ponselnya mengatakan, akan memberikan sanksi yang tegas terhadap pelaku apabila pemeriksaan telah selesai.

“Tidak menutupkemungkinan kepada pelaku akan diberikan sanksi tegas berupa pemberhentian secara tidak hormat bila pemeriksaan sudah selsai,” tegas  Dadang. (tan/PR-LM/IB)

h1

Sertifikasi Guru Agama Tidak Adil

2 Juli 2010

Kuningan, IB

Emi (58), Guru Agama di SDN 2 Winduherang Kecamatan Cigugur mengeluh bahwa dirinya sudah dua kali tidak terpanggil untuk ikut sertifikasi.

Menurut sumber yang tak mau disebutkan jati dirinya, dirinya sebenarnya sudah memenuhi persyaratan untuk mengikuti jenjang sertifikasi non S1, karena sudah mengenyam pengalaman bekerja sebagai PNS Guru Agama selama 28 tahun.

“Terus terang saya merasa diperlakukan tidak adil oleh Kantor Kemenag Kabupaten Kuningan. Masa saya yang tinggal dua tahun menjelang pensiun tidak dapat panggilan. Sementara yang masih lama mengabdi sebagai PNS Guru Agama dibawah lihting saya sudah dapat panggilan,” keluh wanita berusia 58 tahun ini.

Ketika masalah tersebut dikonfirmasikan ke bagian Pengawas Mapendis KUA Cigugur Senin (21/6), Udi, salah seorang pengawas kepada IB menerangkan bahwa dirinya bertugas sebagai pengawas untuk tiga kecamatan yaitu, Cigugur, Mandirancan dan Pasawahan. Termasuk diantaranya bertugas mendata dan memferivikasi PNS Guru Agama yang layak dan tidaknya diikutsertakan sertifikasi.

Dikatakannya, pada  Tahun Anggaran 2010 Kabupaten Kuningan mendapatkan quota sertifikasi Guru Agama sebanyak 253 orang. Dari jumlah quota tersebut, yang sudah ditetapkan  dapat mengajukan sertifikasi  berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Mapenda Kemenag RI, setelah dikaji ulang ternyata ada 23 orang  yang belum dan tidak layak mengikuti sertifikasi dikarenakan masa kerjanya belum terpenuhi, dan orangnya sudah pensiun. Bahkan ada yang sudah meninggal dunia tapi dapat panggilan untuk ikut sertifikasi.

“Untuk mengantisipasi masalah tersebut, agar quota tetap terpenuhi kami akan berupaya mengajukan usulan baru sebagai penggantinya. Dengan demikian, mudah-mudahan jalan keluar ini bisa meredam gejolak di kalangan PNS Guru Agama Kab. Kuningan,” terangnya.

Sementara seorang staf Kasi Mapenda Kemenag Kab. Kuningan saat diminta keterangan, sangat menyesalkan akan kejadian ini. “Insya Allah saya akan melakukan koordinasi dengan para pengawas Mapendis KUA Kecamatan,” katanya. (Rd. Achadiat)

h1

HKP 2010, Menyongsong Terwujudnya Ketahanan dan Kemandirian Pangan

2 Juli 2010

Kuningan, IB

Kabupaten Kuningan tahun ini dipercaya menjadi penyelenggara peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-38 tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2010. HKP dilaksanakan di Open Space Galery Linggarjati Kuningan pada 30 Juni – 2 Juli, dan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Lc, Rabu (30/6).

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Kuningan, Ir. H. Dodi Nurochmatudin, MP, mengatakan, bagi sebagian masyarakat pelaku di sektor pertanian, HKP mungkin terasa asing. Tapi orang awam mungkin bertanya, apa yang dimaksud dengan Hari Krida Pertanian.

Menurutnya, peringatan ini merupakan bentuk rasa syukur insan pertanian, baik petani, nelayan, pengusaha sektor pertanian maupun pemerintah, khususnya pegawai pertanian. Selain itu sebagai representasi rasa syukur kepada Allah swt atas rahmat dan karunia-Nya, serta nikmat atas limpahan kekayaan alam yang diberikan kepada bangsa Indonesia.

“Tak kalah pentingnya bahan-bahan mineral yang diolah oleh masyarakat pertanian dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia tentunya harus disyukuri oleh seluruh masyarakat dan bangsa,” katanya.

HKP ini, lanjut H. Dodi, pada hakekatnya untuk mawas diri dari seluruh stakeholder insan pertanian. Karena tak sedikit telah melakukan kehilapan, kelemahan serta kekurangan dalam pengelolaan sumber daya pertanian.

“Tidak sedikit sumber daya lahan pertanian dan sumberdaya pertanian lainnya mengalami kemunduran, kerusakan sehingga mengakibatkan tidak optimalnya pengembangan potensi sumberdaya yang dibutuhkan manusia,” ujarnya.

Ditambahkannya, ketidakarifan dan ketidakbijaksanaan manusia dalam menggunakan teknologi, memberi efek rusaknya tatanan kehidupan makhluk lainnya. Contoh dalam penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak ramah lingkungan, penggunaan pupuk buatan yang melebihi rekomendasi anjuran, penggunaan bahan lain yang bukan peruntukkannya seperti penggunaan peledak, racun, strum, dalam pencarian ikan berdampak menimbulkan kematian jenis-jenis ikan lain, matinya jasad-jasad hidup serta rusaknya habitat hidup ikan serta satwa lain.

“Untuk itu, melalui moment HKP, saatnya semua pihak melakukan renungan untuk mengakui dan menyadari kekurangan, kelemahan serta berjanji untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang,” harapnya.

Hakekat lain dari peringatan HKP, dijelaskan H. Dodi, yakni merupakan manifestasi insan pertanian untuk melalukan darma bhakti. Darma bhakti dimaksudkan sebagai bentuk toleransi dan kepedulian kepada sesama serta kepada alam lingkungan. Banyaknya kerusakan yang ditimbulkan karena ulah dan perbuatan manusia seperti bencana banjir, longsor dan gempa merupakan contoh-contoh diantaranya.

HKP yang dilaksanakan selama tiga hari itu diikuti 26 kabupaten/kota di Jawa Barat, terdiri 293 peserta dan pendamping, 500 orang undangan, 100 orang panitia dan warga masyarakat. Tema yang diusung adalah “Meningkatkan produksi dan nilai tambah produk pertanian yang berdaya saing untuk mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang sejahtera”.

Setelah HKP dibuka oleh Gubernur, acara dilanjutkan dengan temu wicara antar Kontak Tani-Nelayan Andalan (KTNA) se-Jawa Barat, gelar pameran produk dan promosi hasil-hasil karya insan pertanian dari 26 kabupaten/kota, rembug tani, karya wisata ke obyek pertanian dan pagelaran seni tradisional dan hiburan rakyat.

Obyek wisata pertanian yang menjadi tujuan diantaranya pengelolaan bawang goreng Desa Ciloa, pengembangan tanaman jambu merah Desa Pajambon Kec. Kramatmulya, pengolahan pasteurisasi susu sapi Desa/Kec. Cigugur, pemeliharaan ternak ayam buras, dan pembenihan ikan di Balai Benih Ikan (BBI) Desa Karangtawang Kec. Kuningan.

Selanjutnya, pembuatan tape ketan Heru dan Misrah di Cigugur, pengolahan jeruk nipis peras (JNP) Kardono Ciawigebang, pengolahan ubi jalar PT. Galih Estetika Bandorasawetan Cilimus, obyek pusat belanja makanan khas Kuningan Jalan Lingkar Cijoho dan Diah Bojong Cilimus.  Juga, terapi ikan nilem Cigugur, pemandian air panas Sagkanurip, obyek wisata Waduk Darma dan Gedung Naskah Linggarjati.

Pada saat penyelenggaraan HKP, pihak yang hadir selain Gubernur adalah instansi pusat/Kementerian Pertnian, Perikanan dan Kehutanan, wali kota se-wilayah Provinsi Jawa Barat, undangan-undangan lainnya seperti unsur muspida, DPRD, kepala SOPD tingkat Provinsi Jawa Barat, masyarakat pemerhati pertanian, perikanan  dan kehutanan, instansi perbankan, BUMD dan asosiasi profesi.

Penutuan HKP pada 2 Juli dilakukan oleh Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda. Harapannya, pihak terkait, penyelenggara, maupun peserta dapat memperoleh kesan yang mendalam terhadap makna, hakekat dan tujuan pelaksanaan HKP, even-even yang dilaksanakan, serta tempat penyelenggaraan untuk melakukan tindak lanjut pembangunan sektor pertanian pada tahun-tahun mendatang, agar lebih baik lagi. (tan)

h1

Polisi Canangkan Sejuta Kawan

2 Juli 2010

Kuningan, IB

Kapolres Kuningan, AKBP Dra. Hj. Yoyoh Indayah, M.Si melalui Wakil Kapolres Kuningan, Kompol Rizal Martono didampingi Kabag Mitra, Kompol Suwardi menjelaskan, saat ini polisi mencanangkan program sejuta kawan.

Program sejuta kawan (fatnershif building) bertujuan untuk lebih dekatnya Polisi dengan masyarakat, meningkatkan profesionalisme dan dipercaya oleh masyarakat. Untuk partisipasi masyarakat dalam pengamanan lingkungan telah dibentuk Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat (FKPM). Nantinya mengarah kepada pelayanan prima.

HUT Bhayangkara 64

Berbeda dengan HUT Bhayangkara sebelumnya yang diselenggarakan di setiap Polsek, maka tahun ini HUT difokuskan di Mapolres Kuningan. Hal ini sesuai dengan prinsip kesederhanaan.

Kegiatan dalam rangka hari ulang tahun (HUT) Bhayangkara ke 64 ini diantaranya menggelar sunatan masal yang diikuti 90 anak sunat kerjasama dengan IDI dan produsen ABC. Berikutnya pengobatan gratis di Desa Sakerta Timur Kecamatan Darma kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kab. Kuningan.

“Untuk sunatan massal dilaksanakan atas kerjasama dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan produsen ABC Region Jawa Barat,” terang Kompol Rizal Martono.

Selanjutnya kegiatan yang dilaksanakan yakni jalan santai, touring sepeda motor dan mobil yang diikuti tukang ojek dan masyarakat, serta donor darah internal Polres Kuningan.

Menurut Rizal, Polri juga saat ini telah melaksanakan pelayanan STNK Online, dan SIM untuk perpanjangan. Sedangkan untuk pemohon SIM baru tetap harus langsung ke Polres Kuningan.

Bisnis Manajer ABC Voljim dan Sales Manajer Hadiyanto menambahkan, dalam rangka program corporate social responsibility (CSR), ABC Region Jawa Barat telah berupaya mendukung meningkatkan indek kesehatan dengan berpartisipasi dalam kegiatan sunatan massal dan pengobatan gratis di beberapa daerah. “Partisipasi dalam sunatan massal ini sebagai bagian dari bentuk kepedulian Produsen ABC terhadap masyarakat,” terang Voljim. (tan)

h1

Tindak Pidana Asusila Meningkat 30 Persen

2 Juli 2010

Kuningan, IB

Belakangan ini tindak pidana asusila semakin marak di Kabupaten Kuningan, dan mungkin di daerah lainnya. Kapolres Kuningan, AKBP Dra. Hj. Yoyoh Indayah, M.Si melalui Kasat Resrim AKP Sukirman membenarkan bahwa hingga saat ini sudah lebih dari 10 kasus asusila ditangani oleh pihaknya. Bahkan secara umum meningkat mencapai 30 persen selama 2010 ini.

“Hingga saat ini sudah delapan tersangka tindak pidana susila yang ditangai oleh Satreskrim Polres Kuningan,” terang dia.

Beberapa kasus terjadi, seperti di Lebakwangi dan di Mandirancan. Di Desa Mandirancan seorang wanita melakukan hubungan suami istri dengan lebih dari empat orang. Namun yang menjadi fokus perhatian pihaknya terutama berkenaan dengan perlindungan anak, bagi yang orang yang dibawah usia 17 tahun dengan sangkaan melakukan perbuatan cabul.

Kasus dua orang anak melakukan hubungan badan dan filmnya beredar terjadi di sebuah SMP di Mandirancan yang dialakukan oleh dua orang siswa. Terakhir, Polres Kuningan menetapkan Ben, seorang guru SMP Ciniru melakukan pencabulan terhadap siswanya hingga hamil 2 bulan. (tan)