Arsip Kategori: edisi 145

Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi Pengaruhi Kualitas SDM

Cilimus, IB

Kesehatan, pendidikan dan ekonomi merupakan tiga faktor yang sangat mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia. Sedangkan, SDM yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama dalam pem-bangunan nasional.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan RI  dr. Endang  Rahayu Sedyaningsih, MPH. DR. PH saat pencanangan Kabupaten Kuningan menuju Desa Siaga Strata Utama tahun 2013, di Open Space Galery Cilimus, Kamis (9/6).

Dikatakan Menkes, pembangunan kesehatan saat ini mengacu pada Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) 2005-2025, dengan memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan yaitu ibu, bayi, anak, usia lanjut dan keluarga miskin.

Amanat tersebut dijabarkan dalam RPJM-N 2010-2014 dengan sasaran akhir meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui percepatan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs).

Menkes menyebutkan, ada beberapa indikator bidang kesehat-an yang akan dicapai, yakni meningkatnya umur harapan hidup menjadi 72 tahun. Selain itu, menurunnya angka kesmatian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup, dan angka kematian ibu melahirkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, serta menurunnya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada anak balita kurang dari 15%.

Sebagai institusi pelaku pembangunan nasional, Kementerian Kesehatan telah menetapkan Rencana Strategis dengan visi Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Keadilan. Implementasinya terdapat “5 taglines” yaitu pro rakyat, inklusif, responsif, efektif dan bersih.

Pemahaman tagline inklusif adalah pembangunan kesehatan di Indonesia harus mengikutsertakan seluruh komponen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, dan swasta, tidak hanya oleh pemerintah saja.

Dalam arti meningkatkan pembangunan kesehatan masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. Salah satu wujud dari pemberdayaan masyarakat tersebut adalah “Desa Siaga”.

Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat desa yang sadar, tahu, mau, dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai permasalahan sosial di wilayahnya, terutama ancaman terhadap kesehatan diri dan lingkungan, seperti penyakit menular, kurang gizi, kejadian bencana, kecelakaan, dan sebagainya.

Dijelaskannya, pendekatan yang digunakan dalam membangun Desa Siaga adalah pendekatan edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan, potensi, serta perkembangan masing-masing wilayah. Cara melakukannya adalah dengan menggerakkan dan mengorganisasikan upaya-upaya masyarakat desa.

“Poskesdes merupakan titik awal pembentukan Desa Siaga, sekaligus wujud UKBM (Upaya kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) yang diharapkan mampu melaksanakan alih informasi, teknologi, dan kemampuan untuk mencegah clan mengatasi masalah kesehatan di wilayah tersebut,” jelas Menkes di hadapan 3.500 orang yang terdiri dari kepala UPTD Puskesmas, kepala UPT KBPP Kecamatan, TP PKK, bidan koordinator, fasilitator Desa Siaga, pengurus Bank darah, bidan desa dan lainnya yang memiliki peran berjalannya program Desa Siaga ini.

Menkes mengharapkan, pencanangan Kabupaten Kuningan menjadi Desa Siaga Utama pada tahun 2013, dapat dijadikan contoh bagi kabupaten/kota lainnya dalam meningkatkan pemberian layanan masyarakat di bidang kesehatan.

Pada kesempatan tersebut Menkes menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, khususnya Bupati, H. Aang Hamid Suganda yang telah memprakarsai pencanangan Kabupaten Kuningan menuju Desa Siaga Strata Utama tahun 2013.

Menkes mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar memberdayakan diri sendiri untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat disertai tindakan nyata yang dapat dijadikan budaya hidup sehari-hari sehingga dapat mewujudkan “Masyarakat Indonesia Sehat dan Sejahtera”.

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda memaparkan, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, Kab. Kuningan memiliki visi daerah yaitu “Kuningan lebih  sejahtera berbasis Pariwisata dan Pertanian  yang maju dalam lingkungan lestari dan agamis tahun 2013”. Sebagai implementasi visi tersebut dijabarkan dalam berbagai program strategis, khusus di bidang kesehatan yakni perluasan akses kesehatan bagi masyarakat.

Pada 2010, seluruh 376 desa dan kelurahan telah menjadi Desa Siaga. Rinciannya, Desa Siaga Strata Pratama sebanyak 58,50 %,  Strata Madya sebanyak 35,37 %, dan Strata Utama sebanyak 6,12 %.

“Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat Kuningan agar seluruh desa menjadi Desa Siaga dengan Strata Utama. Upaya itu dengan menggulirkan program bedah rumah yang dibiayai APBD Kabupaten dan kegiatan lainnya bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK serta SKPD lainnya,” terangnya.

Disamping itu, pembangunan jamban keluarga dari APBD kabupaten, dan dari program pendanaan kompetisi dalam rangka akselerasi Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM). Selama tiga tahun, 2007 – 2009 telah dibangun 8.816 jamban keluarga.

Berikutnya, program dana sosial ibu bersalin telah berjalan baik, didukung oleh program stimulan dari Pemda Kuningan telah menyalurkan dana stimulannya pada 120 desa dengan alokasi Rp. 2 juta per desa serta PPK–IPM  kepada 43 desa dengan alokasi Rp. 10 juta per desa.

Pengembangan Bank  Darah Desa, diprakarsai oleh Ketua PMI Kuningan sebagai manifestasi penguatan kelembagaan dan partisipasi pendonor darah dan bank darah pedesaan. Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan berupa rumah sakit, puskesmas, poskesdes, dan posyandu yang dibiayai pemerintah maupun PNPM Mandiri Perdesaan. Pelayanan kesehatan melalui Jamkesmas, Jamkesda, Program Keluarga Harapan (PKH).

Acara dihadiri pula Anggota Komisi IX DPR RI Siti Mufattahah, S.Psi dan Ir. Arif Minardi, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Dirjen Binkesmas dan Dirjen Yanmedis. Juga, unsur Muspida Kab. Kuningan, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kuningan drg. H. Kadaryanto MM, M.Kes, para kepala SOPD dan undangan lainnya. (tan/dad)

Atap Baja Ringan SDN 1 Cipondok Ambruk

Cibingbin, IB

Tiga lokal atap rangka baja ringan SDN 1 Cipondok Kecamatan Cibingbin ambruk dan menimpa empat orang siswa yang akan belajar, Rabu (9/6). Bangunan dari dana alokasi khusus (DAK) 2008 itu digarap oleh  CV Panca Putra Perkasa Teknis.

Dengan ambruknya SDN 1 Cipondok, maka sudah dua SD yang mendapat suntikan DAK 2008 itu ambruk. Sebelumnya tahun 2008 lalu, dua lokal SDN Mekarsari Kec. Maleber juga atap rangka baja ringannya ambruk saat masih dalam pengerjaan.

Namun yang sekarang mengakibatkan empat korban siswa menderita luka-luka. Mereka adalah Nuraeni dan Wiro Pujianto siswa kelas V, Toto Efendi dan Ridwan kelas III yang tertimpa bagian kepala dan kakinya. Sementara siswa lainnya saat kejadian masih di luar ruangan.

Dugaan sementara, ambruknya atap bangunan kelas III, IV dan V yang terbuat dari rangka baja ringan itu disebabkan penerapan aplikasi yang salah oleh pihak pemasang yaitu CV Panca Putra Perkasa Teknis. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kuningan segera mengambil langkah agar rekanan segera memperbaiki atap sekolah yang ambruk. Pasalnya, dalam surat perjanjian kerjasama, perusahaan memberikan garansi selama 10 tahun.

Kepala SDN 1 Cipondok, M. Toha melalui Guru Cucun mengatakan, kejadian itu berlangsung sangat cepat. Saat jam masuk itu beberapa siswa sudah berada di dalam kelas untuk membersihkan ruangan. Tiba-tiba terdengar bunyi krak dari bagian atas kelas. Tak lama kemudian atap rangka baja ambruk dan gentingnya menimpa ke empat siswa yang kebetulan sedang berada di dalam kelas.

“Kejadiannya sangat cepat. Saya dan guru-guru lainnya tidak bisa berkata apa-apa melihat sekolah yang dibangun tahun 2008 melalui program DAK 2008 itu ambruk. Beberapa siswa yang terluka langsung diselamatkan dan diberi pertolongan. Untungnya saat kejadian belum semua siswa masuk ke dalam kelas, sehingga korban tidak lebih banyak lagi,” kata M. Toha seraya matanya menerawang mengingat kejadian yang menimpa sekolahnya.

Guru lainnya, Rusniah menambahkan, anak didiknya langsung histeris begitu melihat atap bangunan roboh. Jerit kepanikan itu memicu siswa dan guru lainnya berhamburan menyelamatkan diri. “Kami benar-benar panik dan kaget. Kejadiannya hanya berlangsung sekita satu menit. Awalnya seperti ada gempa, kemudian atap bangunan mendadak ambruk. Di dalam kelas ada beberapa siswa yang sudah masuk. Mereka inilah yang akhirnya terkena reruntuhan atap sekolah yang ambruk,” timpal Cucun, wali kelas V yang dua siswanya terluka.

Ambruknya atap gedung sekolah mendapat perhatian dari Disdikpora Kabupaten Kuningan. Beberapa saat setelah kejadian, Sekretaris Dinas (Sekdin) Disdikpora, Drs. H. Nandang Hidayat, M.Pd dan Kabid Pendik, Drs. H. Nana Sunardi, M.Pd dan stafnya, Drs. H. Taufik Rohman, M.Si mengunjungi sekolah tersebut.

Begitu juga Kepala UPTD Pendidikan Cibingbin, Drs. Carwan pasca kejadian hadir di lokasi. Camat Cibingbin sendiri, Drs. Agus Basuki menyusul kemudian.

Kadisdikpora, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si mengatakan, ambruknya atap bangunan disebabkan kesalahan pemasangan aplikasi yang dilakukan oleh perusahaan, bukan karena kondisi bangunan. “Ini murni karena kesalahan pemasangan aplikasi oleh perusahaan rangka baja itu sendiri. Mungkin saat pemasangannya dikejar target, sehingga banyak yang tidak sesuai. Kalau soal kualitas bangunan, saya kira sangat bagus,” tandas Nandang.

Dia juga membenarkan jika bangunan sekolah itu dibiayai dari program DAK 2008. Pihaknya sudah meminta Direktur Panca Putra Perkasa Teknis, Rocky Tanuwijaya untuk segera memperbaiki kembali atap bangunan yang ambruk. “Ini masih garansi dari perusahaan itu. Masa garansinya 10 tahun. Jadi mereka harus bertanggung jawab perbaikannya kembali,” sebut Nandang dibenarkan H. Nana da H. Taufik.

Akibat kejadian itu, lanjut dia, pihaknya akan memberikan sanksi kepada CV Panca Putra Perkasa Teknis. Antara lain tidak akan lagi dilibatkan dalam program DAK 2010. “Ini membuktikan kalau produk perusahaan itu tidak teruji,” katanya. (gie/radar/IB)

Kader Partai Demokrat Sesalkan Sikap Amin

Kuningan, IB

H. AMIN SANTONO, S.Sos, anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Demokrat yang kurang koperatif disesalkan oleh kader Partai Demokrat. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Amin Santono dalam beberapa kali mengatakan dirinya jadi anggota DPR  bukan karena partai, melainkan karena diri pribadi dan keluarganya.

“Saya menjadi anggota DPR RI bukan karena partai tapi karena perjuangan diri sendiri dan keluarga, terutama istri,” ungkapnya saat reses di Desa Jambar Kecamatan Nusaherang, Sabtu (18/4) lalu.Ungkapan itu disampaikan pula di dekat rumahnya saat akan deklarasi Garis (Gerakan Reformasi Islam) yang dipusatkan di Alun-alun Desa Haurkuning Kecamatan Nusaherang, Sabtu (25/4).

Ungkapannya itu tak urung sampai pula ke telinga beberapa pengurus DPC (Dewan Pimpinan Cabang) dan PAC (Pengurus Anak Cabang) Partai Demokrat. Seperti diakui oleh Ketua PAC Cibingbin, Dana Saputra.

Ia membenarkan kurang pedulinya Amin Santono terhadap perjuangan para pengurus anak cabang (PAC) di bawah. “Benar memang dia kurang peduli kepada perjuangan kader di bawah,” terang Kades Bantarpanjang Kec. Cibingbin ini.

Beberapa pengurus DPC PD Kab. Kuningan juga sempat mengungkapkan hal yang sama. Seperti Yani, Wakil Ketua DPC PD, yang mengakui bahwa memang benar Amin Santono kurang peduli terhadap partainya. Padahal kemenangan dia tak lepas boomingnya PD dan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Sementara Wakil Ketua PD, Yayat Ahadiyatna, mengungkap kan, terhadap beredarnya isu itu menanggapi dengan akan melakukan klarifikasi kepada Amin Santono. “Saya saat ini sedang opname di rumah sakit, nanti kalau udah sembuh akan klarifikasi kepada ybs,” kata ketua Fraksi PD DPRD Kab. Kuningan ini melalui ponselnya ketika diminta komentarnya. (tan)

Diduga Palsukan Ijazah MTs, MR Stress

Kuningan, IB

Sial bener nasib MR, seorang Kasi di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Kuningan. Mantan guru MAN Ciawigebang ini diduga melakukan tindak pidana pemalsuan ijazah MTs untuk memenuhi persyaratan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Menurut informasi yang diterima, karena tidak tahan dengan tekanan mental yang menimpanya, pelaku pun saat ini diduga stress berat. “Ia saat ini stress berat. Bahkan nampak ketakutan bila bertemu orang,” kata Kasubag TU Kemenag Kuningan, H. Yusron Kholid, M.Si, di ruang kerjanya, Senin (7/6).

Menurut Yusron Kholid, kasusnya sendiri telah ditangani oleh instansinya. “Terhadap pelaku telah diperiksa dan dituangkan dalam berita pemeriksaan (BAP). BAP-nya sendiri telah disampaikan ke Kanwil Kemenag Jawa Barat,” terang dia.

Adapun putusannya (hukuman, red) merupakan kewenangan Inspektorat Jendral (Irjen) Kemenag RI. Kemungkin-an bila terbukti, kepada pelaku dapat dikenakan sanksi berupa teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, penurunan golongan dan pemberhentian dari jabatan sebagai kasi Pekapontren. Atau diwajibkan mengembalikan uang ke kas negara, dan tidak menutupkemungkinan pemberhentian dari PNS. (tan)

Ketua DPRD Prihatin Pengadaan Mobil Dewan

Kuningan, IB

Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, H. Acep Purnama, SH, MH mengaku prihatin seputar pengadakan kendaraan dinas untuk DPRD. Pasalnya, dengan pagu anggaran sebesar Rp. 168 juta tidak dibelikan kendaraan (mobil) yang lebih bagus.

Hal itu menyikapi pertanyaan yang disampaikan kepada Ketua DPC PDIP Kab. Kuningan ini. Informasi didapat dari salah seorang peserta tender yang menyatakan, Ia mengajukan harga yang sesuai spek dalam pengumuman. Namun yang dimenangkan ternyata harga mobil yang lebih murah dengan fasilitas kurang.

H. Acep Purnama merespon aspirasi itu. “Kalau ada mobil yang lebih bagus dengan pagu anggaran sebesar itu, kenapa harus yang murah,” kata Acep, di kantornya, Kamis lalu.

Menurut informasi, kata Acep, tipe kendaraan yang ditawarkan itu tipe GX tapi yang keluar justru tipe GL.

Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Perlengkapan Setda Kuningan, Ahmad Sobandi, S.Sos menjelaskan bahwa proses pengadaan telah dilakukan sesuai prosedur. Diawali dengan pengumuman secara online yakni lelang pengadaan sistem elektronik (LPSE) yang bersifat terbuka untuk umum dan siapa pun bisa mengakses.

“Dalam penawaran saat itu kami telah mencantumkan tipe mobil 1500 cc, lima gigi transmisi, jenis mesin, tanpa mencantumkan asesoris AC (air conditioner) tipe apa. Apalagi harus AC double blower,” ungkap Ahmad Sobandi didampingi Dedi Sunardi dan Andi Stafnya, di ruang kerjanya, Selasa (8/6).

“Adapun harga penawaran saat itu sebesar Rp. 140 juta termasuk PPh dan PPN. Meski dari pagu anggarannya sebesar Rp. 168 juta. Toh kelebihan anggaran tetap di kas daerah,” terang dia. (tan)

110 Rumah di Kananga Terendam Banjir

Cimahi, IB

Sebanyak 110 rumah di Desa Kananga Kecamatan Cimahi terendam banjir, Rabu (8/6), akibat luapan air Kali Cisanggarung. Banjir berlangsung sekitar 5 jam, mulai pukul 21.00 wib hingga pukul 02.00 wib, dengan ketinggian mencapai 1,5 meter.

Camat Cimahi, Rachman Sutisna, S.Sos menyebutkan, selain merendam rumah, banjir pun merendam areal persawahan seluas 26 H.a dan lahan palawija 10 H.a. Disamping itu,  ikut terendam pula jalan lingkungan sepanjang 100 meter dan jalan setapak sekira 525 meter hingga rusak.

Tak hanya itu, bencana rutin ini pun ikut menyeret binatang ternak warga. Tercatat tujuh ekor sapi dan 18 ekor kambing hilang. “Akibat banjir, ruas jalan Kananga-Cikeusal menuju Kecamatan Cimahi juga terputus, sehingga kendaraan roda empat tak bisa lewat,” katanya.

Camat Rachman mengaku, banjir di wilayahnya memang terjadi hampir di setiap musim penghujan, termasuk pada tahun ini. Sehubungan dengan hal itu, dia berharap pembuatan benteng/bronjong berukuran 1200 meter3 bisa segera dilaksanakan oleh pihak terkait.

Pada waktu yang hampir bersamaan, banjir juga melanda Desa Benda Kecamatan Luragung. Di desa ini, banjir mengakibatkan 38 rumah dan empat mushola terendam. “Selain itu, banjir pun membuat 300 bata padi dan sekira 5 H.a tanaman palawija gagal panen,” kata Carsidi, Pjs Kades Benda didampingi H. Carman, S.Pd., ketua LPM desa setempat.

“Kami berharap agar pemkab lebih memperhatikan daerah kami yang bertepian dengan Kali Cisanggarung. Kami mohon ada antisipasi dalam penanganan masalah ini,” ujarnya. (gie)

Nasib Kades dan Perangkat Desa di Brebes Lebih Baik

Brebes, IB

Nasib kepala desa (Kades) dan perangkat desa di Kabupaten Brebes lebih baik dibanding rekannya di Kabupaten Kuningan. Sebagai perbandingan, mereka saat ini telah menerima pembayaran tunjangan aparat pemerintah desa (TAPD).

Sekretaris Desa Pananggapan Kec. Banjarharjo, Warsudin mengatakan, Kades menerima TAPD sebesar Rp. 650.000 dan perangkat desa Rp. 450.000 setiap bulan. TAPD diberikan setiap tiga bulan sekali.

Namun untuk alokasi dana desa (ADD) hampir sama seperti di Kuningan, hinggga awal Juni 2010 belum juga cair. “Biasanya ADD di sini cair pada bulan Juli – Agustus. Itu pun ada penurunan yang cukup signifikan. Pada 2009 dana yang turun sebesar Rp. 91 juta. Namun tahun ini menurun menjadi 61,474 juta saja,” terang Warsudin di ruang kerjanya, Kamis (3/6).

Dalam ADD itu sendiri terbagi dua pos yakni untuk biaya operasional 30% dan biaya pembangunan 70%. Untuk pos biaya operasional dialokasikan untuk kelembagaan desa seperti LPM (Lembaga Pember-dayaan Masyarakat),  BPD (Badan Permusyawaratan Desa), PKK, Karang Taruna, RT dan RW.

Sedangkan untuk sumber penghasilan dari bengkok di desa ini jauh lebih luas. Seorang Kades mendapat hak seluas 15 H.a dan perangkat desa 3 H.a, meskipun tadah hujan. Juga, dana pangarem-ngarem bagi Kades yang berhenti sekira Rp. 5 juta. Setiap desa juga telah diberikan bantuan kendaraan sepeda motor oleh Pemkab Brebes. Tahun 2003 motor Yamaha Crypton dan 2008 Suzuki Shogun.

Perbedaan lainnya, di Kab. Kuningan dan Jawa Barat, Kades dan perangkat desa disuntik dana kinerja sebesar Rp. 15 juta per tahun dari Pemprov Jabar, tanpa melihat besar kecilnya desa. Sedangkan di Jawa Tengah tidak ada uang kinerja.

Kepala Desa Simpayjaya Kec. Karangkancana Kab. Kuningan, Dudung Nurfalah mengungkapkan, dengan adanya tunjangan bagi Kades dan perangkat desa di luar ADD menunjukkan adanya perhatian dari Pemkab setempat yang lebih besar. “Memang sudah seharusnya TAPD diberikan di luar ADD,” kata dia. (tan)

Djarum Coklat dan Nidji Goyang Luragung

Luragung, IB

PT. Djarum Coklat area Kuningan menggelar bakti sosial di Desa Luragung Landeuh Kecamatan Luragung, Sabtu (5/6), sebagai bentuk kepedulian sosial bagi masyarakat sekitar atau corporate social responsibility (CSR). Acara dikemas dengan tema sehari bersama Djarum Coklat dan Nidji.

Nidji yang digawangi Giring (vokal), Randi (keyboard), Ariel (gitar), Rama (gitar), Andro (bass) dan Andri (drum) menyajikan tembang-tembang hitsnya. Sontak saja, ribuan fans-nya yang memadati Alun-alun Desa Luragung Landeuh ikut bergoyang mengikuti irama musik band papan atas nasional ini.

Team Leader Djarum Coklat area Kuningan, Indra Gunawan di lokasi bakti sosial  menjelaskan, kegiatan bakti sosial ini merupakan satu paket dengan kegiatan yang dilaksanakan di Cilimus. Di Open Space Galery Cilimus diadakan pentas musik dan finish ratusan pembalap Rally Motor dengan start dari Terminal Kertawangunan.

Bakti sosial yang dilaksanakan diantaranya pengecatan mushola di Dusun Babakan Desa Luragung Landeuh, pemberian bantuan 100 paket sembako untuk yatim piatu dan kaum dhuafa, serta sunatan massal.

Sedangkan untuk Karang-taruna Luragung dilaksanakan lomba jingle jargon Djarum Coklat yang diikuti enam grup.

Kegiatan lainnya, peresmian papan scoring Stadion Ibrahim Adji Luragung oleh Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda. Peresmian diawali dengan pawai dari Alun-alun Luragung Landeuh menuju Stadion Ibrahim Adji. Bupati didampingi Owner PO Luragung Putra Drs. Ade Kusmapradja, Camat Luragung Drs. Dudi Fahrudin, M.Si dan enam personil Nidji membuka selubung  papan scoring stadion Ibrahim Adji bantuan PT. Djarum Coklat.

Seusai peresmian, dilanjutkan jumpa fans Nidji di Bale Desa Luragung Landeuh. Vocalis Nidji, Giring merasa bangga karena sudah dua kali pentas di Kuningan. “Alhamdulillah sambut-an fans sangat baik. Saya suka ke Kuningan karena hawanya sejuk dan fans di sini baik-baik,” kata Giring.

Camat Luragung, Drs. Dudi Fahrudin, M.Si didampingi Kasi Kesra, Nana Kusmana, S.Sos mengaku merespon baik kegiatan bakti sosial di wilayah kerjanya. “Kegiatan seperti pemberian santunan untuk yatim piatu dan kaum dhuafa, serta sunatan massal yang dikemas dalam kegiatan sehari bersama Djarum Coklat dan Nidji sangat bermanfaat bagi masyarakat di wilayah kerja kami,” katanya. (tan)

Gapekbarindo Sediakan Baja Ringan Berkualitas

Cilimus, IB

Bertambah lagi organisasi profesi penyedia barang dan jasa kontruksi di Kabupaten Kuningan, pasca deklarasinya Gabungan Pengusaha Kontruksi Baja Ringan Indonesia (Gapekbarindo) Kab. Kuningan di Hotel Ayong Linggarjati, Cilimus, Kamis (9/6).

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda diwakili Asisten Ekbang, Drs. H. Yayan Sofyan, MM mengatakan, di era reformasi keberagaman wadah berorga-nisasi merupakan hal yang wajar sebagai wujud demokratisasi. “Keberagaman ini agar mampu  menciptakan persaingan positif untuk meningkatkan kinerja dan sikap profesionalisme,” katanya.

Ia meminta Gapekbarindo dan penyedia jasa kontruksi lainnya agar memberikan kontribusi yang optimal bagi keberhasilan pembangunan di Kab. Kuningan. Apalagi saat ini dengan pelelangan sistem elektronik, persaingan bukan hanya dari daerah tetapi terbuka secara nasional bahkan internasional.

Dikatakan, UU No. 18/1999 tentang Jasa Kontruksi mengisyaratkan kebijakan pemerintah dalam pembinaan jasa kontruksi dalam bentuk pengaturan, pemberdayaan dan pengawasan.

Karena itu, lanjutnya, Gapekbarindo diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang positif dalam pelaksanaan pembangunan fisik kontruksi baja ringan. “Kualitas pelaksanaan merupakan tuntutan yang tak bisa dielakan sesuai tuntutan masyarakat. Sehingga para penyedia barang/jasa harus bersikap profesional dengan memperhatikan aspek administrasi, teknis dan tanggungjawab,” terangnya.

Ketua DPP Gapekbarindo Ade Baenun Zein menjelaskan, akan melakukan kinerja secara profesional sesuai standar software. Ia mensinyalir adanya persaingan harga yang pariatif, padahal baja ringan awalnya merupakan barang impor yang berpedoman pada dolar AS.

Kondisi ini, katanya, akan merugikan konsumen karena banyak barang yang tidak sesuai dengan speck. Padahal keharusan speck baja ringan itu 0,6 – 1 mm, namun yang diberikan dibawah itu. “Oleh karena itu perlu dibentuk organisasi yang memiliki fungsi sosial, organisasi dan mengawasi terhadap layanan baja ringan. DPC dan angggota Gapekbarindo harus mampu meyakinkan bahwa baja ringan sudah sesuai standar dan menggunakan tenaga ahli dibidangnya,” katanya.

Menurut Ade, secara politis organisasinya harus bisa memberikan layanan kepada para konsumen, dan mendukung program pemerintah dalam mengatasi kerusakan lingkungan akibat pemanasan global.

Kasubag Analisa Bagian Pembangunan Setda Kuningan, Nurdin, S.Sos meminta agar pengusaha layanan barang dan jasa tetap memperhatikan adminstrasi, teknis dan bertanggungjawab. Sedangkan Ujang Susilo, M.Si, Kabid Tata Bangunan, telah melakukan verifikasi terhadap puluhan perusahaa yang mengajukan profile company.

Kabid Pengendalian Lingkungan BPLHD Kab. Kuningan, Ir. Bunbun Budhiyasa mempertanyakan apa benar pembangunan dengan rangka baja ringan ramah lingkungan? Ia menyebutkan ada tiga fungsi organisasi termasuk organisasi profesi Gapekbarindo yakni kewajiban untuk berbisnis bersama, kerjasama teknologi, dan pengawasan terhadap perilaku pengusaha yang melenceng.

Pertanyaan itu dijawab secara lugas oleh Ketua Gapekbarindo, Ade Baenun Zein. Ia menjelaskan, dampak langsung tidak ada. Namun dengan menggunakan rangka baja ringan, berarti telah mengurangi terjadinya penebangan pohon yang merupakan sumber oksigen. Sebagai contoh, di Kalimantan yang merupakan paru-paru dunia, penggunaan kayu untuk atap sudah dibatasi dan diarahkan dengan baja ringan.

Hadir pada kesempatan itu, Kapolsek  Cilimus AKP LA  Siregar, Kasubag Analisa Bagian Pembangunan Setda Nurdin, Kabid Tata Bangunan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Ujang Susilo, Ketua DPP Gapekbarindo Ade Baenun Zein, Kabid PPTK Dinsosnaker Dani, Ketua DPC Gapekbarindo Kuningan Dadang Saputra, Kabid PLH BPLHD Bunbun Budhiyasa dan para anggota Gapekbarindo. (tan)

Kuningan Pertahankan Adipura

Kuningan, IB

Untuk ketiga kalinya Kabupaten Kuningan mampu meraih Adipura. Piala Adipura diserahkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda di Istana Negara Jakarta, Selasa (8/6).

Bersamaan dengan itu, SMP Negeri 1 Luragung juga menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri. Penghargaan tertinggi dalam penataan lingkungan sekolah ini diterima kepala sekolahnya, Drs. H. Ebon Shobari, M.Pd.

Sebagai bentuk rasa syukur atas diraihnya Piala Adipura, keesokan harinya, Kirab Adipura pun digelar dengan mengambil dengan start dari Pandapa Paramartha. Namun sebelumnya terlebih dahulu dilakukan apel bersama yang dihadiri unsur muspida, ormas, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Baru setelah itu Kirab Adipura diteruskan ke Jalan Siliwangi, Jalan Sudirman, Awirarangan, Ancaran dan finish di Gedung DPRD.

Kirab Adipura sendiri dimeriahkan oleh konvoi pasukan delman, sepeda ontel, komunitas motor besar dan komunitas lainnya. Nampak di sepanjang jalan yang dilintasi, masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan langsung penghargaan kebanggaan Kuningan ini. Tak hentinya Bupati Kuningan bersama jajarannya didampingi mojang-jajaka pun memberikan senyum dan melambaikan tangan sebagai bentuk kebanggaan bersama.

“Kami sampaikan terima kasih kepada segenap lapisan masyarakat atas prestasi yang terus diraih Kabupaten Kuningan. Hal ini berkat kerja keras semua pihak, termasuk pasukan kuning yang tak henti-hentinya bekerja dengan iklas, ulet dan giat membersihkan lingkungan,” ungkap Bupati Kuningan, pada prosesi penyerahan Piala Adipura dan Adiwiyata kepada Ketua DPRD Kab. Kuningan, H. Acep Purnama, SH, MH., di halaman Gedung DPRD Kuningan.

Bupati mengatakan, keberhasilan Kabupaten Kuningan meraih Piala Adipura dan Piala Adiwiyata merupakan keberhasilan semua masyarakat yang peduli terhadap kebersihan lingkungan. “Untuk mempertahankan penghargaan ini partisipasi masyarakat dalam bidang lingkungan harus ditingkatkan, begitu juga dukungan anggaran dari DPRD untuk terus berupaya meningkatkan bidang kebersihan lingkungan,” katanya.

Ketua DPRD Kab. Kuningan, H. Acep Purnama, atas nama masyarakat Kabupaten Kuningan mengucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi kepada Pemda Kuningan. Dalam hal ini Bupati Kuningan beserta segenap jajarannya, terutama BPLHD dan pasukan kuningnya. Selain itu, dia juga memberikan apresiasi kepada sekolah yang telah berbudaya lingkungan.

“Lebih khusus lagi kami mengapresiasi para petugas kebersihan yang telah mengabdikan diri siang maupun malam, dalam keadaan hujan maupun sengatan terik matahari. Mereka tidak mengenal lelah dan resiko yang cukup berat dengan penuh pengabdian,” katanya.

Diharapkannya, dengan diraihnya Piala Adipura untuk Kuningan dan Adiwiyata, kedepan dapat menumbuhkembangkan gerakan kebersihan, ketertiban dan keindahan dan tercapainya sekolah-sekolah yang berbudaya lingkungan. (kies)