Arsip Kategori: edisi 143

Membangun Karakter Bangsa

Kuningan, IB

Menteri Pendidikan Nasional Prof. DR. H. M. Nuh menggarisbawahi pentingnya tema Hardiknas (hari pendidikan nasional) yaitu pendidikan karakter untuk membangun peradaban bangsa. Hal ini penting karena pendikan dan pembangunan karakter bangsa memiliki arti yang luas.

Demikian sambutan Mendiknas yang dibacakan oleh Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda saat puncak peringatan Hardiknas di Pandapa Paramarta Kuningan, Minggu (2/5).

Menurut Mendiknas, bangsa yang berkarakter unggul disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Ia mengungkapkan bahwa tahun 2010 merupakan tahun awal memasuki rencana strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014. Rentsra itu bertumpu pada terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia ceria dan kompre hensif melalui lima misi meliputi ketersediaan, keterjang kauan, kualitas/mutu dan relevansi, kesetaraan dan kepastian dalam memperoleh layanan pendidikan.

M. Nuh juga menyoroti tiga makna penting dari peringatan Hardiknas. Pertama, sebagai momentum untuk merenungkan dan merefleksikan diri terhadap perjalanan dan langkah panjang yang telah dilalui. Kedua, untuk intropeksi diri dalam menjamin pelayanan pendidikan tanpa diskriminatif kepada semua anak Indonesia. Ketiga, memprespektifkan apa yang telah dan sedang dilakukan untuk masa depan yang lebih baik.

Hardiknas Meriah

Peringatan Hardiknas di Kabupaten Kuningan dilaksanakan secara meriah. Hal itu nampak dari digelarnya berbagai kegiatan seperti kegiatan olah raga, seni, sepeda santai dan sepeda ontel, serta touring motor wisata dilaksanakan seusai upacara puncak Hardikanas 2 Mei dengan mengambil start di jalan lingkar Cijoho dan finish di obyek wisata Waduk Darma.

Touring motor diikuti sekira 2.250 kendaraan roda dua, mulai start di jalan lingkar Pramuka dan menyusuri sekitar jalan Cirendang, Desa Sukamukti, Ragawacana, dan dilanjut ke objek wisata Waduk Darma.

Sementara di Pandapa Paramarta, nampak Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM menyerahkan penghargaan kepada para juara Tenis Meja, Catur, Futsal dan Karaoke.  Berikutnya lomba Marching Band antar pelajar mulai SD hingga SMA, dan  lomba Seni Pupuh bagi guru dan pelajar.

Saat itu diberikan pula dana santunan kepada putra-putri yang kurang mampu di Disdikpora dari BAZ Kuningan melalui program gupay rasa  bekerjasama dengan Korpri.

Hardiknas tingkat kabupaten dihadiri Muspida, para kepala SOPD, pejabat Disdikpora, serta peserta upacara dari guru dan ribuan siswa se-Kabupaten Kuningan. tan)

Peduli Anak Cacat, Bupati Aang Raih Penghargaan Presiden

Kuningan, IB

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 merupakan hari yang berbahagia bagi komunitas penyandang cacat di Kabupaten Kuningan. Pasalnya, pada puncak peringatan Hardiknas tingkat nasional di Istana Negara, Jakarta, 11 Mei depan, Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda akan mendapat penghargaan sebagai Bupati Peduli Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dari Presiden RI, DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Hal itu diungkapkan Sekda Kuningan Drs. Nandang Sudrajat pada Konferensi Pers di Ruang Setda, Minggu (2/5), yang dihadiri Bupati Aang, Kadisdikpora Drs. H. Dadang Supardan, M.Si, perwakilan Dirjen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Sanusi, perwakilan Kadisdik Jabar, dan Camat Cilimus Deni Hamdani, M.Si.

Menurut Bupati Aang, kepedulian terhadap pendidikan khusus merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan program pembangunan bidang kesejahteraan rakyat, termasuk penanganan masalah penyandang cacat.

Ia mengaku, keberhasilan meraih penghargaan itu tak lepas dari kerja keras Tim Penggerak PKK Kab. Kuningan yang dipimpin Hj. Utje. TP PKK, sebut Aang, sering terjun ke lapangan dan berbagai sudut perdesaan. “TP PKK menemukan ada satu keluarga cacat ganda di Desa Cibingbin. Kita tidak bisa berpangku tangan. Ide untuk menampung penyandang cacat yang ada di Kabupaten Kuningan diimplementasikan dengan membangun SLB Negeri Taruna Mandiri di Desa Sampora yang dibangun di atas lahan seluas 20 hektar pada 2007 dan representatif,” terangnya.

Dikatakan, meski baru seumur jagung, SLB Taruna Mandiri bisa berprestasi baik bidang seni maupun olah raga. Diantaranya tampil sebagai band terbaik ke dua tingkat nasional dibawah DKI Jakarta, dan sebagai drumer terbaik yang diraih Juwita. “Kita juga akan memperhatikan para jompo dengan merencanakan pembangunan rumah jompo dan korban narkotika dengan dana bantuan Gubernur,” katanya.

Kuningan, tambah Aang, juga pernah menjadi tuan rumah turnamen sepakbola Manurung Cup. “Perhatian terhadap anak cacat kita mulai dari Kuningan. Wujudnya sebanyak 17 penyandang cacat telah diangkat menjadi PNS. Ternyata bila dipercaya mereka juga bisa bekerja lebih baik dari orang normal. Mereka lebih disiplin,” ucapnya.

Sanusi, perwakilan Bidang Pendidikan Luar Biasa (PLB) Kemendiknas mengakui, perhatian kepada anak yang perlu perhatian khusus dari Pemkab Kuningan dan Pemprov Jabar cukup tinggi. “Masih banyak yang perlu mendapatkan pendidikan khusus. Melalui SLB karena cacat fisik, namun yang cacat luar karena cacat ekonomi, sosial dan termarginalkan perlu melalui pendidikan layanan khusus,” ujarnya.

Ia sangat apresiasi terhadap prestasi dari SLB Taruna Mandiri Kuningan. Mereka akan diberikan kesempatan untuk tampil dihadapan R.1 (presiden) di Istana Negara. Ia juga menyebutkan, akan dilaksanakan Festifal Seni Penyandang Cacat di Surabaya, 15 – 18 Juni 2010, dan OSN Matematika dan IPA, 1 – 7 Agustus. “Kita pun akan melaksanakan Gebyar Penyandang Cacat di Kabupaten Kuningan pada Oktober mendatang,” katanya.

Perwakilian Disdik Jabar, mengakui, saat ini terdapat sekira 60.000 orang berkebutuhan khusus, dan yang tertangani baru 16.000 orang. Itupun masih ada tujuh kabupaten/kota yang belum memiliki SLBN. “Mudah-mudahan pada 2012 sesuai janji Gubernur akan tuntas,” kata dia.

Menanggapi dasar pemberian penghargaan, Sanusi menjelaskan, pembangunan SLB Taruna Mandiri yang cukup luas hingga 20 hektar dan representatif adalah salah satu dasarnya. Berbeda dengan di daerah lain, SLB biasanya kumuh. Dasar lainnya adalah dana pendamping mencapai 100%, di daerah lain paling besar 20%, serta penempatan penyandang cacat mencapai 17 orang dari ketentuan 1%.

“KUD dan SPBU juga diserahkan ke SLB untuk dikelola. Sudah 46 orang dibantu modal. Ini sangat bagus,” pujinya. (tan/CR)

Kuningan Bidik 10 Besar MTQ Jabar

Kuningan, IB

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda menargetkan Kafilah MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) Kabupaten Kuningan dapat meraih peringkat 10 besar. Pada MTQ Jabar 39 di Depok 3 – 9 Mei 2010 itu, Kuningan mengirimkan 24 qori dan qoriah yang akan bertanding di 9 cabang.

Ke sembilan cabang itu adalah murottal, tilawah anak (pa/pi), tahfidz 1 juz (pa/pi), tahfidz 5 juz (pi), tahfidz 10 juz (pa) dan tahfidz 30 juz (pa), Tafsir Bahasa Arab (pi), Tafsir Bahasa Indonesia (pa), Fahmil Qur’an, Syarhil Qur’an, khot naskah (pa), dan khot dekorasi (pi).

Menurut Bupati Aang, dalam kurun 15 abad filosofi keagungan dan makna luhur isi dan kandungan Al-Qur’an makin terasa demikian hebat dan tak tertandingi dikaitkan dengan fenomena kehidupan di seputar alam dan lingkungan.

Ia mengatakan, banyak hasil karya ilmu pengetahuan dan karya ilmiah hasil akal pikiran tak cukup mengatasi pergerakan sunatullah. Ini semua diingatkan Allah SWT dalam surat Al Isro ayat 86 yang artinya “ … dan tidaklah sekali-kali kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali hanya sedikit saja”.

Oleh karena itu, lanjutnya, melalui MTQ agar semua mengenal lebih dalam kandungan Al-Qur’an. Bahkan yang lebih penting pengamalannya untuk menuntun kita ke jalan yang lurus dan benar. “Atas ihtiar LPTQ Kab. Kuningan kita bisa memenuhi semua nomor kecabanagan yang dimusabaqohkan pada MTQ 31 tahun 2010 tingkat Provinsi Jawa Barat ini. Mudah-mudahan target tercapai dan dikabulkan Allah SWT,” harap Aang.

Target lahiriayah, katanya,  bukan merupakan tujuan utama. Sedangkan target bathiniyah (sufistik) para peserta MTQ di setiap cabang diharapkan mampu menghadirkan hati dan pikiran lebih dekat dengan allah SWT melalui pemahaman Al-Qur’an.

Sementara itu, Ketua Panitia MTQ Kab. Kuningan, Drs. H. Yayan Sofyan, MM menjelaskan, MTQ dalam rangka meningkatkan minat baca menulis Al-Qur’an, telah melalui penggodokan di LPTQ. Juga untuk meningkatkan IPM (indek pembangunan manusia).

Menurutnya, selain mengirimkan 24 orang kafilah juga mengirimkan Tim Seni Rudat dari Kelurahan Winduhaji Kec. Kuningan. Acara dihadiri Muspida, Ketua DPRD H. Acep Purnama, SH, MH, Ketua MUI Drs. H. Hafidin Ahmad, pimpinan SKPD, serta 24 para kafilah dan pembimbing.

Tiga Juri dari Kuningan

Untuk pertama kali sepanjang perhelatan MTQ tingkat Jabar, baru kali ini Kuningan mendapat kesempatan untuk menjadi juri. Tiga orang yang terpilih menjadi MTQ 31 Jabar yakni H. Ali Basyar (Pimpinan Pondok Pesantren Bani Syahir Cibingbin), Hamzah Rukmana, S.Ag (guru MTsN Cigugur/mantan Qori Jabar) dan KH. Oban Sobani, M.Si, (Penyuluh KUA Kec. Kuningan). (tan)

E.A. Darojat Merangkul Masyarakat

Hantara, IB

Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, E.A. Darojat memanfaatkan masa resesnya dengan melakukan kunjungan kepada konstituennya. Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan X Jabar meliputi Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kab. Kuningan, Ia sengaja datang untuk menampung aspirasi masyarakat di Kota Kuda ini.

Salah satunya melakukan kunjungan ke Kecamatan Ciniru dan Hantara yang dipusatkan di Desa Tundagan Kec. Hantara, Kamis lalu. Ia hadir bersama Ketua DPRD Kuningan, H. Acep Purnama, SH, MH, Camat Hantara Agus Suryo, S.Sos, anggota DPRD Kuningan Toto Tohari dan Satya Lesmana. Nampak hadir pula para pengurus  PAC dan Ranting PDIP Kecamatan Ciniru dan Hantara, para ibu PKK, dan pengurus BPD dan LPM.

Kepala Desa Tundagan, Sukirman mengaku gembira karena untuk pertama kali anggota DPRD Provinsi hadir ke desanya. Tanpa sungkan, Ia pun menyampaikan keluhannya mengenai rusaknya imprastruktur jalan lintas Hantara ke Kadugede melalui Desa Margabakti, dan belum tuntasnya perbaikan jalan Tundagan menuju Desa Cageur Kec. Darma. “Dua jalan yang meng-hubungkan desa kami sudah rusak parah dan tidak ada perbaikan, padahal kedua jalan itu sangat penting bagi akses perekonomian masyarakat. Sedangkan Kecamatan Ciniru mendapat dua lokasi hotmix,” kata dia merasa iri.

Camat Hantara Agus Suryo, mengatakan, Kecamatan Ciniru dan Hantara memiliki 17 desa dengan hak pilih sekira 25.000 orang, sebagian besar diantaranya menyalurkan aspirasinya melalui PDI Perjuangan, termasuk pada Pilkada lalu.

Ia pun menyebutkan, Hantara merupakan daerah yang rawan bencana alam seperti 50 rumah terancam longsor di Dusun Cimaung Desa Tundagan, serta di Citapen dan Pasir Agung satu rumah ambruk. Untuk mendukung program Kabupaten Konservasi di wilayah Walahir telah dibuat Hutan Kota seluas 5 H.a. Juga sedang dibangun mushola kecamatan, dengan rencana anggaran sebesar Rp. 160 juta. Dari rencana itu sudah ada dana awal sebesar Rp. 50 juta dan bantuan 20 zak semen dari Bupati Kuningan.

Ketua DPRD Kuningan, Acep Purnama menjelaskan, reses ini untuk menampung aspirasi sebagai bahan pertimbangan bagi eksekutif dalam menyusun programnya yang mengacu pada peningkatan IPM (indek pembangunan manusia).

Ia juga memahami kondisi jalan Kadugede – Bunigeulis yang dilaluinya rusak parah. “Hal ini bukan berarti Pemda tidak punya perhatian, melainkan karena anggaran terbatas. Ini karena APBD Kab. Kuningan tersedot sampai 70 persen untuk belanja pegawai,” kata Acep.

Karena itu, Ia meminta agar PTT yang telah diangkat menjadi PNS dapat meningkatkan kinerjanya, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

E.A. Darojat mengatakan, ada tiga fungsi DPRD, yakni budgeting (anggaran), pengawasan dan legislasi (membuat peraturan daerah bersama kepala daerah). Selama reses itu, Ia memfokuskan turun ke Dapilnya, dan bisa menangkap masyarakat perlu dibantu home industri, untuk modal dan pemasaran hasil produksinya.

Pada sesi dialog, muncul enam pertanyaan. Diantaranya, Mahpudin, Ketua LMDH Chulamega menyampaikan keluhan bahwa Perhutani tidak konsisten terhadap Nota Kesepakatan Bersama (NKB)  PHBM yang dibuat bersama masyarakat.  Terbukti saat menebang tanpa koordinasi dengan pihak desa atau LMDH.

Sementara Ketua BPD Tundagan, Momon Abdurachaman menyoroti semakin lemahnya perekonomian  masyarakat, semen tara gaji PNS terus meningkat. Disisi lain pelayanan kesehatan dan biaya pendidikan mahal. Bahkan ada guru yang hanya masuk dua hari dalam seminggu, tapi anehnya dapat rejeki nomplok sertifikasi. “Ini kan aneh,” kata momon. Ditambahkannya, nasib petani makin terjepit, contohnya harga Panili jatuh, dulu Rp. 90.000/Kg sekarang malah tidak laku.

Menanggapi hal itu, Kang Ojat menyebutkan, permasalahan dasarnya karena sistem yang tidak benar. Juga, karena kita lupa akan sejarah idealisme. Ini berbeda dengan negara China dan India yang bisa maju dalam pembangunan dengan kekuatan idealisme.

Ia mencontohkan, ada dokter males datang ke rumah sakit, maunya praktek saja sehingga lupa tugasnya. (tan)

Mamat Robbi Suganda: Pendidikan dan Sosial Tanggungjawab Bersama

Cilimus, IB

Menurut H. Mamat Robbi Suganda, S.Sos, meski Ia merupakan Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jabar yang membidangi Pendapatan dan Kekayaan Daerah, namun Ia ingin melihat secara langsung mereka yang  mempunyai kebutuhan khusus (cacat, red). “Ini karena pendidikan sangat dibutuhkan,” kata anggota Fraksi Partai Demokrat ini saat mengunjungi SLBN Taruna MAndiri, Sampora, Senin (26/4).

Terlebih bagi mereka yang membutuhkan  kebutuhan khusus. ”Saya selaku orang Kuningan  merasa bahagia karena  disini telah  dibangun SLBN Taruna Mandiri yang representatif, hanya tinggal memanfaatkan dan mengelolanya dengan benar. Sehingga dapat mengangkat harkat dan derajatnya. Tentunya dengan  dibekali  pendidikan atau juga keterampilan,” jelas H. Robbi.

Ia pun bisa melihat aktifitas dan kemajuan SLBN Taruna Mandiri, seperti bengkel kreasi, Group Band yang sudah meraih juara II Tingkat tingkat nasional dan bidang olah raga.  Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas disini sudah teruji, dan dapat dijadikan  percontohan  untuk sekolah  lainnya.

H. Mamat Robbi, selama reses I 2010 ini melakukan reses dengan menemui konstiuennya, termasuk di Desa Ciherang Kec. Kadugede untuk jaring aspirasi.

Ketua Komite SLBN Taruna Mandiri Drs. Elon Carlan, M.M.Pd, didampingi Kepala SLBN Drs. H. Juhri, M.M.Pd, mengungkapkan, kedatangan H. Mamat Robbi Suganda diharapkan dapat  memberikan  motivasi untuk  meningkatkan  perkembangan sekolah  ini. Sekaligus menjadi  media untuk menampung aspirasi yang  dibutuhkan untuk perkembangan siswanya.

Disebutkannya, sekolah ini  telah menampung sejumlah 117 orang yang diasuh oleh 24 orang guru. Meski baru beroperasi pada 2008 lalu, namun sekolah untuk orang berkebutuhan khusus ini sudah ada peningkatan. Tetapi masih belum memiliki klinik kesehatan.

“SLBN Taruna Mandiri  tidak hanya difokuskan kepada orang yang  memiliki cacat  fisik. Namun, kedepan anak-anak yang  memiliki  kekurangan psikis, anak-anak terlantar, miskin dan sejenisnya, merupakan bagian dari tanggung jawab juga,” ungkap Elon.  Ia pun menyebutkan kepedulian Pemkab Kuningan terhadap penyandang cacat sangat baik. Terbukti sejumlah penyandang cacat telah diangkat menjadi PNS.

SLB Negeri Taruna Mandiri Sampora, kini sering menjadi tujuan kunjungan pejabat teras bila datang ke Kabupaten Kuningan. Seperti yang dilakukan oleh Mendiknas Prof. Dr. Muhamad Nuh, DEA dan Menteri Sosial RI, DR. H. Salim Segaf Al Jufri, M.A.

Reses di Desa Ciherang

Saat reses di Desa Ciherang Kec. Kadugede, Mamat  Robbi mengajak untuk bekerjasama memajukan Kabupaten Kuningan dalam bidang pembangunan, baik agama, maupun pendidikan, dan mengawal program-program untuk masyarakat Kuningan. Khusus untuk Desa Ciherang akan dibantu ternak Sapi dan Kambing, serta bekerja sama membuat pupuk organik.

Sedangkan, Sekretaris DPC Partai Demokrat Kab. Kuningan, H. Zein Zaenuddin, SH., M.Si mengaku, sangat menyambut baik program H. Robbi dalam rangka silaturahmi dengan masyarakat Ciherang. Selaku pengurus DPC Partai Demokrat, Ia siap membantu dan mem-fasilitasi.

Sekedar informasi, tambah Zein, DPC PD mengajukan PAUD sebanyak 62 yang tersebar di delapan kecamatan ke Depdiknas dan sudah terealisasi untuk anggaran tahun 2010 ini.

Kades Ciherang, Mamat Supriatna meminta kepada Mamat Robbi untuk membantu usaha produktif dan meningkat-kan ekonomi masyarakat, misalnya peternakan sapi dan kambing. “Mudah-mudahan permintaan ini bisa dikabulkan,” katanya.  (dad/CR)

SMK Al Ihya dan SMAN Mandirancan Tertinggi Tidak Lulus UN

Kuningan, IB

SMK Al Ihya Selajambe dan SMA Negeri Mandirancan tertinggi tidak lulus Ujian Nasional (UN) tingkat SLTA tahun 2010 yang diumumkan Senin (26/4). Dari peserta UN SMK 4.099 siswa yang tidak lulus hanya 133 siswa. Sedangkan untuk SMA hanya 45 siswa.

“Mereka yang tidak lulus karena tidak mencapai rata-rata nilai 5,5.Namun mereka masih diberikan kesempatan mengikuti UN susulan,” kata Drs. H. Dadang Supardan, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Kab. Kuningan di ruang kerjanya, Rabu (28/4).

Dari jumlah itu SMK Al Ihya menempati peringkat tertinggi tidak lulus mencapai 43 (79,63%) dari 54 peserta UN. Posisinya dikuntit oleh SMKTI Muhammadiyah 2 (34), SMK Karya Nasional (16), dan SMKN 3 Kuningan (10). Yang disebut terakhir memegang rekor tertinggi tidak lulus untuk SMK Negeri.

UN SMA dari jumlah peserta 4.276 yang tidak lulus hanya 45 siswa. Dari jumlah yang tidak lulus itu peringkat tertinggi dipegang oleh SMAN Mandirancan yang mencapai 12 siswa tidak lulus. Kemudian SMA Itus Jalaksana (9), dan SMAN 1 Luragung (7).

Menurut Dadang Supardan, kelulusan tahun ini ada peningkatan. Yakni untuk SMA 98,95 persen, SMK 96,75 persen dan MA 96 persen.

Angka kelulusan ini masih tinggi, dan mereka yang tidak lulus masih diberikan kesempatan untuk UN ulangan. “Insya Allah, sebanyak 133 siswa SMK, 45 siswa SMA dan 33 siswa MA yang tidak lulus, akan mengikuti UN ulangan yang dipusatkan di salah satu sekolah. Semoga saja mereka dapat lulus semuanya, sehingga tidak langsung divonis harus ikut UN penyetaraan paket C,” ungkapnya. (tan)

Ormas dan LSM Didata Ulang

Kuningan, IB

Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Kuningan melakukan pemutakhiran data bagi organisasi kemasyarakatan (Ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta partai politik.

Kepala Badan Kebangpol Linmas Kab. Kuningan, H. Yeddy Candra, SH, MH mengatakan, ada 18 persyaratan yang harus dipenuhi Ormas dan LSM untuk didaftar di lembaganya. Hal itu mengacu pada surat Mendagri Nomor 220/1980.DIII tertanggal 27 November 2007 yang ditandatangani Dirjen Kesbangpol, DR. Ir. Sudarsono H, MA, SH.

Bahwa berdasarkan ketentuan UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 tahun 1986, untuk mendapatkan SKT (surat keterangan terdaftar) harus melampirkan akta notaris/akta pendidiran yang dilegalisir oleh notaris, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, program kerja jangka panjang dan jangka pendek, susunan pengurus, biodata pengurus dan KTP, NPWP organisasi, surat keterangan domisili dari lurah atau kepala desa, surat keterangan kontrak/ijin, serta papan nama berwarna yang memuat alamat dan lambang organisasi.

Yang menjadi latar belakang karena kesulitan menyusun data base Ormas yang valid, serta dalam rangka tertib administrasi.

Sedangkan yayasan tidak didaftar di Depdagri melainkan di Departemen Hukum dan HAM berdasarkan UU No. 16 tahun 2001 tetang Yayasan. Untuk waktunya diupayakan paling akhir tahun 2010 ini. (tan)

Bencana Alam Terpa Wilayah Cimahi

Cimahi, IB

Curah hujan yang cukup tinggi pada Maret lalu melanda hampir semua wilayah Kabupaten Kuningan. Kondisi ini berimbas terhadap Kecamatan Cimahi yang berada di bagian hilir Sungai Cisanggarung.

“Kondisi itulah yang menyebabkan sering timbulnya banjir bandang pada Sungai Cisanggarung yang alirannya melintasi wilayah desa kami,” kata Kepala Desa Cikeusal Kec. Cimahi, Haruman kepada IB, ketika bina wilayah TP PKK Kab. Kuningan di Aula Kantor Camat Cimahi, Rabu (28/4).

Menurutnya, arus sungai pada saat air bandang tersebutlah yang kemudian menimbulkan terjadinya erosi di beberapa titik. Bahkan pada satu titik lokasi, kata Haruman, membuat sebuah tebing dengan kedalaman serta panjang 3 x 100 meter mengalami erosi sangat parah.

“Erosi pada lokasi itu telah membuat beberapa rumah milik warga kami terancam bisa terbawa longsor,” jelasnya. Dia merinci rumah tersebut antara lain milik Husen, Rusyani dan Wahyu/Enah yang berada di Dusun Kliwon RT 007/RW 002.

Kepala Desa Kananga, Yoga Karmidi, menambahkan, hal serupa juga dialami desanya. Bahkan, lebih memprihatinkan lagi erosi justru telah mengakibatkan satu titik ruas jalan Kabupaten di desanya menuju Desa Cimahi hampir terputus. “Jalan sepanjang 2 kali 70 meter di wilayah kami terancam longsor akibat abrasi Sungai Cisanggarung,” terang Yoga Karmidi.

Ia mengkhawatirkan bila longsor benar-benar terjadi akan mengakibatkan arus ekonomi masyarakat dan pelayananan terputus.  Sehubungan hal itu, dia meminta agar pihak pemerintah daerah segera mengupayakan perbaikan jalan tersebut untuk mengantisipasi semakin buruknya keadaan.

Camat Cimahi, Rachman Sutisna, S.Sos, membenarkan adanya bencana alam itu. Menurutnya, gerusan aliran Sungai Cisanggarng pada saat musim penghujan kali ini sudah banyak mengancam terjadinya longsor di beberapa titik lokasi.

“Kita sudah melakukan penanganan sebagai upaya pencegahan. Bentuk kongkritnya berupa kegiatan pengerahan tenaga swadaya masyrakat ‘mengrucuk’ dengan bambu Ampel dan karung plastik berisi pasir di titik yang mengalami erosi ataupun longsor,” terang Rachman.

Selain itu, tambah Rachman, selaku Camat Cimahi dirinya secara resmi telah menyampaikan laporan kejadian tersebut kepada Bupati Kuningan sekitar akhir Maret lalu. Hal itu ditempuh dengan harapan pemerintah daerah mengetahui kondisi yang dialami wilayahnya. “Semoga ada juga perhatian berupa bantuan dari pemda untuk perbaikan tersebut,” harapnya. (gie)

SLPTT di Wilayah Cibingbin Mulai Berjalan

Cibingbin, IB

Sekolah Lapangan Pola Tanam Terpadu (SL-PTT) di wilayah Cibingbin telah berjalan. Ada tiga jenis budidaya yang dilaksanakan di wilayah Kecamatan Cibingbin dan Cibeureum ini, meliputi padi Hybrida, padi Non Hybrida, padi Gogo, dan Kedelai.

Menurut Kepala UPTD Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP3) Cibingbin, M. Amirudin, B.Sc, padi Hybrida ditanam pada areal seluas 10 H.a oleh 12 kelompok. Padi Non Hybrida seluas 25 H.a oleh 24 kelompok, satu hektar diantaranya merupakan Laboratorium Lapangan (demplot). “Sedangkan untuk padi Gogo yang akan ditanam pada lahan kering seluas 25 H.a oleh 16 kelompok dilaksanakan pada Oktober depan,” katanya belum lama ini.

Kepala UPT BP4K (Badan Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan) Cibingbin, Iing Solihin, menyebutkan lokasi kegiatan SL-PTT. Padi Non Hybrida di Kecamatan Cibingbin dilaksanakan di  Desa Sindang Jawa oleh 2 kelompok, Desa Cipondok (2), Desa Sukaharja (2). Di Kec. Cibeureum, Desa Cibeureum (2), Desa Tarikolot (2), Desa Sumurwiru (2) dan Desa Cimara  (1).

Untuk padi Hybrida dengan sebaran di Kecamatan Cibingbin meliputi Desa Cipondok (3), Desa Ciangir (2), Desa Sindanjawa (1), dan di Kecamatan Cibeureum, Desa Sukarapih (5), Sumurwiru (1). Untuk padi Gogo yang tersebar di Desa Cibingbin (2), Desa Citenjo (3), Cisaat (1), Bantarpanjang (2), Cipondok (1), Tarikolot (1), Sukadana (2), Cibeureum (1), Randusari (3) pelaksanaannya pada Oktober depan.

Untuk pengembangan budidaya Kedelai dilaksanakan di Desa Cibingbin 60 H.a, Sukamaju 60 H.a, Bantarpanjang 65 H.a, dan Sukadana 75 H.a.

Amirudin mengutarakan rasa bangganya karena di wilayahnya dapat dilaksanakan beberapa program SL-PTT. Hal ini untuk menindaklanjuti dari potensi wilayah timur Kuningan yang berpotensi dalam mengembangkan Kedelai dan padi Gogo.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian, Yoyo Wahyo, MP menjelaskan, SL-PTT merupakan program Kementrian Pertanian. Dalam pelaksanaannya melibatkan Dinas Pertanian, untuk penerapan teknologi oleh BP3K dan Balai Penguji Tanaman (BPT) untuk menguji apakah bibit telah sesuai dengan label dan untuk menangani organisme penggangu tanaman (OPT), dan BPTP. “Dalam program SL-PTT banyak stakeholders yang terlibat termasuk kelompok tani,” kata Yoyo Wahyo di pendopo Bupati saat melepas Kafilah MTQ Kab. Kuningan, Sabtu (1/5).  (tan)

Baru 30 Persen Kebutuhan Ikan Terpenuhi

Cigugur, IB

Baru 30 persen kebutuhan konsumsi ikan di Kabupaten Kuningan bisa terpenuhi. Ini artinya, kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kab. Kuningan, DR. Ir. H. Iman Sungkawa, MM melalui Kabid Perikanan, Dindin Komarudin, ST, masih kekurangan 70 persen, sehingga harus diupayakan dengan berbagai langkah penyediaan bibit ikan dan pembesaran.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan program luncuran dari dana alokasi khusus (DAK) Ketahanan Pangan senilai Rp. 1,664 miliar dari Pemerintah Pusat. Dana sebesar itu digunakan untuk pembuatan kolam, sarana penunjang dan perlengkapannya, serta pembelian induk ikan untuk jenis Lele dan Nila.

Untuk unit pembenihan rakyat dalam rangka mencukupi kebutuhan benih yang bisa terpenuhi baru 30 persen. Dapat menyediakan 200 juta bibit ikan oleh BBI. Tahun 2008 lalu telah diberikan bantuan penyediaan bibit ikan Gurami. Program ini telah berlangsung sejak 2006, hanya tahun 2009 saja yang tidak ada program.

Panen Perdana Lele Cirea

Menyikapi tingginya perminta-an ikan, Kelompok Tani (Poktan) Desa Cirea Kec. Mandirancan bersama HKTI Kuningan telah melakukan budidaya pembesaran ikan lele. Ketua Poktan Cirea, Yanto menjelaskan, sebanyak 5 kwintal lele dari lima kolam yang dipanen hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, itu pun belum terpenuhi secara optimal.

Ketua HKTI Kab. Kuningan, DR. Ir. H. Iman Sungkawa, MM merasa gembira atas keberhasilan masyarakat dalam upaya me-numbuhkan produktivitas dan kemampuan pemasaran hasil pertanian, khususnya lele. “Kami dan Pemerintah Daerah akan mendorong terus, dalam bentuk pembinaan, pelatihan, proteksi, dan ketersediaan stok. Dengan harapan semakin tumbuh dan berkembang-nya kemampuan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Kuningan,” kata Kepala Dinas Pertanian Kab. Kuningan ini.

Menurut DR. Iman Sungkawa, perlu dibangun sebuah sistem terpadu, dimulai dari penularan teknologi. Misalnya, teknologi pembenihan, pembesaran, serta petani mampu menghitung faktor keuntungan dan memperhatikan strategi pasar. “Dengan tersedianya peluang pasar dalam dan luar negeri, konsentrasi diharapkan lebih pada produktivitas,” kata Iman. (tan)