Archive for the ‘edisi 139’ Category

h1

Friendly Persib vs Pesik Ricuh, Penonton Serbu Lapangan Berebut Kaos

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Kericuhan saat pertandingan sepak bola kembali terjadi. Kali ini kericuhan pecah saat Persib Bandung kontra Pesik Kuningan dalam laga persahabatan di Stadion Mashud Wisnusaputra Kuningan, Jawa Barat, Rabu sore (3/2).

Ratusan penonton merangsek masuk ke lapangan, saat pertandingan masih berlangsung. Para pendukung dari ke dua kesebelasan berlomba-lomba merebut kaos dan bersalaman dengan pemain Persib. Jumlah aparat keamanan yang tidak sebanding membuat kericuhan sulit untuk dikendalikan.

Polisi hanya mampu meng-amankan para pemain dari kejaran para penonton. Pertandingan pun sempat terhenti selama 15 menit. Pertandingan baru dilanjutkan setelah polisi mensterilkan lapangan dari penonton.

Stadion yang berkapasitas hanya 10 ribu penonton tersebut jebol, karena sekitar 20 ribu penonton datang memadati stadion.

Pada pertandingan itu, Persib tampil tidak turun full tim, karena Eka Ramdani dikabarkan sakit dan ditinggal di Bandung. Penampilan Persib sendiri cukup baik, namun banyak sekali peluang yang terbuang percuma. Misalnya saja, tendangan Gonzalez yang kena tiang gawang setelah memanfaatkan umpan tendangan sudut Atep.

Gol satu-satunya Persib, dicetak oleh Hilton Moreira pada menit 27. Hilton memanfaatkan umpan terobosan Atep ke pertahanan Pesik. Setelah gol itu terjadi, ada satu ledakan dari petasan, yang meledak di tengah penonton yang meringsek memasuki lapangan.

Setelah peluit istirahat dibunyikan, penonton menyerbu ke lapangan dan membuat sedikit kekacauan. Pada saat tersebut, Wagub Jawa Barat, Dede Yusuf, hadir menonton pertandingan.

Di babak kedua, Persib yang memasang merk “CORSA” di bagian punggung pemainnya, bermain dengan santai dan tidak terlalu bernafsu. Persib melakukan pergantian pemain dibabak dua. Airlangga menggantikan Hilton, Munadi mengganti Hariono, Wildan masuk menggantikan Maman, Dedi dipercaya menukangi gawang mengganti Kosin, Rene diganti Edi Hafid, dan Aji untuk Nova.

Persib sebenarnya menambah gol lewat Airlangga, namun gol tersebut dianulir karena wasit menilai Airlangga melanggar kiper sebelumnya.

Di menit 52 ada kejadian yang cukup lucu. Gonzales yang tidak dapat menahan larinya, menembus kerumunan penonton dan menghilang dari penglihatan selama 1 menit. Kelihatannya Gonzales kesulitan keluar dari kerumunan penonton.

Sampai berakhir pertandingan kedudukan tetap 1-0 untuk Persib Bandung. (tan/indosiar/IB)

Iklan
h1

TKI Asal Kuningan Didominasi Wanita

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Sosnaker) Kab. Kuningan, Drs. Dian Rahmat Januar, M.Si., menjelaskan, 4.800 orang jumlah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) asal Kabupaten Kuningan didominasi oleh kaum perempuan. Dari jumlah itu sebanyak 3.580 orang atau 74,58 persen merupakan tenaga kerja wanita.

Hal itu diungkapkan dalam solialisasi Pengerahan dan Perlindungan TKI bagi Para Camat dan Kuwu se-Kabupaten Kuningan, di Gelanggang Pemuda, Kamis (4/1).

Pada acara yang dibuka oleh Wakil Bupati Drs. H. Momon Rochmana, MM itu, disebutkan oleh Dian Januar, bahwa TKI tersebar di Negara Arab Saudi sebanyak 3.100 urang, 2.800 diantaranya merupakan TKW. Qatar 100 (30 P), Abudhabi 300 (100 P), Jepang 150, Malaysia 250 (200 P), Singapura 150 (125 P), Hongkong 200 P, Taiwan 175 (125 P), Korea 225 L, dan Negara lainnya 150 orang.

Ia menyebutkan pula daerah kantong TKI berasal dari Desa Jalaksana, Sukamukti, Sidamulya, Babakanmulya Kec. Jalaksana. Desa Bojong, Cilaja, Ciloa Kec. Kramatmulya. Desa Awirarangan, Winduhaji, Cijoho, Ancaran Kec. Kuningan. Serta dari Desa Winduherang, Cigadung dan Cigugur Kec. Cigugur.

Penyebab banyaknya TKI, kata Dian, karena tingginya angka pengangguran dan kemiskinan dari tahun ke tahun. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi seperti kurangnya kompetensi dan tingkat pendidikan rata-rata rendah, dan kurangnya akses informasi. Juga, lemahnya sistim rekrut dan seleksi, administrasi perlindungan dan penempatan, serta pemulangan. Selain itu, rendahnya pendidikan dan kurang memiliki kompetensi keterampilan (skill).

Sebagai bahan informasi, jumlah penduduk Indonesia 231 juta jiwa, dengan angkatan kerja 111,48 juta orang. Dari jumlah angkatan kerja itu 9,26 juta (8,14%) merupakan angkatan kerja muda, dengan sebaran lebih dari 60% di pedesaan.

Data itu dikuatkan oleh BPS (Biro Pusat Statistik) 2009  jumlah keluarga mikin (Gakin) mencapai 78.540.000 orang (34,98%) yang tersebar di pedesaan menapai 68%.

Menyikapi hal itu, kata mantan Kabag Perlengkapan Setda Kuningan ini, Pemerintah menelurkan kebijakan nasional dengan upaya meningkatkan sumber daya manusia, mengentaskan kemiskinan, Peningkatan Sumber Daya manusia, perluasan kesempatan kerja, penanganan bencana alam, penegakaan supremasi hokum, pemberdayaan masyarakat, reformasi birokrasi, tata ruang nasional, dan peningkatan mutu pendidikan.

Adapun langkah kongritnya yang merupakan kewajiban Depnakertrans dan Depsos mencapai 50%, diantaranya dengan program Pro Poor meliputi KUBE FM, Program Keluaga Harapan (PKH), Subsidi Panti, Askesos, Jaminan Sosial Penyandang Cacat (JSPC), dan pendamping sosial. Pro Job meliputi program padat karya, tehnologi tepat guna, pelatihan kerja, Kelompok Taruna Mandiri (KTM), Ayo berwirasusaha, dan BKO. Sedangkan Pro Growth, yakni melakukan koordinasi dengan intansi terkait. Output yang diharapkan yakni mengurangi angka penganggur an dan kemiskinan.

Pada tatanan Kabupaten Kuningan, jumlah penduduk 1.111.760 jiwa, angkatan kerja 522.760 orang, pencari kerja 30.362 orang, dan gakin 43.407 KK (217.035 orang). Berkenaan tingginya angka pencaker dilakukan dengan pembangunan ketenagakerjaan.

Permasalahan dasar bahwa pembangunan ketenagakerjaan di Kab. Kuningan belum sebanding dengan perkembangan masalah ketenagakerjaan. Hal itu tercermin dari kesempatan kerja terbatas, kompetensi tidak sesuai kebutuhan, keterbatasan akses, dan kualitas tenaga kerja rendah.

Juga, hal itu pun terjadi pada bidang social. Seperti dalam menangani permasalahan keterlantaran, ketidakberdayaan, keterasingan, dengan kenaikan berkisar 2,5 %.

Sedangkan masalah TKI yang dihadapi meliputi, penganiayaan serta kekerasan majikan, masalah gaji, PHK, perkosaan, pelecehan seksual, pemindahpaksaan majikan, penyimpangan perjanjian kerja, dan calon TKI legal tapi tidak diproses di Kabupaten Kuningan.

Karena itu para Camat dan kuwu harus waspada dengan cara meneliti petugas lapangan dari PT pengerah tenaga kerja. Caranya dengan meneliti surat tugas dari PT, Job Order (pesanan), SIUP, dan adanya rekomendasi dari Dinas Sosnaker. (tan)

h1

Partai Demokrat Revitalisasi Pengurus Hingga Ranting

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Pesatnya perkembangan Partai Demokrat (PD) dewasa ini baik di tingkat nasional maupun daerah, berimbas pula ke jajaran Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat (DPC PD) Kabupaten Kuningan.

Sebagai imbas dari keadaan itu, jajaran DPC PD Kab. Kuningan telah mempersiapkan langkah lebih lanjut. Langkah itu diambil untuk mengoptimalkan target perolehan suara pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden (pilpres) 2014 mendatang.

Partai yang dibidani DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden Republik Indonesia itu membidik perolehan suara pada Pileg 2014 di Kabupaten Kuningan naik hingga 100 persen, atau sekira 14 kursi. Dibanding saat ini yang hanya tujuh kursi.

Untuk mencapai target tersebut, DPC PD Kab. Kuningan dipimpin langsung ketuanya, Drs. H. Toto Hartono mengadakan rapat koordinasi DPC dan Pengurus Anak Cabang (PAC) PD se-Kab. Kuningan, di Sekretariat DPC Partai Demokrat Kab. Kuningan, Jalan Salawati Kuningan. Dalam rapat itu,  ketua DPC PD menyampaikan perlunya dilakukan langkah strategis untuk merevitalisasi dan merestrukturisasi seluruh pengurus ranting di Kabupaten Kuningan.

“Seluruh jajaran pengurus DPC PD dan 32 PAC se-Kabupaten Kuningan hadir. Yang hadir itu diarahkan untuk segera melakukan restrukturisasi dan revitalisasi kepengurusan hingga tingkat ranting,” kata Wakil Ketua Bidang Infokom, Sandi “Boy” Kartanegara via ponselnya kepada IB, Selasa (9/2).

Restrukturisasi dan revitalisasi ini dipandang sangat penting dan strategis, karena ranting merupakan ujung tombak dari perjuangan partai pada level paling bawah dan langsung berhubungan dengan grass rooth. “Kami akan melakukan langkah restrukstrisasi dan revitalisasi di seluruh ranting se-Kabupaten Kuningan dalam waktu dekat ini,” pungkas Boy. (kies)

h1

Empat BPR Tawarkan Bunga Kompetitif

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Komisi B DPRD Kabupaten Kuningan melakukan hearing (rapat dengar pendapat/RDP) dengan empat BPR. Terungkap dalam RDP, empat BPR yakni PT. BPR Harapan Ganda, PT. BPR Artha Share, PD. BPR Kuningan, dan PD. BPR Bongas menawarkan bunga yang kompetitif.

Rapat dengar pendapat dipimpin Ketua Komisi B, Pusantara Tri Kordiantoro, didampingi Wakil Ketua Oyo Sukarya dan Sekretaris Nana Nurhaya. Ia mempertanyakan dan mengimbau agar perbankan dapat menarik simpati masyarakat, tentunya harus memberikan bunga yang kompetitif. Serta tidak terjadi persaingan tidak sehat antar sesama pengelola BPR.

Praktisi dari Partai Demokrat ini meminta agar ke empat BPR itu dapat mensinergiskan dengan intansi terkait. Selain itu dapat memberikan kontribusi bagi daerah. Sebab, untuk izin operasinal bank sudah langsung dari Bank Indonesia (BI).

“Saya mengharapkan empat BPR ini dapat bersaing secara sehat dengan memberikan bunga yang kompetitif dan memberikan kontribusi bagi daerah,” pinta dia.

Kasubag Humas DPRD Kab. Kuningan, Yunus Suparman, SE, menambahkan, ke empat BPR itu memiliki suku bunga yang berbeda. Misalnya BPR Harapan Ganda menetapkan bunga 11%, BPR Artha Share 2% per bulan, dan tabungan 11% per tahun dengan lama pinjaman 2 tahun, deposito 12% per tahun. Sedangkan BPR Kuningan menerapkan sistem bunga 4% per bulan, menurun. (tan)

h1

Pemda Buka Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Terpusat

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Pemerintah Kabupaten Kuningan membuat terobosan baru dengan membuat Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang dan Jasa secara terpusat yang terintegrasi. Rencana itu terungkap dalam sosialisasi Unit Pelayanan Pengadaan Barang/Jasa Terpusat Kab. Kuningan 2010 yang dibuka oleh Sekda Kuningan, Drs. Nandang Sudrajat di Aula Dispenda, Kamis (4/2).

Acara dihadiri oleh Anggota Asosiasi Penyedia Barang Jasa Kabupaten Kuningan, diantaranya Gapensi, Gapeksindo, Gabpeknas, Aspekindo, Askindo, Appkindo, Gapkaindo, Gapkindo, Aspertanas, Akli, Kadin, Apkindo, Askomelin. Selain itu hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Jamsostek Wilayah III Cirebon.

Kabag Pembangunan Setda Kab. Kuningan, Drs. Uca Somantri, Msi menyebutkan, tujuan dan sasaran membentuk ULP Terpusat yang lebih terintegrasi agar proses pengadaan barang/jasa pemerintah menjadi lebih terpadu, efektif, efisien dan terpantau serta terkendali. Juga, untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi, menjamin persamaan kesempatan, akses dan hak bagi penyedia barang/jasa serta menyelenggarakan pengadaan barang/jasa pemerintah ditangani oleh aparat yang kompeten dan propesional.

Sekda Nandang  mengungkap-kan bahwa penyedia barang/jasa pemerintah mempunyai peran strategis dalam menopang ketersediaan sarana dan prasarana pembangunan yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sosial maupun budaya dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Untuk itu dibentuk Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang/Jasa Kab. Kuningan yang merupakan lembaga non struktural.

Ia mengatakan, pembentukan ULP Terpusat mengacu kepada Peraturan Bupati nomor 15 tahun 2009. dalam Perbup disebutkan, ULP mempunyai tugas untuk menangani pelaksanaan pengada an barang/jasa pemerintah secara terintegrasi dan terpadu sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

“Dengan adanya ULP, pelaksanaan pengadaan barang/jasa 2010 tidak lagi dilaksanakan oleh masing-masing SKPD tetapi dipusatkan di unit layanan pengadaan yang diketuai oleh Asisten Pembangunan dan Kesra Setda Kabupaten Kuningan,” kata Nandang.

Nandang meminta kepada para rekanan agar dalam mengikuti pelaksanaan pengadaan barang/jasa baik yang dilaksanakan secara manual ataupun elektronik dapat lebih profesional, teliti serta memiliki integritas moral yang tinggi. Sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik secara administratif maupun teknis. (CR)

h1

UPT BP3K Cilimus Terbaik Nasional ke 2

12 Maret 2010

Cilimus, IB

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan  (BP3K) Kecamatan Cilimus capai prestasi yang membanggakan. UPT BP3K Cilimus telah mewakili Kabupaten Kuningan dalam bidang pertanian tingkat nasional dengan meraih ke 2 serta berhak mendapatkan 2 buah sepeda motor, plakat dan penghargaan Abdibaktitani tahun 2009 dari Kementrian Pertanian.

Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM., didampingi Kepala BP3K Kab. Kuningan Ir. H. Dodi Nurochmatudin, MP, Kamis (4/2) di ruang rapat UPT BP3K Kec. Cilimus memberikan pengarahan kepada 30 orang tenaga penyuluh programmer dan supervisor se-Kab. Kuningan,  15 orang kepala BP3K,  serta sembilan orang tenaga fungsional.

Pada kesempatan itu, Wabup Momon Rochmana menyerahkan 2 buah sepeda motor kepada Ayi Hasanah, SPKP dari BP3K Kec. Kuningan, dan Samsul Arifin, SP dari BP3K Kec. Ciwaru sebagai penyuluh pertanian berprestasi serta penyerahan SK penempatan penyuluh tahun 2010.

“Sektor pertanian memiliki kedudukan sentral dalam perekonomian masyarakat Kabupaten Kuningan serta memberikan kontribusi yang begitu besar sehingga tidak berlebihan apabila sektor pertanian dalam arti luas merupakan sektor kunci dari kinerja perekonomian Kabupaten Kuningan secara keseluruhan,” papar Wabup Momon.

Menurutnya, kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Kuningan senantiasa fokus pada pengelolaan sumberdaya pertanian, perikanan dan kehutanan secara komprehensif dan tetap memegang teguh prinsip konservasi dan keseimbangan ekosistem. Hal ini juga telah diimplementasikan dalam penyusunan kebijakan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) daerah serta master plan Kabupaten Kuningan 2030.

Sejalan dengan hal itu, prioritas kebijakan pada Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kuningan pada tahun 2010 adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian, perikanan dan kehutanan. Prioritas kebijakan tersebut sesuai dengan tahapan ke 2 pembangunan Kabupaten Kuningan dengan fokus pada peningkatan pendayagunaan sumberdaya lokal berdasarkan keunggulan komparatif. Disamping itu kebijakan tersebut diambil sebagai upaya mendukung program strategis misi kedua pemerintah Kabupaten Kuningan yaitu pengembangan agribisnis perdesaan berbasis agroindustri dan sumber daya lokal.

Lebih lanjut Ia mengatakan, dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan pertanian secara keseluruhan, profesionalisme unit kerja bidang pertanian perlu ditingkatkan. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan cara meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

Ia berpesan kepada para penyuluh pertanian agar selalu berupaya memberikan motivasi kepada para petani agar menciptakan nilai tambah dari pertanian itu sendiri. (dad)

h1

Haekal Juara SCUA Cup

12 Maret 2010

Kuningan, IB

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet catur yunior Kuningan, Haekal Logika Al Farabi. Haekal menjadi juara Turnamen Catur Perorangan tingkat SD/MI se-wilayah III Cirebon untuk kategori putra yang digelar SCUA (Sekolah Catur Utut Adianto) di PGC (Pusat Grosir Cirebon) lantai 3, Sabtu-Minggu (6-7/2).

Dari jumlah peserta yang mencapai 53 orang, Haekal meraih skor 6. Ia sendiri mampu memenangkan enam per tandingan secara gemilang, dan hanya kalah satu kali dari Pecatur asal Tugu Lelea Kab. Indramayu, Rahmat Fajar di babak 7. Meski kalah, dia tetap juara, karena lawannya hanya meraih poin 5, lebih rendah darinya.

Orang tua Haekal, Iwan Yusuf Ridwan nampak bangga dengan prestasi putranya itu. Menurutnya, Haekal yang belajar secara autodidak, kini mulai ada peningkatan, terutama sikapnya dalam bertanding.

Dia berharap kepada guru-gurunya di SDN 2 Kuningan bisa membantu melatih mental Haekal. Itu karena masalah mental memang masih menjadi kelemahan putranya yang kini duduk di kelas V (lima) itu. “Saya ingin bareng-bareng menangani masalah mental Haekal,” harapnya kepada IB, Senin (8/2).

Ketika ditanya sejauhmana perhatian Pemkab Kuningan kepada Haekal, Iwan mengaku, hingga saat ini belum ada. Sebagai orang tua, Ia mengharapkan agar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga atau lembaga yang membawahi catur bisa memberikan perhatian.

“Dinas terkait merasa memiliki asset atau tidak? Seharusnya peduli,” ujar ketua PPCC ini. (kies)