Archive for the ‘edisi 137’ Category

h1

dr. Ribka Ciptaning: Kader PDIP Jangan Pernah Jauhi Rakyat

10 Februari 2010

Kuningan, IB

“Ingat kita besar bukan karena birokrat dan penguasa, melainkan karena kekuatan rakyat. Untuk itu jangan pernah ada kader PDI Perjuangan menjauhi masyarakat,” kata dr. Ribka Ciptaning, Ketua Komisi IX DPR RI saat HUT PDIP ke 37 dan pembukaan Konfercab DPC PDIP Kab. Kuningan, di GOR Ewangga, Minggu (10/1).

Dokter Ribka mengatakan, PDIP dibangun dengan darah dan air mata. “Kita berjuang melawan rezim otoriter Orde Baru. Sekarang enak, masuk partai karena ingin jadi caleg, bupati atau walikota,” katanya.

Ia menuturkan kisah pahitnya sebagai kader PDIP dengan berpegang teguh pada dasar idiologi Pancasila 1 Juni 1945. “Saya merupakan alumni Fakultas Kedokteran UI. Meneruskan S.2 di Polda dan S.3 di BIN (Badan Intelijen Negara),” jelasnya.

Karir politiknya, diawali dengan menjadi Korcam di Kabupaten Tanggerang, kemudian menjadi pengurus DPC Tanggerang. Merangkak naik menjadi pengurus DPD PDIP Jabar tahun 2000, dan pada tahun 2005 seiring pemekaran Provinsi Banten, Ia menjadi pengurus DPD PDIP Banten. Tahun 2004 dipercaya menjadi anggota DPRD RI, bahkan kini dipercaya menjadi ketua Komisi IX DPR RI.

Sebagai ketua Komisi IX, Ia kukuh memperjuangkan rumah sakit tanpa kelas dan murah. Ini karena kesehatan merupakan hak rakyat. Dan rakyat tidak boleh dibeda-bedakan.

HUT PDI Perjuangan ke 37 plus pembukaan Konfercab PDIP Kab. Kuningan dan pelaksanaan Konfercab dilakukan di tempat berbeda. Untuk Konfercab dilaksanakan di Wisma Permata. Dalam Konfercab, H. Acep Purnama, SH berhasil mempertahankan tahtanya sebagai ketua DPC PDIP. Selama periode 2010-2015, Ia akan didampingi pengurus lainnya diantaranya Wakil Ketua Rana Suparman, S.Sos, Sekretaris Tresnadi dan Bendahara Bidan Hj. Eli Rusliati.

Turut hadir, Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, Wakil Bupati Kuningan Drs. H. Momon Rochmana, MM, Kapolres Kuningan AKBP H. Nurullah SH, MH (kini Kapolres Sumedang), Wakil Ketua DPD PDIP Jabar Ayi Vivananda, S.Sos, pimpinan parpol, ormas, ketua KPU, pengurus DPC, PAC dan ranting PDIP, Muslimat NU, dan Ketua Tanfidziah PCNU Kab. Kuningan HR Mahmud Silahudin.

Ketua DPC PDIP Kab. Kuningan, H. Acep Purnama, SH mengaku tak ragu lagi atas kepercayaan besar dari masyarakat terhadap partai yang dipimpinnya. Dia sempat menyebutkan adanya kader partai yang menjaga jarak dengan masyarakat. “Perilaku menjauhi rakyat merupakan tindakan tidak terpuji. Karena partai kita berbasiskan kerakyatan, keadilan sosial dan mengakui keanekaragaman suku, agama dan ras,” terang Acep.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos, mengungkapkan ada tiga indikator dalam melaksanakan pembangun-an yang disebut IPM (indek pembangunan manusia) meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya beli, dengan harapan meningkatnya taraf hidup masyarakat.

Menurut Aang, sebagai partai pemegang suara terbanyak, PDIP telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pembangunan dan upaya menciptakan suasana yang kondusif. Mereka juga mampu menyalurkan aspirasi masyarakat secara konstitusional dalam rangka kebijakan daerah.

Selaku Depercab, Ia mengaku sering memberikan masukan agar partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran ini mampu memenangkan setiap momen politik, mulai Pilkada, Pilpres dan Pileg. “Sebagai kader senior, Saya sering menjadi pananyaan (tempat bertanya) bagi kader muda. Karena itu, PDIP harus mampu mendulang suara lebih banyak dari partai lainnya. Bandingkan saja, pada Pileg 2014 mendatang, PAN sudah menargetkan 20% dan Golkar 30%. Kita jangan kalah oleh mereka,” tegas Aang.

Kader dan simpatisan PDIP, kata Aang, harus bangga, Kuningan yang dulu jelek sekarang berubah lebih bagus, yang tadinya tidak punya sekarang punya. “Itu karena kepemimpinan kader PDIP yang bagus. Ke depannya (2013, red) Kuningan harus dipimpin oleh kader PDIP lagi. Saya sendiri bersama Pak Momon pada Pilkada lalu berhasil meraih suara 74%, karena kader PDIP benar-benar membangun Kuningan,” tandasnya.

Aang meminta agar PDIP bisa memenangkan kompetisi (pemilihan umum) secara sehat, karena di Kuningan belum pernah ada konflik secara fisik. Tidak ada kata lain, pengurus DPC 2010-2015 harus punya komitmen, dan kemampuan menjaga keharmonisan. Salah satu komitmen dan sikap tegas ditunjukkan Ketua Umum DPP PDIP, Hj. Megawati Soekarnputri.

“Demi Allah Saya bangga, ketika Ibu Mega menolak kadernya untuk duduk menjadi menteri. Ini menunjukkan sikap yang tegas dan tidak pernah goyah,” ungkap Aang.

Wakil Ketua DPD PDIP Jabar, Ayi Vivananda, S.Sos mengawali orasinya dengan bertanya, apa yang menyebabkan kita tetap bertahan? Dijawabnya, karena roh kita kerakyatan. Oleh karena itu, harapnya, konsolidasi kader, program, personal harus ditingkatkan agar menang dalam Pemilu mendatang.

“Kita harus malu, sebagai negara yang kaya dan besar, tapi kacang kedelai saja harus impor dari AS. Jeruk, anggur, apel dari luar negeri. Ini karena SDM kita kalah saing,” kata Wakil Walikota Bandung ini.

Bahkan, lanjutnya, pada 2010 ini menurut informasi dari HKTI, 80 komoditas akan masuk dari China tanpa pajak. Puluhan ribu pabrik akan bangkrut dan jutaan buruh akan menganggur. Begitu pula dalam sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM, sangat ironi. Meski SD dan SMP gratis, tapi biaya di SMA dan perguruan tinggi mahal.

Dampaknya, terlihat dari contoh, ketika orang Australia bekerja di Indonesia,mereka langsung mendapatkan posisi manajer. Namun manakala orang kita mau menjadi TKI, hanya menjadi pembantu rumah tangga saja. Begitu pula mau berobat betapa mahalnya dan menjadi beban rakyat. (tan)

Iklan
h1

Yudi Budiana Targetkan PG Raih 30% Suara Pileg

10 Februari 2010

Kuningan, IB

Ketua DPD Partai Golkar Kab. Kuningan, H Yudi Budiana, SH menargetkan perolehan suara 30 persen pada pemilu legislatif  2014 mendatang. Bila target itu tidak tercapai, Ia bersedia mengundurkan diri dari jabatannya.

Untuk mencapai target itu, perlu dukungan komitmen bersama dan sikap konsisten dari jajaran pengurus dan konstituen partai berlambang pohon beringin. Hal itu selaras dengan hasil munas dan arahan Ketua Umum PG Ir. H. Aburizal Bakrie pada HUT Gokar lalu yang menargetkan 30 persen suara pada pileg 2014.

Target itu disepakati dengan ditandatangani oleh Yudi Budiana dalam fakta integritas di hadapan ketua DPD PG Jabar, H. Irianto MS. Syafiuddin alias Yance, pada pelantikan DPD PG Kab. Kuningan, Minggu (3/1).

Yudi mengatakan, persaingan politik ke depan semakin ketat dan berat, karena penuh dinamika, dan penilaian masyarakat yang makin kritis. PG harus menjadi partai yang mandiri dan peka akan kebutuhan masyarakat untuk selalu menyerap aspirasi masyarakat. Begitu pula bagi petugas partai di legislatif agar mampu menempatkan sesuai fungsinya yakni legislasi, pengawasan dan anggaran.

“DPD PG dengan pemerintahan akan tetap setara dalam menjalankan kemitraan, baik di pusat maupun di daerah. Namun akan kritis dan menegur bila tidak berpihak pada rakyat,” kata Yudi.

Target 30%, kami akan optimalkan roda organisasi sesuai mekanisme. Target tercapai bila pengurus bahu-membahu, bukan hal yang mustahil bahkan akan meleampuai harus ada kerjasama ang baik vertical maupun horizontal.

Pelantikan DPD Partai Golkar Kab. Kuningan periode 2009-2015 di Sekretariat DPD PG Kab. Kuningan, Minggu (3/1) oleh Ketua DPD PG Jabar, DR. H. Irianto MS Syafiudin, M.Si.

Ketua Panitia, Ir. Abrianto Setiawan, M.Si mengatakan,  pelantikan ini dihadiri Bupati Kuningan, H. Aang Hamd Suganda, Wakil Bupati Drs. H. Momon Rochmana, MM,  Kapolres, pimpinan parpol, ormas yang melahirkan dan dilahirkan PG, organisasi sayap PG, PP, jajaran DPD PG, dan PK sekira 400 orang. “Pelantikan ini merupakan rangkaian terakhir Musda X, periode 2009-2015 yang berjumlah sekira 82 orang pengurus harian dan pleno,” kata Abiryanto.

Untuk posisi Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) disepakati oleh jajaran DPD yakni DR. H.E Kuswandy AM, M.Pd, mantan Kadisdik Kuningan.

Dengan dana berasal dari Ketua terpilih H. Yudi Budiana, Asep dan H. Momon Rochmana, karena dana DPD kosong, sekira Rp. 42,5 juta.

“Jangan cuma pidatonya saja yang semangat tapi kerjanya memble. Mari kita bangkitkan bersama-sama. Jangan tukcing. Perlu diingat bahwa parpol bukan perusahaan yang mengharapkan gaji. Di parpol tidak ada untung rugi. Yang ada cuma kalah menang,” tandasnya.

Kalah menang itu dicontohkan oleh Yance seperti kekalahan Golkar oleh Demokrat. Dikatakan dia, seharusnya kader Golkar malu dengan usia partai 45 tahun dikalahkan oleh partai yang baru.

“Kita di KO sama Demokrat yang baru berusia dua periode. Sedangkan Golkar sudah 45 tahun. Untuk itu, mari kita bangkitkan Golkar dengan tindakan nyata, komitmen, konsistensi dan dicintai rakyat. Tak perlu itu retorika. Yang penting berani berkoban dan siap menerima segala resiko,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Yance juga menyinggung soal pilbup. Pihaknya mengharapkan, Yudi yang sekarang dilantik sebagai ketua DPD bisa menggantikan posisi H. Aang Hamid Suganda kelak.

Pengurus Harian dan Bagian, berjumlah 82 orang, diantaranya ketua H. Yudi Budiana, Sekretaris Uha Suhardi, dan Bendahara Pipin Firmansyah, AMd. Didominasi muka baru 70% dan dari pengurus lama 30%. (tan)

h1

Menag Ajak Berakhlak Mulia dan Budaya Kerja Profesional

10 Februari 2010

Kuningan, IB

Menteri Agama RI, H. Surya Dharma Ali dalam sambutannya yang dibacakan Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda mengajak kepada para pejabat dan karyawan di lingkungan Departemen Agama untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama, akhlak mulia dan menampilkan budaya kerja yang profesional.

Hal itu diungkapkan saat peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke 64, di Pandapa Paramarta Kuningan, Senin (4/1).

Pada kesempatan itu, dikemukakan pula bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Depag tidak hanya menyangkut pembaruan organisasi, tata kerja dan administrasi yang harus memenuhi prinsip-prinsip Good Governance saja. Tetapi harus menyentuh pembaruan sikap mental dan budaya kerja yang lebih baik.

Sebagai aparatur Depag yang menyandang nilai-nilai agama, akhlak dan moral, kita seharusnya berada paling depan dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, bebas dari praktik KKN dan perbuatan melanggar hukum lainnya. Apalagi agama mengajarkan kepada kita untuk terus berbuat kebajikan dan meninggalkan perbuatan tercela.

Sesuai tema peringatan Hari Amal Bhakti Departemen Agama tahun ini, yaitu “Mewujudkan Bangsa Berakhlak Mulia Menuju Negara Sejahtera”, kita semua diingatkan bahwa sebagai bangsa yang besar, selain diperlukan kemajuan bidang fisik dan intelektual, juga diperlukan kemajuan di bidang akhlak atau moral.

Ia menghimbau kepada semua jajaran aparatur di lingkungan Departemen Agama untuk terus memperbaiki diri dan memacu kemajuan dari berbagai ketinggalan yang dirasakan selama ini serta mengatasi berbagai masalah yang ada, sehingga Departemen Agama dapat menjadi teladan yang dapat dibanggakan oleh masyarakat. “Tidak mungkin kita bisa menangani masalah umat, jika organisasi kita sendiri bermasalah, “kata Surya Dharma Ali.

Ia mencontohkan, misalnya koordinasi, komunikasi, dan informasi yang tidak berjalan dengan baik, atau kemampuan SDM yang belum seimbang dengan beban kerja organisasi.

Ketua Panitia HAB 64 Depag Kab. Kuningan, H. Yusron Kholid menjelaskan, hari amal bhakti (hari berdirinya) Depag yang diperingati setiap tahun oleh seluruh jajaran Depag mulai pusat sampai daerah sebagai ungkapan syukur dan momentum yang tepat untuk silaturahim dan pembinaan bagi seluruh jajaran Depag.

Ia menyebutkan, rangkaian kegiatan dimulai sejak 30 Desember 2009 hingga 4 Januari 2010.

Pada akhir acara Bupati Kuningan berkenan menyerahkan penghargaan kepada juara lomba KUA Percontohan, keluarga sakinah, lomba masjid percontohan, dan Porsen MI dan MA.

Kegiatan lainnya, penyelesaian sertifikasi tanah wakaf 25 lokasi bantuan Pemda Kuningan untuk Ponpes, MD, masjid dan mushola. Menghimpun zakat profesi dari karyawan Depag sebesar Rp. 54,8 juta dan langsung menyetorkan ke BAZ Kuningan, UPZ Depag menerima 25% untuk mustahiq sebesar dan disalurkan kepada Sukwan di KUA.

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan  komitmen, integrasi dan kesadaran terhadap tugas yang diemban sebagai keluarga besar Depag, dalam pelayanan dan pembangunan bidang agama. (tan)

h1

Peringatan Ultah Kecamatan Pancalang Meriah

10 Februari 2010

Pancalang, IB

Kecamatan Pancalang Kab. Kuningan melaksanakan peringatan ulang tahun ke 9 dengan meriah, Selasa (12/1). Acara yang dilaksanakan diantaranya hiburan dangdut, turnamen voli ball putra/putri, donor darah, dan pengecatan seluruh Poskamling di Kecamatan Pancalang.

Acara dihadiri Bupati Kuningan dan unsur Muspida, pimpinan SKPD, camat se-Kab Kuningan, mantan camat Pancalang, para kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga masyarakat Kecamatan Pancalang.

Camat Pancalang Dra. Eni Sukarsih, M.Si mengatakan, sejak diresmikan 12 Januari 2001, Kecamatan Pancalang membutuhkan optimalisasi pembangunan di berbagai bidang. Apalagi, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kab. Cirebon.

Untuk pembangunan yang telah dilaksananakan selama 2009, kata Eni, diantaranya membangun lapang voli ball di komplek kantor kecamatan secara swadaya dan membangun jalan poros dari Desa Pancalang, Rajawetan dan Desa Tenjolayar melalui program TMMD.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda mengatakan, bertambahnya usia harus dijadikan wahana intropeksi bagi peningkatan kualitas organisasi kecamatan dan aparatur untuk terus berkiprah dalam pembangunan yang berkelanjutan. “Peringatan ultah juga merupakan repleksi terhadap penyelenggaraan pemerintah dan intropeksi bagi program kegiatan yang telah dilaksanakan,” terangnya.

Menurut Bupati, kecamatan sebagai unsur perangkat daerah perlu melakukan inovasi kinerja aparaturnya. Sehingga, pelayanan yang diberikan bisa memuaskan.

Terkait masalah IPM Kecamatan Pancalang yang menempati angka 70,27 poin, Bupati meminta agar perangkat kecamatan dan SKPD Kec. Pancalang bisa mengeksplorasikan beberapa bidang garapan. “IPM Kab. Kuningan pada 2008 sebesar 71,31 poin, sedangkan Kec. Pancalang 70,27 poni. Ini berarti IPM Pancalang masih dibawah rata-rata. Eksplorasi beberapa bidang garapan,” katanya. (rml)

h1

Jalan Subang – Gunung Aci Rusak Parah

10 Februari 2010

Subang, IB

Menikmati perjalanan dari Desa Subang menuju Desa Situgede dan  Desa Gunung Aci Kecamatan Subang, merupakan perjalanan yang melelahkan. Apalagi untuk warga sekitarnya. Karena kondisi jalan terutama dari Blok Tarikolot menuju Blok Manglayang Desa Subang sudah rusak parah dan lama tidak tersentuh perbaikan.

Camat Subang, Dedi Kurniadi, S.Sos membenarkan jalan itu memang sudah lama tidak diperbaki. “Mudah-mudahan pada tahun 2010 ini bisa segera tuntas diperbaiki agar warga ke dua desa (Desa Situgede dan Gunung Aci, red) itu dapat menikmati licinnya jalan aspal,” kata Dedi, di ruang kerjanya, Kamis (14/1).

Rencananya, kata Dedi,  ruas jalan sepanjang 4 KM itu akan diperbaiki dari PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat) Mandiri Perdesaan sepanjang 2 KM, dan sisanya mudah-mudahan dapat dituntaskan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya.

Memang kondisi ruas jalan itu agak unik. Meskipun jalan itu masuk wilayah Desa Subang, namun yang akan memperbaikinya adalah warga Gunung Aci dan Situgede. Itu karena kedua warga desa inilah yang lebih banyak menggunakannya. Rencananya dari dana PNPM Mandiri itu akan digarap sepanjang 1.300 meter oleh warga Desa Gunung Aci dan 700 meter oleh warga Desa Situgede.

Menurut Dedi, kondisi imprastruktur jalan dan jembatan yang rusak dialami pula oleh warga Desa Jatisari. Sejak 2008 lalu, jembatan yang menghubungkan Desa Jatisari dan Desa Pamulihan terputus akibat bencana alam, dan kini hanya diganti dengan jembatan dari bambu. Sehingga arus kendaraan roda empat terputus, apalagi kondisi jalannya pun sepanjang 500 meter juga cukup parah.

Apabila akan diperbaiki, menurut Fasilitator Kecamatan (FK PNPM), Agus, maka diperlukan dana sekira Rp. 575 juta. Itupun hanya untuk jembatan. Sedangkan kemampuan dana dari PNPM bila memang mau dipaksakan hanya sampai Rp. 350 juta. “Dana sebesar tiga ratus lima puluh juta itu hanya untuk jembatan saja, itupun bila disetujui dalam MAD. Kalau ingin mencukupi untuk membangun jalan dan jembatan harus ditopang dari anggaran daerah,” terang Agus.

Kuwu Gunung Aci, Mohammad Enjen menjelaskan, upaya untuk memperbaiki jalan menuju Subang dari desanya terus dilakukan, termasuk kerjasama dengan Desa Situgede dan Subang. Sayangnya, Desa Subang pada tahun ini tidak kebagian dana PNPM Mandiri sehingga tidak bisa berpartisipasi untuk membangun ruas jalan yang rusak itu.

Desa Situgede dan Gunung Aci memang merupakan dua desa terpencil dan tertinggal di Kecamatan Subang yang hanya dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat hard top. Sehingga perlu dan masih  memerlukan peningkatan imprastruktur, dan sarana penunjang lainnya. Sedangkan jalan lingkungan terbilang lumayan, karena dua tahun lalu sudah diperbaiki, termasuk tahun ini dari dana penguatan imprastruktur.

Dari dana penguatan imprastruktur di kawasan perbatasan sudah dipergunakan untuk pengaspalan jalan di Blok Kancana, sepanjang 1300 meter. Pengerjaaan jalan di lokasi ini cukup membanggakan karena tingginya partisipasi masyarakat. Yang bekerja tak hanya laki-laki saja namun perempuan dan anak-anak pun ikut terlibat. Bahkan  makanan pun ikut disajikan setiap harinya, sehingga pengerjaan jalan yang rencananya tiga mingu bisa dipercepat menjadi tiga hari.

Seorang warga Desa Situgede, Abdurahman, menjelaskan, di desanya belum lama ini telah selesai diaspal jalan sepanjang satu kilo meter yang menghubungkan Dusun Manglayang dan Gawangsa. (tan/den)

h1

Tahun 2010 Haruskah Kita Pesimis

10 Februari 2010

Tahun baru selalu dijadikan barometer untuk mengukur perjalanan selama setahun ke depan. Menghadapi tahun baru beberapa peramal dan perusahaan besar memprediksikan pesimis. Tapi haruskah kita juga pesimis? Meski tak dapat dimungkiri bahwa nada pesimis sudah nampak, meski baru memasuki Bulan Januari 2010.

Kita melihat nada pesimis pada level Pemerintah Kabupaten. Itu tercermin dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang disusun, dinilai oleh berbagai kalangan tidak berpihak kepada rakyat.

Kalau kita fair, APBD Kabupaten Kuningan misalnya, pada pos pendapatan daerah Rp. 932.544.129.511, sedangkan belanja daerah Rp. 956.075.684.990, depisit Rp. 23.531.555.439. Untuk pos pendapatan daerah, dari PAD Rp. 70,29 miliar, dana perimbangan Rp. 794,61 miliar dan lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp. 67,68 miliar.

Pada pos belanja daerah, terdiri dari belanja tidak langsung Rp. 716.481.896.357 dan belanja langsung Rp. 239.593.788.633. Belanja tak langsung meliputi belanja pegawai (gaji dan tunjangan) Rp. 643,87 miliar, hibah Rp. 31,06 miliar, bantuan sosial Rp. 6,54 miliar, bagi hasil Rp. 1,2 miliar, bantuan keuangan Rp. 30,64 miliar, dan belanja tidak terduga Rp. 3,14 miliar.

Sedangkan belanja langsung terdiri dari belanja pegawai Rp. 46.63 miliar, belanja barang dan jasa hanya Rp. 152,30 miliar (dulu biaya pembangunan), dan belanja modal Rp. 40.65 miliar. Total untuk biaya pembangunan hanya sekira Rp. 220,55 miliar dari belanja daerah Rp. 956.075.684.990 atau cuma 21,05%, sebagian besar 78,05% untuk belanja pegawai dan modal.

Sebuah analisa yang wajar karena mereka yang punya perhitungan. Apabila untuk belanja langsung (pembangunan) menggunakan standar minimum, sedangkan untuk belanja pegawai memakai plafon maksimal. Dan wajar pula bila selama ini APBD kurang pro rakyat tapi pro birokrat.

Dampaknya, pada beberapa OPD (organisasi perangkat daerah) terjadi pengurasan belanja langsung, karena anggaran tersedot oleh besarnya belanja pegawai. Kita tak akan menyaksikan lagi semaraknya pembangunan infrastruktur seperti tahun 2007 dan 2008 lalu.

Namun kita harus optimis pula, ternyata Pemprov Jabar, mulai akhir tahun 2009, memokuskan pembangunan sektror imprastruktur setelah bidang pendidikan. Hal itu nampak dengan digulirkannya program penguatan imprastruktur perdesaan yang di Kuningan dengan kebijakan bupati diprioritaskan untuk pembangunan imprastruktur kawasan desa perbatasan.

Muncul pula program desa beradab, yang dialokasikan untuk desa-desa di perbatasan yang dinilai masih tertinggal imprastrukturnya. Pemprov menargetkan pada 2010, sebanyak 100 desa perbatasan akan menerima kucuran sebesar Rp. 1 miliar. Sementara di Kuningan dana desa peradaban diprioritaskan untuk tujuh desa berprestasi dalam lomba desa baik kabupaten maupun provinsi.

Penulis sangat respon terhadap upaya pemberdayaan masyarakat baik berupa PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Generasi, PPIP maupun Pamsimas. Hanya yang kedua terakhir ini dana yang diterima tidak mulus. Diduga dana PPIP kembali lagi ke oknum sekira 30%, dan dana Pamsimas tanpa musyawarah dengan LKM di Desa harus dibelikan piva berbagai ukuran melalui rekanan yang secara tidak langsung ditunjuk oleh Dinas. (redaksi)

h1

SMK Model Patriot Ciawigebang Meningkat

10 Februari 2010

Ciawigebang, IB

Tahun pelajaran 2009/2010 merupakan tahun kebangkitan SMK Model Patriot IV Ciawigebang Kuningan. Karena tahun ini peminat siswa baru ke SMK yahg terletak di Desa Ciomas Kecamatan Ciawigebang ini sangat menakjubkan, dengan mampu menampung 394 siswa baru.

“Ini merupakan kebanggaan kami karena kepercayaan publik terhadap sekolah kami meningkat tajam,” terang Kepala SMK Model Patriot IV Ciawigebang, Drs. H. Iip Sabit, MA, di ruang kerjanya, Senin (11/1).

Ketika ditanya apa kiatnya sehingga sekolah yang dipimpinnya itu dapat kepercayaan dari masyarakat, Ia menjelaskan, berfikir positif (positif thinking) dan kebersamaan merupakan modal yang sangat berharga. Brikutnya, Ia menuturkan, selama tiga tahun terakhir siswanya memang mengalami kenaikan yang cukup siginifikan. Hal itu tergambar dari jumlah siswa kelas XI berjumlah 267 (7 kelas), dan kelas XII berjumlah 211 orang (9 kelas), total siswa 870 orang.

Namun kondisi ini belumlah stabil, karena belum masuk misalkan 9 rombel setiap angkatan. Peluang menambah rombel memang sangat terbuka untuk SMK, dengan dibolehkan untuk menerima siswa sebanyak-banyaknya, dan kalau kurang kelas dapat dilakukan dalam dua ships.

Pada sisi lain, penyediaan sarana belajar juga terus ditambah, meski masih kurang tiga local lagi. Diantaranya pada 2009 dapat bantuan dua lokal dari APBN. Untuk menyiasati kekurangan ruang belajar, diterapkan sitem moving class (siswa mendatangi kelas), menggabungkan belajar KBM beberapa kelas untuk bidang studi olahraga, dan agama.

Terkait strategi yang diterapkan, Ia menekankan pada pengefektian KBM. Jika pada hari pertama masuk, biasanya bebas, maka sekarang langsung efektif belajar. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya pada Sabtu (9/1) dilakukan rapat persiapan semerster genap. Juga, menerapkan sistem, guru dalam menyampaikan materi menggunakan laptop dan infokus pada tiga rombel, laboratorium bahasa, dan ruang multi media.

Selanjutnya, dalam melaksanakan amanat orang tua murid (ortum) kita tingkatkan kegiatan keagamaan, seperti tadarusan, sholat dzuhur berjamah, dan pembinaan keagamaan setiap hari, apalagi sekarang sudah punya masjid sendiri.

Kemudian, mengefektifkan penyaluran alumni melalui BKK (Bursa kerja), dan bisa diterima dibeberapa perusahaan besar. Tahun ini saja enam perusahaan bisa memanmpung lulusan SMK Patriot, kini berkat kemampuan komunikasi dari Wakabid Hubin, Dodi Symsudin, SH. Juga alumni sekolah lain, bisa mencari kerja melalui BKK Patriot. Melalui penyaluran alumni inilah para siswa baru tertarik ke sekolah ini.

Di sekolah ini juga siswa diarahkan mengambangkan minat dan bakatnya, seperti bidang seni di Marching Band, pengembanan bakat seni Dangdut, Band atau Degung. Juga, mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris, olah raga vollly, sepakbola dan bulu tangkis. (tan)