Arsip Kategori: edisi 131

Tuntutan Penghasilan Tetap Kuwu dan Perangkat Desa Menguat

Kuningan, IB

Tuntutan agar para Kepala Desa dan Perangkat Desa mendapat penghasilan tetap semakin menguat. Pangajuan aspirasi ini mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa.

Demo kuya acepKuwu Cijemit Kec. Ciniru, Yaya Cahyadi bersama beberapa kuwu lainnya dengan getol melancarkan tuntutan melalui DPRD. Aspirasinya diterima oleh anggota DPRD Kuningan baru,  seusai mereka dilantik Minggu (6/9).

Menurut Yaya dalam PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa, pada Pasal 27 ayat bahwa Kepala Desa dan Perangkat Desa diberikan penghasilan tetap setiap bulan dan/atau tunjangan lainnya sesuai dengan kemampuan desa. Penghasilan tetap dan/atau tunjangan lainnya yang diterima Kepala Desa dan Perangkat Desa berasal dari APBD yang disalurkan melalui APBDesa dengan ketentuan paling sedikit sama dengan upah minimum regional kabupaten/kota.

Yaya sendiri berpendirian bahwa langkahnya bukanlah untuk kepentingan pribadi semata, tetapi ada dasar hukumnya. Sebagai bukti, dia menyodorkan secarik kertas Surat dari Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri) No. 900/1303/SJ tertanggal 6 April 2009 tentang kedudukan keuangan kepala desa dan perangkat desa di seluruh Indonesia.

Penghasilan tetap untuk kabupaten/kota di luar Jawa tidak ada masalah dan sudah dilaksanakan, sedangkan di Pulau Jawa ada permasalahan karena terkait tanah bengkok.

Anggota DPRD Kuningan Acep Purnama, SH dan Mandjud berjanji akan berupaya membantu mewujudkan keinginan para kuwu itu. “Mudah-mudahan keinginan itu dapat terwujud, mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan,” kata Acep dan mantan Kuwu Cikadu Kec. Nusaherang ini.

Asisten Pemerintahan Setda Kuningan, H. Bambang T. Mardono, SH. MM saat diminta pendapatnya terhadap permasalahan itu tidak berkomentar banyak. Ia hanya memberikan sedikit referensi bahwa di Jawa Barat yang telah memberikan tunjangan tetap dari APBD baru Kabupaten Sumedang saja.

Sementara yang lainnya, termasuk di wilayah III Cirebon belum ada.  Apalagi anggaran untuk memberikan tunjangan tetap itu sangat besar. Bayangkan saja dari jumlah sekira 4.000 kuwu dan perangkat desa bila dikalikan Rp. 575.000, berjumlah sekira Rp. 2,3 milyar/bulan atau Rp. 27,6 miliar per tahun.

Ketua APDESI Kab. Kuningan, Mulyono AR mengatakan, akan terus berjuang mewujudkan keinginan para kuwu itu. Cuma, kata Kuwu Sindang Agung ini, penyampaiannya tidak perlu ramai-ramai tapi ditempuh melalui pendekatan secara baik-baik. (tan)

Calon Anggota DPRD Kuningan Dilantik

Pelantikan DPRD (3)Kuningan, IB

Sebanyak 50 Calon Anggota DPRD Kabupaten Kuningan periode 2009-2014 dilantik oleh Ketua Pengadilan Negeri Kuningan, Deni Lumban Tobing, Sh. MH, Minggu (6/6). Pelantikan anggota legislatif ini dilaksanakan dalam Sidang Istimewa DPRD yang dihadiri Bupati, Muspida, para pejabat, dan mantan legislatif.

Pelantikan didasarkan pada Keputusan Gubernur Jabar No. 171/Kep.843-DEKON/2009 tanggal 19 Agustus 2009 tentang peresmian keanggotaan DPRD Kabupaten Kuningan hasil pemilu 2009 masa bakti 2009-2013.

Dibanding di kabupaten/kota lainnya di wilayah III Cirebon, pelantikan Caleg DPRD Kuningan  paling belakang. Adapun komposisi keanggotaan DPRD Kab. Kuningan periode 2009-2014, yakni PDIP (14 orang), Demokrat (7), Golkar (7), PAN (6), PKS (5), PPP (4), GERINDRA (2), PKB (2), PBB (1), PDK (1), dan PKPI (1).

Acep Calon Kuat Ketua

Berdasarkan ketentuan dalam UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, pada pasal 354 ayat (1),  Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota terdiri dari seorang ketua dan tiga orang wakil ketua untuk DPRD Kabupaten/Kota yang beranggotakan 45-50 orang. Pimpinan berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak pertama di DPRD Kabupaten/Kota.

Melihat aturan demikian maka dapat diperkirakan yang akan menjadi pimpinan DPRD Kabupaten Kuningan adalah H. Acep Purnama, SH (PDIP), Drs. H. Toto Hartono (Demokrat), H. Yudi Budiana, SH (Golkar), Drs. H. Toto Suharto, S.Farm, Apt (PAN).

Saat acara paturai tineung anggota DPRD Periode 2004-2009, Jum’at (4/9) di Pendopo Bupati, Ketua DPRD Kuningan H. Yudi Budiana, SH mengatakan,  calon anggota DPRD incumbent yang kembali duduk berjumlah 14 orang dari 50.

Selama kurun waktu lima tahun, DPRD Kuningan telah berhasil menetapkan 177 buah Perda, 74 keputusan DPRD, dan 141 keputusan pimpinan.

Aksi Demo

Selama pelantikan berlangsung beberapa komponen masyarakat di luar pagar menyampaikan aspirasinya. Bahkan ada yang sambil melemparkan telor busuk. Salah satu yang mengajukan aspirasi yakni Jejen Zaenudin dari FKHM yang menyuarakan agar para sukwan diprioritaskan dalam pengisian formasi CPNS 2009. (tan)

Pembangunan dan Terorisme

Kabupaten Kuningan saat ini dikenal sebagai daerah yang sukses melaksanakan pembangunan imprastrukur dibanding kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat. Berbagai pembangunan saat ini dapat dilihat dan dirasakan (nyata tur karasa) oleh setiap orang yang mengunjungi kabupaten paling timur di Jawa Barat ini.

Tengok saja saat ini Kuningan memiliki jalan lingkar  Pramuka-Cijoho-Cirendang yang cukup bagus, kendati belum berfungsi optimal. Pembangunan jalan lingkar Waduk Darma sebentar lagi akan usai dan siap digunakan. Dengan selesainya pembangunan jalan ini, maka Obyek Wisata Waduk Darma akan lebih prospektif  sebagai salah satu sumber terbesar pendapatan daerah dari sektor pariwisata.

Teranyar, telah selesainya pembangunan Jembatan Cijolang di Desa Tangkolo Kecamatan Subang yang semula menginginkan keluar dari wilayah administrasi Kuningan. Tak aneh atas prestasi pembangunan jalan dan jembatan itu, Bupati Kuningan sudah mendapat penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum.

Namun saat ini citra Kabupaten Kuningan tengah terpuruk dengan image sebagai sarang teroris pasca tertembaknya Ibrohim, “sang jendral” pengeboman Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton, Jakarta asal Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kuningan, dalam penyergapan di Desa Beji, Temanggung, otomatis melekat. Image tersebut tampaknya sangat dirasakan Bupati H Aang Hamid Suganda

Citra Kabupaten Kuningan di mata masyarakat nasional  sedang tercoreng. Penyebabnya, pelaku perencana dan peledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Ibrohim adalah warga Kuningan. Meski Ibrohim dan keluarganya merupakan pendatang dari Jakarta, namun karena sudah mengantongi kartu identitas (KTP) Kuningan, Ibrohim tetap saja disebut warga Kabupaten Kuningan.

Selain Ibrohim, mereka yang masuk dalam daftar teroris adalah anggota keluarga H Jaelani. Yakni Saefudin Juhri alias Saefudin Jaelani (SJ) dan Muhammad Syahrir alias Aing. Kedua nama terakhir itu adalah putra kandung H Jaelani, warga RT 28/10 Kampung Caringin, Dusun Kliwon, Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

Ketiga orang itulah yang membuat Kuningan jadi terkenal. Bahkan beberapa media menjuluki Trio Kuningan sebagai pelaku pemboman. Terang saja sebutan itu cukup memukul perasaan masyarakat Kota Kuda. Apalagi bagi mereka yang sereing bepergian ke luar daerah. (redaksi)

Dipecat, Nupri Bacok Mantan Bosnya

Hantara, IB

Pagi buta, Sabtu (8/8) sekira pukul 06.00 wib, warga RT. 16/04 Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan dibikin geger oleh peritiwa pembacokan Karman Sarwa, S.Pd.

Pelaku pembacokan,  Nupri Irawan, 21 tahun warga Dusun Buyut Saur Desa/Kecamatan Ciniru diduga merasa sakit hati dipecat sebagai penjaga sekolah SMPN 2 Garawangi sehingga melakukan pembacokan secara membabi buta terhadap mantan bosnya itu.

Nampaknya, pelaku yang masih kuliah di Perguruan tinggi swasta ini telah mempersiapkan diri secara matang untuk melampiaskan dendamnya itu. Ia seorang berangkat dari rumahnya dengan mengendarai sepeda motor Honda Grand menuju rumah Karman di Blok Sawahbera Desa Tundagan.

Sesampai di rumah tujuan, Ia langsung mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Korban karena mengetahui gelagat ga baik melarikan diri menuju dapur. Menurut keterangan saksi mata, pelaku memburu korban ke dapur dan langsung mendobrak pintu. Kesempatan itu tak disia-siakan pelaku dengan menyabetkan golok berulangkali, dan ditangakis oleh Karman. Akibatnya tangan kiri Karman luka berat hingga dagingnya terkelupas sekira 10 cm dengan kedalaman 2 cm.

Akibatnya, Karman ambruk karena banyak darah bercucuran. Kondisi itu tak disia-siakan Nupri dengan membacok pinggang sebelah kiri yang mengakibatkan luka sayat dengan kedalaman 2,5 cm dan lebar 8 cm. Tak puas hingga itu, jejaka yang sudah dirasuk setan ini menyabet kepala dan pundak korban, hingga tak berdaya. Melihat korban tak berdaya, Nupri melarikan diri dan langsung menyerahkan diri ke Polres Kuningan.

Saat kejadian, mungkin karena terkesima mantunya disabet golok, Jahani hanya bisa diam membisu, begitu pula Awani langsung ambruk pingsan. Baru kemudian berteriak minta tolong. Tak lama pertolongan datang dari para tetangga dan mendapat pertolongan medis pertama dari mantri Iman. Untuk selanjutnya, korban dilarikan ke UGD RSU 45’Kuningan untuk mendapatkan perawatan medis.

Korban sendiri terbilang kuat fisiknya, walau kena sabetan golok tidak sampai pingsan. Ia masih nampak merintih menahan sakit dengan mengucapkan astagfirullah al ‘adzim saat ditangani tim medis. Luka pertama yang dijahit bagian pinggang korban, kemudian bagian tangan yang terkelupas ditempelkan kembali.

Tak lama berselang, sekira pukul 07.00 wib, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Kuningan, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si didampingi Kabid Pendas, Mulyana, M.Pd datang menjenguk bersama beberapa kepala sekolah.

Kapolres Kuningan AKBP Nurullah, SH melalui Kasatreskrim, AKP Sukirman menjelaskan, kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka Nupri tetep berlanjut. Untuk sementara motif penganiayaan karena sakit hati lantaran dipecat dari pekerjaan nya oleh korban.  (tan)

Pacuan Kuda Tradisional Makan Korban Jiwa

Kuningan, IB

Pesta Rakyat Pacuan Kuda Tradisional Kabupaten Kuningan ke IV, hari Minggu 9 Agustus 2009 lalu, berlangsung meriah. Sayang kemeriahan itu ternodai dengan jatuhnya korban jiwa seorang joki, Kusnadi warga Cijoho Buana meninggal dunia.

Kusnadi terpelanting dari pelana dan tertindih kuda dan menghembuskan napas terakhirnya. Walaupun sempat dilarikan ke RSU 45, dan kemudian dirujuk ke RS Gunung Jati Cirebon, namun jiwanya tidak tertolong. Bupati Aang yang melayat korban meminta agar kedepaanya, walau bertitel pacuan kuda tradisional, para joki harus dalam kondisi sehat dan perhatian keamanan.

Pacuan kuda yang dilangsungkan di arena pacuan kuda jalan lingkar Cijoho-Cirendang, dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke 64 dan Hari Jadi Kuningan ke 511 ini mempertandingkan kelas Derbi (Bergengsi) dan kelas tradisional A  sampai kelas E.

Lebih dari 100 pejoki adu ketangkasan memberikan suguhan  menarik bagi ribuan penonton. Bayangkan joki bisa terpelanting dari pelana ketika bendera start dikibarkan. Bahkan diantaranya harus mendapat perawatan dari tim medis yang sudah standbay di lokasi. Adapula kuda yang lepas dari lintasan melabrak penonton..

Kabag Humas, Drs. Yudi Nugraha, M.Pd menyatakan, pacuan kuda tradisional IV merupakan pesta rakyat Kuningan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke 64 dan Hari Jadi ke 511 Kunigan. Dengan maksud untuk melestarikan pacuan kuda tradisional sebagai tradisi dan ciri khas daerah Kuningan. Juga untuk mengembangkan potensi wisata daerah yang belum tergali, mencari bibit atlet berkuda potensial, sebagai wahana hiburan rakyat, dan salah satu bentuk penghargaan Pemkab Kuningan terhadap budaya daerah Kuningan.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda dalam sambutannya mengungkapkan, olah raga pacuan kuda tidak selamanya mahal, kendati dibutuhkan modal untuk pemeliharaan kuda, dan harus memiliki keterampilan menunggang dan beberapa teknik lainnya harus dipelajari. “Lewat event ini pandangan olahraga mahal bisa berubah dan bahkan bisa dinikmati oleh semua kalangan seperti disaksikan sekarang ini,” katanya.

Logo kuda Kuningan, lanjutnya,  memberian simbol sebagai kendaraan perang yang gesit dan tangkas dalam perjalanan sejarah melawan penjajah. Semangat kecil-kecil kuda Kuningan telah mengantarkan sukses sebagian masyarakat Kuningan baik yang ada maupun di luar Kuningan. “Di Kuningan, kuda telah menjadi bagian kehidupan masyarakat mulai dari Delman sebagai angkutan ciri khas Kuningan maupun sebagai hiburan,” kata Aang.

Pacuan kuda memperebutkan piala dan uang pembinaan dari Bupati Kuningan. Tampil sebagai juara kelas A, Suwit dari Lebakardin, Ajat Ciomas-Ciawigebang, dan Suhanan Awirarangan. Kelas B, Dodo Gerba, Atoy Gerba, Ahim dari Lebakardin. Kelas C,  Bandi Cijoho, Nono Kopral Lebakardin, dan Rois Jaenudin dari Gerba.

Kelas D, Cimon Cigadung, Olay Winduhaji, Yogi Sukamulya, dan juara harapan Amsori Buleud dari Lebakardin. Kelas E, Sakur Lebakardin, Andri Lebakardin, Uhen Winduhaji, dan juara harapan Wawan dari Lebakardin. (tan)

Eks Kewedanaan Kadugede Mengembangkan Kebudayaan

Kadugede, IB

Kecamatan Kadugede memiliki asset gedung kuno yang bernilai sejarah tinggi. Gedung tua yang dibangun pada zaman penjajahan itu sudah lama dibiarkan tak dipugar. Padahal selama zaman kemerdekaan, bangunan itu dimanfaatkan untuk kegiatan Kantor Kewedanaan wilayah Kadugede. Namun tidak pernah direnovasi.

Saat ini, kata Camat Kadugede,  Yanuar Suyono, Sm.Hk pada masa kepemimpinnya Bupati H. Aang Hamid Suganda merespon terhadap keinginan memugar gedung bersejarah itu. Atas dasar komitmen tiu, dirinya kerjasama dengan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Kuningan merencanakan dan menganggarkan kebutuhan rehab mencapai Rp. 125 juta.

Pada tahap pertama dana bantuan rehab turun sebesar Rp. 25 juta. Dengan dana sebesar itu mantan Camat Mandirancan ini berkonsultasi lagi ke Dinas Tata Ruang, yang menyebutkan berdasarkan skala prioritas yang perlu direhab adalah atap gedung utama. “Dana sebesar dua puluh lima juta rupiah itu digunakan untuk  merenovasi  atap bangunan utama gedung,” terang Yanuar.

Pelaksanaan rehab secara swadaya itupun kini sudah usai, dan sudah nampak terlihat hasilnya. Rehab bangunan kuno untuk tahap berikutnya, kata Yanuar, akan dilakukan untuk bagian tembok, kusen dan aksesori. Tahap terakhir yang akan dipugar adalah bagian pendopo.

Eks kantor kewedanaan inipun saat ini sebenarnya tidak nganggur. Diantaranya dimanfaatkan untuk aktifitas Kantor UPTD Hutbun.

Ia menginginkan ke depannya bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk aktivitas dan pengembangan seni dan kebudayaan di wilayah Kecamatan Kadugede.

“Saya berharap nanti bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif seperti seminar dan pagelaran seni sebagai bukti rasa memiliki dan kepedulian untuk melestarikan peninggalan leluhur kita,” harap Yanuar, akhir Agustus lalu. (tan)

SSB Tunas Cibingbin Kontribusi Pemain Pesik Suratin

Cibingbin, IB

Sekolah Sepakbola (SSB) Tunas Cibingbin sejak berdiri tahun 2003 lalu tetap eksis dengan kondisi seadanya. Betapa tidak, SSB pimpinan Kusnara, 36 tahun ini tidak memiliki anggaran yang memadai. Untuk home base saja menggunakan Lapang Sepakbola Desa Dukuhbadag Kecamatan Cibingbin.

Untuk aktivitas sehari-hari, kata Ero, dirinya bersama Sekdes Dukuhbadag Dani mengelola di Blok Kliwon RT 10/1 Desa Dukuhbadag.

Kendati memiliki keterbatasan sarana dan fasilitas penunjang sebagai sebuah SSB, namun dirinya tetap optimis untuk maju. Pasalnya, selama ini SSB yang secara teknis dibantu Asisten Pelatih Jumansyah ini mampu merekrut siswa calon pesepakbola dari Kecamatan Cibingbin, Cibeureum, dan Desa Cipajang Kecamatan Banjarharjo Kab. Brebes.

“Kita mengelompokkan dalam tiga kategori, yakni kelompok usia SD memiliki 15 orang, SMP 25 orang, dan kelompok SMA 15 orang,” terang Ero, Senin lalu di Pendopo Kantor Camat Cibingbin.

Jiwa olahragawan nampaknya ingin ditularkan pada juniornya, termasuk menjadi instruktur ekskul sepakbola di SMAN Cibingbin.  Adapun prestasi yang pernah dicapai selama ini diantaranya menjadi penyuplai Pesik Suratin yang menjadi peserta pada Popwil di Indramayu belum lama ini. “Pada Popwil ini dari SSB Tunas Cibingbin empat orang menjadi skuat Pesik Suratin yakni Irwan Hidayat, Idham (stoper), Asep Nurhidayat (gelandang), dan Dani Aditya (libero),” terang Ero yang baru diangkat PNS Agustus ini.

Di Kabupaten Kuningan ada 10 SSB. Ero menargetkan setidaknya masih bisa masuk empat besar pada Festival antar SSB se-Kab. Kuningan. Dengan semangatnya itulah, ketika dapat honor dari melatih dirinya menggunakan untuk menambah biaya pelatihan.

Padahal untuk pembinaan sehari-hari diperlukan dana yang tidak kecil, baik untuk peralatan maupun honor pelatih. Namun dengan semangat ingin memajukan sepakbola di wilayah Cibingbin, tanpa sponsor ataupun bapak angkat aktivitas tetap berjalan normal.

Camat Cibingbin Drs. Agus Basuki, M.Si yang tengah disibukan dengan pembenahan kantor barunya tetap memberikan dorongan dan dukungan untuk kemajuan SSB ini. Agus merupakan camat yang baru beralih tugas dari Camat Pancalang. Saat ini kantor Camat Cibingbin nampak lebih rapi dengan tambahan lapangan volly ball di depan kantor. Mantan Camat Pancalang ini memang nampak giat menata lingkungan kerjanya. (tan)

Haekal Peringkat Tiga Kejurnas Catur Junior

Kadugede, IB

HAEKAL LOGIKA AL FARABI raih peringkat tiga Kejuaraan Catur Cepat Junior Galamedia. Pada Kejuaran yang dihelat di Bandung selama dua hari, 1 – 2 Agustus 2009 itu, siswa kelas V SD Negeri 2 Kuningan ini mampu menyingkirkan 54 pesaingnya untuk bertengger di posisi ketiga kategori junior G.25.

HAekal QeisPutra Iwan Yusuf Ridwan ini mampu meraih score 5,5, bunch 28,5, berg 20,75 dan 22,5 progr. Ia hanya kalah dari SEAN WINSHAND C, pecatur Junior DKI Jakarta yang meraih 7 poin, dan DANI KRISDAYADI, Kabupaten Bandung 6 poin.

Di rumahnya, Jalan Raya Ciamis Kuningan No.9 Windujanten Kecamatan Kadugede Kab. Kuningan sudah berjejer piala dan penghargaan catur dari berbagai kejuaran. Baik tingkat kabupaten, wilayah, provinsi maupun nasional.

Beberapa prestasi yang telah ditorehkan bocah kelahiran Majalengka, 15 Juni 1999 itu diantaranya Juara I Kejurnas Catur Cepat DIGPA CHESS CUP 2007,  23-24 Juni 2007 di Cibubur/Piala, Juara I Kejuaran Catur JANTUNG SEHAT 2008, 26-27 Januari 2008 di Kuningan dan Juara III Catur se wilayah III Cirebon PPCC II 2008, 8-10 Pebruari 2008.

Selain itu Juara I Kejurda Catur 2008, 17 – 22 Maret 2008  di Bandung. Pada kejuaraan ini, Ia dinobatkan pula sebagai pemain terbaik. Berikutnya, Juara I catur se wilayah Priangan Timur Plus 2008 di Garut dan Juara I O2SN tingkat SD Kabupaten Kuningan 2008,  di Kuningan.

Prestasi mentereng lainnya yakni sebagai Juara II Kejuaran Catur Warcreb 2008, 27 Desember 2008 serta Juara I POPKAB Tingkat SD Kab. Kuningan 2009 di Kuningan.

Iwan memohon do’a dan dukungannya dari masyarakat Kabupaten Kuningan untuk lebih berprestasi di Kejurnas Catur di Palangkaraya, 11 – 20 November 2009. “Semoga anak kami bisa mengharumkan nama Kabupaten Kuningan khususnya, dan umumnya Jawa Barat,” harap Iwan. (tan)

SMAN Mandirancan Kebanggaan Kuningan

Taufik Aang Atik

Mandirancan, IB

SMA Negeri 1 Mandirancan kini menjadi kebanggaan Kabupaten Kuningan. Kebanggaan itu ditorehkan berkat prestasi gemilang sebagai peraih anugerah Widyamandala Utama dari Presiden SBY sebagai sekolah paling sehat.

Tak aneh, sekolah yang dipimpin Drs. Dedi Suwardi, M.Pd ini sering mendapat kunjungan untuk studi banding dari daerah lain. Seperti yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta pada awal Juli lalu.

Dedi Suwardi bersama para guru memiliki komitmen ketika ada sampah. Komitmen itu yakni bagaimana mengajak para siswa untuk sadar membuang sampah secara benar. Ternyata budaya ini direspon pula oleh masyarakat sebagai tanggung jawab bersama dalam menangani sampah. Ia mengutarakan mengenai cara-cara penghematan sumberdaya alam di lingkungan sekolah bersama-sama.

Langkah permulaan dilakukan dengan menyadarkan guru-guru. Kemudian menugaskan guru-guru ketika ada workshop, seminar, dan lain-lain, sehingga semua komitmen upaya untuk setiap awal bulan ada penilaian kelas. Dalam hal ini, semua wali kelas dilibatkan apel. Hasil penilaian terlihat dari kibaran bendera putih di salah satu kelas yang berarti bersih dan terbaik selama tiga minggu..

Pihak sekolah sendiri telah menyediakan seperangkat alat-alat kebersihan. Tetapi bagi yang terkotor, jelek diberi bendera hitam. Sebagai hukumannya, selama seminggu wajib membersihkan kelas bersama wali kelasnya. Artinya, wali kelas suka atau tidak suka terlibat, karena enggan dipermalukan di dalam upacara penerimaan bendera itu ajang tergengsi setiap awal bulan.

Komunikasi dengan ortum

Komunikasi dengan orang tua dilakukan selama dua kali dalam setahun. Pertama dilakukan pada awal tahun dan akhir semester setiap pengambilan raport harus harus disertai ortumnya. Pada kesempatan itulah disosialisasikan kepada mereka tentang lingkungan hidup dan mendukungnya.

Menjawab pertanyaan tentang methode mengajar lingkungan hidup, Dedi menjelaskan, dalam materi lingkungan hidup tersendiri, dengan menambah jam kelas. Secara formal, sejak tahun 2004 kami telah mengikuti lomba sekolah berbudaya lingkungan tingkat jawa barat, dan berhasil sebagai juara pertama.

Sebagaimana diketahui, sekolah itu telah sukses meraih penghargaan Adiwiyata dari Menteri Negara Lingkungan Hidup yang diberikan kepada sekolah yang peduli terhadap lingkungan. Indikator Adiwiyata yang harus dipenuhi dan berkesinambungan selama empat tahun Adiwiyata Mandiri, atau sejak tahun 2004.

Kepala BPLHD Kab. Kuningan Drs. H. Atik Suherman, M.Si mengatakan, kunjungan tersebut bukan saja dari Yogyakarta, tetapi sering juga dari Jakarta, Sulawesi dan Bali. Kunjungan ini erat kaitannya dengan dijadikan percontohan karena selama empat tahun berturut-turut SMAN 1 Mandirancan mendapatkan Adiwiyata. Termasuk yang belum lama ini diterima bersamaan dengan piala adipura dari Presiden RI di Yogyakarta. “Kami dari BPLH merasa bangga minimal beberapa sekolah bisa mencontoh seperti SMA 1 Mandirancan,” ujar Atik.

Langkah SMAN Mandirancanan, nampaknya telah diikuti oleh Sekarang SMPN 2 Pasawahan dan SMPN 1 Kuningan. “SMPN 2 Pasawahan bahkan telah meraih penghargaan untuk pertama kali pada tahun 2009 ini. Mudah-mudahan langkah ini diikuti oleh sekolah lainnya,” harap Atik.

Ketua rombongan Yogyakarta, Ir. Kuncoro Adiprowo, MMA mengatakan, model seperti SMA 1 Mandirancan ini belum ada di Yogyakarta. Menurut Kabid Pengembangan Kapasitas Yogyakarta ini, penerapan secara sederhana sudah ada. Kalau untuk SMA di sana agak sulit diarahkan karena perbedaan sosiologinya. Sosiologinya SMA 1 Mandirancan ini terletak di daerah pinggiran sehingga gampang diarahkan, beda dengan di kota cukup berat. Belum lagi faktor egois penduduk, tapi di desa masyarakatnya disuruh manut saja. Hal itu tergambar dari prestasi sebagai Adiwiyata yang diraih oleh SMAN 2 Gunung Kidul.

“Pada 2009 ini kita mengirim sepuluh sekolah, tapi yang lolos baru satu. Ini sebuah tantangan. Dengan potensi yang dikembangkan seperti sampah kompos, organik, plastik dll justru guru-guru saya ajak biar terbuka wawasan itu,” terang Kuncoro. (rml)

SMAN Darma Merangkak Dari Bawah

Darma, IB

SMA Negeri Darma Kabupaten Kuningan benar-benar merangkak dari bawah dan mulai ada peningkatan yang signifikan. Peningkatan ini, kata Kepala SMAN Darma, Drs. Dedi Harun, dimulai sejak berdiri tahun 2006 jumlah murid yang diterima hanya 46 orang, tahun berikutnya meningkat menjadi 54 orang, meningkat lagi menjadi 68 orang tahun pelajaran 2008/2009. Dan pada tahun ini meningkat luar biasa menjadi 160 siswa baru dari 174 pendaftar.

Seiring peningkatan siswa di sekolah ini, sedikit demi sedikit APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) mulai merangkak naik. Bayangkan saja, pada awal berdiri APBS hanya Rp. 28 juta, meningkat menjadi Rp. 84 juta pada tahun pelajaran 2007/2008, dan meningkat lagi menjadi Rp. 124 juta pada tahun pelajararan 2008/2009. “Tahun ini karena jumlah siswa baru mencapai 160 siswa, maka APBS pun meningkat tajam menjadi Rp. 343 juta,” terang Dedi Harun  kepada IB, Kamis lalu. Sedangkan dana sumbangan bulanan hanya Rp. 40.000.

Untuk dana sumbangan tiga tahunan kelas X Rp. 600.000, kelas XI Rp. 285.000 dan kelas XII Rp. 671.000. Walau sekolah ini terbilang cukup baru dan baru meluluskan satu alumni, namun urusan kualitas tak bisa dikesampingkan. Buktinya satu orang alumninya bernama Yudi Sobarudin berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Unpad Bandung dengan bebas biaya pendidikan. Yudi merupakan profil siswa yang cerdas yang sejak kecil diasuh oleh kakeknya, mantan penjaga sekolah.

“Sebagai sekolah baru, kami juga mendapat binaan dari bapak Brijen TNI Hasan Mawardi, Iwan Sonjaya, S.Pd Wakil Ketua DPRD Kuningan dan DR. H. E. Kuswandy AM, M.Pd mantan Kadisdik Kuningan,” ujarnya.

Kendati masuk kategori dengan APBS kecil, SMAN Darma tetap memberikan kesempatan bagi siswa yang tidak mampu. Hingga saat ini terdata sejumlah 20 siswa baru yang telah mengajukan surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang ditanda-tangani oleh kepala desanya.

Dari sisi SDM, di sekolah ini jumlah pengajarnya terbilang cukup banyak. Bayangkan saja, untuk membina jumlah siswa sebanyak 282 siswa ternyata dibina oleh 56 guru, dengan perbandingan 1 : 5 guru. Dari jumlah itu yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi baru dua orang yakni dirinya dan Ibu Nani, dan rencananya bertambah dengan Ibu eni.

Untuk mencukupi kekurangan jam mengajar 24 jam per minggu bagi para guru, maka guru terpaksa harus mengajar bidang yang sama di sekolah lain. Cara menyiasatinya ditambah dengan mata pelajaran mulok seperti Bahasa Arab, Basa Sunda, dan Ilmu Pengetahuan Lingkungan. Sementara beberapa mapel yang belum ada gurunya yakni Matematika baru ada satu, Ekonomi, Fisika dan Kimia yang  terpaksa menggunakan guru yang ada. (tan)