Archive for the ‘edisi 131’ Category

h1

Tuntutan Penghasilan Tetap Kuwu dan Perangkat Desa Menguat

16 September 2009

Kuningan, IB

Tuntutan agar para Kepala Desa dan Perangkat Desa mendapat penghasilan tetap semakin menguat. Pangajuan aspirasi ini mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa.

Demo kuya acepKuwu Cijemit Kec. Ciniru, Yaya Cahyadi bersama beberapa kuwu lainnya dengan getol melancarkan tuntutan melalui DPRD. Aspirasinya diterima oleh anggota DPRD Kuningan baru,  seusai mereka dilantik Minggu (6/9).

Menurut Yaya dalam PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa, pada Pasal 27 ayat bahwa Kepala Desa dan Perangkat Desa diberikan penghasilan tetap setiap bulan dan/atau tunjangan lainnya sesuai dengan kemampuan desa. Penghasilan tetap dan/atau tunjangan lainnya yang diterima Kepala Desa dan Perangkat Desa berasal dari APBD yang disalurkan melalui APBDesa dengan ketentuan paling sedikit sama dengan upah minimum regional kabupaten/kota.

Yaya sendiri berpendirian bahwa langkahnya bukanlah untuk kepentingan pribadi semata, tetapi ada dasar hukumnya. Sebagai bukti, dia menyodorkan secarik kertas Surat dari Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri) No. 900/1303/SJ tertanggal 6 April 2009 tentang kedudukan keuangan kepala desa dan perangkat desa di seluruh Indonesia.

Penghasilan tetap untuk kabupaten/kota di luar Jawa tidak ada masalah dan sudah dilaksanakan, sedangkan di Pulau Jawa ada permasalahan karena terkait tanah bengkok.

Anggota DPRD Kuningan Acep Purnama, SH dan Mandjud berjanji akan berupaya membantu mewujudkan keinginan para kuwu itu. “Mudah-mudahan keinginan itu dapat terwujud, mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan,” kata Acep dan mantan Kuwu Cikadu Kec. Nusaherang ini.

Asisten Pemerintahan Setda Kuningan, H. Bambang T. Mardono, SH. MM saat diminta pendapatnya terhadap permasalahan itu tidak berkomentar banyak. Ia hanya memberikan sedikit referensi bahwa di Jawa Barat yang telah memberikan tunjangan tetap dari APBD baru Kabupaten Sumedang saja.

Sementara yang lainnya, termasuk di wilayah III Cirebon belum ada.  Apalagi anggaran untuk memberikan tunjangan tetap itu sangat besar. Bayangkan saja dari jumlah sekira 4.000 kuwu dan perangkat desa bila dikalikan Rp. 575.000, berjumlah sekira Rp. 2,3 milyar/bulan atau Rp. 27,6 miliar per tahun.

Ketua APDESI Kab. Kuningan, Mulyono AR mengatakan, akan terus berjuang mewujudkan keinginan para kuwu itu. Cuma, kata Kuwu Sindang Agung ini, penyampaiannya tidak perlu ramai-ramai tapi ditempuh melalui pendekatan secara baik-baik. (tan)

Iklan
h1

Calon Anggota DPRD Kuningan Dilantik

16 September 2009

Pelantikan DPRD (3)Kuningan, IB

Sebanyak 50 Calon Anggota DPRD Kabupaten Kuningan periode 2009-2014 dilantik oleh Ketua Pengadilan Negeri Kuningan, Deni Lumban Tobing, Sh. MH, Minggu (6/6). Pelantikan anggota legislatif ini dilaksanakan dalam Sidang Istimewa DPRD yang dihadiri Bupati, Muspida, para pejabat, dan mantan legislatif.

Pelantikan didasarkan pada Keputusan Gubernur Jabar No. 171/Kep.843-DEKON/2009 tanggal 19 Agustus 2009 tentang peresmian keanggotaan DPRD Kabupaten Kuningan hasil pemilu 2009 masa bakti 2009-2013.

Dibanding di kabupaten/kota lainnya di wilayah III Cirebon, pelantikan Caleg DPRD Kuningan  paling belakang. Adapun komposisi keanggotaan DPRD Kab. Kuningan periode 2009-2014, yakni PDIP (14 orang), Demokrat (7), Golkar (7), PAN (6), PKS (5), PPP (4), GERINDRA (2), PKB (2), PBB (1), PDK (1), dan PKPI (1).

Acep Calon Kuat Ketua

Berdasarkan ketentuan dalam UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, pada pasal 354 ayat (1),  Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota terdiri dari seorang ketua dan tiga orang wakil ketua untuk DPRD Kabupaten/Kota yang beranggotakan 45-50 orang. Pimpinan berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak pertama di DPRD Kabupaten/Kota.

Melihat aturan demikian maka dapat diperkirakan yang akan menjadi pimpinan DPRD Kabupaten Kuningan adalah H. Acep Purnama, SH (PDIP), Drs. H. Toto Hartono (Demokrat), H. Yudi Budiana, SH (Golkar), Drs. H. Toto Suharto, S.Farm, Apt (PAN).

Saat acara paturai tineung anggota DPRD Periode 2004-2009, Jum’at (4/9) di Pendopo Bupati, Ketua DPRD Kuningan H. Yudi Budiana, SH mengatakan,  calon anggota DPRD incumbent yang kembali duduk berjumlah 14 orang dari 50.

Selama kurun waktu lima tahun, DPRD Kuningan telah berhasil menetapkan 177 buah Perda, 74 keputusan DPRD, dan 141 keputusan pimpinan.

Aksi Demo

Selama pelantikan berlangsung beberapa komponen masyarakat di luar pagar menyampaikan aspirasinya. Bahkan ada yang sambil melemparkan telor busuk. Salah satu yang mengajukan aspirasi yakni Jejen Zaenudin dari FKHM yang menyuarakan agar para sukwan diprioritaskan dalam pengisian formasi CPNS 2009. (tan)

h1

Pembangunan dan Terorisme

16 September 2009

Kabupaten Kuningan saat ini dikenal sebagai daerah yang sukses melaksanakan pembangunan imprastrukur dibanding kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat. Berbagai pembangunan saat ini dapat dilihat dan dirasakan (nyata tur karasa) oleh setiap orang yang mengunjungi kabupaten paling timur di Jawa Barat ini.

Tengok saja saat ini Kuningan memiliki jalan lingkar  Pramuka-Cijoho-Cirendang yang cukup bagus, kendati belum berfungsi optimal. Pembangunan jalan lingkar Waduk Darma sebentar lagi akan usai dan siap digunakan. Dengan selesainya pembangunan jalan ini, maka Obyek Wisata Waduk Darma akan lebih prospektif  sebagai salah satu sumber terbesar pendapatan daerah dari sektor pariwisata.

Teranyar, telah selesainya pembangunan Jembatan Cijolang di Desa Tangkolo Kecamatan Subang yang semula menginginkan keluar dari wilayah administrasi Kuningan. Tak aneh atas prestasi pembangunan jalan dan jembatan itu, Bupati Kuningan sudah mendapat penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum.

Namun saat ini citra Kabupaten Kuningan tengah terpuruk dengan image sebagai sarang teroris pasca tertembaknya Ibrohim, “sang jendral” pengeboman Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton, Jakarta asal Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kuningan, dalam penyergapan di Desa Beji, Temanggung, otomatis melekat. Image tersebut tampaknya sangat dirasakan Bupati H Aang Hamid Suganda

Citra Kabupaten Kuningan di mata masyarakat nasional  sedang tercoreng. Penyebabnya, pelaku perencana dan peledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Ibrohim adalah warga Kuningan. Meski Ibrohim dan keluarganya merupakan pendatang dari Jakarta, namun karena sudah mengantongi kartu identitas (KTP) Kuningan, Ibrohim tetap saja disebut warga Kabupaten Kuningan.

Selain Ibrohim, mereka yang masuk dalam daftar teroris adalah anggota keluarga H Jaelani. Yakni Saefudin Juhri alias Saefudin Jaelani (SJ) dan Muhammad Syahrir alias Aing. Kedua nama terakhir itu adalah putra kandung H Jaelani, warga RT 28/10 Kampung Caringin, Dusun Kliwon, Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

Ketiga orang itulah yang membuat Kuningan jadi terkenal. Bahkan beberapa media menjuluki Trio Kuningan sebagai pelaku pemboman. Terang saja sebutan itu cukup memukul perasaan masyarakat Kota Kuda. Apalagi bagi mereka yang sereing bepergian ke luar daerah. (redaksi)

h1

Dipecat, Nupri Bacok Mantan Bosnya

16 September 2009

Hantara, IB

Pagi buta, Sabtu (8/8) sekira pukul 06.00 wib, warga RT. 16/04 Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan dibikin geger oleh peritiwa pembacokan Karman Sarwa, S.Pd.

Pelaku pembacokan,  Nupri Irawan, 21 tahun warga Dusun Buyut Saur Desa/Kecamatan Ciniru diduga merasa sakit hati dipecat sebagai penjaga sekolah SMPN 2 Garawangi sehingga melakukan pembacokan secara membabi buta terhadap mantan bosnya itu.

Nampaknya, pelaku yang masih kuliah di Perguruan tinggi swasta ini telah mempersiapkan diri secara matang untuk melampiaskan dendamnya itu. Ia seorang berangkat dari rumahnya dengan mengendarai sepeda motor Honda Grand menuju rumah Karman di Blok Sawahbera Desa Tundagan.

Sesampai di rumah tujuan, Ia langsung mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Korban karena mengetahui gelagat ga baik melarikan diri menuju dapur. Menurut keterangan saksi mata, pelaku memburu korban ke dapur dan langsung mendobrak pintu. Kesempatan itu tak disia-siakan pelaku dengan menyabetkan golok berulangkali, dan ditangakis oleh Karman. Akibatnya tangan kiri Karman luka berat hingga dagingnya terkelupas sekira 10 cm dengan kedalaman 2 cm.

Akibatnya, Karman ambruk karena banyak darah bercucuran. Kondisi itu tak disia-siakan Nupri dengan membacok pinggang sebelah kiri yang mengakibatkan luka sayat dengan kedalaman 2,5 cm dan lebar 8 cm. Tak puas hingga itu, jejaka yang sudah dirasuk setan ini menyabet kepala dan pundak korban, hingga tak berdaya. Melihat korban tak berdaya, Nupri melarikan diri dan langsung menyerahkan diri ke Polres Kuningan.

Saat kejadian, mungkin karena terkesima mantunya disabet golok, Jahani hanya bisa diam membisu, begitu pula Awani langsung ambruk pingsan. Baru kemudian berteriak minta tolong. Tak lama pertolongan datang dari para tetangga dan mendapat pertolongan medis pertama dari mantri Iman. Untuk selanjutnya, korban dilarikan ke UGD RSU 45’Kuningan untuk mendapatkan perawatan medis.

Korban sendiri terbilang kuat fisiknya, walau kena sabetan golok tidak sampai pingsan. Ia masih nampak merintih menahan sakit dengan mengucapkan astagfirullah al ‘adzim saat ditangani tim medis. Luka pertama yang dijahit bagian pinggang korban, kemudian bagian tangan yang terkelupas ditempelkan kembali.

Tak lama berselang, sekira pukul 07.00 wib, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Kuningan, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si didampingi Kabid Pendas, Mulyana, M.Pd datang menjenguk bersama beberapa kepala sekolah.

Kapolres Kuningan AKBP Nurullah, SH melalui Kasatreskrim, AKP Sukirman menjelaskan, kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka Nupri tetep berlanjut. Untuk sementara motif penganiayaan karena sakit hati lantaran dipecat dari pekerjaan nya oleh korban.  (tan)

h1

Pacuan Kuda Tradisional Makan Korban Jiwa

16 September 2009

Kuningan, IB

Pesta Rakyat Pacuan Kuda Tradisional Kabupaten Kuningan ke IV, hari Minggu 9 Agustus 2009 lalu, berlangsung meriah. Sayang kemeriahan itu ternodai dengan jatuhnya korban jiwa seorang joki, Kusnadi warga Cijoho Buana meninggal dunia.

Kusnadi terpelanting dari pelana dan tertindih kuda dan menghembuskan napas terakhirnya. Walaupun sempat dilarikan ke RSU 45, dan kemudian dirujuk ke RS Gunung Jati Cirebon, namun jiwanya tidak tertolong. Bupati Aang yang melayat korban meminta agar kedepaanya, walau bertitel pacuan kuda tradisional, para joki harus dalam kondisi sehat dan perhatian keamanan.

Pacuan kuda yang dilangsungkan di arena pacuan kuda jalan lingkar Cijoho-Cirendang, dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke 64 dan Hari Jadi Kuningan ke 511 ini mempertandingkan kelas Derbi (Bergengsi) dan kelas tradisional A  sampai kelas E.

Lebih dari 100 pejoki adu ketangkasan memberikan suguhan  menarik bagi ribuan penonton. Bayangkan joki bisa terpelanting dari pelana ketika bendera start dikibarkan. Bahkan diantaranya harus mendapat perawatan dari tim medis yang sudah standbay di lokasi. Adapula kuda yang lepas dari lintasan melabrak penonton..

Kabag Humas, Drs. Yudi Nugraha, M.Pd menyatakan, pacuan kuda tradisional IV merupakan pesta rakyat Kuningan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke 64 dan Hari Jadi ke 511 Kunigan. Dengan maksud untuk melestarikan pacuan kuda tradisional sebagai tradisi dan ciri khas daerah Kuningan. Juga untuk mengembangkan potensi wisata daerah yang belum tergali, mencari bibit atlet berkuda potensial, sebagai wahana hiburan rakyat, dan salah satu bentuk penghargaan Pemkab Kuningan terhadap budaya daerah Kuningan.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda dalam sambutannya mengungkapkan, olah raga pacuan kuda tidak selamanya mahal, kendati dibutuhkan modal untuk pemeliharaan kuda, dan harus memiliki keterampilan menunggang dan beberapa teknik lainnya harus dipelajari. “Lewat event ini pandangan olahraga mahal bisa berubah dan bahkan bisa dinikmati oleh semua kalangan seperti disaksikan sekarang ini,” katanya.

Logo kuda Kuningan, lanjutnya,  memberian simbol sebagai kendaraan perang yang gesit dan tangkas dalam perjalanan sejarah melawan penjajah. Semangat kecil-kecil kuda Kuningan telah mengantarkan sukses sebagian masyarakat Kuningan baik yang ada maupun di luar Kuningan. “Di Kuningan, kuda telah menjadi bagian kehidupan masyarakat mulai dari Delman sebagai angkutan ciri khas Kuningan maupun sebagai hiburan,” kata Aang.

Pacuan kuda memperebutkan piala dan uang pembinaan dari Bupati Kuningan. Tampil sebagai juara kelas A, Suwit dari Lebakardin, Ajat Ciomas-Ciawigebang, dan Suhanan Awirarangan. Kelas B, Dodo Gerba, Atoy Gerba, Ahim dari Lebakardin. Kelas C,  Bandi Cijoho, Nono Kopral Lebakardin, dan Rois Jaenudin dari Gerba.

Kelas D, Cimon Cigadung, Olay Winduhaji, Yogi Sukamulya, dan juara harapan Amsori Buleud dari Lebakardin. Kelas E, Sakur Lebakardin, Andri Lebakardin, Uhen Winduhaji, dan juara harapan Wawan dari Lebakardin. (tan)

h1

Eks Kewedanaan Kadugede Mengembangkan Kebudayaan

16 September 2009

Kadugede, IB

Kecamatan Kadugede memiliki asset gedung kuno yang bernilai sejarah tinggi. Gedung tua yang dibangun pada zaman penjajahan itu sudah lama dibiarkan tak dipugar. Padahal selama zaman kemerdekaan, bangunan itu dimanfaatkan untuk kegiatan Kantor Kewedanaan wilayah Kadugede. Namun tidak pernah direnovasi.

Saat ini, kata Camat Kadugede,  Yanuar Suyono, Sm.Hk pada masa kepemimpinnya Bupati H. Aang Hamid Suganda merespon terhadap keinginan memugar gedung bersejarah itu. Atas dasar komitmen tiu, dirinya kerjasama dengan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Kuningan merencanakan dan menganggarkan kebutuhan rehab mencapai Rp. 125 juta.

Pada tahap pertama dana bantuan rehab turun sebesar Rp. 25 juta. Dengan dana sebesar itu mantan Camat Mandirancan ini berkonsultasi lagi ke Dinas Tata Ruang, yang menyebutkan berdasarkan skala prioritas yang perlu direhab adalah atap gedung utama. “Dana sebesar dua puluh lima juta rupiah itu digunakan untuk  merenovasi  atap bangunan utama gedung,” terang Yanuar.

Pelaksanaan rehab secara swadaya itupun kini sudah usai, dan sudah nampak terlihat hasilnya. Rehab bangunan kuno untuk tahap berikutnya, kata Yanuar, akan dilakukan untuk bagian tembok, kusen dan aksesori. Tahap terakhir yang akan dipugar adalah bagian pendopo.

Eks kantor kewedanaan inipun saat ini sebenarnya tidak nganggur. Diantaranya dimanfaatkan untuk aktifitas Kantor UPTD Hutbun.

Ia menginginkan ke depannya bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk aktivitas dan pengembangan seni dan kebudayaan di wilayah Kecamatan Kadugede.

“Saya berharap nanti bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif seperti seminar dan pagelaran seni sebagai bukti rasa memiliki dan kepedulian untuk melestarikan peninggalan leluhur kita,” harap Yanuar, akhir Agustus lalu. (tan)

h1

SSB Tunas Cibingbin Kontribusi Pemain Pesik Suratin

16 September 2009

Cibingbin, IB

Sekolah Sepakbola (SSB) Tunas Cibingbin sejak berdiri tahun 2003 lalu tetap eksis dengan kondisi seadanya. Betapa tidak, SSB pimpinan Kusnara, 36 tahun ini tidak memiliki anggaran yang memadai. Untuk home base saja menggunakan Lapang Sepakbola Desa Dukuhbadag Kecamatan Cibingbin.

Untuk aktivitas sehari-hari, kata Ero, dirinya bersama Sekdes Dukuhbadag Dani mengelola di Blok Kliwon RT 10/1 Desa Dukuhbadag.

Kendati memiliki keterbatasan sarana dan fasilitas penunjang sebagai sebuah SSB, namun dirinya tetap optimis untuk maju. Pasalnya, selama ini SSB yang secara teknis dibantu Asisten Pelatih Jumansyah ini mampu merekrut siswa calon pesepakbola dari Kecamatan Cibingbin, Cibeureum, dan Desa Cipajang Kecamatan Banjarharjo Kab. Brebes.

“Kita mengelompokkan dalam tiga kategori, yakni kelompok usia SD memiliki 15 orang, SMP 25 orang, dan kelompok SMA 15 orang,” terang Ero, Senin lalu di Pendopo Kantor Camat Cibingbin.

Jiwa olahragawan nampaknya ingin ditularkan pada juniornya, termasuk menjadi instruktur ekskul sepakbola di SMAN Cibingbin.  Adapun prestasi yang pernah dicapai selama ini diantaranya menjadi penyuplai Pesik Suratin yang menjadi peserta pada Popwil di Indramayu belum lama ini. “Pada Popwil ini dari SSB Tunas Cibingbin empat orang menjadi skuat Pesik Suratin yakni Irwan Hidayat, Idham (stoper), Asep Nurhidayat (gelandang), dan Dani Aditya (libero),” terang Ero yang baru diangkat PNS Agustus ini.

Di Kabupaten Kuningan ada 10 SSB. Ero menargetkan setidaknya masih bisa masuk empat besar pada Festival antar SSB se-Kab. Kuningan. Dengan semangatnya itulah, ketika dapat honor dari melatih dirinya menggunakan untuk menambah biaya pelatihan.

Padahal untuk pembinaan sehari-hari diperlukan dana yang tidak kecil, baik untuk peralatan maupun honor pelatih. Namun dengan semangat ingin memajukan sepakbola di wilayah Cibingbin, tanpa sponsor ataupun bapak angkat aktivitas tetap berjalan normal.

Camat Cibingbin Drs. Agus Basuki, M.Si yang tengah disibukan dengan pembenahan kantor barunya tetap memberikan dorongan dan dukungan untuk kemajuan SSB ini. Agus merupakan camat yang baru beralih tugas dari Camat Pancalang. Saat ini kantor Camat Cibingbin nampak lebih rapi dengan tambahan lapangan volly ball di depan kantor. Mantan Camat Pancalang ini memang nampak giat menata lingkungan kerjanya. (tan)