Archive for the ‘edisi 125’ Category

h1

Kuningan Segera Miliki Islamic Center

6 Mei 2009

aang-taufik-dede-yusufKuningan, IB

Kegigihan para kiayi di Kabupaten Kuningan segera terwujud. Hal itu nampak dengan dilakukannya peletakan batu pertama pembangunan Kuningan Islamic Center (KIC) sebagai pusat studi dan pengembangan Islam oleh Wagub Jabar H. Yusuf Macan Efendi, Jum’at (24/4).

Wagub H. Dede Yusuf  menyambut gembira pembangunan KIC sebagai salah satu sarana pemberdayaan umat Kuningan pada umumnya. “Pembangunan KIC merupakan salah satu wujud kecintaan umat Islam Jabar khusus Kab. Kuningan terhadap tatanan kehidupan masyarakat yang dilandasi semangat syariat Islam,” ungkap Dede Yusuf.

Keberaadan KIC diharapkan dapat menjadi sentral dakwah Islam, memperkuat ukhuwah islamiyah serta menjadi wahana strategis bagi pemecahan masalah sosial yang dihadapi masyarakat sekitar dan masyarakat Kab. Kuningan pada umumnya.

Menurut Dede Yusuf, keutamaan dan kemuliaan Islam antara lain, bahwa Islam adalah agama yang universal dan penuh dengan keseimbangan, artinya Islam tidak hanya menekan kan nilai spiritual, ataupun nilai sosial saja. Melainkan segala kehidupan baik ekonomi, sosial politik, seni, budaya, moral dan sisi kehidupan lainnya.

Islam membuahkan cahaya bagi penganutnya di dunia dan akhirat dan membuahkan berbagai macam kebaikan dan keberkahan didunia dan akhirat. Begitu pula menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yag masuk Islam dan melipat gandakan pahala amal-amal kebaikan yang pernah dilakukan.

Fenomena Kehidupan Umat Islam

Ia pun menyoroti fenomena umat Islam yang memahami Islam tidak sesuai ajaran yang melalui  Rosulullah saw. Seperti memahami Islam hanya sebatas ibadah lahir, sehinga hanya fokus kepada ibadah ritual seperti dzikir dan shalat tanpa memperhatikana yang lainnya, dan tidak peduli dengan kondisi masyarakat di sekelilingnya. Padahal kita harus memahami dari sisi sosial juga seperti sikap tolong menolong, kepedulian atas sesama.

Pengaruh luar yang menghembuskan doktrin melalui pendidikan dan pemikiran-pemikir an yang cenderung berseberangan dengan nilai Islam, sehingga melahirkan generasi Islam tidak memahami hakekat Islam.

Langkah pemulihan dan antisipasi harus dilakukan, dengan sinergitas antara ulama dan umaro dalam pembinaan akhlak masyarakat untuk membangun universalitas Islam/pemahaman Islam secara komprehensip (kaffah) dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Alim ulama dan tokoh agama lainnya berperan tidak hanya dalam aspek pembinaan ibadah mahdhah, tetapi turut berpartisi pasi aktif dalam bidang-bidang yang lebih luas. Umaro merencanakan, mengimplementasikan, mengawasi, mengevaluasi serta menggerakkan dan memberdaya kan masyarakat.

Begitu pula, normalisasi fungsi dan sarana keagamaan secara utuh sebagai pemberdaya umat seperti ibadah ritual, ceramah, seminar, diskusi dan pelatihan, pameran, festival seni islami, serta kegiatan sosial keagamaan lainnya. Ia meng-harapkan dengan dibangunnnya KIC nanti dapat dimanfaatkan sebagai sarana pencerahan ummat dengan syariat dan kaidah Islam.

Peletakkan batu pertama KIC sebagai pusat studi dan pengembangan agama dan budaya Islam oleh Wagub Jabar Yusuf Macan Efendi, dihadiri pula oleh Kepala BKKP Wilayah Cirebon Drs. H. Ano Sutrisno, MM, Danrem Kol. Sigit Djuwono, Muspida Kuningan, Tokoh masyarakat Ir. H. Iman Taufiq, ketua PN Kuningan, para pejabat dan tokoh agama Islam di Kota Kuda ini.

Bupati Aang mengatakan, pembangunan Masjid At Taufiq sebagai inti KIC berfungsi sebagai sarana pemersatu umat dalam mewujudkan visi Kabupaten Kuningan 2008-2013 yakni “Kuningan lebih sejahtera berbasis pertanian dan pariwisata yang maju dalam lingkungan lestari dan agamais”.

Visi tersebut mengandung makna bahwa Pemkab Kuningan nmengupayakan suatu keadaan dimana masyarakat Kab. Kuningan dapat memiliki kesejahteraan lebih tinggi secara material (ekonomi) dan non material (non ekonomi) yang ditulangpunggungi oleh bidang pertanian dan pariwisata yang produktif dan berkembang pesat. Dalam kondisi lingkungan sosial yang agamis serta sumber daya alam dan lingkungan yang lestari.

Salah satu upaya untuk mewujudkan lingkungan yang agamis adalah dengan mem-bangun Kuningan Islamic Center (KIC). Meski APBD Kuningan terbatas, namun berkat kepedulian warga Kuningan yang sukses, beberapa program pembangunan dapat diwujudkan dengan swadaya dan sumbangan masyarakat.

Pembanguna KIC ini pun tak lepas dari bantuan serta semangat partisipasi yang tinggi dari Bapak Ir. H. Iman Taufik melalui Yayasan Prima Ardina Tana. Pembangunan Masjid At Taufiq Kuningan Islamic Center sangat strategis dan termasuk kualifikasi Masjid Agung dengan lingkup pelayanan Kabupaten Kluningan yang akan menampung lebih dari 2.000 jamaah.

KIC berfungsi sebagai penampungan penyusunan, pembahasan hasil pemikiran dan gagasan  pengembangan kehidupan dan kebudayaan Islam. Sebagai pusat penyelenggaraan program pelatihan dan pendidikan non formal. Sebagai pusat penyiaran agama dan kebudayaan Islam. Sebagai pusat koordinasi, dinamisasi kegiatan, pembinaan dan pengembangan dakwah islamiyah, serta sebagai pusat konsultasi informasi dan komunikasi masyarakat.

Dalam jumpa pers, Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda didampingi Sekda Drs. H. Djamaluddin Noor, MM (Ketua Panitia) dan Sekretaris Panitia KH. Ahidin Noer. Hadir pula Konsultan Perencana Ir. Toret.

KIC dibangun di atas lahan seluas 7,2 ha hektar milik Pemkab Kuningan. Fasilitas yang akan dibangun selain masjid At Taufiq antara lain asrama haji, asrama ha’had Ali (Pesantren/Perguruan Tinggi) Taman Pustaka, Sekolah Islam Berasrama, Fasilitas minat dan bakat, fasilitas olahraga, koperasi, ruang pertemuan, ruang rapat, kantor organisasi Islam dan pusat kegiatan bisnis islami.

“Sebagai sarana pengembangan agama Islam, mudah-mudahan pembangunan yang memerlukan anggaran mencapai Rp. 65 milyar ini bisa selesai selama lima tahun kepemimpinan saya,” harap Aang.

DR. Bambang Ir. Toret, menjelaskan, arah pembangunan Masjid At Taufiq sebagai inti telah sesuai dengan kiblat menurut Badan Rukyat Jawa Barat, dibangun dengan arsitektur modern tanpa meninggalkan kaidah Islam. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan citra Islam dan land mark agama Islam di Kabupaten Kuningan, dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian bagi warga Kuningan.

Masjid At Taufiq dibangun dengan luas 3.450 meter², untuk menampung 3.300 jamaah. Dengan spesifikasi (lantai 1) terdiri dari ruang serba guna luas 450M2, kapasitas 700 jamaah. Ruang pengelola, ruang VIP, sesar dan Lobi + 500 jamaah. Ruang diskusi dan training, ruang wudhu pria dan wanita, toilet pria dan wanita. Lantai 2 ruang sholat kapasitas + 1.400 jamaah. Lantai Mezzanine ruang sholat kapasitas 700 jamaah, dengan tinggi menara 33 meter.

Menanggapi pertanyaan wartawan, Bupati mengatakan,  ide pembangunan tidak meniru-niru di daerah lain tapi murni karena keinginan para kiyai. Namun permasalahannya, karena Kuningan tidak mempunyai lahan luas di pusat kota sehingga mencari lahan yang cukup luas di lokasi ini. Termasuk dananya tidak ada bargaining tapi semata-mata untuk meningkatkan Kuningan yang agamis. Waktu diperkirakan akan selesai dalam 24 bulan, tidak dibuat di pusat kota karena di lokasi ini dirancang untuk pusat kota yang dilengkapi dengan fasilitas lain. “Kita jangan hanya bisa membangun tapi harus bisa memelihara dan mengelola secara baik,” imbaunya. (tan)

Iklan
h1

Acep Berpeluang Duduki Ketua DPRD

6 Mei 2009

Hingar bingar Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9 April 2009 telah berlalu. Kini fokus perhatian diarahkan pada penetapan Calon Legislator terpilih, termasuk DPRD Kabupaten Kuningan.

Rekapitulasi penghitungan suara sendiri telah dilaksanakan oleh KPU Kab. Kuningan pada 21 April lalu. Dengan tingkat partisipasi kurang dari 60 persen.

Dengan usainya rekapitulasi, setidaknya hasil Pileg di Kab. Kuningan sudah jelas. Ter gambar siapa kiranya dan dari partai mana yang berpeluang duduk di kursi manis sebagai yang terhormat.

Untuk sementara tergambar kiranya PDI Perjuangan meraih 14 kursi bertambah 1 kursi dari Pemilu 2004, Partai Golkar meraih 7 kursi (turun 3 kursi), Partai Demokrat 7 kursi, meningkat tajam dari sebelumnya 2 kursi. Hal ini tak jauh berbeda dialami PAN Kab. Kuningan. Kali ini partai pimpinan Hj. Nining Kurnia ini meraih 6 kursi bertambah 4 kursi dari sebelumnya 2 kursi.

Sementara perolehan suara PKS, PKB dan PBB diperkirakan berkurang. PKS sebelumnya mempunyai tujuh orang wakil di DPRD Kuningan, kini turun menjadi lima kursi. Bahkan PKB harus kehilangan tiga kursi dari sebelumnya lima menjadi dua kursi. Penurunan suara PKB diduga akibat konflik internal di DPP yang merembet hingga ke daerah. Begitu pula PBB kini hanya menyisakan satu kursi, sebelumnya dua kursi. Sementara pendatang baru yakni Gerindra meraih dua kursi dan PKPI meraih satu kursi.

Atas dasar perhitungan itu, apabila komposisi pimpinan DPRD masih seperti dulu yakni seorang Ketua dan dua orang Wakil Ketua, maka peluang terbesar menjadi ketua adalah H. Acep Purnama, SH dari PDIP.  Sedangkan untuk posisi wakil ketua kemungkinan akan jatuh pada H. Yudi Budiana, SH (Golkar) yang merupakan Wakil Sekretaris DPD Partai Golkat Kab. Kuningan dan Drs. H. Toto Hartono Ketua DPD Partai Demokrat.

Sedangkan kemungkinan komposisi fraksi diperkirakan akan terbentuk tujuh fraksi yakni F.PDIP, F.Golkar, F.Demokrat, F.PAN, F.PKS, F.PPP dan Fraksi Gabungan.

h1

Kasus Money Politict MD Tak Tuntas

6 Mei 2009

Nusaherang, IB

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang suara terbanyak dalam menentukan calon legislatif (caleg) terpilih berdampak berbagai cara dilakukan untuk meraih ambisinya. Salah satu upayanya adalah melakukan tindak pidana money politict untuk dapat meraup suara sebanyak-banyaknya.

Salah satu caleg yang diduga kuat telah melakukan money politict dan banyak disorot oleh caleg lainnya dilakukan oleh MD dari Partai Demokrat Nomor Urut 1 Dapil Kuningan V.

Sorotan dikaitkan berkenaan dengan keabsahan suara caleg yang diduga money politict itu. Informasi mengenai dugaan money politict dikeluhkan Iwan Herlambang Caleg PDIP di Dapil V. “Ini harus diusut tuntas dan suara yang diraihnya harus dibatalkan karena sudah mencederai proses demokrasi,” terang Iwan belum lama ini.

Ketua Panwascam Nusaherang, Nining Rupiningsih mengatakan, tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Sukajaya Desa Cikadu setelah ada pengaduan dari Oman Rosman, 41 tahun, warga setempat dan temannya. Didampingi saksi Cu dan Iyan warga Kongsi Cikadu. Mereka mengaku telah menerima amplop dari MD melalui orang kepercayaannya, Fatma, sebesar Rp. 10.000, namun dikembalikan lagi.

Karena ada dugaan tindak pidana money politict, kasusnya sudah dilimpahkan ke Polres Kuningan. Peristiwa terjadi pada 7 April lalu. Anggota Panwaslu  Kab. Kuningan, Ali Hanafiah, SH saat ditemui IB diruang kerjanya mengatakan kasus sedang diklarifikasi. “Kami hanya sebatas mengklarifikasi, untuk proses selanjutkan, kami serahkan kepada Polres,” terangnya

Kapolres Kuningan AKBP Nurullah, SH melalui Kasat Reskrim kepada Radar membenar kan jalannya pemeriksaan terhadap MD. Dalam kasus ini pihaknya memiliki bukti uang Rp. 10 ribu dari pelapor. “Untuk kronologisnya, silakan ke Panwaslu. Kami hanya menindaklanjuti secara hukum,” ujar Sukirman.(tan)

h1

Camat Gantar Diduga Tilep Insentif LPM Desa Balareja

6 Mei 2009

Indramayu, IB

Ketua Komunitas Masyarakat Pers Anti Kekerasan dan Korupsi (Kompakk), Dadang Hermawan menyesalkan tindakan Camat Gantar WCW yang diduga telah menilep dana operasional dan insentif LPM Desa Balereja pada Nopember lalu.

“Kejadian itu jelas merupakan preseden buruk bagi tatanan kepemerintahan. Karena tidak diterimanya dana insentif dan operasional LPM itu, bukan disebabkan kesalahan administrasi melainkan unsur utang piutang antara camat dengan kuwu setempat,” katanya Sekretaris DPD Asosiasi LPM Kab. Indramayu ini, Rabu (15/4).

Menurut Dadang, dana tersebut sebenarnya bersumber dari ADD (alokasi dana desa) yang merupakan hak LPM desa setempat tetapi tidak diberikan. Sehingga dapat dikategorikan sebagai perbuatan memperkaya diri sendiri yang mengandung unsur korupsi.

Ia meminta agar tindakan penyimpangan itu diproses menurut hukum yang berlaku. Apalagi uang negara tersebut dipergunakan untuk urusan pribadi. “Saat itu, camat begitu mudah melakukan intervensi kepada kuwu dengan mengaitkan utang piutang pribadi, yang diambil dari dana insentif dan operasional LPM di BPR Haurgeulis,” tegasnya.

Apabila Ketua LPM Desa Balareja melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian atau kejaksaan, harus kita dukung bersama. Sebab apapun bentuknya dan siapapun pejabatnya bila jelas-jelas melakukan penyalahgunaan wewenang dan mengarah pada tindakan korupsi maka harus cepat ditangani degan serius. “Bila camat memiliki perilaku tak ubahnya seperti seorang rentenir yang notabene melakukan peminjaman uang kepada kuwu yang diambil dari ADD itu sama saja membiarkan para kuwu untuk bertindak korupsi. Camat bukannya membina para kuwu merealisasikan ADD, tapi sebaliknya menjerumuskan para kuwu berperilaku menyimpang,” tandasnya.

Dirinya cukup prihatin melihat kejadian itu dan tidak akan tinggal diam. “Melalui wadah Kompak kami akan mengusut perbuatan tersebut melalui jalur hukum,” kata Ketua DPD AMPI Kab. Indramayu ini.

Ketua LPM Desa Balareja, Aman saat dihubungi melalui ponselnya mengatakan, saat pengambilan dana insentif dan operasional LPM Desa Balareja di BPR Haurgeulis, slip pengambilan dana tersebut oleh Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Gantar dimasukkan ke petugas BPR Haurgeulis. Namun Camat gantar memerintahkan Kasi PM itu agar slip pengambilan dana untuk LPM Desa Balareja yang sudah dimasukkan ke BPR Haurgeulis supaya diambil kembali. Pada saat itu juga Kuwu Situraja dan Kuwu Bantarwaru sedang berada di BPR Haurgeulis.

Kronologisnya

Kuwu Balareja datang ke BPR Haurgeulis untuk mencairkan ADD Tahun Anggaran (TA) 2008. Selanjutnya oleh Camat Gantar langsung dipotong utang piutang atas nama Kuwu Balareja. Akibat dipotong utang-piutang oleh Camat, sehingga Kuwu Balareja tidak membawa uang ADD satu rupiah pun, termasuk hak dana insentif dan operasional LPM.

Ironisnya, LPM justru menerima dana insentif dan operasional dari pribadi Kuwu Balareja. Itupun tenggang waktunya cukup lama, baru dibayar akhir tahun 2008. Atas kejadian tersebut, rencananya pihak LPM Desa Balareja akan menempuh jalur hukum.

Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, camat Gantar mengakui dirinya berada di BPR Haurgeulis saat pencairan dana ADD tahun 2008, diantaranya untuk Desa Balareja. Hal itu dilakukan karena Kuwu Desa Balareja memiliki sangkutan terhadap dirinya, sehingga dana ADD tahun 2008 untuk Desa Balareja dia ambil. (rusli imron)

h1

Puti Guntur Raih Suara Tertinggi

6 Mei 2009

puti-mandirancanKuningan, IB

Nama besar Bung Karno ternyata masih melekat dihati masyarakat Kabupaten Kuningan. Terbukti, calon legislator DPR RI nomor urut 2 di Dapil Jabar X, Puti Guntur Soekarno, S.IP dari PDI-P mampu menduduki rangking teratas perolehan suara Pemilu Legislatif.

Cucu Bung Karno ini mampu menggungguli Caleg lainnya termasuk Andi Gani Nena Wea yang sebelumnya difavoritkan akan meraih suara terbanyak. Berdasarkan informasi yang diterima IB dari Tabulasi sementara KPU Kab. Kuningan hingga Selasa (22/4), Puti Guntur Soekarno, S.IP meraih 24.465 suara.

Perolehan suara puti dikuntit Andi Gani Nena Wea 21.651 suara. Selanjutnya, H. Amin Santono, S.Sos, (Partai Demokrat) meraih 20.750 suara, Drs. HM. Nurdin, MM  (PDIP) 17.308,  Didi Irawadi Syamsudin, SH, LLM (Demokrat) 15.918 suara, DR. KH. Surachman (PKS), 15.137, dan Drs. Agun Gunanjar Sudarsa, M.Si     (P. Golkar) 9.877suara.

Menurut analisis IB, keunggulan Puti Guntur setidaknya ditentukan oleh tiga factor yakni nama besar Soekano, Bupati Aang dan kehadiran Guntur. Pertama,  Ia menyandang nama besar Soekarno sebagai pendiri negara (founding father) dibekang namanya. Nama Soekarno ternyata masih melekat dan dinantikan oleh para mantan tokoh PNI, para orang tua dan pemilih PDIP umumnya.

Kedua, faktor kedekatan secara politis dengan Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda. Tebukti pada beberapa pertemuan Puti ke beberapa desa sering bersama Bupati Aang, termasuk saat Kampanye terbuka (rapat umum) terakhir di Lapangan Desa Mandirancan (3/4).

Ketiga, faktor kehadiran putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra di Lapangan Desa Mandirancan pada kampanye terakhir ternyata mampu menyedot perhatian para pendukung dan simpatisan PDI-P di Kab. Kuningan. Pasalnya, tokoh yang tidak aktif di dunia politik ini, sebenarnya sejak awal berdirinya PDI-P (dulu, PDI) senantiasa dinantikan kehadirannya oleh Pecinta Bung Karno. Sebab dialah menurut sebagian masyarakat merupakan figur calon pemimpin masa depan yang menerima ilmu politik langsung dari Sang Proklamator.

Informasi lain diterima dari Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar, ternyata dukungan terhadap Puti cukup menggembirakan. di Ciamis dan Banjar, Ia mampu bersaing ketat dengan Caleg nomor 5 yakni Drs. H. Eka Santosa yang asli Kota Banjar.

Puan Maharani Tertinggi

Prestasi Puti memang tidak sepenomenal Puan Maharani, putri tunggal Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati. Puan meraih suara terbanyak 225.000 di Dapil V Jawa Tengah meliputi Surakarta, Boyolali, Klaten dan Sukoharjo.

Peolehan trah darah biru di PDIP ini  melampaui BPP (bilangan pembagi pemilih) yang hanya 170.000 suara. (tan/Sindo/IB)

h1

Hj. Utje Ch Suganda: Mari Perangi Kebodohan

6 Mei 2009

pemenang-kebaya-batikKuningan, IB

Puncak peringatan Hari Kartini ke 130 di Kabupaten Kuningan pada 21 April berlangsung meriah di Gedung Sanggariang Kuningan, Kamis (21/4), dihadiri Bupati H. Aang Hamid Suganda, S.Sos, Wabup Drs. H. Momon Rochamana, MM, unsur Muspida, para pejabat Pemkab Kuningan, pengurus GOW (Gabungan Organisasi Wanita), Ketua TP PKK Kab. Kuningan, Hj. Utje Ch. Suganda yang juga pelindung GOW Kuningan, dan para undangan.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda mengatakan, nilai persamaan derajat menjadi nilai identitas atau kepribadian bangsa. Masalahnya wanita secara kodrati memang berbeda dengan laki-laki. Perlunya ditingkatkan peran wanita dalam pembangunan manusia seutuhnya menuju masyarakat yang adil dan makmur. Begitu besarnya peran perempuan sebagai pembangkit dan penggerak pembangunan. “Besarnya peran perempuan itu sendiri tanpa harus menampikkan hakikat perempuan itu sendiri. Yang pada akhirnya dapat merugikan kaum perempuan sendiri,” kata Aang.

GOW merupakan institusi kaum perempuan yang berperan aktif dalam pembangunan daerah khususnya pengembangan emansipasi wanita.

Pelindung GOW Kuningan, Hj. Utje Ch., Suganda mengatakan, RA Kartini merupakan pelopor kaum wanita dari keterbelakangan untuk melepaskan diri dari jerat yang membelenggu kaum perempuan. Beliau telah memperjuangkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, untuk sama-sama menuntut ilmu. Hal itupun sejalan dengan hadis Nabi yang menyebutkan “menuntut ilmulah wahai kaum muslim laki-laki dan muslim peremuan”.

Disini jelas bahwa perempuan dapat menempati peran yang strategis tinggal bagaimana potensi perempuan ini ditingkatkan sumber dayanya, karena ternyata perempuan yang berperan dalam pengambilan keputusan masih sangat kecil. “Karena itu, wahai kaum perempuan marilah kita perangi kebodohan  baik dilingklungan maupun di kantor kita. Karena ternyata tugas kita masih banyak tantangan, seperti perundang-undangan yang masih diskriminasi, masih terjadinya tindak kekerasan terhadap kaum perempuan, perkosaan, tanpa perlindungan hukum yang memadai. Seperti dalam kasus TKW diperas dan diperkosa, eksploitasi tubuh wanita,  pornografi, termasuk diklat yang masih dikriminasi. Termasuk dalam mengikuti KB dikesankan hanya perempuan saja yang harus ikut aktif KB,” katanya.

Ketua GOW Kab. Kuningan, Dra. Hj. Rini Sardjono, mengata kan, tujuan peringatan Hari Kartini ke 130 Tahun 2009 adalah untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan sesama organisasi wanita. Selain itu, terwujudnya pemberdayaan perempuan dalam mendukung pembangunan daerah, serta meningkatnya kualitas dan peran organisasi wanita.

Adapun temanya adalah “Kita tingkatkan kualitas sumber daya perempuan sebagai mitra gender dengan tetap mengedepankan perannya dalam membentuk keluarga sejahtera”.

Kegiatan yang telah dilaksanakan yakni bhakti sosial MOW dan MOP pada 25 Februari 2009 di Gedung Korpri diikuti 100 pasien. Seminar sehari deteksi dini kanker payudara disajikan dr. Rika kartika, Sp.OG kerjasama dengan RS Juanda pada 3 Maret 2009. pelaksanaan PAP SMEAR pada 4 – 5 Maret kerjasama RS Juanda dan IDI Kuningan.

Pengajian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 13 Maret. Diikuti seluruh anggota GOW dan masyarakat. Donor darah dilaksanakan pada 16 dan 15  April diikuti 157 orang. Senam massal pada 19 April.

Selain itu diadakan pula lomba Putri Kebaya dan Batik Putra memperebutkan Piala Bergilir Pelindung GOW dan Bakorwil Cirebon, serta ziarah ke makam pahlawan Haur Duni. Dan akan melaksanakan seminar sehari deteksi dini gejala stroke oleh dr. Neti kerjasama dengan RS Juanda pada 5 Mei 2009.

Mereka yang tampil sebagai yang terbaik lomba Putri Kebaya Kategori A, 4 – 8 tahun: Fadia Viac, Maharani Angraini, Ashiya Nabile. B, 9 – 13 tahun : Gincu Yuliana, Anggi Dwi N, Thasya Trisma T. C. 14 – 18: Nisa Fitriani, Dita Yustiana, Rini Anggraini. Kategori Kebaya Khusus(siswa tuna rungu): Mita Desiani, Elina Tresnani, dan Arumsari.

Kategori A putra batik (7 – 12 tahun) : Ali Bizar, Ilham Pratama, Haldi Tri Utami. Kategori B putra batik (13 – 18 tahun): Esa Santana, Ardan Fauzi, Evan Praksa. Kategori batik khusus (siswa tuna rungu): Yudi Iswahyudi, Yanto Ardiyanto, Jajat M. Fajri. Tampil sebagai juara umum putri kebaya yakni Gincu Yulina, dan juara umum putra batik Al Bizar. (tan)

h1

Pioner Tender Terbuka di Kuningan

6 Mei 2009

dian-rahmat-januarKuningan, IB

Sistem tender terbuka nampaknya masih merupakan barang langka di Kabupaten Kuningan. Padahal kondisi ini sudah diisaratkan dalam Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa di Intansi Pemerintah.

Menyikapi tuntutan itu, Kepala Bagian Perlengkapan Setda Kab. Kuningan, Drs. Dian Rahmat Januar, M.Si bersikap lain. Ia dapat dikatakan sebagai pioner tender terbuka di Kabupaten Kuningan dengan menerapkan sitem langsung pelayanan elektronik melalui jaringan internet. Sistem ini ini lebih terbuka dan transparan. “Melalui internet/RPPS semua rekanan dapat meng akses dan mengikuti tender secara terbuka,” terang Dian saat ditemui IB di ruang kerjanya, Selasa (21/4).

Setiap rekanan yang memenuhi syarat dan dari mana saja bisa mengakses di http://www.pemerintahjawa barat.go.id. “Di sana bisa dilihat oleh siapapun yang memenuhi syarat mengenai tata cara tender, bahkan harga setiap item sudah secara terbuka tertera,” terang mantan Kabag Humas Setda Kuningan ini.

Sistem ini dinilai lebih transparan, terbuka dan akuntabel, sehingga dapat dihindari yang menang tender hanya itu-itu saja. “Saya sendiri tidak tahu siapa yang akan menang tender pengadaan mobil dinas senilai Rp. 980 juta, dan pengadaan semen dan aspal yang mencapai Rp. 812 juta,” aku Dian.

Pengadaan barang dan jasa LPSE di intansi pemerintah mengacu pada Kepres No. 80 tahun 2003, serta MoU antara Bappenas dengan Pemprov Jabar dan Pergub No. 35 tahun 2008. Sistem pengadaan barang dan jasa  ini akan lebih efisien, efektif, akuntabel, transparan, dan adil.

Sebuah sistem memang memerlukan waktu dan dana besar, setidaknya untuk pelatihan LPSE baik pihak pemerintah maupun rekanan.

Efektifkan KNPI

Sebagai Ketua DPD KNPI Kab. Kuningan, Dian Rahmat Januar telah melakukan langkah untuk menciptakan dinamika dalam organisasi gabungan OKP di Kota Kuda ini. langkahnya diantaranya memiliki sekretariat sendiri dengan diberikannya hak pengelolaan Gelanggang Pemuda oleh KNPI. Kini gedung itupun tengah ditata.

Sejak delapan bulan lalu memimpin DPD KNPI Kab. Kuningan hingga kini, Ia bersama jajaran telah membentuk 32 Pengurus Kecamatan (PK) KNPI. Mengadakan berbagai even kepemudaan, dan akan menggelar kemah bakti pemuda se-Wilayah III Cirebon. Momentum itupun akan dimanfaatkan untuk membahas wacana yang tengah berkembang saat ini.

Pada kemah bakti itu, kata Dian,  akan ikut sekira 500 peserta dari pengurus KNPI se-Wilayah III Cirebon di suatu desa. Sekaligus pada acara itu akan diadakan rehab rumah dan perbaikan jalan lingkungan kerjasama dengan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dan pemuda di desa setempat, dengan diakhiri acara hiburan. (tan)