Arsip Kategori: edisi 124

Andi Gani dan Aang Gebrak Kuningan

andi-aang1

Mandirancan, IB

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) benar-benar unjuk kekuatan pada kampanye putaran terakhir Jumat (3/4). Apalagi dihadiri Andi Gani Nena Wea, SH dan Bupati H. Aang Hamid Suganda yang menjadi daya tarik tersendiri, mampu menggebrak Kuningan.

Ratusan ribu massa dari berbagai pelosok Kabupaten Kuningan, kader, simpatisan dan pendukung fanatik PDIP tumpah ruah memenuhi Lapangan Desa Mandirancan tempat rapat umum.

Akibat menumpuknya massa dari berbagai penjuru yang hadir, ruas jalan menuju lokasi kampanye mengalami kemacetan yang luar biasa. Puluhan ribu motor dan kendaraan pribadi dengan dihiasi bendera serta atribut partai dari berbagai penjuru Kuningan, sejak usai shalat Jum’at menggelar konvoi menuju Mandirancan. Masing-masing mobil ditempelkan foto caleg PDIP baik untuk daerah, provinsi maupun pusat.

Caleg DPR RI, Andi Gani Nena Wea, SH nomor urut 3 nampak masih mendominasi pengerahan massa pendukung fanatiknya untuk menyemarakan kampanye akbar partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran tersebut. Ribuan motor dan mobil pribadi pendukungnya nampak memenuhi ruas jalan dari arah Kadugede menuju Mandirancan.

Massa Andi mulai memenuhi jalan dari markasnya di Desa Haurkuning, Kecamatan Nusaherang, usai salat Jum’at. Diawali dengan barisan motor yang mengenakan pakaian seragam khas serta sarung tangan warna putih, massa menyusuri ruas jalan sesuai route yang telah ditentukan KPU menuju Mandirancan.

Sepanjang jalan yang dilaluinya, masyarakat baik tua, muda dan anak-anak memberikan sambutan yang meriah. Sambutan masyarakat dibalas massa Andi dengan melambaikan tangan dan membagikan stiker bergambar dirinya.

“Saya sangat terharu dengan besarnya sambutan dari masyarakat Kuningan. Saya berjanji, jika nanti terpilih, akan mati-matian memperjuangkan Kabupaten Kuningan. Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu saya selama masa sosialisasi dan kampanye,” ujar Andi di sela kampanye.

Caleg muda yang diunggulkan melenggang ke Senayan ini mohon do’a dan dukungan dari seluruh warga masyarakat Kabupaten Kuningan. Sekaligus permohonan maaf apabila selama kampanye telah memacetkan jalan sepanjang 4 kilometer mulai Nusaherang hingga Mandirancan.

Tak mau kalah, ribuan massa Komjenpol (purn) Drs HM Nurdin MM juga memadati ruas jalan dari Kuningan Kota. Massa pendukung Nurdin juga mengenakan atribut warna merah, lambang kebesaran PDIP. Mereka menggunakan motor dan mobil dengan jumlah ribuan. Saking simpatiknya massa Nurdin, aplaus dari masyarakat di sepanjang jalan diperolehnya.

Kampanye terakhir PDIP di lapangan Mandirancan semakin meriah dengan kehadiran Bupati H Aang Hamid Suganda, yang menjadi juru kampanye PDIP. Dari atas podium dan di hadapan ratusan ribu massa partai, bupati yang mengambil cuti sehari itu mengajak kader, simpatisan dan masyarakat Kuningan untuk memilih PDIP.

“Saya mengajak masyarakat Kuningan untuk memilih PDIP. Ini dibuktikan dengan kesuksesan kader PDIP dalam membangun Kabupaten Kuningan. Masyarakatlah yang merasakan kemajuan ini. Karena itu, tidak ada salahnya jika masyarakat akhirnya menjatuhkan pilihan kepada PDIP. Sebab, selama ini kiprahnya sudah terbukti dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Aang yang langsung disambut aplaus dari puluhan ribu massa PDIP.

Selain Aang, nampak juga putra mantan Presiden RI pertama, Guntur Soekarnoputra dan istrinya, caleg DPR RI Andi Gani Nena Wea, SH, HM Nurdin, Puti Guntur Soekarno, dan Drs. H. Eka Santosa.  Tak ketinggalan Ketua DPC PDIP Kuningan H Acep Purnama SH. Kemudian untuk daerah nampak caleg dari dapil 2, Nuzul Rachdy, SE.

Ketua DPC PDIP Kabupaten Kuningan, H Acep Purnama SH mengaku terharu dengan luar biasanya antusias publik mengikuti kampanye terakhir PDIP. “Di Kuningan ada kejadian luar biasa hari ini (Jumat, 3/4) yakni berkumpulnya puluhan ribu massa PDIP. Mereka (massa) sangat militan dan penuh loyalitas kepada partai. Saya benar-benar bangga dnegan membludaknya massa, sehingga Kabupaten Kuningan disulap menjadi warna merah,” tegas Acep.

Sementara caleg DPRD Kabupaten Kuningan dari dapil II, Nuzul Rachdy, SE juga tak mampu menahan kegembiraannya dengan keberhasilan PDIP memerahkan Kuningan. “Ini keberhasilan Zul menggoyang dapil II. Saya sangat puas dengan besarnya antusias masyarakat mengikuti kampanye terbuka PDIP. Saya ucapkan banyak terima kasih,” sebutnya.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Kuningan, Ujang M. Abdul Azis, S.Pd ketika dikonfirmasi MD membenarkan H. Aang Hamid Suganda ikut serta dalam kampanye putaran terakhir PDIP. Tetapi statusnya sebagai kader, bukan selaku Bupati Kuningan, karena tengah cuti.

Pemberitahuan surat cuti H. Aang Hamid Suganda yang ditandatangani oleh Mendagri tersebut sudah diterima pihak Polres, KPU, dan Panwas Kab. Kuningan sejak Kamis (2/4). Di dalam surat keterangan itu, dijelaskan H. Aang Hamid Suganda diberi cuti selama sehari untuk ikut kampanye. (Tan/RC/MD)

Darojat Akan Perjuangan Nasib Perangkat Pemerintahan Desa

darojatKuningan, IB

Endang Ahmad Darojat atau dikenal dengan E. A. Darojat dalam programnya akan memperhatikan nasib perangkat desa. “Saya akan memperhatikan nasib perangkat desa dan pemerintahan desa, karena mereka merupakan ujung tombak dari sistem pemerintahan di Indonesia,” kata Caleg DPRD Jawa Barat Nomor Urut 1 PDIP Dapil Jabar X ini.

Menurut Darojat, desa merupakan bagian dari sistem pemerintahan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan sebagai ujung tombak pemerintahan. Mengapa perlu diperhatikan? Karena semua departemen bermuara di desa apalagi untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas. Maka peranan dari kepala desa dan perangkatnya sangat penting namun mustahil terwujud tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

Sarana dan prasarana dalam hal ini termasuk kesejahteraan kepala desa dan perangkatnya harus ditingkatkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Tak mungkin pemerintahan akan berjalan baik selama tidak memperhatikan pemerintahan desa,” kata anggota Komisi IX DPR RI kepada IB.

Ia sudah bertemu dengan ratusan kepala desa yang mengungkapkan betapa rendahnya pengasilan mereka, bahkan nyaris dibawah UMR (upah minimul regional), sementara tugas yang diembannya sangat berat. Belum lagi bila mereka atau keluarganya sakit, sedangkan jaminan kesehatan tidak ada.

Nasib kepala desa perlu diperjuangkan karena kalau tidak akan menghambat sistem pemerintahan. “Saya akan bicarakan di DPR mengenai peningkatan sarana dan prasarana pemerintah desa. Sebab apa hasilnya jika ujung tombak pemerintahan tidak tajam, maka tujuan untuk membangun masyarakat yang berkualitas mustahil akan tercapai,” kata mantan Ketua DPRD Kab. Tasikmalaya ini.

Pria kelahiran Tasikmalaya 6 Maret 1959 ini punya prinsip keberadaan pada diri harus jadi kekuatan, dan jangan sekali-kali menggunakan standar orang lain. “Disinilah perlunya kemandirian dan kecerdasan dalam mencapai suatu tujuan, termasuk dalam memenangkan PDI Perjuangan,” ungkapnya dengan santai. (tan)

Lima Menit yang Menentukan

Lima menit gunakan hak pilih waktu anda di bilik TPS (tempat pemungutan suara) sangat penting untuk menentukan nasib bangsa lima tahun yang akan datang. Di sini betapa pentingnya suara anda, dan memang kalau dihayati peran serta kita itu merupakan bentuk pengejawantahan kedaulatan rakyat sebagaimana amanah UUD 1945. Kedaulatan rakyat dalam konteks negara demokrasi diimplementasikan dalam bentuk Pemilihan Umum, baik Pemilu Legislatif (Pileg) pada 9 April pekan ini untuk memilih wakil rakyat, maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 20 Juli mendatang.

Memilih merupakan hak demokrasi yang diatur dalam UUD 1945. Untuk itu alangkah ruginya bila kita tidak menggunakan haknya secara benar dan bertanggungjawab. Karena itu kita harus cerdas memilih caleg yang pro rakyat dan tidak sayang hanya karena jelang Pemilu saja. Namun tak menampik, masih ada sejumlah kesalahan berfikir para caleg kita ini yang kerap terjadi dan kadang bahkan malah menjerumuskan mereka sendiri di belakang hari. Pertama, Menjadi caleg adalah suatu lowongan pekerjaan. Inilah kesalahan pertama yang paling banyak dialami oleh para calon anggota DPR/DPRD yang terhormat. Mereka menganggap menjadi anggota DPR layaknya seperti memasukkan lamaran pekerjaan saja. Bila sejak awal cara berfikir mereka seperti ini, kemungkinan besar orientasi mereka hanyalah bekerja, bukan mengabdi.

Kedua, Bila nanti dalam penghitungan suara mereka mendapat suara terbanyak di daerah pemilihannya, otomatis mereka mendapat kursi anggota Dewan. Benarkah demikian? Padahal ada ketentuan dimana Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR Pusat. Dengan kata lain, walaupun perolehan suara di daerah pemilihan si caleg unggul, namun apabila total general suara partai pengusungnya TIDAK memenuhi ambang batas yang ditetapkan, maka si caleg TIDAK MENDAPATKAN KURSI DI PARLEMEN. Maka, sangat berat bagi partai baru dan partai kecil mendulang kursi di parlemen meskipun caleg mereka orang terkenal sekalipun.

Ketiga, Bila tidak bisa mengubah dari luar, cobalah mengubah dari dalam. Pandangan ini sering muncul dari para caleg yang berasal dari para aktivis. Mereka berpendapat, menjadi anggota legislatif justru perjuangan mereka lebih efektif ketimbang berjuang di jalanan. Saya katakan sekali lagi bahwa hal tersebut adalah cara berfikir yang salah kaprah. Perlu kita ingat bahwa pengambilan keputusan penting di parlemen dipengaruhi oleh keputusan partai pengusungnya. Kalau toh ada suara-suara yang menyimpang dari keputusan partai, itu pun tidak akan memberi perbedaan dan mengubah keadaan.

Ke empat, Semakin besar modal yang dikeluarkan, semakin besar kemungkinan terpilih. Modal yang kuat memang menjadi salah satu syarat agar peluang terpilih menjadi lebih besar, Tapi tidak menjamin si caleg tersebut mendapat kursi. Ingat, semakin banyak pilihan caleg di masyarakat, justru malah membingungkan masyarakat itu sendiri. Selain itu masyarakat kita semakin cerdas dan independen dalam menentukan pilihannya, meskipun sang caleg harus menebar uang dari helikopter sekalipun. (redaksi)

Berikan Yang Terbaik Untuk Masyarakat

Cibeureum, IB

Kuwu Kawungsari Kecamatan Cibeureum, Wawan Hernawan, S.Pd punya prinsip berikan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan oleh mantan guru di sebuah lembaga pendidikan swasta di Jakarta ini, diantaranya mengupayakan jalan tembus antara desanya menuju kantor kecamatan Cibeureum.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya sarana transportasi antara desa Kawungsari dengan Kecamatan Cibeureum bagaikan terisolasi dan harus keliling melalui desa Simpayjaya Kecamatan Karangkancana,  kemudian ke desa Cileuya kecamatan Cimahi. Namun kini jalan tembus (poros desa) melalui desa Randusari menuju kantor camat Cibeureum itupun dapat dengan mudah dilalui kendaraan roda empat. Bahkan telah dihotmix (aspal panas) walaupun hanya kelas ATB (aspal tahap bawah). Ini tentunya tak lepas dari peran kepala desa yang kini diembannya.

Begitu pula untuk pengamanan lingkungan pemukiman warga. Pemukiman warga yang hanya satu meter lebih tinggi dari aliran sungai Cikaro telah diupayakan pembangunan benteng pengaman sepanjang 800 meter sehingga bila musim hujan, kini warga lebih tenang.

Penataan dan penyehatan lingkungan tak lepas dari perhatian Wawan. Pada akhir tahun 2008 lalu telah dilakukan plesterisasi gang lingkungan dengan volume 1500 meter dengan lebar 1 meter dan gorong-gorong dari program MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) melalui Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kab. Kuningan. Bersamaan dengan itu, diperbaiki pula sejumla 35 buah rumah menjadi lebih layak huni dan indah.

Selain itu, dilakukan penataan lingkungan Bale Desa untuk pelayanan masyarakat dan Mesjid sebagai sarana ibadah kaum muslimin. Untuk penataan Bale Desa pada 2008 lalu , desa ini dapat bantuan dana sebesar Rp. 25 juta dari Pemprov Jawa Barat.

Untuk peningkatan dibidang kesehatan, di desanya saat ini telah berjalan Posyandu dan Pustu di bawah binaan Bidan Desa. Sementara untuk mengenjot sektor pendidikan, di desanya telah dibangun SMP Satu Atap di SDN Kawungsari. Pada awal penerimaan perdana siswa baru, tertampung sekira 40 orang lulusan SD dari desanya sejumlah 20 siswa dan sisanya dari lulusan SD di sekitaranya. Dan untuk tahun pelajaran 2009-2010, diprediksikan jumlah murid di SMP Satap akan meningkat menjadi 100 calon siswa baru.

Kebersamaan dan upaya dari Kuwu Wawan dilakukan pula saat pendistribusian kompor gas sebagai konversi minyak tanah. Apabila di desa lainnya, untuk distribusi ada pungu5tan dengan kisaran antara Rp. 3000 hingga Rp. 10.000, maka di desanya dengan maksud tidak membebani warganya maka disepakati untuk tidak melakukan pungutan satu rupiah pun. “Teknis pendistribusian, kita langsung umumkan melalui sound sistem dan warga pun berdatangan untuk mengambil kompor gas dan tabungnya secara gratis,” jelasnya. (tan)

Balai Desa Cigedang Direhab

Luragung, IB

Untuk menciptakan suasana yang nyaman dan untuk meningkatkan kinerja perangkat desa, Pemerintah Desa Cigedang Kecamatan Luragung kini tengah memprakarsai rebah total bangunan bale desa. Bangunan dua lantai berukuran 200 meter² ini dikerjakan secara bertahap dengan pola swadaya masyarakat.

Menurut Kuwu Cigedang, R. Herdiana, rehab balai desa direncanakan akan menelan anggaran sebesar Rp. 186 juta. Dana berasal dari ADD (alokasi dana desa) tahun anggaran 2008 dan 2009, ditambah swadaya masyarakat.

Ketua Panitia, H. Moch. Erwin Hadinata mengatakan, untuk meng hemat biaya pihaknya menebang kayu jati yang berada di tanah titisara desa dan untuk genting pihaknya mempergunakan multirup.

“Alhamdulillah swadaya masyarakat cukup tinggi. Bisa dilihat dari jumlah pekerja per hari berjumlah 25 orang. Sedangkan untuk konsumsi digilir setiap hari 10 orang atau 10 KK. Kami sebagai panitia tidak berpangku tangan. Kami memberikan spirit dengan ikut bekerja,” terangnya beberapa waktu lalu.

Dampaknya, wargapun semakin bersemangat bekerja. Selain itu, Kuwu Herdiana juga ikut bekerja layaknya masyarakat yang lain.

Erwin mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah berperan dalam menyukseskan rehab ini. Khusus kepada Pemkab Kuningan ia berharap adanya bantuan dana. (gie)

Pembangunan Kecamatan Pasawahan Tahun 2008 Habiskan Rp5 Milyar

Pasawahan, IB

Dana yang digunakan untuk membangun Kecamatan Pasawahan pada tahun 2008 lalu mencapai angka Rp5 milyar. Dana sebesar itu diperoleh dari bantuan APBD provinsi, APBD kabupaten dan APBN pusat.

Hal itu disampaikan Camat Pasawahan lama, Drs. Tatang Taryono, M.Si yang kini rotasi menjadi Camat Cigandamaker, pada acara Pisah Sambut Camat Pasawahan di kantor kecamatan setempat, Selasa (31/3) lalu.

Tatang menyebutkan, selain dana yang berasal dari bantuan pemerintah, ada lagi sebesar Rp900 juta yang berasal dari swadaya masyarakat se-Kec. Pasawahan. Untuk tahun 2009 ini, sebut Tatang, Kec. Pasawahan dapat PNPM untuk sepuluh desa, PAMSIMAS dua desa, padat karya dua desa, PPIP dua desa dan pasar satu desa.

Menurut Tatang, kondisi seperti itu tidak lepas dari kepercayaan yang diberikan Bupati Kuningan H. Aang HS kepada wilayah yang dulu dibinanya. Terbukti, anggaran yang dialokasikan ke kecamatan lain banyak yang dialihkan ke Kecamatan Pasawahan. “Kondisi ini juga sebagai bentuk keberhasilan dan berkat kegigihan para kepala desa, UPT dan UPTD,” sebutnya.

Sebelum pindah tugas ke daerah lain, Camat Tatang mengucapkan terima kasih kepada warga Kec. Pasawahan. Ia juga meminta maaf bila dalam melaksanakan tugas ada kesalahan. “Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kec. Pasawahan. Tanpa bantuan kalian, kami tidak bisa apa-apa,” katanya.

Camat Pasawahan baru, Beny Prihayanto, S.Sos yang rotasi dari Camat Subang mengatakan, keberhasilan Kec. Pasawahan adalah berkat kegigihan camat lama. Dirinya akan melanjutkan perjuangan dan berbuat yang terbaik demi tercapainya kemajuan Kec. Pasawahan ini. Oleh karena itu, dia meminta dukungan dan bantuan dari semua pihak.

Dikatakan Beny, sesuai dengan PP No. 41, sekarang ini ada perubahan struktur organisasi kecamatan. Semula kasi di kecamatan ada lima, kini hanya empat. Kasi yang dihilangkan yaitu kasi perekonomian dan sekretaris Korpri. “Saya berharap, di Kecamatan Pasawahan bisa terbagi jabatan,” katanya. (Rml)

Seputar Konversi Gas

Muncul Pedagang Dadakan dan Pungli

Kuningan, IB

Selama sebulan terakhir ini PT. Pertamina Wilayah Divre Cirebon tengah sibuk membagikan kompor gas, sebagai konversi minyak tanah. Dari pantauan IB, selama ini terdapat beberapa hal yang cukup menarik, yakni adanya pungli (pungutan liar) distribusi kompor dan tabung gas dengan varian berbeda mulai Rp. 3.000 hingga Rp. 10.000/kompor gas.

Namun ada pula desa yang tidak menetapkan pungli (terlepas ada kesepakatan dengan lembaga desa), seperti di Desa Kawungsari Kec. Cibeureum dan Desa Sangkanmulya Kec. Cigandamekar.

Sementara Kuwu Cijemit, Yaya Cahyadi mengakui, pungutan dilakukan dengan sukarela dengan besaran Rp. 5000/kompor gas. Dana itu dialokasikan untuk distribusi ke setiap dusun dan honor para petugas lapangan. Selain itu, untuk ongkos kirim mobil dari Depo ke desanya yang besarnya mencapai Rp. 800.000,00. “Dana dari masyarakat digunakan biaya untuk ongkos mobil dari Pertamina sebesar delapan ratus ribu rupiah, dan biaya operasional para petugas lapangan dan ongkos mobil dari desa ke setiap dusun. “terang Yaya saat dihubungi melalui ponselnya.

Dampak lainnya, saat ini mulai muncul para pedagang gas dadakan (di luar yang punya izin dari Himamigas dan Pertamina). Untuk agen resmi mereka memiliki izin dari pertamina dan Himamigas, serta memiliki DO (delivery orders) dari Pertamina. Namun untuk pedagang/pengecer atau pangkalan ilegal, tidak punya izin.

Pedagang dadakan ini muncul, karena banyak warga dengan berbagai dalih menjual kompor dan tabung gas kepada para pedagang. “Saya menjual kompor dan tabung gas seharga delapan puluh rupiah tak lama setelah kompor diterima,” ungkap seorang nenek dengan polosnya. (tan)

Toto Toharudin Pecahkan Mitos

toharudin1Kuningan, IB

Hampir seluruh kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) SD atau Kepala KCD di lingkungan Dinas Pendidikan tak pernah ada yang promosi ke jenjang lebih tinggi. Namun kini mitos tersebut terpecahkan dengan promosinya Drs. H. Toto Toharudin, M.Pd menjadi Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal Disdik Kuningan dari Kepala UPTD SD Kecamatan Mandirancan.

Toto memang supel dalam bergaul. Terlihat dari beberapa organisasi dimasukinya, seperti Sekretaris PD II PGRI Kab. Kuningan 2000- 2005, Wakil Ketua PD II PGRI Kuningan 2005 – 2010 dan Ketua ABPEDSI Kab. Kuningan sampai sekarang.

Dalam karir struktural, suami Bidan Hj. Dede Rian dan dua putra ini dimulai dari Kasi Pemuda Bidang Pora Disdik, Kasi SMP Bidang Pendas, dan kepala UPTD SD Mandirancan. Ia selalau siap ditempatkan dimanapun dengan prinsip memaksimalkan yang sudah baik. “Saya ingin mendorong pendidikan non formal dan informal lebih baik untuk menuntaskan wajib belajar sembilan tahun sebagaimana harapan kepala Dinas Pendidikan,” terangnya.

Dalam karir, pria berkumis ini pernah menjadi pembina TK Dewi Sartika Kuningan, Guru MTs, Guru MA Jalaksana, dan yang paling lama sebagai dosen STAI Al Ihya Cigugur Kuningan. “Saya sudah 16 tahun menjadi dosen di STAI Al Ihya Kuningan,” akunya belum lama ini.

Menurut Toto, bidang garapannya yakni kursus, PAUD (Pendidikan anak usia dini), keaksaraan fungsional, PKBM, dan Paket A, B dan C.

Saat ini Disdik Kuningan memang ditempati pejabat baru, walaupun sebenarnya mereka merupakan muka-muka lama. Seperti Kepala Dinas Pendidikan, Drs. H. Dadang Supardan, M.Si sebelumnya Kabag TU Disdik. Selain itu, Mulyana, S.Pd, M.Pd Kabid Pendidikan Dasar sebelumnya Kasi SMP Bidang Pendas, Dedi Supardi, S.Ag, M.Pd Kabid Penunjang sebelumnya Kasi SD Bidang Dikdas.

Sementara itu, Drs. H. Nana Sunardi, M.Si Kabid Pemuda dan Olahraga sebelumnya Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Disdik, Drs. H. Nandang Hidayat, M.Pd Sekretaris Disdik dari Kabid Dikdas. Sementara, Dra. Hj. Ratnati, MM tetap Kabid Dikmen. (tan)

Wabup Lantik Tujuh Kepala SMPN & TK

Cigugur, IB

Elin Linawati, S.Pd bersama enam orang lainnya dilantik Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM menjadi kepala SMPN dan kepala TK, Jumat (3/4). Prosesi pelantikan dilaksanakan di aula Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kab. Kuningan dan dihadiri pejabat struktural di lingkungan dinas tersebut.

Pelantikan ini, menurut Wakil Bupati Kuningan Drs. H. Momon Rochmana, MM, saat membacakan SK Bupati Kuningan No. 821.28/KPTS.70-BKD/2009 tentang Pengangkatan dan Alih Tugas Kepala SMPN dan Kepala TK di Lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga, dilakukan dalam rangka menunjang kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan program KBM (kegiatan belajar mengajar). Oleh karena itu, pengangkatan dan alih tugas perlu sesegera mungkin dilakukan.

Selain Elin Linawati, S.Pd, yang dialihtugaskan menjadi Kepala SMPN 1 Kramatmulya dari Kepala SMPN 1 Subang, ikut menemani tiga orang rekannya sesama kepala SMPN. Mereka adalah Nana Rusmana Ruyaatmaja, S.Pd, Kepala SMPN 2 Cigugur dari Kepala SMPN 2 Cibeureum dan Subagio S.Pd, Kepala SMPN 2 Cibeureum dari Kepala SMPN 2 Cigugur. Satu diantaranya diangkat dari guru yakni Dede Admiral, S.Pd, M.Pd, Kepala SMPN 1 Subang dari Guru SMPN 1 Cidahu.

Sementara, tiga orang guru TK diangkat menjadi Kepala TK. Yang pertama, Suharni, S.Pd, Kepala TK Mawar XVI dari Guru TK Mawar XVI pada UPTD Pendidikan Kec. Kuningan. Kedua, Icah Aisah, S.Pd.I, Kepala TK Amal Mulya dari Guru RA Dewi Sartika pada UPTD Pendidikan Kec. Kuningan. Terakhir, Wiwi Wiati, Kepala TK Kartini pada UPTD Pendidikan Kec. Cigugur dari Guru TK Bina Tunas Warga pada UPTD Pendidikan Kec. Kuningan.

Pada kesempatan itu, Wabup mengatakan, terjadinya peng-angkatan dan alih tugas ini adalah hal biasa, sebagai bentuk dari reformasi birokrasi. Khusus kepada tujuh orang kepala SMPN dan kepala TK yang baru dilantik, Ia meminta agar selalu mensyukuri jabatan yang diberikan. “Syukuri jabatan yang pada hakekatnya adalah amanah ini,” ucapnya.

Selain itu, Wabup juga meminta agar kepala sekolah yang baru dilantik senantiasa melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

Menurut Wabup, diangkatnya seseorang menjadi kepala sekolah, dikarenakan si orang tersebut memiliki potensi. Wabup menyebut, dibutuhkan empat kompetensi untuk menjadikan SDM pendidik semakin berkualitas, salah satunya  meningkatkan profesionalisme.

Wabup mengingatkan agar selalu melakukan komunikasi dan interaksi dengan siswa dan orang tua siswa. “Interaksi dengan siswa dan orang tua siswa itu sangat penting. Ini dilakukan agar tidak terjadi diskomunikasi yang akan berdampak pada terhambatnya kemajuan suatu sekolah,” katanya.

Pelantikan Kepala SD di UPTD Mandirancan dan Pancalang

Sebelumnya, Kamis (2/4), di lingkungan UPTD Pendidikan Kec. Mandirancan, tiga orang kepala SD dilantik oleh Camat Mandirancan, Suradi Data Saputra, BA. Ketiga orang itu adalah Samsu, S.Pd Kepala SD Trijaya dari Guru SD 2 Mandirancan, Husen, S.Ag Kepala SD 2 Randobawailir dari Kepala SD Trijaya, dan Drs. Panca Kepala SD 2 Seda dari Kepala SD 2 Randobawailir.

Sama seperti di lingkungan UPTD Pendidikan Kec. Man-dirancan, di UPTD Pendidikan Kec. Pancalang pun sebanyak tiga orang dilantik menjadi kepala SD. Pelantikan dan pengambilan sumpah dilakukan oleh Camat Pancalang, Dra. Eni Sukaesih, M.Si.

Kepala SD yang dilantik antara lain Yoyo, S.Pd semula Guru SD Sindangkempeng, kini jadi kepala di sekolah tersebut. Selanjutnya Tugino, Kepala SD Danalampah kini rotasi menjadi Kepala SD Kahiyangan. Terakhir, Jamin, kini Kepala SD Danalampah dari Kepala SD 2 Silebu. (kies/rml)

Mushola Nurul Hasanah Luragung Landeuh Diresmikan

Luragung, IB

Mushola Nurul Hasanah di RT 01 RW 05 Desa Luragung Landeuh Kec. Luragung diresmikan penggunaannya oleh Ketua Yayasan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), H. Didin, Kamis (2/4).

Menurut Kuwu Luragung Landeuh, Ahmad Mulyadi, mushola itu dibangun mulai 11 November 2008 lalu dan menghabiskan biaya sekira Rp200 juta. Dana diperoleh dari bantuan Yayasan BSMI sebesar Rp100 juta dan separuhnya hasil swadaya masyarakat. Di pinggir mushola, dibangun satu lokal ruang belajar.

Kuwu Ahmad mengucapkan terima kasih kepada warga desanya yang telah ikut menyukseskan pembangunan mushola beserta ruang belajar itu. “Terima kasih atas bantuan moril dan materil warga Luragung Landeuh,” ucapnya.

Ketua Yayasan BSMI, H. Didin berpesan agar bisa merawat dan memanfaatkan mushola untuk kegiatan-kegiatan keagamaan. “Selain itu saya berpesan agar ruang belajar juga dimanfaatkan dan dirawat,” kata H. Didin dalam sambutannya.

Sebelum diresmikan, terlebih dahulu diadakan acara serah terima tanah wakaf secara simbolis dari keluarga almarhum pasangan H. Casmid dan Hj. Hasanah, yang diwakili Iman Mauludin, SH.I, anak bungsu pasangan tersebut. Ia menyerahkan surat pernyataan wakaf kepada Kuwu Ahmad Mulyadi. Tanah wakaf itu memiliki luas 997 m3 atas nama Ondi Suhendi.

Setelah acara penyerahan tanah wakaf, dilanjutkan dengan penyerahan alat keperluan mushola diantaranya karpet, al-quran, dan tiga pengeras suara oleh Ketua Yayasan BSMI kepada Kuwu Ahmad Mulyadi. (gie)