Archive for the ‘edisi 120’ Category

h1

H. Encu Sukat Gantikan H.D. Arifin

5 Februari 2009

pelantikan-kandepag1

Kuningan, IB

Kepala Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kabupaten Kuningan, H. D. Arifin, S.Ag, M.Pd diganti oleh Drs. H. Encu Sukat Wirya Saputra, MA. H. Encu Sukat promosi dari Kasubag TU Kandepag Kuningan. Sementara, H.D Arifin beralih tugas menjadi Kepala Kandepag Kota Cirebon.

Pelantikan dilakukan oleh Bupati Kuningan, H.Aang Hamid Suganda mewakili Menteri Agama RI, Maftuh Basuni di Pendopo Kabupaten, Senin (2/2).

Pada kesempatan itu, dilakukan pula pengukuhan pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kab. Kuningan. Pengukuhan dilakukan karena ketua sebelumnya, Drs.H. Rustana mengundurkan diri. Ia digantikan oleh H. Rohmat Ardian, S.Sos (owner Puspita Galery) yang didampingi Sekretaris H. Ahmad Fauzi, M.Si, dan Bendahara, H. Barna Subarna, M.Pd.

Kepala Kandepag baru, H, Encu Sukat seusai dilantik, membacakan fakta integritas (janji). Fakta integritas diantaranya berisi tidak akan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), dan tidak akan melakukan perbuatan tercela. Akan meningkatkan kinerja pegawai Depag dan bertanggung jawab sebagai aparat pemerintah, dan bila melanggar bersedia diberhentikan.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Depag Jabar, Drs. H. Muhaimain Lutfi, M.Si mengatakan, sebagai aparat pemerintah kita tidak bisa lepas dari koridor yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti adanya fakta integritas yang bertujuan untuk memulihkan citra Depag, agar tumbuh dan berkembang lebih baik dalam menjalankan amanat masyarakat.

Sebagai kandepag baru, harus mampu membangun untuk kemaslahatan umat, supaya cerdas dan tidak tertinggal. Selain itu, harus mampu meningkatkan potensi zakat dan sodaqoh karena sangat bermanfaat bagi kesejahteraan umat.

“Sebenarnya potensi zakat di Jabar sangat besar, namun sayang belum dikelola dengan optimal. Ini karena membayar zakat merupakan pekerjaan yang sangat berat,” terang putra asli Kuningan ini.

Hal itu pun diceritakan dalam sejar Khalifah Abu Bakar Sidiq. Ia bertanya pada muridnya, apa yang paling jauh. Jawab muridnya, kutub atau Amerika. Abubakar menjelaskan, yang paling jauh adalah hari kemarin tidak akan dapat ditempuh dengan apapun.

Selanjutnya diterangkan, yang paling dekat adalah kematian. Karena mati dapat terjadi kapanpun, tidak mengenal waktu, dan tanpa permisi.

Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat dan meninggalkan amanah. Seangkan pekerjaan yang paling berat adalah membayar zakat dan meninggalkan amanah. Membayar zakat (zakat mall) secara hukum logika sangat berar karena harus menyisihkan 2,5 persen dari keuntungan, namun kalau melihat dari hukum Allah (Good logic) maka keuntungannya akan berlipat ganda, kta dapatkan dari Allah SWT.

Bupati Aang mengatakan, kerjasama dan kordinasi dengan Depag sudah berjalan baik. Terbukti hasilnya menggembirakan. Seperti adanya program pengantin peduli lingkungan (Pepeling) yang sudah dikenal di berbagai daerah. “Kuningan dijadikan percontohan program pengantin peduli lingkungan. Sayangnya, masih ada beberapa yang tidak melaksanakan Pepeling,” terang Aang.

Sebagai intansi yang sangat besr dengan jumlah karyawan mencapai sekira 3000an orang, bagi kandepag baru harus memiliki kemampuan manajerial yang tinggi untuk mengaturnya. Kita juga merasa bangga, bahwa selama ini pondok pesantren (ponpes) tumbuh dan berkembang terus. Yang terakhir berdiri di Desa Legok Kecamatan Cidahu. Dan hampir seluruh kecamatan telah ada pondok pesantren.

Namun, Ia mencatat pertumbuhan pesantren ini tidak dibarengi dengan prestasi dibidang MTQ (Musabaqoh Tilawatul Qur’an). “Prestasi MTQ kita dari tahun ke tahun selalu menurun, dan tidak bisa berbicara di tingkat provinsi. Karena itu, Saya berharap kepada Kandepag baru agar mampu meningkatkan prestasi para qori dan qoriah pada tahun 2009 ini,” pinta Aang.

Pada sisi lain, kita masih punya kebanggaan, yakni ditorehkan oleh KUA Kuningan yang meraih prestasi sebagai KUA terbaik tingkat Jabar pada tahun 2007 lalu. Begitu pula, dalam menangani masalah Ahmadiyah terus ada peningkatan. “Belum lama ini, lima puluh orang Ahmadiyah di Desa Manis Lor masuk Islam,” jelas Aang.

Sedangkan kepada pengurus BAZ baru yang dipimpin Pengusaha muda dan religius, H. Rohmat Andrian, ia meminta agar BAZ memiliki target pencapai serta melakukan pengawasan dan evaluasi setiap tahun agar terlihat adanya peningkatan zakat yang masuk. Dan melengkapi sarana dan prasarana, setelah dimiliki gedung yang cukup megah. (tan)

Iklan
h1

Tiga Kandidat Sekda Kuningan

5 Februari 2009

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos telah mengajukan tiga calon sekda ke Gubernur Jawa Barat. Posisi Sekda sendiri kosong sejak 1 September 2008, karena Drs. H. Momon Rochmana, MM pensiun dan kemudian dipinang oleh H. Aang Hamid Suganda sebagai Wakil Bupati Kuningan.

Menurut informasi yang diterima, ketiga kandididat adalah Drs. H. Djamaluddin Noer, MM, Plt Sekda Kuningan, Kepala Dispenda dan mantan Asda II Setda Kuningan. Ia telah pensiun pada 1 Januari 2009 lalu, namun diperpanjang selama setahun. Perpanjangan BUP (batas usia pensiun) bagi kepala dinas/badan di Kab. Kuningan merupakan yang pertama terjadi. Karena sebelumnya yang suka diperpanjang BUP-nya hanyalah sekda saja.

Kandidat berikutnya adalah Ir. H. Iman Sungkawa, MM, Kepala Dinas Pertanian dan mantan Kepala Bapeda Kuningan selama enam tahun. Menyusul H. Bambang Timbul Margono, SH, MM, menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan mantan Kepala Badan Kesbang dan Linmas Kab. Kuningan.

Ketiganya memungkinkan untuk terpilih menjadi Sekda depinitif. Namun bila melihat dari adanya perpanjangan BUP Djamaludin, nampaknya ber peluang besar jadi orang ke tiga di Pemkab Kuningan. (tan)

h1

Perpustakaan Desa Nelangsa

5 Februari 2009

Beberapa tahun lalu di Kabupaten Kuningan dapat bantuan dari pemerintah pusat untuk membangun Perpustakaan di Desa. Terpantu IB, ada tiga buah perpustakan yakni di Desa Sindangsari Kec. Sindangagung, Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur dan Desa Cikeleng Kecamatan Japara.

Sebelumnya, Pemerintah Pusat memberikan bantuan dana operasional untuk petugas pengelola perpustakaan. Sayang nya, setelah biaya operasional tak turun lagi tidak ditindaklanjuti oleh pemereintah desa atau Pemkab Kuningan, sehingga sekarang perpustakaan itupun nampak mati suri dan nasibnya nelangsa.

Hal itu pun diungkapkan oleh seorang warga Sindangsari Kec, Sindangagung, Rd. Mansur yang melihat betapa sepinya pengunjung perpustakaan. Bahkan saking sepinya sehingga akhirnya gedung itu tutup dengan sendirinya. Bagaimana sikap Pemkab Kuningan, Disdik dan BKKP menyikapi kondisi ini? (tan)

h1

Seni Rudat Andalan Desa Timbang

5 Februari 2009

Cigandamekar, IB

Rudat adalah salah satu seni Islami yang semasa perjuangan dulu merupakan kolaborasi seni dan bela diri. Salah seorang yang peduli terhadap pelestarian seni tradisional ini dilakukan oleh Sahuri, warga Dusun III Kebon Kawung Desa Timbang Kecamatan Cigandamekar Kab. Kuningan..

Grup seni rudat pimpinan Sahuri sejak berdiri 15 tahun yang lalu, telah beberapa kali berperan dalam pawai alegoris Hari Jadi Kuningan dan mengisi acara lainnya, baik pentas maupun mengisi acara hajatan. Yang membanggakan dirinya kelompok yang dibinanya ini memiliki anggota berjumlah 50 orang yang umumnya anak-anak.

“Anggota kelompok seni rudat ini hampir seluruhnya adalah anak-anak. Hal ini bertujuan untuk menanamkan sikap mencintai seni leluhur sekaligus untuk melestarikannya,” terang Sahuri.

Itikad baik untuk melestarikan seni warisan leluhur ini diakui oleh Abah Sahuri mengalami kendala diantaranya ketersediaan perangkat gamelan dan pakaian. “Untuk itu, tiada salahnya apabila Bapak Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bisa membantu grup seni rudat kami,” harapnya.

Kedepannya, Ia berharap seni rudat ini dapat dikenal luas oleh masyarakat bahkan kalau bisa dapat berbicara pada level internasional. Pasalnya, selain merupakan seni yang memiliki nilai historis, juga indah dan menarik juga memiliki sehingga logis untuk dilestarikan. (gun)

h1

Benahi Desa Dengan PNPM Mandiri Perdesaan

5 Februari 2009

Cibingbin, IB

Tahun 2009 ini sepuluh desa di Kecamatan Cibingbin mendapat kucuran dana dari program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Perdesaan bidang imprastruktur, dengan total kucuran sebesar Rp. 1,5 miliar. Perinciannya dananya dari DIPA pusat sebesar Rp. 1,2 miliar dan cost sharing APBD Kab. Kuningan sebesar Rp. 300 juta.

Sayang pada program ini, beberapa kepala desa (kuwu) mengaku kurang mendapat peran sehingga kurang optimal dalam pengawasan dan pelaksanaan program ini. Seperti diungkapkan Kuwu Ciangir, Tarso. Namun tidak demikian dengan Kuwu Cipondok, Suhamad, SE. Ia mengaku, tetap terlibat didalamnya, walaupun sebatas sebagai penanggung jawab kegiatan. “Di desa kami saat ini tengah dibangun saluran air di blok Cikamuning sepanjnag 1.200 meter,” terang Suhamad.

PNPM di Dukuhbadag

Sementara itu, Ketua TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) PNPM Desa Dukuhbadag Kec. Cibingbin, Ono Dharsono Dian mengatakan, dana PNPM Mandiri Perdesaan sektor imprastruktur di desanya digunakan untuk membangun tanggul pengaman bahaya banjir yang saban tahun mengancam. Lokasi di sepanjang lapangan Sepakbola di desanya. Warga merasa bersyukur karena sebelumnya apabila banjir bandang datang, mereka harus membersihkan bekas banjir hingga tiga hari. Namun sekarang, warga di Dusun II tidak akan mengalami lagi hal tersebut.

Selain itu, dibangun pula rabat pada ruas jalan menuju Dusun Maja.

Menurut Ono, PNPM ini benar-benar memberdayakan masyarakat secara bottom up (dari bawah). Diawali dari musyawarah dusun (musdus), kemudian musyawarah desa (musdes) dan musyawarah antar desa (MAD). (tan)

h1

Ponpes Miftahul Huda Luragung Landeuh Dibangun

5 Februari 2009

Luragung IB.

Kuwu Luragung Landeuh, Ahmad Mulyadi, sedang berupaya keras membangun desanya sedikit lebih maju dari sebelumnya, terutama dalam membangun sektor keagamaan. Salah satu gebrakan yang dilakukan diantaranya adalah memberantas kebodohan melalui pendidikan jalur non formal untuk kemajuan warganya.

Kongkritnya upaya yang sedang ditempuh adalah membangun pondokl pesantren (Ponpes) Miftahul Huda di Dusun Puhun. Ponpes ini dibangun diatas lahan seluas 23 bata, diantara merupakan wakaf dari H. Emon mantan Dirut Bank Jabar. Dalam wakap itupun dihibahkan pula sebuah bangunan rumah untuk digunakan kegiatan pengajian dan kegiatan keagaman lainnya.

Menurut Ketua Panitia, E. Kuswandi, SP pada areal seluas itu akan dikembangkan menjadi bangunan dengan jumlah ruangan empat lokal. Ke empat lokal ruang belajar yang terletak pada dua lokasi itu, menggunakan anggaran yang bersumber dari swadaya masyarakat yang berjumlah Rp. 365.750.000. Jumlah itu, terang Engkus,kemungkinan bertambah, bila ada hamba Allah yang mau mengikhlaskan hartanya untuk kemajauan pendidkan. “Bagi yang tergugah hatinya kami sudah menyediakan nomor rekening 0005448451100 pada Kantor Cabang Pembantu Bank Jabar Luragung,” katanya.

Bangunan ke dua memanfaatkan tanah wakaf dari H. Casmid. Pihak keluarga H. Casmid seperti disampaikan Iman Mauludin, SH mengaku ikhlas mewakapkan tanahnya untuk kemajuan pendidikkan.

Sementara dari informasi yang diterima menyebutkan, melalui BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) telah diterima bantuan dari Abu Dhabi sebesar Rp. 200 juta. Pada tanah seluas 23 bata yang terletak di RT 01/05 ini akan dibuat mushola berukuran 49 meter², ruang KBM seluas 42², ruang wudlu dan urinir. “Semua biaya pelaksanaan pembangunan memanfaatkan bantuan dana dari Abu Dhabi sampai buka kunci, sementara masyarakat berpartisipasi dalam penyediaan pemondokkan, tenaga, bambu dan urugan,” terang KH. Bahru Tauhid Noer, Kamis (29/1).

Kiayi muda ini bersama istrinya, Minatul Mukaromah dipercaya untuk mengelola Pondok Pesantren pertama di Luragung Landeuh ini. Walaupun terbilang baru namun sudah tertampung sejumlah 200 santri yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan ada santri yang berasal dari Kecamatan Salem Kabupaten Brebes.

Kuwu Luragung Landeuh, Ahmad Mulyadi berharap dengan niat baiknya, semoga menjadi kebaikan. Ia pun mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah menyumbangkan tenaga, harta, dan pikiran, termasuk kepada Pemkab Kuningan. (gie)

h1

Sistem Seleksi, Tak Halangi LPTQ Pancalang Gelar MTQ

5 Februari 2009

Pancalang, IB

Lembaga Pembinaan Terpadu Qur’an (LPTQ) Pancalang menggelar MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) tingkat Kecamatan Pancalang. MTQ ini diikuti 51 peserta qori dan qoriah kategori dewasa, remaja dan anak-anak.

Camat Pancalang Drs. Agus Basuki, M.Si mengatakan, MTQ merupakan momentum penting dalam menguatkan dan mengukuhkan silaturahmi kita sebagai muslim. “MTQ tahun 2009 merupakan satu kebanggaan bagi warga Kecamatan Pancalang, terlepas pada tahun 2009 ini Kabupaten Kuningan akan menerapkan sistem seleksi. Sebab kegiatan tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, kekompakkan dan mendalami pemahaman terhadap al-Qur’an,” terang Agus Basuki di lokasi MTQ di Desa Patalagan, Rabu (21/1).

Ia menyebutkan, MTQ merupakan salah satu sarana meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an dan pemahaman kandungan isinya baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Hal itu merupakan kewajiban bersama dan sejalan dengan Peraturan Daerah Kab. Kuningan yang mewajibkan setiap siswa yang akan melanjutkan ke jenjang SMP wajib mempunyai sertifikat

Ia mengucapkan terima kasih kepada Kuwu Patalagan sebagai tuan rumah MTQ. Menurut Agus, dengan kekompakkan dan kebersamaan di desa tersebut telah menampakkan hasil dengan dibangunnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang didanai secara swadaya masyarakat tanpa bantuan dari pemerintah. Atas keadaan itupun bukan merupakan suatu keniscayaan apabila desa ini kedepannya nanti bisa menjadi desa teladan.

Pada acara yang dihadiri muspika, kuwu se-Kec. Pancalang, alim ulama, tokoh masyarakat, BPD, LPMD dan masyarakat, pimpinan pondok pesantren ini menghasilkan beberapa qori-qoriah terbaik. Juara 1 qori dewasa laki-laki Uud Sahrudin dari Desa Silebu, qori dewasa perempuan Tati Rohiayi, Desa Patalagan. Juara 1 qori remaja laki-laki Lukman Hakim, Desa Silebu, juara 1 qoriah remaja perempuan Nur Awalia, Desa Silebu. Juara 1 qori anak laki-laki Endang Mustakim, Desa Patalagan dan juara 1 qoriah anak perempuan Tara, Desa Kahiyangan. (Rml)