h1

Kalimantan Barat Belajar BUMDES ke Luragunglandeuh

9 April 2012

Luragung, IB

Rombongan BP2AMKB (Badan Pemberdayaan Perempuan Anak, Masyarakat dan Keluarga Berencana) Kalimantan Barat belajar manajemen pengelolaan unit ekonomi produktif (UED) ke Desa Luragunglandeuh Kecamatan Luragung, Rabu (28/12/2011).

Rombongan dipimpin Gipson MB, S.IP berjumlah sepuluh orang dan diterima oleh Kepala BPMD Kab. Kuningan, Drs. H. Kamil G. Permadi, MM, Kabil PLK Maman Paiman, SH, MH, dan Camat Luragung Drs. Dudi Fahrudin.

Selain itu, Kepala Desa Luragunglandeuh Ahmad Mulyadi, Direktur BUMDES Agung Mandiri Drs. Agus Solehudin, Ketua OKMS E. Kusnadi, SP, dan pegiat UED di Luragunglandeuh.

Agus Solehudin mengatakan, pada BUMDES Agung Mandiri ada beberapa bidang usaha yang telah berjalan. Usaha itu yakni Percetakan, Warnet, Budidaya Jamur Tiram dan Lele Sangkuriang, serta Usaha Simpan Pinjam.

Kepala Desa Luragunglandeuh, Ahmad Mulyadi mengaku bangga atas penunjukan UED di desanya yang menjadi percontohan dan mendapat kunjungan kerja rombongan BP2AMKB Kalimantan Barat itu.

“Penunjukan sebagai tempat studi banding dari BP2AMKB Kalimantan Barat ini sebagai kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena desa kami paling baik melaksanakan usaha ekonomi produktif dari program Desa Peradaban menuju desa mandiri,” terang Ahmad Mulyadi.

Gipson MB, perwakilan BP2AMKB Kalbar sambil meninjau Pasar Tradisional Luragung yang memiliki 300 lapak/kios mengungkapkan, Kalbar juga dapat bantuan PNPM seperti halnya di Jawa Barat. Namun permasalahannya di sana kurangnya partisipasi masyarakat, termasuk saat mengikuti MAD (musyawarah antar desa) dalam merumuskan perencanaan.

“Saat mengikuti MAD mereka umumnya sambil mabok minuman keras, sehingga sulit untuk mengambil keputusan. Meski diulang beberapa kali, hasilnya tetap sama,” ujarnya.

Begitu pula untuk sektor simpan pinjam, mereka menganggap itu adalah bagi-bagi duit dari negara. Mereka juga tidak takut dipanggil oleh petugas termasuk oleh kepolisian. Sehingga simpan pinjam menunjukan trend menurun di masyarakat. “Kalau menunggak mereka lebih senang bila dipanggil polisi,” katanya.

Untuk pengembangan pasar, karena masih terjadi ego sektoral sehingga harus jelas. Apakah sebuah pasar itu pasar desa atau pasar tradisional, karena kalau pasar tradisional maka pemda mau sharing, tetapi kalau pasar desa kecenderungan ditolak oleh desa. (tan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: