h1

Kades Maniskidul Patahkan Tudingan Korupsi

30 Maret 2012

Jalaksana, IB

Kepala Desa Maniskidul Kecamatan Jalaksana, Drs. Eman Suharman mencoba mematahkan tudingan BPD dan kelompok masarakat di desanya yang menuduhnya melakukan korupsi.

Persoalan, kata Eman Suherman, mencuat karena pemberitaan media yang isinya dirinya dituduh menggelapkan dana desa Rp. 184 juta. Akibatnya, muncullah reaksi dari masyarakat setelah membaca berita itu. “Saya nyatakan tidak ada uang sepeser pun yang digelapkan. Masyarakat yang mendukung saya juga banyak, tapi tidak saya datangkan ke balai desa,” ujarnya.

Dijelaskan Eman, keuangan yang kini menjadi biang persoalan merupakan utang piutang, bukan korupsi atau penggelapan. “Mengutang atau meminjam itu dilegalkan kok. Negara saja bisa meminjam. Saya katakan sekali lagi, saya tidak merasa telah menggelapkan uang desa,” tandasnya.

Ketua Parade Nusantara Kab. Kuningan ini mengatakan, semestinya persoalan itu dapat diselesaikan di internal desa, tidak perlu mendatangkan Inspektorat dan Tipikor. “Ini lucu, seperti ada skenario yang diatur sedemikian rupa. Utang ini akan saya kembalikan ke desa, dan ini bukanlah sebagai sebuah penggelapan. Wong Pak Nuzul Rachdy juga yang BPD merangkap anggota DPRD Kuningan meminjam Rp. 2 juta, Camat Jalaksana Rp. 5 juta, saya sendiri hanya pinjam Rp. 30 juta,” terang dia

Tuduhan penggelapan dialamatkan kepadanya berawal ketika dirinya mempertahankan Objek Wisata Cibulan yang hendak dikelola Pemda Kuningan. “Ini sangat jelas direkayasa. Untuk itu, saya akan pertahankan Cibulan demi warga Desa Maniskidul. Kalau saya mundur, saya tidak bisa mempertanggungjawabkan kewajiban saya sebagai kades. Saya akan mempertahankan jabatan saya, jika berani memecat saya, saya pun tidak segan untuk mem-PTUN-kan Pemkab Kuningan,” tegasnya.

Dalam klarifikasinya, Eman membantah semua tudingan miring itu, tapi mengakui uang yang digunakannya adalah pinjam meminjam dan semuanya tercatat di bendahara desa. Seperti mengenai KUBE FM itu yang mengelola adalah kelompok tani bukan dirinya. Begitu pula PISP dirinya hanya meneruskan pekerjaan panitia, karena mereka tidak sanggup, dan bukan kehendak sendiri.

Ia pun membantah tuduhan telah menggelapkan uang hibah/wakaf tanah sebesar Rp. 25 juta. “Uang itu bukan untuk penataan makam tetapi untuk menambah areal pemakaman umum. Bila nanti ada yang menjual, saya akan membelikannya seusai amanah dari muakif,” kata Eman.

Sebelumnya, Rabu (8/12/11) sekelompok warga berjumlah sekira 70 orang melakukan aksi unjukrasa di depan Balai Desa Maniskidul. Massa yang dipimpin Dulhadi menuntut Kades Eman Suharman meletakkan jabatannya karena diduga melakukan korupsi Rp. 184 juta.

Mereka menuduh Kades telah menggelapkan kas desa Rp. 106 juta, program KUBE FM Rp. 22 juta, hibah/wakaf sebesar Rp25 juta, sisa program PISP sebesar Rp. 14 juta dan program sertifikat warga sebesar Rp. 17 juta.

Massa meminta agar BPD menyelesaikan kasus tersebut dan kades mengembalikan uang yang diduga digelapkan itu ke kas desa. “Saya menuntut kepada pihak BPD Desa Maniskidul untuk bertindak cepat dan mengambil keputusan terkait permasalahan ini,” tegasnya.

Tuntutan mereka didasarkan pada temuan tim lima bentukan BPD yang menemukan adanya indikasi penyimpang an dan penyalahgunaan keuangan desa yang mengarah pada dugaan tindak pidana korupsi.

Ahmad Taufik, warga Desa Maniskidul dan anggota DPRD Kuningan, menilai apabila BPD cepat tanggap atas dugaan penyelewengan keuangan desa, maka permasalahan tidak akan mencuat.

“Aksi demonstrasi masyarakat itu sah-sah saja dilakukan. Namun saya sebagai warga Maniskidul sangat menyayangkan gejolak ini terjadi. Ini akibat dari lemahnya BPD dalam menanggapi aspirasi masyarakat,” kata Taufik.

Menurut Taufik, keterlambatan BPD Maniskidul dalam menampung aspirasi masyarakatnya, telah membawa persoalan dugaan penyelewengan tersebut ke ranah hukum.

“Kalau dulu BPD bisa bereaksi cepat dalam menampung aspirasi masyarakat nya, maka saya kira persoalan ini tidak mungkin mencuat ke publik. Mestinya, persoalan ini dapat diselesaikan di internal desa saja. Saya juga menyesalkan kinerja tim 5 yang telah membocorkan data-data yang dipegangnya,” kata Taufik.

Menanggapi pernyataan Kades Maniskidul, Ahmad Taufik menyatakan, kalau pernyataan kadesnya itu sudah keluar dari konteks persoalan yang sebenarnya. “Saya telah baca di media, kalau persoalan yang dihadapinya itu dikait-kaitkan dengan persoalan Cibulan, saya pikir itu sudah keluar dari ranahnya. Jadi, hal ini sudah menjadi sangat na’if sekali, seolah-olah kades ini sedang mengalihkan permasalahan,” tuturnya.

Lebih jauh Taufik mengatakan, dirinya akan menunggu sikap BPD selanjutnya pasca demonstrasi kemarin, terlebih aspirasi masyarakat desanya itu sudah masuk ke Komisi A DPRD Kuningan. “Kita ingin tahu, apa yang akan dilakukan BPD setelah aksi demonstrasi kemarin. Komisi A juga sudah menerima aspirasi dari warga Maniskidul,” cetusnya.

Terpisah, Inspektur Inspektorat Kab. Kuningan, H. Ajat Sudrajat, SH, M.Pd  ketika ditanya wartawan seusai Jambore Pramuka di Open Space Gallery, Cilimus mengungkapkan bahwa Kades Maniskidul terindikasi melakukan tindak pidana korupsi. “Berdasarkan hasil audit, ada indikasi mengarah ke tindak pidana korupsi,” ungkapnya. (tan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: