h1

Hj. Utje Ch. Suganda Pelopori Isbat Nikah

25 Maret 2012

Ciawigebang, IB

Hj. Utje Ch. Suganda, S.Sos pelopori isbat nikah. Kepeloporan Ketua Umum Kordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Kuningan ini nampak dari kelihaiannya menggandeng Pengadilan Agama dan Kementerian Agama Kabupaten Kuningan untuk menggelar isbat nikah dan nikah masal.

Bertempat di Masjid At Taqwa Desa/Kecamatan Ciawigebang K3S Kabupaten Kuningan menggelar aksi sosial nikah massal bagi 17 calon pengantin. Saat itu diserahkan pula akte nikah isbat bagi 81 pasangan suami istri (bukan 84, red) yang telah melakukan isbat nikah di Kantor K3S Kabupaten Kuningan.

Isbat nikah yang digagas K3S Kuningan merupakan terobosan baru di Jawa Barat dan baru terjadi di Kabupaten Kuningan. Hal itu diakui pula oleh Kepala Kemenag Kabupaten Kuningan, Drs. H. Agus Abdul Kholik, MM.

“Isbat nikah yang dilakukan kerjasama antara K3S, Pengadilan Agama dan Kantor Kemenag Kuningan merupakan terobosan baru di Jawa Barat, dan baru dilaksanakan di Kabupaten Kuningan,” terang H. Agus kepada IB di kantornya, Jum’at (4/11/11).

Menurut Agus, nikah massal atau isbat sangat bermanfaat bagi keluarga, karena tonggak awal keluarga adalah adanya akte nikah. Dengan akte nikah itu, berakibat anak yang selama ini sulit memiliki akte akan serasa mudah, status anak lebih jelas dan sah secara hokum, termasuk mengenai hak warisnya.

Ketika ditanya mengapa isbat lebih banyak diminati dibanding dengan nikah masal, Agus mengatakan, karena isbat merupakan kebutuhan bagi pasangan yang telah menikah tetapi tidak tercatat di KUA. Sedangkan nikah masal, calon pengantin merasa malu sehingga peminatnya kurang. Padahal kedua program itu ditujukan bagi masyarakat yang tidak mampu.

Kemenag Kuningan sendiri mempunyai target selama tahun 2011 ini  dapat melakukan pernikahan baik isbat maupun nikah masal dengan sebanyak 200 pasangan. “Dari target itu sudah tercapai 99 pasangan,” kata Agus.

Nikah massal yang digagas K3S sebenarnya sudah untuk ke tiga kalinya. Sebelumnya pernah dilakukan di Masjid Ar Rohman Kelurahan Purwawinangun Kecamatan Kuningan dan Kecamatan Pancalang.

Sedangkan isbat nikah masal memang baru pertama kali dilakukan oleh hakim Pengadilan Agama Kuningan di Sekretariat K3S Kuningan. Isbat nikah merupakan pengesahan pernikahan oleh Pengadilan Agama, karena pernikahan Pasutri (pasangan suami istri) tidak tercatat di KUA, atau nikah dibawah tangan.

Prosesnya, setelah calon memenuhi persyaratan dan tidak ada halangan untuk menikah, maka akan diberikan putusan berupa penetapan oleh hakim PA. Selanjutnya diberikan akta nikah oleh KUA setempat.

Ketua K3S Kuningan Hj. Utje Ch. Suganda, mengatakan, kegiatan nikah massal dan isbat nikah ini akan memiliki  arti penting untuk meningkatkan derajat dan martabat keluarga yang tidak mampu dalam ikatan pernikahan yang sah secara hukum. Dengan harapan ada kesejajaran masa depan antara orang tua dan anak-anaknya dengan keluarga lainnya, karena tercatat di KUA.

“Kami membantu pemerintah agar masyarakat sadar hukum dan meminimalisasi nikah usia dini, nikah adat atau nikah yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Sedangkan sasaran nikah massal,  yakni  calon pengantin yang siap menikah tapi tidak mampu biaya nikah, atau yang sudah menikah sah menurut agama tapi belum tercatat di KUA dan  pernikahan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang No 1 Th 1974 tentang Perkawinan.

Kaitan dengan Undang-Undang No 1 Th 1974, Ketua K3S Kuningan menjelaskan, perkawinan yang sah harus memenuhi syarat agama dan catatan hukum. Perkawinan adalah suatu peristiwa yang membahagiakan dan layak diberitahukan karena berkaitan dengan status sosial di tengah masyarakat.

Usai melaksanakan prosesi ijab kabul berbagai ungkapan bahagia pun terlontar dari pasangan pengantin, seperti  pasangan Syarif asal Desa Cirukem dengan Ruheni Desa Citangtu Kecamatan Kuningan yang langsung diantar Camat Kuningan ke lokasi ini.   “Saya gembira sekali kini bisa menikah. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih kepada pihak penyelenggara yang telah meringankan beban hidup terutama untuk nikah, terlebih lagi kedua orang tua sudah tiada belum lagi usaha yang tidak menentu penghasilannya,” ungkapnya.

Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan, diataranya hutbah nikah, ijab kabul, penyerahan mas kawin (mahar), dan penyerahan buku nikah. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan akta nikah yang isbat nikah.

Saat itupun dilakukan penyerahan  secara simbolis pohon pepeling dari pengantin kepada Bupati Kuningan. Sebaliknya, panitiapun telah memberikan bingkisan kepada semua pasangan pengantin.

Dua kegiatan sosial keagamaan itu itu dihadiri pula oleh Wakapolres Kuningan, Dandim 0615 Kuningan Letkol Kav. Sugeng, Ketua MUI, para camat serta pasangan pengantin isbat dan nikah massal. (gie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: