h1

Isbat Nikah Massal Baru Terjadi di Kuningan

24 Maret 2012

Kuningan, IB

Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Kuningan memiliki banyak program, diantaranya terdapat Program Bhakti Sosial Nikah Massal. Program tersebut sudah keempat kalinya dilaksanakan, dengan peserta yang cukup membludak. Akan tetapi, setelah diseleksi yang lolos persyaratan dan syah untuk dinikahkan hanya beberapa puluh orang saja. Sehingga, untuk tahun 2011 berdasarkan hasil evaluasi ketua umum ada satu permasalahan yang harus melibatkan Pengadilan Agama yaitu Isbat Nikah.

Hj. Utje Ch. Suganda selaku Ketua Umum K3S tidak kepalang tanggung. Beliau mengadakan rapat koordinasi untuk memecahan masalah sosial itu walaupun ribet, diperlukan kesungguhan, keuletan dan tekad yang bulat, juga koordinasi dengan semua pihak. Rapat koordinasi yang menyita waktu sehari penuh tersebut diikuti Bupati Kuningan diwakili Kabag Kesra, Dinsosnaker, Kemenag, Pengadilan Agama, para Ketua Bidang di K3S, dan para Camat yang diwakili Kasi Kesra Kecamatan se-Kab. Kuningan.

Setelah rapat usai, tim yang dipimpin oleh H. Oman, S.Ag dari Pengadilan Agama, H. Rohaedi, S.Ag (Kemenag), Cece Mulyana, S.Sos (Kec. Ciawigebang), Drs. H. Sobana (K3S) dan sponsor Agus Kurniawan, SE (pimpinan Bank Jabar Banten Cabang Kuningan) kemudian bergerak dengan tugas sesuai kewenangan masing-masing. Sehubungan Isbat Nikah Massal ini lebih mendekatkan kepada proyek akherat, maka mereka bekerja siang dan malam dengan mengorbankan waktu dan tenaga. Dengan niat shodakoh ibadah, mereka pun tampak ikhlas menjalaninya.

Kenapa begitu banyak personil? Penulis yakin masalah Isbat Nikah Massal ini baru terjadi di Kab. Kuningan. Untuk melewati Isbat Nikah ini diperlukan proses yang sangat panjang, dan keterangan tidak cukup hanya diperoleh dari suami, istri, wali dan saksi-saksi, tetapi juga dari kiayi yang menikahkan, keluarga dari pihak istri dan suami yang menyaksikan/menghadiri terjadinya nikah siri, pemerintah setempat, RT, lurah dan kuwu yang telah diangkat sumpah. Itulah sebabnya dari 211 pasang nikah siri hanya lolos 84 pasang yang bisa diisbatkan.

Sungguh kepedulian sosial yang perlu dipertahankan dan belum terjadi di kabupaten lain, bagaimana para Camat dan para Naib mengantarkan dan menunggu rakyatnya untuk mengikuti proses persidangan yang berjalan dengan tertib tapi cukup melelahkan, seharian penuh. Bahkan, Camat dan Naib merelakan mobil pribadinya (bukan mobil plat merah) digunakan untuk antar jemput pasangan Isbat Nikah, karena dari satu pasang saja minimal lima orang ikut mengantar.

Isbat Nikah sendiri untuk kelompok pertama dilaksanakan pada hari Kamis (20/10) bertempat di Sekretariat K3S, diikuti 12 kecamatan yaitu Cilebak, Subang, Darma, Nusaherang, Pancalang, Cilimus, Jalaksana, Hantara, Sindangagung, Cigugur, Kuningan, Selajambe dan Cigandamekar. Sedangkan kelompok kedua pada hari Jumat (21/10) di Aula Kecamatan Ciawigebang, meliputi Kecamatan Ciawigebang, Kalimanggis, Cidahu, Luragung, Lebakwangi, Maleber, Karangkancana, Cibingbin, Cimahi, Ciwaru dan Ciniru. Sementara untuk kelompok ketiga dilaksanakan pada Rabu (26/10) bertempat di Kantor Pengadilan Agama Kuningan, dengan peserta khusus bagi mereka yang tidak hadir pada kelompok pertama dan kedua, sehubungan ada beberapa pasangan yang sakit atau lainnya sehingga berhalangan hadir.

Ada beberapa hal unik yang ditemui dalam sidang isbat ini, seperti halnya ketika Hakim bertanya kepada yang laki-laki berapa mas kawin yang diberikan, si laki-laki menjawab Rp. 100 ribu. Namun, ketika ditanyakan kepada yang perempuan hanya Rp. 20 ribu saja, sehingga Hakim menyuruh untuk segera membayar kekurangannya itu. Karena tidak membawa uang, si suami terlihat kelabakan. Untunglah Kasi Kesra Kecamatannya mengerti dan bijak, sehingga akhirnya memberi laki-laki tersebut Rp. 80 ribu.

Penulis juga salut kepada Hakim yang kebagian tempat sidang di ruangan sempit, penuh sesak dan panas hareudang. Padahal, ketika itu Hakim yang berpakaian toga tampak penuh bercucuran keringat karena tidak ada AC maupun kipas angin. Saat menghadapi klien yang membawa bayi berumur 4 bulan dan bayi itu menangis karena ingin menyusui, Hakim pun dengan penuh kesabaran mempersilahkan si ibu untuk menyusui bayinya dulu. Tanpa malu-malu, di depan Hakim sang ibu (30 tahun) mengeluarkan barang berharganya. Kontan saja, Pak Hakim dan hadirin ngabalieur, sedangkan sang suami menatap sambil hokcay, serta para wartawan tingjalepret.

Adapula kejadian yang sangat mengharukan, ketika ada empat orang yang sepertinya datang dari kecamatan dan desa terjauh memaksa untuk mengikuti sidang isbat, padahal waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib. Saat itu, hujan turun cukup deras, Hakim dan Panitera pun sudah pulang. Sambil menangis, mereka menuturkan alasannya demi anak tercinta yang kini membutuhkan akta lahir karena mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan tinggi di ibukota, kalau tidak ada akta terpaksa tidak bisa diterima. Alhamdulillah, berkat perjuangan K3S keesokan harinya di Ciawigebang mereka bisa mengikuti sidang isbat, sehingga malam itu mereka tidur di kantor K3S. Semalaman mereka terlihat bersujud dan menangis, terharu dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. “Terima kasih Bu Utje, terima kasih Tuhan,” terdengar gumam mereka, sehabis sholat subuh di Mushola Panti Asuhan Yatim Piatu.

Akta nikah diserahkan oleh Bupati Kuningan di Masjid At Taqwa Kec. Ciawigebang, disaksikan Muspida, Ketua DPRD, SOPD, para Camat, Kepala KUA, Naib, dan Penghulu se-Kab. Kuningan tanggal 1 Nopember 2011. (Ki Jasos)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: