Archive for September, 2010

h1

Bupati Aang Terpilih Sekum APKASI

23 September 2010

Kuningan, IB

Prestasi dan kepercayaan kembali hinggap di pundak Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, S.Sos. Ia dipercaya menjabat Sekretaris Umum (Sekum) Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).

Kepercayaan itu diberikan pada rapat Dewan Pengurus APKASI ke-2 yang dilaksanakan di Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat, Jum’at (17/9/2010).

Ia akan mengemban tugas sebagai Sekum APKASI periode 2010- 2013, menggantikan Bupati Sukoharjo. Penempatan diri Aang dalam posisi strategis itu merupakan apresiasi yang luar biasa dari Asosiasi yang menaungi para bupati seluruh Indonesia.

Bupati Aang mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas kepercayaan yang diberikan. Ia berjanji akan mengemban amanah serta menjalankan tugas sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Pada rapat Dewan Pengurus APKASI itu dibahas pula rencana Musyawarah Nasional  (Munas) APKASI. Semula Munas akan dilaksanakan Oktober 2010, diundur menjadi Februari 2011 bertempat Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat. (tan)

Iklan
h1

Di Hari Idul Fitri, Suhendi Bunuh Diri

23 September 2010

Cigandamekar, IB

Tak ada yang menyangka kalau Suhendi (50 tahun) warga Dusun IV RT 10/2 Desa Koreak Kec. Cigandamekar Kab. Kuningan, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Idul Fitri, 1 Syawal 1431 H bertepatan Jum’at (10/9) dimanfaat- kan oleh Suhendi bersama keluarganya untuk saling memaafkan dengan tetangganya. Bahkan mertuanya, orangtua istrinya yakni Yoyoh di Desa Citapen Kec. Cigandamekar juga disungkemi.

Suhendi sekeluarga tiba dari Desa Citapen sekira pukul 07.00 wib. Namun bak disambar petir disiang bolong, tiba-tiba sekira pukul 09.00 wib, anaknya yakni Anggi (11 tahun) dan Meli (3 tahun) berteriak melihat ayahnya tewas tergantung di kusen dapur.

Menurut informasi dari warga, korban selama hidupnya terhimpit ekonomi dan mengidap penyakit menahun. Ia menderita sakit kepala berkepanjangan akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Berbagai pengobatan telah dilakukan, tapi sakit di kepala dan kakinya tak kunjung menghilang. Sehingga korban nekad gantung diri dengan seutas tali stagen warna biru menjerat batang lehernya.

Kapolsek Cilimus, Kompol Sri menjelaskan, korban murni bunuh diri, dan tidak ditemukan unsur lainnya. Ia menyebutkan orang pertama yang melihat korban tergantung yakni Anggi  dan Meli.

Kades Koreak, Madsa’i Sevat ketika dikonfirmasi memilih bungkam. Tapi sumber lainnya mengatakan, peristiwa bunuh diri dengan modus berbeda terjadi pula di desa itu. (rml)

h1

TM Oknum Guru Sering Mangkir Kerja Tak Disanksi

23 September 2010

Kuningan, IB

Guru merupakan profesi yang mulia dalam mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun sayang profesi itu tidak dilaksanakan secara optimal oleh TM, seorang guru di SMPN 1 Japara.

Oknum guru perempuan warga Desa Sangkanurip Kecamatan Cigandamekar ini, entah mengapa sering madol dari tempat kerjanya. Padahal jarak dari rumah ke tempat kerjanya sekira 20 menit menggunakan sepeda motor. Bahkan selama Ramadhan yang baru lalu, Ia hanya masuk tak lebih dari empat kali.

Akibat sering mangkir kerja itu aktivitas belajar mengajar menjadi terganggu. Tak urung beberapa rekan kerjanya mengungkapkan sering bolosnya TM itu. Ungkapan ketidakpuasan dilontarkan pula oleh beberapa orang siswa. Mereka mempertanyakan kemana saja gurunya itu.

Sementara, kepala SMPN 1 Japara, mengaku sudah merasa bosan memberikan teguran kepada guru tersebut. Ia sendiri mempersilakan bila Dinas akan memproses sesuai mekanisme yang berlaku.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Kuningan, Drs. H. Nandang Hidayat, M.Pd menjelaskan, permasalahan yang dihadapi tidaklah terlalu rumit. Kalau memang oknum itu jarang masuk sebaiknya diberikan teguran tertulis, kemudian dilaporkan kepada Dinas. “Apabila setelah beberapa kali tidak mengindahkan kami akan langsung memprosesnya sesuai standar operasional prosedur yang berlaku,” tegas dia.

Ketika ditanyakan apa kemungkinan sanksi yang dapat dikenakan? Nandang menjelaskan, sesuai prosedur, kepada oknum itu harus diberikan peringatan secara berjenjang mulai lisan, hingga tertulis dan berikan tembusannya ke Disdik Pora. “Bila tidak ada perubahan pula, tidak menutupkemungkinan yang bersangkutan bisa diberhentikan secara tidak hormat,” terang Nandang. (tan/dad)

h1

Kepala SMAN 1 Kuningan, Gunakan Kendaraan “Ramah Lingkungan”

23 September 2010

Kuningan, IB

Drs. H. Kasyio, M.Pd merupakan sosok pribadi low profil dan sangat sederhana. Betapa tidak, untuk level kepala sekolah di Kabupaten Kuningan baik SMP, SMA, atau SMK saat ini terkesan berlomba-lomba menggunakan kendaraan cukup berkelas.

Apalagi berdalih dengan turunnya dana sertifikasi, kendaraan pribadinya pun ikut bersaing pula. Kondisi ini bertolak belakang, dengan pria kelahiran Yogyakarta ini yang kesehariannya menggunakan kendaraan “ramah lingkungan”.

Apa sich yang dimaksud dengan kendaraan ramah lingkungan itu? Ternyata ramah lingkungan dan cinta tanpa polusi itu karena memang Ia setiap harinya selalu pulang pergi dari dan ke kantor berjalan kaki. Ia berangkat pagi sekira pukul 06.30 wib dan pulang tak kurang dari pukul 16.30 wib. Dari Gang Siaga Indah VI nyucruk perkampungan motong jalan menuju SMA Negeri 1 Kuningan, Jalan Siliwangi No. 55 Kuningan, ditempuh dengan jalan kaki sepanjang satu kilometer.

Hobi berjalan kakinya itu dimulai sejak mulai bertugas sebagai guru SPG, bahkan hingga beberapa kali menjabat sebagai kepala sekolah tetap istiqomah. Tahun 1998, aktivis Ormas Nadhatul Ulama ini dipercaya menjabat kepala SMAN Luragung hingga 2000. Selanjutnya tugasnya lebih dekat lagi ke SMAN 3 Kuningan selama empat tahun, dari 2000 – 2004.

Setelah itu dipercaya menjabat kepala SMAN 1 Kadugede pada 2004 – 2007. Di sekolah ini Ia berhasil menorehkan prestasi sebagai sekolah sehat tingkat Jawa Barat. Kemudian pada 2007 Ia dipercaya menjabat kepala SMAN 1 Kuningan, menggantikan Drs. Sumardjo, M.Pd sejak 2007 hingga sekarang.

Rekontruksi SMAN 1 Kuningan

Ada yang unik dalam diri Kasiyo, setiap sekolah yang dipimpinnya selalu dicat dengan warna hijau, sehingga sekolah nampak lebih asri. Termasuk SMAN 1 Kuningan yang dirombak total kembali (rekontruksi) dari pondasi lagi.

Bangunan tua yang dulu mendominasi, kini hampir seluruhnya berubah menjadi gedung bertingkat dan baru. Ia berhasil menyulap SMAN 1 Kuningan yang dulu kumuh menjadi nampak lebih megah dan mentereng.

Bangunan di bagian belakang, dulu tahun 1985 termasuk paling anyar diratakan dengan tanah. Pada bekas bangunan itu dibangun kembali bangunan baru bertingkat tiga. Lantai bawah basement untuk area parkir, dan lantai 1 dan lantai 2 untuk ruang belajar.

Sehingga fasilitas yang dimiliki sekolah di pusat Kota Kuningan ini pun kini lebih lengkap. Mulai ruang KBM sudah terpenuhi 27 rombongan belajar, dilengkapi Perpustakaan, Laboratorium IPA, Lab. Bahasa dan ruang multimedia dan komputer.

Begitu pula bangunan perkantoran. Aula dua lantai yang berfungsi sebagai gedung olahraga dan seni di lantai dua, yang dilengkapi dengan Kantor Wakil Kepala Sekolah, Kantor Komite Sekolah dan ruang rapat. Sedangkan lantai 1, untuk perkantoran kepala sekolah, guru, TU dan ruang rapat yang cukup megah.

Kemegahan itupun bahkan lebih unggul dibanding ruang kepala dinas yang ada di Kabupaten Kuningan. Tak cukup sampai sana, untuk penataan ruang belajar dan lapangan olahraga, kini bangunan sekolah lebih rapi di pinggir lapangan olahraga. Menyusul akan dibangun pula masjid di samping kantor kepala sekolah, dengan dana hibah dari seorang pengusaha yakni Ir. H. Abdul Malik, sepenuhnya. “Kita sendiri hanya menyiapkan lahan dan sudah memasang pondasi bangunan. Untuk biaya dan pembangunan keseluruhannya ditanggung H. Abdul Malik,” terang H. Kasiyo dengan logat Jawanya yang masih kental.  (tan)

h1

PAD Kuningan Kecil, Semangat Besar

23 September 2010

Kuningan, IB

Kendati PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Kuningan terbilang kecil, namun semangat  untuk membangun terus dilakukan bukan hanya sebatas fisik melainkan juga spiritualnya. Hal itu  dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Organisasi Perangkat  Daerah (OPD)  didukung oleh masyarakat.

Kabupaten Kuningan di usianya ke 512  telah mengalami perubahan dan kemajuan pesat untuk menyejahterakan masyarakatnya. Kemajuan itu karena dukungan faktor sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.

Karena melimpahnya SDA takan bermanfaat bila tidak didukung oleh SDM yang memliki peranan utama. Dalam hal ini, masyarakat Kabupaten Kuningan tidak hanya terkenal dengan kegotongroyongannya melainkan juga ramah, kerja keras, cerdas dan ikhlas.

Apalagi didukung oleh tingkat kondusifitas di Kuningan sehingga terjalin kehidupan yang harmonis. Dengan kerja kerasnya warga Kuningan memiliki semangat untuk terus membangun, dan termasuk para perantau. Mereka yang terbilang sukses mulai dari para pedagang kelontongan, rokok, dan lainnya hingga menjadi pejabat tetap peduli terhadap kampung halamannya. Adapula tokoh muda yang sudah mendunia, salah satunya Anies Baswedan, P.Hd.

Masyarakat yang tidak merantau pun berperan aktif membangun daerahnya. Hal itu nampak dari tingginya swadaya masyarakat yang terjun langsung melakukan kegiatan sosial. Begitu pula program pemerintah yang melibatkan masyarakat, mendapat dukungan penuh, Sehingga program PJBM, PNPM, Peduli lingkungan, Rumah Tidak layak Huni (Rutilahu), pembangunan masjid/mushala dana sarana umum lainnya berjalan lancar. Kegiatan kemanusiaan tak luput dari peran mereka, shingga Kuningan dikenal sebagai Kabupaten Donor Darah.

Pendidikan di Kuningan dari tahun ke tahun menunjukkan arah yang lebih baik. Hal itu bisa dilihat dari tingkat kelulusan siswa SMA/SMK untuk tahun 2008-2009  sebanyak 99,17% atau hanya 13 orang dari 9.234 orang yang tidak lulus.

Tngkat kelulusan siswa SMP tahun 2008-2009 adalah 99,04 % dan pada tahun pelajaran 2009/2010 tmencapai 100 %.

Didukung dengan hadirnya perguruan tinggi dan universitas, diantaranya Universitas Kuningan (UNIKU), STAI Al-IHYA, STKIP Muhammadiyah dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan (STIKKU) yang telah melahirkan bidan desa.  Ini merupakan barometer tingkat kecerdasan masyarakat Kuningan.

Perkembangan perguruan tinggi di Kuningan semakin meningkat. Bahkan peminatnya selain warga Kuningan juga dari luar. Tapi tak jarang juga warga Kuningan menimba ilmu di universitas lain, seperti UGM, UNPAD, UNSWAGATI, UNTAG, UPI, IPB, UNPAS, ATMAJAYA dan lainnya. Sehingga hal ini menjadikan SDM di Kuningan sangat bervariatif, Namun tetap memiliki tujuan yang sama yakni membangun Kuningan.

Tak kalah, bagi yang tidak melanjutkan perguruan tinggi mampu membangun Kuningan sesuai dengan profesinya masing-masing. Ada yang sukses menjadi petani andalan, peternak, pedagang sukses dan lainnya.

Disamping itu, Kuningan juga memiliki sekitar 35 pesantren, tersebar di beberapa kecamatan yang terdaftar di Dinsosnaker dan Kementraian Agama. Tapi tak sedikit juga yang belum terdaftar sebagai ponpes hasil swadaya masyarakat. Untuk hal ini  Pemkab pun terus melakukan komunikasi dengan unsur pesantren yang dikemas melalui silaturahim antara ulama dan umaro.

Untuk kesejahteraan masyarakat, Pemkab Kuningan terus berupaya  meningkatkan baik bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan dan lainnya.

Pendapatan Asli Daerah

Target PAD Kabupaten Kuningan tahun 2010 sebesar Rp. 957.575.215.540, dicapai tanpa membebankan kepada masyarakat. Tetapi dengan cara menggali potensi salah satunya sumber daya air dan bekerjasama dengan pihak ketiga.

Perizinan

Kini masyarakat Kab. Kuningan diberikan kemudahan untuk membuat perizinan. Masyarakat, mulai dari tahap permohonan sampai terbitnya dokumen perizinan dilakukan dalam satu tempat di BPPT (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu).

Jenis perizinan yang diproses: Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat Izin Usaha Industri (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Tanda Daftar Gudang (TDG), Izin Gangguan (HO), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Izin Lokasi, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Pariwisata, Izin Lembaga Latihan Swasta, Izin Penyelenggaraan Reklame, Izin Hunian Kios dan Los, Surat Keterangan Pedagangan, Pengesahan Rencana Pengesahan Ruang dan Izin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK).

Kabupaten Konservasi

Sebagai Kabupaten Konservasi Kuningan terus berupaya untuk membangun embung atau situ. Situ/embung  yang telah dibangun di Kuningan sebanyak 24 buah yang tersebar di beberapa kecamatan. Dibangun dan direhabilitasi pula jaringan irigasi dan suplesi situ.

Untuk mencapai Kabupaten Konservasi dengan membuat beberapa produk hukum. Kemudian, Kabupaten Kuningan memiliki kebun raya seluas 172, 2 Km di Desa Padabeunghar Kec. Pasawahan dan memiliki 12 hutan kota yang  tersebar  di beberapa kecamatan. Lalu, Pemerintah menelurkan program One Man One Tree dan OBIT.

PJBM

Jalan hasil PJBM (Pengelolaan Jalan Bersma Masyarakat) telah mencapai 733 Km, atau rata-rata 100 Km per tahun. Dalam PJBM ini termasuk juga pembangunan jembatan, pembuatan riul, dan senderan.

Untuk kondisi  jalan dan jembatan yang berada di Kuningan tahun 2010, kalan 614 Km² dengan kondisi 32 km baik, 81 km sedang dan 12 km rusak. Jumlah jembatan 214 buah, kondisi baik 132, sedang 69, dan 13 rusak.

Selain PJBM, dilakukan juga peningkatan jalan di beberapa wilayah kecamatan, melanjutkan pembangunan jalan lingkar Sampora-Caracas-Panawuan-Kedung Arum-Terminal Tipe A, ditambah lagi pembangunan jalan menuju pusat pembibitan di kawasan Kebun Raya Padabeunghar.

Melalui program rutin pembangunan dan peningkatan jalan, serta program PJBM, pada hari Bhakti PU (2/12/2010) Kabupaten Kuningan dianugrahi penghargaan sebagai juara I Pengelolaan/Penyelenggaraan Jalan dan Jembatan Terbaik Tingkat Nasional  (kategori kabupaten).

Kesejahteraam Rakyat

Pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap warga Pra-KS untuk memiliki rumah yang layak dilakukan dengan menggulirkan bantuan stimulan rumah tidak layak huni (RUTILAHU) melalui Bagian Kesra kerja bareng dengan TP PKK Kuningan.

Penyelenggaraan program RUTILAHU sudah menginjak tahun ke-4 dimulai tahun 2007 sampai dengan tahun 2010. Sampai tahun 2010 yang sudah dibantu dari program bantuan stimulan ini yaitu sekitar 2.600 rumah.

Keluarga Berencana

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya bidang kesehatan yang diarahkan pada penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita, Pemerintah menelurkan program KB dan Kesehatan. Akselerasi IPM sebesar 72,94 di Kuningan tahun 2010 dapat tercapai.

Lainnya, melalui Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2W-KSS), yang menetapkan Desa Situsari Kecamatan Darma menjadi lokasi binaan.

Bidang Lingkungan

Kabupaten Kuningan meraih penghargaan Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tiga kali berturut-turut. Bersamaan dengan itu SMPN 1 Luragung juga menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri, SMAN 1 Cigugur mendapat penghargaan sebagai Sekolah Berbudaya Lingkungan dan SMPN 1 Kuningan sebagai Sekolah Peduli Lingkungan.

Selain itu, Kuningan tahun ini mendapat kesempatan sebagai pilot projek (percontohan) untuk pengelolaan sampah berlokasi di Desa Manis Lor disusul  Desa Ciwaru.

Kegiatan lainnya di bidang lingkungan adalah pembangunan Taman Tirtasena dan Jembatan Merah, serta Gerakan Sapu Gunung Ciremai.

Empat Kecamatan Koperasi

Kuningan telah memiliki 4 kecamatan koperasi, diantaranya Kecamatan Cibingbin, Cilimus, Kuningan dan Cigugur. Pengembangan koperasi di Kuningan akhirnya mendapatkan pengharagaan tingkat  nasional  dengan diraihnya Paramadhana Madya Koperasi sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI.

Desa Siaga

Peningkatan pelayanan kesehatan di Kabupaten Kuningan terus dilakukan, salah satunya melalui Desa Siaga. Disamping itu, mulai tahun 2007 sampai dengan 2009 telah dibangun sebanyak 8.816 jamban keluarga. Ditambah lagi Pemda Kuningan telah menyalurkan dana stimulan dana sosial ibu bersalin pada 120 desa serta PPK –IPM  telah menyalurkan dana stimulannya pada 43 desa.

Gudang Resi

Kuningan kini memiliki  Gudang Komoditi Sistem Resi di Desa Cinagara Kec. Labakwangi. Selain itu, Pasar Tradisional Desa Ciwaru telah direvitalisasi, dan Pasar Cilimus yang memiliki 705 unit kios dan los juga telah digunakan.

Bursa Kerja

Untuk mengurangi pengangguran di Kabupaten Kuningan, Pemkab Kuningan melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja telah menggelar Pameran Bursa Kerja yang pertama digelar pada Sabtu (3/4) di GOR Ewangga, dikunjungi sekitar 7.000 pencari kerja. Dinsosnaker juga melakukan Pemberdayaan Fakir Miskin.

Pada sektor pertanin, Kuningan setiap tahunnya selalu surplus beras hingga 80 ribu ton. Salah satu aspek yang mempengaruhi terhadap peningkatan produksi padi adalah dengan penggunaan benih unggul bermutu bersertifikat.

Pemerintah telah melakukan Sosialisasi Si-Benar (Siswa Bebas Narkoba), Siswa Baru Peduli Lingkungan (Seruling) dan pelantikan kepala TU SMP, SMA dan SMK sebanyak  sebanyak 92 orang. Selanjutnya, SLBN Taruna Mandiri di Desa Sampora Kec. Cilimus dikunjungi Mendiknas, Senin (22/2). (tan)

h1

Jalan Tanjungkerta Karangkancana Amblas

23 September 2010

Karangkancana, IB

Ruas Jalan Tanjungkerta Kecamatan Karangkancana amblas sepanjang 31 meter dengan kedalaman 2,2 meter. Menurut keterangan Kepala Desa Tanjungkerta Kec. Karangkancana, Dadi Herawadi, peristiwa jalan amblas terjadi Jum’at malam, sekira pukul 24.00 wib.

Lokasi kejadian di wilayah Kebon Jagong berjarak sekira 400 meter ke arah selatan dari Kantor Bale Desa Tanjungkerta.

Ia menuturkan, sekitar pukul 21.00 wib, dirinya telah menerima laporan dari warganya yang menyebutkan adanya gerakan tanah yang mengakibatkan jalan amblas. “Saat menerima laporan, kondisi ruas jalan yang amblas baru sedalam 70 cm, namun sekarang sudah bertambah menjadi 2,20 meter,” terang Kuwu Dadi Herawadi saat dihubungi via ponselnya, Minggu (19/9).

Pada peristiwa itu tidak ada korban jiwa, namun kerugian material masih diinventarisir. Akibat tanah amblas itu transportasi yangmenghubungkan Desa Cileuya Kec. Cimahi menuju Kecamatan Karangkancana melalui Desa Tanjungkerta terputus.

Kecamatan Karangkancana memang termasuk salah satu daerah yang rawan bencana alam longsor atau tanah bergerak. Sehingga daerah ini selalu siaga bencana.

Beberapa pejabat langsung terjun meninjau lokasi pada Sabtu (18/9). Diantara yang datang yakni Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM, didampingi Kabag Humas Setda Kuningan Agus Mauludin, SE, dan Camat Karangkancana Drs. Saleh Rochiat, M.Si.

Juga, Kepala Dinas Bina Marga  Kab. Kuningan Drs. Kukuh Taufikul Malik, MM, Kepala Dinas Sosnaker Dian Rahmat Januar, M.Si dan stafnya serta Tim Tagana (Taruna Siaga Bencana) Kab. Kuningan. (tan)

h1

Bupati Aang: Dokter Agar Utamakan Tugas

23 September 2010

Kuningan, IB

Bupati Kuningan H, Aang Hamid Suganda, S.Sos meminta agar para dokter yang sudah berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) lebih mengutamakan tugas, dibanding praktek untuk kepentingan pribadi.

Banyaknya keluhan dari masyarakat di Kabupaten Kuningan yang mendapatkan kurang maksimalnya kinerja para dokter dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat mendapat tanggapan dari orang nomor satu di Kuningan itu.

“Saya sering mendapatkan keluhan dari warga masyarakat yang menyatakan dokter sering datang terlambat bertugas di RSU 45 Kuningan. Padahal pasien sudah datang lebih dulu dan harus ngantri sejak pukul tujuh pagi, sementara dokternya datang sudah siang,” kata Aang.

Sikap Aang itu dilontarkan saat rapat koordinasi antara dokter, kepala UPTD Puskesmas, perawat dan bidan di lingkungan Dinas Kesehatan, Kamis (2/9) di Aula Dinkes Kab. Kuningan.

Menurut Aang, seorang PNS termasuk dokter harus siap ditempatkan dimana pun dan harus bekerja tepat waktu mulai jam kerja. “Dimana pun bekerja harus diterima dan disyukuri dengan bekerja sungguh-sungguh dan iklas,” kata dia.

Pasalnya, terang Aang, pada tahun lalu Kuningan mendapat tamparan berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menempatkan Kuningan sebagai daerah yang kurang baik pelayanannya khususnya rumah sakit umum dan Puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan, drg. H. Kadaryanto, M. Kes, MM mengutarakan bahwa dari 361 bidan desa yang ada dalam binaannya ternyata sejumlah 30 persen tidak berdomisili di desanya. Padahal, pada tahun 2013 setiap Puskesmas harus sudah berstatus FONED. Namun hingga sekarang baru 17 Puskesmas yang FONED. Pada Puskesmas FONED, disyaratkan memiliki tiga dokter, tiga perawat, dan tiga bidan.

Untuk itu, sesuai dengan bantuan dari bupati, para Bidan Desa yang disekolahkan oleh Pemda akan ditempatkan di Puskesmas FONED.

Kadaryanto mengungkapan, saat ini tuntutan masyarakat semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan terutama di Puskesmas. Untuk itu tanpa mengesampingkan tenaga kesehatan yang lain, tidak dapat dipungkiri bahwa tenaga dokter, perawat dan bidan merupakan ujung tombak pelayanan di masyarakat. “Sehingga pelayanan di masyarakat tentang baik buruknya pelayanan Puskesmas ditentukan sebagian besar oleh ketiga tenaga kesehatan ini,” katanya.

Kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Kuningan saat ini, dikatakan Kadaryanto, meliputi masih seringnya ditemukan laporan masyarakat tentang ketidakpuasan terhadap pelayanan tenaga dokter, perawat, dan bidan di beberapa Puskesmas, dan kurangnya komunikasi tenaga kesehatan baik dengan aparat desa atau masyarakat, dan masih ditemukannya petugas kesehatan yang kurang memberikan kontribusi maksimal.

Ia mengharapkan adanya peningkatan angka pencapaian IPM bidang kesehatan, kepuasan masyarakat terhadap pelayanan, peningkatan kinerja Puskesmas dan program kesehatan, meliputi Desa Siaga, penanganan gizi buruk, program UKS dan lainnya.

“Terjadinya hubungan yang harmonis antara tenaga dokter, perawat, dan bidan dengan aparat desa dan masyarakat. Sehingga akan terjalin kerjasama lintas program bidang kesehatan yang pada akhirnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Begitu juga dapat meningkatkan kinerja petugas kesehatandalam memberikan kontribusi maskimal,” harapnya. (tan)