Archive for Juli, 2009

h1

Perekonomian Perdesaan Bersumber Mobilitas Penduduk

14 Juli 2009

DR Iman Sungkawa

Kadugede, IB

Perekonomian perdesaan berdasarkan kajian DR. Ir. H. Iman Sungkawa, MM yang juga Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kab. Kuningan ternyata bersumber dari para urban yang bekerja pada sektor informal di Kota Jakarta dan kota besar lainnya.

Doktor alumnus Unpad Bandung ini dalam desertasinya yang berjudul “Mobilitas penduduk terhadap perekonomian perdesaan di Kabupaten Kuningan” terungkap mobilitas penduduk dari perdesaan ke perkotaan disebabkan karena semakin menyempitnya lahan pertanian yang dimiliki petani.

Ia mencontohkan, misalnya pada satu keluarga. Pada awalnya memiliki lahan seluas satu hektar oleh sang ayah tanah yang dimilikinya dibagikan kepada beberapa anaknya, untuk selanjutnya cucunya sudah tak memiliki tanah lagi. Sehingga warga desa yang tidak punya tanah ini mencari solusi dengan cara bekerja menjadi buruh tani bagi yang masih tinggal di desa. Sebagian diantaranya mengadu nasib ke perkotaan sebagai pekerja serabutan. Dan banyak pula yang menjadi pedagang kaki lima (PKL) dan ini jumlahnya sangat besar mencapai 9.000-10.000 orang melakukan mobilisasi ke kota dan ke desa, setiap bulan.

Sudah dapat dibayangkan dan tak dapat dimungkiri, bahwa kontribusi mereka sangat besar bagi peningkatan perekonomian perdesaan dan umumnya Kabupaten Kuningan. Jika dikalkulasi, mereka mampu mengirimkan uang hampir setara dengan APBD Kab Kuningan yang mencapai Rp. 550 miliar. Belum lagi bila kita amati dari adanya multi player efect (dampak bawaan) sekira 3,25 kali. Bila melihat harga disana Rp. 100.000,00, maka di sini setara dengan Rp. 325.000 terhadap ekonomi masyarakat.

“Tingginya penghasilan mereka ternyata ada resistensi terhadap pekerjaan PKL. Sebagai usaha informal mereka riskan terhadap pengusiran oleh petugas di sana,” ungkap Doktor dengan predikat sangat memuaskan ini. Sehingga solusinya, perlu dilakukan kerjasama antara Pemkab Kuningan dengan Pemprov DKI Jakarta agar para PKL asal Kuningan terlindungi dan tidak terjadi pengusiran.

Para pekerja PKL umumnya berpendidikan rendah, hanya lulus SD, agar sejalan dengan upaya peningkatan IPM (indeks pembangunan manusia) khususnya bidang pendidikan dan meningkatnya jati diri Kuningan harus dibangun sejak dini.

Untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah (RLS) sebagai salah satu indikator IPM bidang pendidikan, nanti Pemkab Kuningan harus berupaya agar anak-anak yang bekerja setelah lulus SMP atau SMA.

Solusi lain terhadap meningkatnya mobilisasi penduduk dari perdesaan ke perkotaan diantaranya membangun sentra industri kecil dengan menghasilkan produk yang laku di kota seperti gemblong, peuyeum atau jenis lainnya. “Selain mereka mendapatkan keuntungan dari PKL, mereka juga bisa memperoleh penghasilan sebagai sales produk industri kecil dari Kuningan,” urai pria yang disebut-sebut sebagai kandidat terkuat Sekda Kuningan ini.

Manfaat lainnya, dari pekerja sektor informal di Jakarta, bagi mereka yang punya uang dapat membeli beras, yang secara langsung akan menguntungkan bagi lingkungannya. Dan bila punya uang lebih besar, bahkan bisa membeli tanah yang dapat digarap oleh tetangganya.

KUBE FM

Anggota Komisi B DPRD Kab. Kuningan, Ading Sugandi menyoroti tentang menghilangnya KUBE FM yang digulirkan beberapa waktu lalu. Menurut Ading, akibat tidak jelasnya kriteria dan kurang pahamnya mengelola, sehingga 10 Kelompok Tani di desa yang berbeda semuanya raib entah kemana.

Ketika disinggung tentang keberadaan KUBE FM ini, Iman Sungkawa menjelaskan, Ia mengamati memang ada beberapa kendala dalam pengelolaan KUBE FM yang dikucurkan melalui Dinas Nakertransos, diantaranya kurangnya koordinasi antara intansi terkait, sebagai dinas teknis. Selain itu, adanya kecenderungan project oriented di masyarakat. Bahwa setiap bantuan adalah proyek yang harus dihabiskan. Ketiga, adanya kesalahan tidak jelasnya kriteria pemberian bantuan yang hanya untuk fakir miskin.

Karena itu, dirinya bersikukuh pembangunan harus mengacu pada konsep agropolitan. Maksudnya yang sudah ada kita perbaiki, yang jelek kita cari penyebabnya dan dicari solusinya. Tak perlu menciptakan hal yang baru.

Dalam bekerja, tambahnya, kita berpedoman pada P4, yakni adanya kerjasama yang melibatkan unsur Perguruan tinggi dalam merencanakan, mengkaji dan memberikan pertimbangan terhadap suatu program, Pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah harus sinergi, Pengusaha sebagai pemberi modal dan perantara produk, serta Pelaku harus secara selektif dan atas pertimbangan sikap, memiliki kemampuan dan keterampilan dan kemudahan. (tan)

Iklan
h1

Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan

14 Juli 2009

Sindangagung, IB

Untuk menghindari global warning (pemanasan global), menurut Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Kuningan, Drs. H. Lili Suherli, M.Si melalui Kabid Pemukiman dan Jasa Kontruksi, Ir. H. Usman Bachri, harus dilakukan dengan pembangunan berwawasan lingkungan.

Rencana tata ruang hijau terbuka minimal 30 persen di kawasan perkotaan. Upaya yang dapat dilakukan dengan cara membangun hutan kota atau taman kota. Bahkan Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda sudah merencanakan di setiap kecamatan wajib memiliki ruang terbuka hijau.

Tujuannya, untuk kese-imbangan dengan pembangun fisik. Sebab, saat ini dampak dari pemanasan global telah terasa seperti cuaca berubah, maksudnya pada musim kemarau masih ada hujan dan sebaliknya. Akibat lainnya, bencana banjir, longsor, dan terjadinya perubahan ekositem dalam arti luas, karena pembabatan hutan.

Upaya lainnya dengan PHBM (pengelolaan hutan bersama masyarakat), pada daerah yang kepadatan pemukiman tinggi, harus diupayakan kawasan hijau terbuka minimal 30 persen, untuk menghindari terjadinya longsor.

Pembangunan itu sendiri harus berpedoman pada regulasi (aturan) seperti UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang, dan undang-undang lingkungan hidup.

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pembangunan seperti aspek perencanaan, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan. Aspek perencanaan tata ruang, donasi, pemanfaatan ruang, dan sesuai aturan. Pengendalian itu sendiri supaya tertib harus ada regulasi, seperti IMB (izin mendirikan bangunban). IMB bukan semata untuk meningkatkan pendapatan daerah tapi yang lebih penting adalah pengendalian ruang.

Ditingkat kabupaten sudah ada RT/RW rencana tata ruang dan rencanana wilayah yang bersifat makro. Kemudian diimplementasi kan dalam RDTR (rencana detil tata ruang).

Misalnya di kawasan hutan lindung, tidak dibenarkan untuk melakukan pembangunan, karena ruang hijau terbuka ini dapat berfungsi sebagai resapan air. Sehingga kawasan lindung harus dilestarikan.

Contoh pembangunan berwawasan lingkungan adalah Oven Space Galery (OSG) di Desa Linggajati Kecamatan Cilimus. Menambah wilayah yang berfungsi sebagai resapan air, begitu pula pekarangan atau perumahan atau perkantoran yang diplur akan mengurangi resapan air, karena air mengalir deras yang dapat mengakibatkan banjir.  (tan)

h1

Gairah Parawisata Kuningan Perlu Ditingkatkan

14 Juli 2009

wabup worshop

Kuningan, IB

Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon Rochmana, MM mengata kan, dibutuhkan suatu terobosan untuk lebih meningkatkan gairah parawisata dan kebudayaan di Kuningan. Hal sesuai dengan visi Kab. Kuningan yakni “Kuningan lebih sejahtera berbasis pertanian dan parawisata yang maju dalam lingkungan yang lestari dan agamis tahun 2013”.

Menurut Wabup, Kab. Kuningan memiliki potensi parawisata yang cukup baik, terutama wisata alamnya. “Kuningan ini kaya akan potensi keindahan, namun belum dikemas dengan baik. Sebagai Kabupaten Konservasi, saya juga minta jangan sampai ada lingkungan yang gersang. Juga dalam penanaman pohon jangan asal tanam,” pintanya saat Workshop Pembinaan Pengembangan Usaha Berwawasan Budaya Daerah yang digelar Disparbud Kab. Kuningan, di Hotel Tirta Sanita, Kamis (2/7).

Workshop tersebut digelar selama dua hari, Kamis sampai Jumat (2-3/7), dan diikuti 80 peserta. Hadir dalam acara Kasubid Kemudahan Pariwisata Departe men Kebudayaan dan Pariwisata RI Drs. Nasirudin Haris, serta para pemateri dari IKJ, STPD, dan Federasi Pengemasan Indonesia.

Kepala Dinas Parawisata dan Kebudayaan Kab. Kuningan, Drs. Nana Sugiana, M.Si mengatakan, perkembangan pariwisata saat ini mengalami peningkatan, sehingga setiap orang dapat mengembang-kannya di waktu senggang atau hari libur. Dengan cara seperti itu, kegiatan wisata diharapkan akan memberi peluang bagi pelaku usaha parawisata sekaligus menjadi andalan bagi pendapatan daerah.

Tujuan workshop, kata Nana, adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata dan menumbuh kembangkan usaha pariwisata yang berwawasan budaya daerah, yang pada akhirnya dapat melestarikan nilai-nilai budaya daerah sebagai daya tarik wisata.

Kasubid Kemudahan Parawisata Departemen Kebudayaan dan Parawisata RI, Nasirudin Haris menyebutkan, hal lain yang melandasi penyelenggaraan workshop tersebut yaitu citra pariwisata yang akhir-akhir ini lesu, kurang pengemasan, terkesan monoton dan kurang bergairah.  “Dengan workshop ini, wacana kajian bagi peningkatan pariwisata secara umum bisa bertambah,” ucapnya. (rml)

h1

Pelestarian Seni Tradisional Belum Optimal

14 Juli 2009

Kramatmulya, IB

Seni tradisional yang tersebar di wilayah Kabupaten Kuningan merupakan potensi sumber daya yang perlu dikelola secara optimal, agar mampu tetap survive ditengah serbuan seni populer dan seni dari luar negeri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Drs. Nana Sugiana, M.Si didampingi Kabid Kebudayaan Suryono, S.Sn dan  Kabid Pengembangan Usaha Dodoy Hadori, SE, mengatakan,  potensi dimaksud sangat besar dan kalau dikelola secara serius bisa menjadi sumber penghidupan. “Di sinilah setiap pengelola seni tradisional memiliki jiwa entepreneur,” ungkap Nana di kantornya, Jum’at (26/6).

Dari catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kuningan, saat ini ada beberapa seni tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, diantaranya Seni Cingcowong di Desa Luragung Landeuh Kec. Luragung, Goong Renteng di Kelurahan Sukamulya Kec. Cigugur, Kuda Lumping di Kel. Citangtu Kec. Kuningan, Sintren di Desa Dukuhbadag Kec. Cibingbin, dan Pesta Dadung di Desa Legokherang Kec. Cilebak.

Untuk seni Pesta Dadung perhatian dari Pemkab Kuningan  dan Disparbud agak mendingan, khususnya dari Pemerintah Desa Legokherang yang telah mengagendakan pentas setiap dua tahun sekali pada bulan Juni. Pesta Dadung digelar sebagai ekpresi rasa syukur karena telah usainya musim panen yang dilakukan oleh budak angon (pengembala) kerbau.

Semestinya, Pesta Dadung dapat dilaksanakan setiap tahun. Namun karena terkendala dana sehingga potensi seni yang dapat mengangkat citra Kabupaten Kuningan ini hanya dapat dilaksanakan dua tahun sekali.

Seni Pesta Dadung itupun dipentaskan pula oleh Tim Kreasi Seni Disparbud Kab Kuningan pada acara di Kantor Badan Koordinasi Pemerintah Provinsi (BKKP), dulu Bakorwil III Cirebon, Sabtu (26/6).

Ketika ditanya bagaimana wujud perhatian Pemkab Kuningan terhadap upaya pelestarian budaya, Kabid Kebudayaan, Suryono menjelaskan, pihaknya telah mendata dan meninjau beberapa tempat atau sanggar kesenian tradisional.

Setelah terdata melalui petugas Pamong Budaya kemudian ditindak lanjuti dengan pembinaan teknis. Sedangkan untuk pemberian bantuan sarana dan prasarana belum bisa dilakukan. Namun kalau ada yang akan menyelenggarakan kegiatan, pihaknya akan memfasilitasi kepada Pemda, untuk mendapat bantuan dana, termasuk Pesta Dadung yang akan dilaksanakan pada Juni 2010 mendatang.

Bentuk perhatian lainnya, Dinas Parbud saat ini tengah merancang pemanfaatan fasilitas Open Space Galeri (OSG) di Linggajati sebagai tempat pentas kesenian tradisional. Kegiatan pentas seni tradisional direncanakan dimulai Oktober mendatang. Dalam pelaksanaan-nya, pada setiap Sabtu malam akan diisi dengan menghadirkan kesenian tradisional dari masing-masing kecamatan.

Untuk sementara, OSG setiap Minggu pagi dimanfaatkan untuk senam massal bersama masyarakat. “Harapannya dari OSG ini dapat melihat potensi seni tradisional yang benar-benar memiliki nilai jual dan mampu melestarikan seni dan budaya tradisional,” harap Suryono. (tan)

h1

Rudat Dapat Perhatian

14 Juli 2009

Cigandamekar, IB

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, Drs. Nana Sugiana, M.Si didampingi Kabid Kebudayaan Suryono, S.Sos, dan Kabid Pengembangan Usaha Dodoy Hadori, SE, meninjau seni tradisional rudat di Dusun Kebon Kawung Desa Timbang Kec. Cigandamekar, Jum’at (19/6).

Hadir pula Kepala Desa Timbang Mukhlisin, S.Ag, perangkat desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Pimpinan Rudat KGS, Sahuri menyebutkan, kelompok seni tradisional rudat yang dipimpinnya telah berdiri sejak 1994 lalu, dan hingga kini tetap eksis.

Kadis Parbud, Nana Sugiana berharap agar para perudat terus berlatih untuk layak tampil pada acara peringatan 17 Agustus nanti. Ia juga berharap agar seni tradisional ini di Kabupaten Kuningan jangan sampai hilang. “Biar bagaimanapun seni ini merupakan warisan nenek moyang yang harus kita dilestarikan,” katanya.

Nana ikut menikmati suguhan indahnya penampilan gerakan anak-anak Dusun 3 Kebon Kawung yang unik dan bagus. Ketua Rudat, Sahuri, mengharapkan agar bupati dan pemda setempat membantu ditampilkan dalam setiap acara pemda. (gun)

h1

Agis Yulistika Luncurkan Album Perdana

14 Juli 2009

Agis 2Blantika musik Kota Kuda diramaikan kembali dengan lahirnya bintang baru. Dialah sang rising star, Agisna Yulistika Setia yang populer disapa Agis Yulistika.

Gadis kelahiran Kuningan 14 Juli 1993 yang berasal dari Desa Panawuan Kecamatan Ciganda-mekar ini special menggeluti tarik suara Tarling Cirebonan.

Launching album perdana rencananya akan diluncurkan pada bulan Juli ini dengan mengambil tempat di Pandapa Paramartha Kuningan. “Kami rencanakan launching album perdana Agis akan digelar di Pandapa Paramartha pada bulan Juli ini. Mudah-mudahan dapat respon positif dari pemirsa,” harap ibunda Agis.

Putri pertama dari dua bersaudara ini mulai menyukai hobby olah vocal sejak usia 4 tahun. Dengan mental dan bakatnya itu, Agis berhasil meraih predikat juara pavorit, dan pernah mengisi acara di Televisi swasta Indosiar belum lama ini.

Ibunda Agis berharap agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan bisa menjembati niat baiknya itu. ( gun)

h1

Kuswandi Raih Doktor Pendidikan

14 Juli 2009

Darma, IB

DR. H. E. Kuswandi Ahmad Marfu, M.Pd meraih doktor dengan nilai sangat memuaskan (cumlaude). “Disertasi saya  berjudul “Manajemen Guru dalam Penuntasan Wajardikdas, Strategi Manajemen Guru Berorientasi Pemerataan Akses dan Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar di Kabupaten Kuningan,” jelas Kuswandi seusai mengikuti ujian sidang promosi di UPI Bandung, Senin (29/6).

Disertasi yang diambil, kata Kuswandi, sebagai wujud kepedulian terhadap masalah pendidikan, terutama masalah guru yang kerap menarik untuk dibicarakan. Penelitiannya diangkat dari lapangan dan disusun secara apik dan  didukung data aktual. Juga, relevan dengan kebijakan pemerintahan pusat, yang sedang memprioritaskan manajamen guru sebagai kunci utama menuju keberhasilan program pendidikan dalam pemerataan akses wajib belajar yang diimbangi peningkatan mutu lulusan.

Masalah yang dibahas, ketika paradigma otonomi daerah menempatkan bidang pendidikan sebagai kewenangan wajib bagi pemerintah daerah/kota dan harus memenej guru. Ternyata jumlah guru menempati posisi sebagai SDM pemerintah daerah terbesar dan terumit kompleksitas masalahnya. Pemerintah Daerah juga harus menuntaskan program nasional gerakan wajib belajar 9 tahun sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Promotor merangkap ketua penguji, Prof. DR. H. Mochamad Idochi Anwar MP mengatakan, hasil penelitian promovendus layak untuk dijadikan dasar pertimbangan Pemkab Kuningan dalam menentukan kebijakan manajemen pendidikan guru dasar.

Terutama, karena Kab Kuningan sedang berusaha menempatkan diri sebagai kabupaten yang unggul dalam memenej pendidikan dengan akselerasi wajardikdas 9 tahun dan rintisan wajardikdas 12 tahun, disertai pemenuhan kelayakan kualifikasi guru dan mengurangi guru yang mismatch secara bersamaan.

Promovendus layak untuk mempertahankan disertasinya guna mendapat gelar Doktor Pendidikan bidang Ilmu Administrasi Pendidikan, didukung oleh kiprahnya dalam dunia pendidikan, khususnya manajemen guru. Gagasan tentang manajemen guru yang dibahas dalam desertasinya telah promovendus (diperkenalkan) melalui forum seminar, lokakarya, media massa cetak, surat kabar dan majalah,” ungkapnya. (tan/RC/IB)