Archive for the ‘edisi 161’ Category

h1

Ahmad Yani Siap Cabup Independen

3 Mei 2011

Cigandamekar, IB

Drs. H. Ahmad Yani, S.IP, M.Si dengan lantang menyatakan dirinya siap mencalonkan diri sebagai Bupati Kuningan melalui jalur independen.

Menurut Ahmad Yani, apa yang diisyaratkan di koran (prediksi Tabloid IB), sudah sejak jauh hari ditanamkan dalam hatinya. Bahkan telah dicuatkan oleh rekan-rekannya ketika berada di tanah suci Mekah al Mukaromah, 2010 lalu.

“Keinginan untuk menjadi orang nomor satu di Kabupaten Kuningan telah ada sejak saya masih kecil. Maklum, saya adalah turunan Kepala Desa Kadugede,” ucap H. Ahmad Yani saat silaturahmi keluarga besarnya di Hotel Tirta Sanita, Sabtu (23/4).

Ia menyebutkan, dirinya punya trak pemimpin masyarakat dari sang kakek, Wangsa Dijaya yang menjadi Kepala Desa Kadugede selama 36 tahun, dan ayahandanya Arka Wijaya, dua periode. Juga adiknya, H. Maman Wijaya telah melanjutkan tradisi sebagai kepala desa itu.

Sehingga ayahnya menyarankan agar dirinya masuk APDN, namun jalan hidup berbeda. Ia pun sekolah hingga menuntaskan S.1 dan S.2, sampai bisa mengantarkan dirinya berkarir selama 27 tahun di PT. Sang Hiyang Sri (persero), dengan jabatan terakhir Sekretaris.

“Apa yang diharapkan Pak Jono betul, bahwa saya akan mencalonkan melalui jalur independen. Sudah merupakan kehendak hati kecil, saya harus ikut Pemilukada 2013 depan,” tegasnya.

Ia mengaku lebih leluasa dari independen, karena telah mendapat dukungan dari rekan-rekannya di Jakarta. “Soal peluang kita punya strategi khusus,” ujarnya.

Sedangkan untuk menentukan wakil bupati, tambah Ahmad Yani, dirinya akan melihat dulu aturannya. Kalau dipilih dalam paket, maka akan mencari calon yang kredible dan punya daya jual. Pasalnya, ada wacana calon wakil kepala daerah tidak dipilih dalam satu paket.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan menggunakan partai politik, Ia tidak menampik bahwa adiknya H. Maman Wijaya merupakan orang PAN (Partai Amanat Nasional). Namun, dirinya menyatakan tidak akan membebani adiknya itu.

“Ingat, saya tidak akan membebani adik saya. Biarkan dia menuntaskan keinginannya, karena partai bukan target untuk digunakan dalam pencalonan nanti. Tapi seandainya ada partai yang mendukung itu bisa saja untuk koalisi,” katanya.

Ahmad Yani menuturkan, melalui independen memang akan banyak tantangan, tetapi pemerintahan akan lebih bersih dan berkualitas. Sedangkan bila bergantung kepada kepada partai politik, akan banyak keterlibatan kepentingan koncoisme dan kepentingan partai.

“Dengan jalur independen, saya akan lebih netral memimpin, tidak mengedepankan kepentingan koncoisme atau partai, tetapi lebih berpihak kepada rakyat sebagai pemilih,” ucapnya.

Selama ini, lanjut Ahmad Yani, calon kepala daerah berasal dari parpol, sehingga calon terpilih menjadi terbebani dan harus balas budi kepada partai pengusungnya. Akhirnya, pemerintahan pun tidak bersih dan berkualitas.

Terkait dengan prediksi bahwa kemungkinan calon lain dari partai politik akan bermunculan, Ia mengatakan, mencalonkan adalah hak demokrasi setiap warga negara. Bila nanti benar-benar dipercaya oleh rakyat Kuningan, maka dirinya akan meneruskan hasil yang telah ada, misalnya infrastruktur yang sudah maju.

“Infrastruktur saat ini sudah hebat, hanya kualitasnya saja yang perlu ditingkatkan, sehingga hasil pembangunan tidak mubazir dan bisa dinikmati untuk waktu yang lama. Kemudian kita akan melakukan evaluasi, selanjutnya menentukan prioritas pembangunan itu sendiri sesuai dengan kehendak rakyat,” terangnya.

Sujono, rekan seangkatan Ahmad Yani mengatakan, pencalonan melalui jalur independen ini merupakan testcasse, karena selama ini sudah berkurangnya kepercayaan rakyat terhadap partai. Terbukti, kini banyak kepala daerah yang dicalonkan partai akhirnya harus masuk hotel prodeo.

Nah bagaimana hubungannya antara kepala daerah dari independen dengan DPRD yang berasal dari partai? Menurut Sujono, memang awalnya akan terjadi perbedaan paham dan ini merupakan tantangan, namun akhirnya akan mencair juga.

Dukungan para Kiayi

Dukungan para kiayi terhadap niat H. Ahmad Yani terlihat dari banyaknya kiayi dan pimpinan pondok pesantren yang hadir, seperti KH. Abdul Azis AN, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kab. Kuningan.

KH. Abdul Azis AN menyebutkan bahwa dirinya baru mendengar ada orang yang berterus terang ingin mencalonkan. “H. Ahmad Yani merupakan orang yang pertama menyatakan siap untuk mencalonkan jadi Bupati Kuningan. Mudah-mudahan saja Allah mengabulkan niatnya,” ujarnya.

Dalam tausiahnya, KH. Asep Saefudin Djalaludin, pengasuh Pondok Pesantren Bani Syahir mengungkapkan tiga makna dari silaturahmi. Ketiga makna itu adalah bertambahnya saudara, bertambahnya rizki, dan bertambahnya umur.

Diceritakannya, Rosulullah saat hijrah dari Mekah ke Madinah berhasil mempersatukan dua kaum, yakni kaum Anshor dan kaum Muhajirin. Sehingga kedua belah pihak yang sebelumnya bermusuhan menjadi bersaudara, saling mendukung, dan tidak ada skat lagi. Rosulullah bisa membangun Islam hingga saat ini karena adanya kekuatan, kekuatan itu berasal dari persatuan dan kesatuan umat.

“Demikian halnya dengan Pak H. Ahmad Yani yang mempunyai keinginan untuk menjadi K.1, harus diawali dengan persatuan yang kuat diantara saudara, handai taulan, dan rekan yang bersama-sama menunaikan ibadah haji. Apalagi keinginan untuk menjadi orang nomor satu di Kuningan ini diungkapkan di tempat yang mustajab, Mekah al Mukaromah,” kata KH. Asep Saefudin.

Selain itu, tambahnya, silaturahmi bisa menambah rezeki karena dari pertemuan ini bisa tercipta peluang usaha, dan ditambahkan umur.

Dari wakil keluarga, H. Maman Wijaya mengutarakan, dirinya membaca, menelaah dan mengkaji prediksi di Tabloid Identitas Bangsa mengenai calon Bupati Kuningan. Dalam prediksi itu, ternyata ada kakaknya, H. Ahmad Yani. Informasi itu pun menyebar dan menjadi buah bibir, bahkan banyak yang bertanya kepadanya apakah benar sang kakak akan mencalonkan diri menjadi Bupati Kuningan.

“Pada kesempatan ini, saya katakan bahwa benar kakak saya akan mencalonkan diri melalui jalur indenpenden, meski tidak mustahil kalau ada partai yang merapat maka akan diakomodir,” kata Maman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir, khususnya FKPP Kab. Kuningan yang dipimpin KH. Abdul Azis AN. “Ini rahmat Allah swt,” ucapnya.

Menurut Maman, acara ini sudah menjadi budaya di keluarganya. “Keluarga saya selalu mengadakan silaturahmi setiap tahun tiga kali. Acara ini adalah ajang berkumpul keluarga, teman, dan handai taulan setelah pulang haji,” katanya.

Nampak para kiayi yang hadir selain KH. Asep Saefudin dan KH. Abdul Azis AN adalah KH. Aman, KH. Edi, dan banyak lagi. Hadir pula tak kurang dari 150 orang yang berasal dari keluarga dan rekan jemaah haji satu KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), Ketua PD PGRI Kabupaten Kuningan, Opid Ropidi, MM.Pd, Drs. Cucu Rojikin, M.Pd dan rekan lainnya. (tan)

h1

Mutasi Pejabat, Dadang Ketendang Dian Januar Bersinar

3 Mei 2011

Kuningan, IB

Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, S.Sos melakukan mutasi terhadap 130 pejabat di lingkungan Pemkab Kuningan. Pada mutasi di Pendopo Bupati, Kamis (21/4) itu Drs. H. Dadang Supardan, M.Si tertendang dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, sedangkan Drs. Dian Rahmat Januar, M.Si makin bersinar.

Dian Januar dari Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja beralih ke BAPPEDA menggantikan posisi Drs. H. Yosep Setiawan, M.Si yang promosi menjadi Sekda Kuningan. Sementara posisi Dadang Supardan digantikan oleh Drs. H. Maman Suparman, MM yang semula Inspektur pada  Inspektorat.

Pejabat eselon II.b lainya yang mengalami mutasi yakni Drs. Ir. H. Rusliadi, M.Si dari Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan tukar tempat dengan Drs. Kukuh Taufikul Malik, MM, Kepala Dinas Bina Marga. Selanjutnya, H. Jatnika, SH, M.Pd dari Staf Ahli Bupati menjadi Inspektur Inspektorat, posisi Jatnika diganti oleh Drs. Deniawan, M.Si yang promosi dari Kabag Pemerintahan Setda Kuningan.

Drs. Nana Sugiana, M.Si dari Kepala Dinas Pariwisata menjadi Kepala Disperindag. Posisi Nana digantikan oleh Uus Rusnandar, M.Si yang promosi dari Kabid Perencanaan Anggaran BAPPEDA.

Rotasi juga menyentuh sepuluh orang camat. Mereka adalah R. Koentjoro Hidayat, S.Sos Camat Cilimus (semula Camat Ciniru), R. Iman Reapdiantoro, S.Sos, M.Si Camat Selajambe (semula Kabid Pendaftar-an Dispenda), Agus Suryo Septiyudi, S.Sos Camat Ciniru (semula Camat Hantara). Posisi Agus Suryo digantikan oleh Bisri, S.Ap yang promosi dari Sekmat Maleber.

Juga, Agus Sumitra, S.Sos Camat Cibingbin (semula Camat Nusaherang),  Susilawati, S.Sos Camat Nusaherang (semula Camat Cigugur), Bagja Gumelar, S.Sos Camat Cigugur (semula Camat Sindangagung), Drs. Agus Basuki, M.Si Camat Sindangagung (semula Camat Cibingbin), Jubaedah, SE Camat Maleber (semula Sekmat Lebakwangi). Drs. Tatang Taryono, M.Si Camat Mandirancan bertukar tempat dengan M. Suradi Data Saputra, BA menjadi Camat Cigandamekar.

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda mengatakan bahwa mutasi merupakan hal biasa bagi pegawai negeri dan akan terus terulang.  Ia mengharapkan para pejabat yang baru dilantik dapat meningkatkan kinerjanya. (tan)

h1

Bupati Kuningan Ajukan 12 Raperda

3 Mei 2011

Kuningan, IB

Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, S.Sos pada rapat paripurna DPRD Kab. Kuningan, Jum’at (15/4) mengajukan 12 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda). Ke 12 Raperda itu adalah Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana; Kerjasama Daerah; Penyertaan Modal Daerah kepada Pihak Ketiga; Penanaman Modal.

Selanjutnya, Pembinaan, Penataan Pusat Perbelanjaan, Pasar Tradisonal dan Toko Modern; Kebun Raya Kuningan; Penatausahaan Hasil Hutan; Retribusi Pelayanan pendidikan; Pencabutan 14 Perda Kabupaten Kuningan yang mengatur Retribusi Daerah; Penyelenggaraan Ketenagakerjaan; Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Layanan Pengadaan secara Elektronik Kabupaten Kuningan.

Mengacu pada UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana bahwa Pemda menjadi penanggungjawab di daerah. Tugas tersebut akan dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kabupaten Kuningan merupakan daerah yang frekuensi terjadi bencana alam cukup tinggi, sehingga memerlukan penanganan secara seksama, sistematis, terpadu dan terkordinasi.

Ia menyoroti pula mengenai tata kelola pasar bukan sekedar masalah ekonomi, melainkan meliputi aspek sosial, politik dan budaya. Dari sudut historis, keberadaan pasar lokal adalah bagian dari dinamika masyarakat atau komunitas setempat yang saling membutuhkan.

Sebagai dampak perkembangan pusat perbelanjaan modern. Para pedagang kecil dan pasar tradisional semakin terjepit. Padahal, pasar tradisional adalah asset yang menghidupi banyak orang. Ratusan ribu orang menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional.

Oleh karena itu, sangat diperlukan ada pengaturan tegas tentang pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional, agar pedagang kecil tidak mati.

Ketua Badan Legislatif (Banleg) DPRD Kab. Kuningan, Nuzul Rachdy, SE menjelaskan, setiap Raperda yang masuk harus memperhatikan beberapa aspek. “Bentuk dan sistematika Raperda harus mengacu kepada Undang Undang nomor 10 tahun 2010 tentang Tata Cara Pemben-tukan Peraturan Daerah. Kemudian ada pertimbangan yang perlu dikedepankan, diantaranya unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis,” katanya menjelaskan.

Menurut Zul, dari 12 Raperda hanya empat Raperda yang menyertakan naskah akademik.  “Naskah akademik ini bukan sesuatu yang bersifat wajib, yang penting ada keterangan atau penjelasan mengenai kelayakan Raperda tersebut. Lebih baik lunak tapi dilaksanakan,” kata anggota Fraksi PDIP ini.

Ia pun menyoroti khususnya mengenai pasar modern yang sudah tidak terkendali terutama jam operasionalnya yang mencapai 24 jam. “Jarak antar pasar modern tersebut minimal 500 meter dengan jam operasional dimulai pukul 10.00 pagi hingga 22.00 malam. Ini dilakukan agar pasar tradisional tidak lagi tergencet oleh keberadaan pasar modern yang semakin merajalela,” terangnya. (tan)

h1

Bina Wilayah KUKM Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

3 Mei 2011

Cigugur, IB

Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kuningan melakukan bina wilayah koperasi bagi koperasi dan UKM (usaha kecil dan menengah). Ketua Panitia, Drs. Yayat Supriyatna menjelaskan, kegiatan Bina Koperasi UKM di wilayah kecamatan merupakan upaya peningkatan perekonomian masyarakat.

Binwil ini dilaksanakan di Hotel Purnama Mulia Cigugur Kamis (21/4), diikuti oleh 80 peserta dari lima kecamatan di wilayah I dan III. Mereka berasal dari unsur pengurus/pengelola koperasi yang tersebar di Kabupaten Kuningan.

Menurut Yayat, tujuan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas usaha KUKM di wilayah kecamatan sehingga dapat memperkuat kapasitas kelembagaan dan kualitas pelayanan usaha koperasi. Akhirnya dapat mensejahterakan anggotanya dan masyarakat sekitarnya dalam upaya mendorong peran KUKM sebagai pelaku ekonomi daerah.

Adapun materi kegiatan meliputi kebijakan Pemkab Kuningan dan Dinas KUKM dalam pemberdayaan KUKM; gerakan masyarakat sadar koperasi; strategi pemberdayaan koperasi dan UKM. Juga, peran Dekopinda sebagai wadah gerakan koperasi, serta, peran Kadin sebagai motor penggerak KUKM dalam meningkatkan ekonomi daerah.

Kabid Pemberdayaan Koperasi, Denni Sukriamdani, SH menjelaskan, program pada bidang pemberdayaan koperasi meliputi usaha, fasilitasi, SDM (sumber daya manusia), dan pemasaran.

Usaha yang dilakukan meliputi pemihakan, kepastian usaha, kesempatan usaha, perlidungan usaha, bimbingan dan pendampingan, serta peningkatan kemampuan. Untuk fasilitasi meliputi bidang pembiayaan, kemitraan, teknologi, sarana dan prasarana, intermediasi, legalitas, peraturan/UU.

Bidang SDM dilakukan melalui pelatihan, bintek, magang, studi banding, penyuluhan, seminar, advokasi. Sedangkan pemasaran dilakukan dengan kegiatan pameran lokal, regional nasional dan internasional. Selanjutnya temu usaha, informasi pasar, jaringan usaha, informasi dan publikasi.

Fokus pada 2011 dilakukan dengan program pemberdayaan dan pengembangan koperasi di wilayah kecamatan. Tujuannya untuk mewujudkan satu calon kecamatan koperasi menjadi kecamatan koperasi di tahun 2011. Sasarannya minimal tiga koperasi sehat yang berkualitas, sesuai dengan prinsip dan nilai dasar koperasi.

Program fasilitasi, dengan tujuan meningkatkan akses koperasi dalam pembiayaan, penguasaan pasar, pengembangan jejaring usaha dan pengembangan kemitraan usaha dengan para pihak pelaku usaha lainnya.

Program peningkatan kualitas SDM koperasi bagi pengurus, pengelola, anggota dan masyarakat koperasi dengan tujuan meningkatkan profesionalisme bagi pelaksana perkoperasian .

Program koperasi di wilayah perbatasan kabupaten atau provinsi, dengan tujuan koperasi dapat berperan sebagai pelaku ekonomi yang mampu  memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

Program peningkatan keterampilan usaha bagi para siswa/santri di pondok pesantren, dengan tujuan  menciptakan dan mempersiapkan para wirausaha baru bagi para siswa/santri.

Kegiatan sendiri dibuka oleh Kepala Dinas KUKM, Drs. Uca Somantri, M.Si mewakil Bupati Kuningan. (tan)

h1

Maman Wijaya Daftar Pertama Balon Ketua PAN

3 Mei 2011

Kuningan, IB

H. Maman Wijaya menjadi pendaftar pertama bakal calon ketua DPD Partai Amanat Nasional. Minggu siang (24/4), Ia datang sendiri mengambil formulir pendaftaran dan diterima oleh ketua Organising Comitte Musyawarah Daerah (Musda) PAN di Sekretariat DPD PAN Kab. Kuningan, Jalan Moh. Toha Kasturi Kuningan.

Sebelumnya sudah datang simpatisannya yang menamakan BMW (Barisan Maman Wijaya) memasang baliho. Dua buah baliho terpasang di dalam kantor berukuran 2 x 3 meter, dan di sebrang jalan berukuran 3 x 4 meter.

Menurut Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi PAN ini, dirinya mendaftar lebih awal agar bisa lebih cepat membereskan administrasi dan melakukan konsolidasi.

Ketika ditanya mengenai motivasinya, Ia menyebutkan karena mencalonkan adalah hak setiap kader PAN untuk berbuat demi kebesaran partai dan kepentingan masyarakat, disamping punya kans (peluang) untuk memenangkan perebutan posisi ketua DPD PAN. Sebagai ketua DPC, Ia ingin lebih menunjukkan jati diri kader partai, bahwa PAN bukan hanya pengurus harian (PH DPD) saja.

Karena itu, sudah sepantasnya para pengurus DPC dan ranting se-Kab. Kuningan bisa memberikan dukungan kepada dirinya. “Saya sebagai matahari baru dari selatan akan maju tanding. Soal menang dan kalah itu urusan nanti,” ucapnya.

Hingga saat ini dirinya mengaku punya kans besar memenangkan pertarungan. “Kalau sudah tahu mau kalah, ngapain harus cape-cape konsolidasi ke setiap DPC dan ranting, dan bila tahu akan menang mungkin saya tak perlu cape-cape. Karena tak tahu akan kalah dan menang sehingga saya mencoba mencalonkan diri lebih awal, agar lebih mudah untuk melakukan konsolidasi,” ungkap mantan Kepala Desa Kadugede ini.

Sebagai kader partai dirinya ingin mewujudkan cita-cita partai menuju masyarakat Indonesia yang madani. Ia menyebut PAN sebagai partai yang dinamis dan demokratis. Dengan kondisi itu, dirinya optimis akan mendapat dukungan dari para pemegang suara.

“Dalam kesempatan ini saya mohon do’a restu dan dukungan dari seluruh komponen partai untuk mencalonkan diri sebagai ketua DPD PAN Kabupaten Kuningan,” harapnya.

Maman menegaskan, dirinya akan mencalonkan dan tidak akan melawan arus, kebijakan partai. “Menang dan kalah adalah hal biasa, karena tujuan akhir bukan untuk menjadi ketua DPD. Kalau gagal mungkin itu keberhasilan yang tertunda, dan bila berhasil memang itu yang diperlukan,” ucapnya.

Ia mengakui, PAN selama ini sudah baik hanya tinggal memperbaiki mesin politik hingga ranting agar ke depan PAN bisa lebih berkembang.

“Bagaimana kans anda bila calon itu banyak?” tanya IB. “Calon lebih banyak itu lebih baik, karena menunjukkan PAN itu demokratis dan tidak ada pemasungan tehadap hak setiap kadernya,” jawabnya.

Meski banyak, Ia mengaku kans dirinya memenangkan cukup besar. Hingga saat ini telah mendapat dukungan sembilan DPC (18 suara).

OC Muscab PAN Buka Pendaftaran

Ketua OC Musda III DPD PAN Kab. Kuningan, Heri S. Nuryasin menjelaskan bahwa SC dan OC telah membuka pendaftaran pencalonan. Pendaftaran bakal calon dimulai Minggu (24/4) pukul 13.00 wib dan berakhir pukul 24.00 wib, 30 April.

Setiap kader, simpatisan, pengurus PAN diberikan hak untuk mencalonkan diri sesuai aturan AD/ART, pedoman organisai dan realita di masyarakat. Ia menyebutkan, SC/OC dan DPD tidak berwenang mencoret pendaftar dari bursa calon ketua. Pencoretan merupakan wewenang DPP yang diajukan melalui Badan Pemenangan Pemilu DPW.

“Pada tanggal 24-30 April ini setiap bakal calon yang mengambil formulir diharuskan sudah mengembalikan formulir untuk ditetapkan sebagai calon,” terang Heri.

Musda sendiri, kata Heri, akan dilaksanakan di Hotel Ayong Linggarjati, 17 Mei depan dan diikuti oleh 137 peserta. Peserta berasal dari perwakilan DPW satu suara, DPD PAN (3) ketua, sekretaris, bendahara, 29 DPC (58) suara, dan 70 ranting/suara.

Menurut Heri, berdasarkan realita yang ada maka pemilik suara khususnya untuk ranting ditentukan berdasarkan perolehan suara hasil Pileg 2009 lalu. Setiap kecamatan yang meraih suara kelipatan 500 akan mengikutkan 1 suara. “Jadi kalau di satu kecamatan perolehan suaranya di bawah 500 suara, maka tidak ada ranting yang berhak menjadi peserta Muscab,” ucapnya.

Calon Lainnya

Setelah H. Maman Wijaya mengambil formulir pendaftaran bakal calon ketua, dalam waktu dekat dua orang calon lainnya akan segera menyusul. Keduanya adalah Hj. Nining Kurnia (Ketua DPD PAN periode 2005-2010) dan Drs. H. Toto Suharto, S.Farm, Apt (Wakil Ketua DPRD Kab. Kuningan.

Tak bisa dipungkiri selama kepemimpinan Nining Kurnia,  PAN Kab. Kuningan menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Selama periode 2005-2010, Nining Kurnia berhasil mendongkrak perolehan suara dan kursi PAN di DPRD Kuningan. Semula pada Pemilu 2004 hanya punya 2 kursi meningkat 300% pada Pemilu 2009 menjadi 6 kursi.

Terpisah, kader PAN, Umar Hidayat memprediksi bahwa H. Toto Suharto merupakan calon terkuat yang berpeluang memenangkan pertarungaan posisi ketua DPD PAN periode 2011-2016. “Saya memprediksikan H. Toto Suharto calon ketua yang paling kuat, pasalnya ia merupakan kader partai yang loyalitasnya sudah teruji,” ujar Kepala Desa Jagara Kecamatan Darma ini. (tan)

h1

Jubaedah Camat Perempuan Ke Empat di Kuningan

3 Mei 2011

Lebakwangi, IB

Perjuangan RA Kartini tempo dulu mengenai emansipasi wanita nampaknya hingga saat ini belum memberikan hasil yang dinginkan. Peran mereka sangat sedikit terutama dalam kancah pengambilan kebijakan.

Adanya ketimpangan itu, diakui oleh Ketua Umum TP PKK Kab. Kuningan, Hj. Utje Ch. Suganda. Saat puncak peringatan Hari Kartini ke 132. Ia mengatakan, hingga saat ini masih sedikit perempuan yang menempati jabatan atau posisi strategis. Apalagi sebagai pengambil keputusan.

Kalau kita melihat secara kasat mata, khususnya di Kabupaten Kuningan, tercatat hanya seorang perempuan yang menempati posisi Kepala Dinas yakni Ir. Triastami yang menjabat Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kab. Kuningan. Selanjutnya tiga orang pejabat perempuan yang dipercaya mengemban amanah sebagai kepala wilayah (Camat) yakni Camat Nusaherang Susilawati, S.Sos, Camat Pancalang Dra. Eni Sukarsih, M.Si dan Camat Cipicung Dian Fenti Asmara, BA.

Begitu pula yang menempati posisi eselon III lainnya, dapat dihitung dengan jari. Dengan pengangkatan Jubaedah sebagai Camat Maleber, maka sudah ada empat orang Camat perempuan di Kabupaten Kuningan.

Perempuan kelahiran 10 April 1962, pertama kali menjabat di Kantor Kecamatan Lebakwangi. Ia telah dua kali promosi, pertama dari Kasi Pembangunan Kantor Camat Lebakwangi menjadi Sekmat, 23 Maret 2009. Kemudian menjadi  Camat Maleber pada 21 April 2011 ini.

Saat ditanya mengenai posisi barunya, Endah menjelaskan, pada prinsipnya selaku pegawai negeri siap ditempatkan dimana saja. “Bagi saya menjadi pejabat ditempatkan dimana pun siap saja, dan akan berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” kata Edah saat ditemui IB seusai pelantikan di Pendopo Bupati Kuningan.

Ia sedikit menuturkan, sejak diangkat menjadi  PNS, dirinya banyak menghabiskan waktu sebagai Jupen (Juru Penerang) pada Kantor Penerangan Kab. Kuningan. Pasca bubarnya Departemen Penerangan termasuk Kantor Penerangan, dirinya ngendon di Kantor Kecamatan Lebakwangi, dengan posisi terakhir sebagi Kasi Pembangunan. (tan/gie)

h1

Meteran Elektrik Beratkan Konsumen

3 Mei 2011

Cigugur, IB

Keluhan dari pelanggan listrik dengan sistem meteran elektrik mengundang masalah. Masalah itu timbul, kata Cecep Setiawan, warga Desa Cileuleuy Kecamatan Cigugur. Pasca penggantian dari meteran biasa menjadi meteran listrik dengan daya ditingkatkan kontan membuat limbung mereka.

Pasalnya, selain biaya penggunaan jasa meningkat tajam, juga bila habis pulsa, terasa sulit untuk mencari tempat pembayaran pulsa. “Terpaksa saya semalaman harus bergelap ria, karena sulitnya mencari pulsa. Saya sudah mencari tempat penjualan pulsa hingga sampai ke Cigugur, tapi sulit tak bisa masuk juga karena gangguan satelit,” ucapnya.

Keluhan juga muncul dari warga di Desa Segong Kecamatan Karangkancana, yang mengatakan perbedaan harga sangat berbeda dengan tetangganya yang menggu-nakan meteran bisa. “Bila tetangga dengan kapasitas 450 watt hanya Rp. 23.000 per bulan, maka saya dengan meteran elektrik harus merogoh agak dalam hingga Rp. 50.000,” ucapnya. (tan)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.